
Sisi Syu Katsuya
Ruangan cukup luas ini benar-benar menjadi ring bertarung bagi kami berdua. Pertandingan kami berdua seolah keduanya berada dalam udara, selayaknya burung elang yang saling menyerang dan bertahan di saat bersamaan. Bahkan jarak serang di antara kami bukanlah masalah besar, tentunya karena All Rounder adalah perannya.
*Ting-Ting!
“Kamu boleh juga ya, Syu,” ucap Hino di sela pertarungaan ini.
“Iya! Cukup menandingiku itu sudah bisa di beri apreasiasi,” balasku tanpa sedetik pun memberikan celah dan meringankan seranganku.
Entah sudah berapa lama kami seperti ini, saling mendekat untuk beradu keahlian pedang dan menjaga jarak sebagai landasan tembakan masing- masing. Aku juga tidak tahu sebanyak apa jarum besar yang ia punya, jikalau aku kehabisan koin, itu akan menjadi kiamat bagiku.
‘Tapi, sakuku sudah terasa ringan,’
Di sisi lain juga, aku merasakan satu satunya tempat untuk menyimpan amunisiku sudah mulai berkurang. Sebagai kunci pertarungan jarak jauh, benda tersebut sangat memungkinkan diriku agar tetap hidup. Bisa saja aku menggunakan batu atau serpihan material di sekitar sini, namun karena strukturnya yang tidak beraturan sepatutnya koin, hal itu pastinya akan membuat seranganku tidak akurat.
Jadi mulai sekarang aku menggunakan amunisi terakhir untuk berlindung atau keadaan darurat. Jika serangan jarum besar itu memungkinkan bisa di hindari, lebih baik mengambil resiko tersebut daripada bertarung kehabisan senjata.
*Fiuww…
Hino bersiul, karena hal itu sudah berapa kali dilakukannya, jadi aku tidak begitu waspada. Yang kusimpulkan dari siulanya mungkin seperti kebiasaan sebelum berkata atau meningkatkan kekuatana maupun Ergon.
“Sepertinya takdir tidak menyetujui kita untuk berteman ya?” kata Hino sedikit terjeda ketika melontarkan jarum di sela bicaranya.
Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya sembari memanfaatkan setiap sisi dari ruangan ini sebagai pijakan untuk mengelak. Kemudian berkata, “Aku tidak masalah kalau kita adalah teman atau musuh, tapi kuakui kamu itu kuat, Hino!”
“Begitu ya, kalau kita tidak bertemu di sini, mungkin kita sudah menjadi teman baik bukan?”
“Hal itu mungkin bisa terjadi.”
“Karena keahlian kita juga hampir sama, bisa saja kita menjadi rival yang berkompetisi di setiap hal,” tandas Hino kemudian melontarkan dirinya kedepan untuk berduel pedang pastinya.
Tentu aku tidak membiarkan pergerakannya itu sia-sia, celahnya sesaat melesat membuatku terpancing menggunakan sepasang tembakan koin.
*Ting!
Ada hasilnya, satu serangan mengenai bagian kaki, namun karena pergerakannya pedangnya yang cepat, dia berhasil menepisnya dengan baik. Tapi, sesempurna apapun dia menghindari, jika salah satu peluru saja sudah mengenai tubuhnya, itu akan membuat dampak nyata.
Namun kesakitan fisik tidak terlalu berdampak untuknya. Tanpa menghiraukan darah dan luka di kakinya, Hino tetap memberikan ayunan pedang ke arah kepalaku. Beruntungnya aku masih sempat memegang pedang kemudian berhasil menahannya.
*Sriing!
Suara nyaring yang terbentuk dari kedua bilah pedang yang saling bergesekan. Hino lewat kebelakang setelahnya, lalu kususul berbalik di hadapannya. Sejurus dia menebas kembali dan aku mampu bertahan untuk sekian kalinya.
“Memang hebat kamu, Syu,” ucapnya, kali ini dengan intonasi berat, hal itu menyimpulkanku jika dirinya sudah mendapati kelelahan atau dampak luka di kaki tersebut terasa.
“Kamu juga, Hino, setelah mendapatkan koin yang masuk di kakimu, tapi kamu masih bisa bergerak seperti ini ya?” balasku.
“Tentu, karena lawanku kali ini adalah rivalku bukan?”
“Rival ya?”
Namun tetap saja, pergerakan Hino seakan binatang buruan yang brutal, berusaha sekuat tenaga untuk sedetik hidupnya saja. Dari serangan sebelumnya saja, ia sudah menciptakan haluan pedang yang cukup merepotkan. Pasalnya, dari sebanyak buku bela diri, tidak ada sama sekali konsepnya, Hino sungguh bertarung menggunakan naluri alami. Membuat diriku sedikit lambat menghindarinya, tapi masih bisa mengimbanginya,
Akan tetapi, waktu adalah emas. Selambat mau secepat aku menghindari, jika diantara salah satunya saja meleset, hal sepele tersebut pasti mencipatakan luka fatal. Benar, luka goresan ringan di setiap sisi tubuh akibat serangan tidak masuk akal itu.
Sadar akan posisi yang memiliki kemungkinan buruk, aku sedikit merasakan beberapa koin tersisa di kantungku dengan memanfaatkan gerakan tubuh. Dan hasilnya sungguh miris, mungkin hanya tersisa 1 atau jika aku beruntung itu akan ada 2 buah.
‘Sial!’
‘Jika aku terus bertarung jarak dekat seperti ini, ini bakalan buruk.’
‘Tapi, dalam jarak jauh juga, aku kekurangan semuanya, dari kecepatan, keakuratan, serangan, bahkan pasokan amunisi sekalipun.’
‘Sial! Aku sungguh kalah telak darinya.’
Aku terus berpikir keras di tengah gemecik pedang berbenturan, keringat dingin serta keringat lelah terus menerus keluar tanpa henti. Meskipun dari segi luka maupun darah Hino yang lebih menderita, namun tetap saja, semakin lama sudah terlihat perbedaan kita.
*Fiuww….
Hino kembali bersiul, entah sudah keberapa kalinya dia melakukan itu.
“Ada apa, Syu?”
“Kenapa kamu tiba-tiba bermain bertahan dan kabur-kaburan seperti kelinci yang ketakutan?” imbuhnya, perkataan itu benar-benar meruntuhkan mentalku.
“Cih!”
Aku melakukan itu hanya untuk mengimbangi perkataannya saja, di bilang soal melampaui atau mengimbangi kemampuannya aku sudah tidak ada kesempatan lagi.
Tapi, setidaknya perkataanku itu sedikit menggoyah mentalnya. Kisah kelinci yang merebus dirinya untuk mengorbankan tubuh demi makanan kakek tua, namun malah di beri berkat oleh dewi bulan karena kebaikannya tersebut.
Terbukti dari kewaspadaannya sekitar dan lebih sedikit ringan dalam menyerangku. Aku kira dia bodoh, mustahil dongeng legenda itu berlaku padaku. Terlebih lagi ada Zylx yang ada di belakangnya.
‘Sial, meskipun aku bisa mengalahkannya, tapi yah, mana mungkin aku bisa melawan pimpinannya itu dalam keadaan sekarat seperti ini,’ batinku sesaat melirik ke arah Zylx yang terdiam disana, dia benar-benar menikmati pertandingan ini.
‘Tidak ada cara lain.’
“Yah, katamu kita adalah rival ya,” ucapku, kali ini aku yang memulai perbincangan kecil, dan juga lebih
mengerahkan sisa tenagaku.
“Benar, itu Syu. Aku dan kamu,” balas Hino.
Jawaban Hino cukup untuk membulatkan tekadku, sejurus aku melompat untuk menjaga jarak dan di sela pergerakan itu aku menembakkan satu koin untuk menganggu pergerakannya.
‘Ada satu lagi!’ batinku sesaat merogoh kantung sebelumnya.
“Begitu ya, itu mungkin lebih baik dari teman bukan? Ah tidak, kita mungkin bisa menjadi sahabat terbaik di Akhirat!” teriakku bersamaan dengan pedang yang siap menusuk ke tubuhnya.
Tahu jika Hino akan menghindarinya, aku menembakkan satu-satunya koin yang kumiliki agar dapat mengganggu fokusnya. Tapi, na’asnya lagi tembakan itu meleset karena ketidakseimbanganku dalam membidik maupun posisi berlari ini. Jadi serangan itu tidak berpengaruh padanya.
Namun hal yang lebih membuatku terheran adalah lelaki itu sama sekali tidak merubah posisinya. Hino tetap teguh pada kuda-kuda memegang menusuk, malahan sorot matanya lebih menyakinkan daripada pergerakanku.
‘Aku lebih siap dari ini tahu!’
*Jleb!
“Argh!”
“Katamu kita akan menjadi sahabat terbaik di akhirat, bukan begitu, Syu?” ucap Hino lirih di samping telingaku.
“Yah, mungkin saja kalau kita bisa bertemu,” jawabku.
Kedua orang saling menyiapkan kuda-kuda tusukan, terlebih lagi tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya, ini adalah hasilnya. Tubuh yang saling bertemu dengan kedua bilah sebagai penghubungnya.
Aku benar-benar merasakan sakit tak tertahankan dalam hadapan musuh, begitu pula Hino. Nasib kita mungkin sama, itu terbukti dari keadaan saat ini.
“Kamu sungguh hebat, Hino.”
“Aku benci mengakuinya, tapi kamu juga tidak lebih dari katamu sendiri, Syu.”
“Kalau di akhirat kita abadi, mari kita bertarung seperti ini lagi.”
“Pastinya, aku akan mencarimu, Syu.”
‘Semuanya, aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik bukan?’ batinku memberi pertanyaan pada jiwaku sendiri, memastikan jika tidak ada penyesalan sebelum nafas terakhirku dihembuskan.
Jika seluruh orang membenci kematianku, aku tidak masalah. Tapi jikalau salah seorang saja, berterimakasih atas perbuatanku, aku sungguh bersyukur akan itu.
Sisi Ayumi Kineku
[Skill Detector sudah tidak mendukung dengan tubuh pengguna]
[Dengan ini semua penyaluran dengan pemiliki Skill Detector akan dihapuskan]
Masih dalam keadaan genting ini, sebuah tulisan muncul dalam pandanganku. Sebuah pemberitahuan jika Skill Detector milik Syu sudah tidak dapat digunakan, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Karena kali ini kami memiliki musuh sendiri yang harus di lawan menggunakan keahlian kami.
“Ayolah, nona. Buat apa kamu membakar tempat ini? Bukankah dirimu juga akan terbakar?” sahut adikku, memecah situasi mencekam dengan salah satu musuh yang sepertinya tangguh daripada prajurit bawahan sebelumnya.
“Aku? Apakah aku peduli jika diriku terbakar atau terluka?” balasnya lantang.
“Ah, ini sepertinya merepotkan,” sahut Yogairu, di lanjut menghilangkan dirinya menggunakan Skill miliknya.
“Ayumi, kamu masih bisa lagi kan? Tolong ya!” diikuti Mafal yang sudah menggunakan Skill Animal Essence-nya.
‘Duh, kenapa sih laki-laki selalu suka bertarung seperti ini, seperti ga ada capeknya saja.’
Bersambung…