
Sisi Kyokuro Mafal
Aku tahu jika Party – ku dan Party milik Taka hubungannya adalah musuh bebuyutan, katakanlah sebagai rival. Tapi mana mungkin mindset seperti itu harus diberlakukan sekarang, terlebih lagi kerja sama merupakan kunci keberhasilan di suatu peluang. Sebagai makhluk sosial kita harus tahu waktu, masa dimana harus memanggilnya musuh ataupun masa ketika dia adalah saudara.
Semuanya berkumpul disini, Asteria dan Azuzi nampaknya sudah cukup terbangun untuk membahas rencana kali ini.
“Party beranggotakan 8 orang ya? Itu tidak terlalu buruk,” sahut Ayumi sesaat memandangi gambaran formasi berbentuk arah mata angin pada lantai usang.
“Kita berpencar menjadi 4 kelompok ya,” kata Ken mengikuti Ayumi
“Simpelnya begitu, dan di setiap kelompok memiliki peran yang berbeda.”
Aku menjelaskan gambaran arah mata angin pokok, dan di setiap ujungnya diberi batu untuk menandakan orang yang akan mengisi di daerah sana.
“Contohnya bergini, arah timur dan barat adalah resiko besar. Posisi disana akan mengisi peran umpan.” sambungku, sembari mengarahkan sepasang batu lagi di ujung arah mata angin yang telah kusebutkan.
“Kemudian jalur selatan dan utara yang kemungkinan besar mengarahkan pada rute keluar, terlebih lagi banyak ruangan untuk bersembunyi jika saja perkiraan kita salah.” pungkasku.
“Kalau jalur itu dipenuhi ruangan, pastinya diisi oleh orang yang bisa mengetahui setiap sudut ruangan tersebut.” timpal Ayumi setelah penjelasanku.
“Iya, karena itu Syu dan Yogairu di sana,” balasku.
“Dan satu – satunya yang tersisa adalah Azuzi dan Asteria,” sahut Syu.
Kemudian suasana hening seketika, mereka mungkin masih tidak mengerti akan penjelasanku kali ini.
Ohoshi sepertinya mendapatkan sesuatu, wajahnya benar benar mengutarakannya. Lalu mengusulkan, “Daripada kita menggunakan rencana biasa seperti ini, kenapa tidak memanfaatkan Skill yang di miliki.”
‘Skill yang dimiliki?’
“Maksudmu?” telaah Ken.
“Apakah seperti yang kulakukan sebelumnya?” kata Yogairu.
‘Oh ya, meskipun kedua gadis itu terbilang lebih muda dari kami, bukan berarti mereka tidak memiliki Skill yang memumpuni untuk bertarung,’ batinku sejenak.
“Bukankah yang Yogairu gunakan adalah Skill milik Asteria?” tanya Ohoshi kembali, dia sangat teguh dengan usulannya.
“Benar, Ohoshi – niisan,” jawab Asteria mengangguk.
“Lalu bagaimana denganmu, gadis satunya?” sambung Ken disertai nada mengintimidasi.
Tentu saja Azuzi ketakutan dengan itu, Ken sungguh tidak menyadari sosok besarnya tersebut adalah mimpi buruk bagi gadis muda, terlebih lagi dengan nada suara seperti itu. Bagaikan ikan Hiu dan tuna kecil, setidaknya begitulah kira kira perumpamaannya.
“Ayolah bodoh, kita sekarang satu Party,” tegas Ayumi dengan memberikan tamparan keras di punggung Ken.
“Tidak apa kok Azuzi – chan, orang satu ini memang usil kok, jadi maaf ya,” sambungnya, namun kali ini nada sok imut yang keluar.
“Iya, kakak.”
“Mengerikan dan menjijikkan.”
Entah karena suatu alasan tertentu, aku dan Yogairu disebelahku bersamaan mengatakan itu. Tapi jujur, sebagai seorang lelaki, ucapan perempuan seperti itu memang menggelikan.
Namun, Ayumi sedang melawan emosinya. Terlihat oleh raut wajah mengumpat serta tangan mengepal erat seolah mengatakan “Apa katakalian!”.
“Lalu, Skill apa yang kamu miliki, Azuzi?” lanjut Ayumi meneruskan pertanyaan Ken sebelumnya kepada Azuzi.
“Tunggu itukan ti-.”
Aku tahu Yogairu akan bereaksi seperti itu, jadi aku sempat memegangi pundak dan menghentikannya seraya berkata, “Kita sudah jadi satu Party untuk sementara, tolonglah.”
“Yah, aku tahu. Bersyukurlah.” tegas Yogairu sambil menolak tubuhnya.
Beruntunglah Yogairu selaku perwakilan dari Party Taka menerima itu, pertanyaan mengenai skill merupakan salah satu tindakan ilegal, terlebih lagi kami adalah salah satu musuh di pertandingan mendatang.
“Kumarokun.” jawab Azuzi singkat, dan membuat semuanya kebingungan seketika, termasuk aku.
‘Kumarokun? Skill macam apa itu?’
Kemudian, Yogairu sedikit mengangkat suaranya dan menjelaskan kepada kami apa yang dimaksud Azuzi.
“Iya, Azuzi dalam Party kami adalah seorang defender.”
[[Defender?!]]
Sontak anggota Party kami terkejut akan itu, mustahil juga ada yang percaya jika gadis seumuran dia menjadi seorang Defender, peran penting di dalam perlindungan.
“Ma – maksudmu, dia? Azuzi – chan?!”
Ucapan Ayumi sangatlah mewakili kami berlima.
“Anu, sebenarnya bukan aku. Tapi Kumarokun – lah yang di maksud Yogairu – niisan.” jelas Azuzi mematahkan keheranan kami, sekaligus meluruskan perdebatan ini.
“Jadi Azuzi adalah Summoner ya?” pungkasku mengambil kesimpulan dari ucapan Azuzi.
“Kalau begitu, aku memiliki rencana yang memiliki resiko kegagalan lebih kecil dari sebelumnya.”
Celetuk Ohoshi, kemudian melangkahkan kakinya mendekat padaku dilanjut bibir berucap lirih pada daun telingaku,
“…..Begitukan?”
Sisi Syu Katsuya
‘Ujung ujungnya aku juga menjadi pengalih perhatian, sial.’
Aku berbicara kepada hatiku, sambil melangkahkan kaki untuk tetap maju kedepan, ke arah selatan. Walaupun merasakan puluhan prajurit tepat di ujung lorong, ini adalah tugasku untuk menahan dan memancing perhatian mereka.
Tentu saja, aku tidak sendirian. Sosok beruang batu dengan ukuran cukup besar, tidak memiliki bulu penghangat, namun tubuh keras adalah ciri khasnya karena itu adalah batu, dan pasti siap untuk menerjang apapun dihadapannya.
“Grhmmm.” balasnya.
‘Oh ya, dia beruang, mana mungkin bisa berbicara seperti manusia. Bodohnya aku,’ batinku kembali.
Sudah hampir terlihat celah cahaya di ujung lorong, kiasan cahaya dalam dongeng mungkin adalah harapan. Namun bagiku sekarang adalah permulaan, permulaan dimana sampai titik mana diriku bisa bertahan.
“Ayo Kumarokun!”
“Groar!”
Sisi Norio Ohoshi
“Bagaimana ketua? Ada banyak prajurit bawahan disana,” cakap Ken yang sedang melirik dari sisi lorong.
“Memang akurat Skill Detector milik Syu yang sudah kusempurnakan,” balasku.
‘Aku juga memperhatikannya, lebih dari 10 orang disana. Tanpa Skill milik Syu dan Asteria ini, mungkin kami sudah pasrah.’
“Earthquace!”
Tanpa arahanku, Ken bertindak dengan sendirinya. Mengeluarkan retakan tanah yang menggoncang sebagian area pijakan musuh, seolah giant itu adalah penguasa dataran.
“Tu – tunggu Ken, aku belum menyiap-.”
“Kalau begitu segera siapkan ketua!” potong Ken, tatapan ambisiusnya merupakan bentuk keseriusan dalam perjuangan ini.
“Baiklah – baiklah.”
Menjawab perkataan Ken, aku mulai memfokuskan diriku pada sihir penghancur, perlahan tapi pasti mengucapkan rapalan sihir tersebut.
“Wahai udara yang menjadi pokok kehidupan.”
“Wahai udara yang menjadi sumber kehidupan.”
“Wahai udara suci tanpa ada yang akan tetap selalu suci.”
“Balaslah bentuk kasih sayangmu, pada serigala yang selalu mengaung di hilir malam!”
“Wolf Tang!”
Sisi Ayumi Kineku
“Jadi ini ya kekuatan milik Syu,” seruku sesaat merasakan gerak - gerik beberapa penjaga diatas kami.
“Iya, berterima kasihlah pada mereka berdua,” balas Mafal dengan cuek, itu membuatku sedikit kesal.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Mafal? Membunuh mereka
semua?”
“Terserah kamu saja sih, kita hanya menjadi umpan,”
jawabnya.
‘Duh, jadi orang perhatian sedikit gitu loh.’
Sampai dimana kita mengambil suatu lorong kecil di ujung, aku tidak tahu mengapa Mafal melakukan itu, dan aku hanya mengikutinya.
Nampak Mafal sangat waspada memandangi keadaan sekitar, hal tersebut sudah menjadi kebiasaannya di dungeon. Kemudian menghela nafas dan menengadahkan pandangannya padaku dengan ekspresi serius kemudian berkata,
“Memang benar sepertinya.”
“Ma – maksudnya?”
“Sedari awal kita terjebak disini, sudah semestinya nyawa kita di lelang, benar begitu bukan?” jawab Mafal tegas, sepatah kalimat tersebut seolah di tahannya sedemikian lama.
“...”
Aku terdiam seribu kata, perilaku Mafal sangatlah berbeda dari biasanya.
“Karena itulah aku membenci makhluk sosial. Di saat salah seorang darinya terpuruk, mereka pasti akan menolongnya, bahkan tidak tahu kepastian pada keterpurukan orang itu. Rasa rendah diri memanglah berharga, namun terlalu merendahkan diri pada akhirnya berujung celaka.”
Usai mengatakannya, Demi – human ras serigala tersebut memalingkan wajah dan fokus terhadap ancaman di hadapannya.
“Mafal?”
“Ah, tidak berubah sedikitpun jika aku terlalu mengeluh seperti ini,” pungkas Mafal diikuti gigi taring yang memanjang, tidak lupa kuku menumbuh selayaknya cakar seekor serigala.
“Jangan terlalu serius, kita hanya mengulur waktu bukan?” sahutku di sela semangat Mafal.
“Iya! Ayo, Ayumi!”
“Tak usah kamu beritahu, aku juga mengerti. Pyro Energy!”
Setelahnya, aku memunculkan asap sihir keemasan dari
pada tanganku dan melontarkannya pada tubuh Mafal.
“Terima kasih!”
Itulah ucapan “Terima kasih” pertama dan mungkin terakhir yang diutarakan Mafal kepadaku, di ikuti langkah kaki keluar dari persembunyian.
“Oy, Sekte Keadilan atau apalah itu! Maju sini!”
Bersambung….