The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 28 - Sedikit Berbincang dengan Pemimpin Sekte Keadilan



Pertarungan antar bilah pedang menjadi meriam penghancur dari kedua pihak, itulah yang aku pertaruhkan sekarang. Pertaruhan dengan pemenangnya jelas didepan mata tel a n jang. Bahkan dalam bidang tujuan, aku kalah telak.


Aku sebagai karakter sampingan disini, berkewajiban melawan seorang yang berkeinginan untuk menaklukan dunia tempat aku berada. Dilihat dari sudut pandang siapapun, pasti akan memilih dia sebagai pemenang.


Tapi sayangnya, semua orang tidak memilihmu. Karena itulah, aku ada di hadapanmu.


"Oi, pecundang! Sekeras apapun usahamu pasti akan kalah dengan bakat!" Teriak Zylx di depanku dengan setumpuk kekuatan sihir dikedua tangannya.


"Aku paham itu."


Aku hanya bisa mengatakan sepatah kata dalam pandangan sinisnya. Bukan berarti pasrah, namun cuma inilah satu satunya keahlianku.


Semakin besar sihir ciptaannya, semakin kuat pula kakiku memijak.


Sedetik setelahnya, penantian sihir gabungan api dan angin telah tiba. Tangan yang menjadi wadah kekuatan pamungkasnya tersebut dilayangkan padaku, seraya mengatakan "Mati." Di mulut penuh dosa.


Tanpa berbicara lebih dari itu, aku membalas kuda kuda kasarku. Menyiapkan pedang dari haluan atas serta bertumpu pada lengan kanan. Dilanjut mengambil nafas dalam dan memberikan tebasan besar dari semua persiapan yang kuanggap sempurna itu.


*Slash!


Dalam pandangan Skill Escalation, tebasan ini adalah serangan terbesarku. Seolah seluruh curahan keringatku terpancarkan menjadi satu, kurang lebih 2 minggu sedari terus menerus mengayunkan pedang.


Sebelum menghilangkan kesempatan satu satunya serangan terbaikku, aku langsung mengkombinasikannya dengan Skill magnify. Mengumpulkan nan memusatkan gelombang suara hasil tebasan tersebut menjadi padu, serta mengembangkannya lebih kuat menggunakan Ergon.


Menghasilkan serangan dorongan angin tak kasat mata yang membelah lapisan udara, tatkala kekuatan sihir angin tingkat tinggi milik seorang Elf.


Seperti perkiraan antara kami berdua, pertarungan antara bilah pedang, kini menjadi pertaruhan kekuatan elemental. Sejumlah api berkabutkan angin menyiapkan dirinya untuk melawan angin tajam.


Logika mengatakan kebenarannya, pertemuan antara dua elemen yang bersangkut paut itu menghasilkan suhu panas dan asap tebal disekiling kami.


Tidak sepenuhnya serangan Zylx terpecahkan oleh kekuatanku, mana mungkin juga aku dapat menghalau serangan tingkat militer tersebut. Setidaknya pijakan kakiku menjadi MVP, bagian tubuh yang berperan besar agar tetap menjaga keseimbangan badanku.


Tanpa sepengetahuan lawan, aku juga tak dapat melihat apapun, pandanganku tersekap oleh kedua tanganku sendiri. Berusaha untuk menghindari panas serta debu akibat ledakan ini.


"Sial"


'Aku tidak bisa melihat apa apa!'


'Bagaimana ini? Dia pasti akan memberikan serangan susulan.' Batinku memperkirakan apa yang sedang dilakukan Zylx setelah serangan sebelumnya.


Dugaanku ternyata benar, aku mendengar langkah kaki berlari mendekati diriku berada. Suara pijakan itu semakin tertangkap jelas dalam telingaku.


Dengan mata tertutup, aku segera menyiapkan kuda kuda bertahan. Kembali berpegangan pada satu-satunya senjata yang memungkinkanku untuk mengulur nafas terakhir.


"Percuma!"


Teriakan Zylx seketika merasuk pada gendang telingaku, membuatku memusatkan seluruh sistem saraf pada bagian pendengaran. Dan melihat sekeliling bersamaan mata terpejam, tidak masuk akal, sekedar berjaga jaga saja.


"Aku harus membunuh orang yang belum aku kenali namanya, maaf. Tapi itu sudah biasa!" Kata terakhir disertai intonasi kasarnya dibuktikan langsung oleh sesuatu keras yang menghantam tubuhku.


"Argh!"


"Si-sial..."


Rintihku kesakitan kemudian kehilangan fungsi pada mata, dan diikuti oleh tubuh mengikuti respon otakku.


Tenggelam dalam rasa sakit serta benturan kenyataan telak akan kekalahanku, membuat tubuh bahkan hati menerima penyesalan pertandingan ini.


Sisi Zylx


Setelah menggunakan seperempat kekuatanku ini, aku tidak boleh menganggap remeh bocah itu. Serangan penghancur satu kota dengan gampangnya di tebas hanya dengan menggunakan sihir angin.


'Brengsek kamu, sudah kuduga, musuhku satu ini memiliki hubungan dekat dengan Mashiro.' Batinku dalam kubangan asap putih yang dihasilkan dari kedua kekuatan kami.


Meskipun bisa menghalau kekuatanku, mana mungkin dia bisa menghindari sisanya. Setidaknya dia sedikit terkena hempasan panas. Tapi aura kekuatannya sebanding dengan Mashiro.


Sadar akan kelemahan mata manusia ketika tidak ada cahaya yang masuk, aku menggunakan sihir angin untuk mendeteksi keberadaannya di kabut tebal ini.


'Dapat!'


Merasakan nafas terengah engahnya, aku yakin itu adalah dia. Tanpa basa basi mematri langkahku perlahan mengitarinya untuk mengenali medan sekitar sebagai sedikit penjagaan.


Kurasa sudah cukup, aku memantau setiap jeda dari nafasnya. Dalam kurun waktu singkat tersebut, kakiku serentak maju dan menghampiri sumbernya.


'Kita sama sama buta pandangan loh.'


"Percuma!"


Langkah kakiku yang seirama pada hela nafas, membimbingku kearahnya. Sesaat tahu bahwa dia ada di hadapanku, aku sengaja mengangkat tinggi kaki kananku dan memberikan dorongan keras tepat pada ulu hatinya.


"Beres sudah."


Pungkasku sembari mengangkat tinggi tangan sebagai rapalan untuk mengaktfikan sihir angin dan menyapu bersih asap disekitarku.


"Bocah ini.. Lebih baik kubawa saja sekalian."


Lalu aku pergi menyeretnya kembali ke tengah colloseum.


Singkat cerita, bersamaan membawa bocah aneh pingsan yang tiba tiba menyerangku. Aku sampai di tengah - tengah tempat pidato dimana aku telah membunuh sang raja pujaan rakyat bodoh ini.


Tentu saja, mereka semua memandangiku dengan tatapan elunya. Miris sekali.


Sambil menerusksn langkahku, aku melanjutkan pidatoku yang entah berapa lama sudah tertunda akibatnya, "Lihatlah kalian semua!"


"Ini adalah salah satu penyimpangan kekuatan dalam dunia ini."


Aku berteriak agar memancing perhatian mereka kembali, seraya melemparkan seseorang yang pingsan dari genggamanku.


"Bocah ini, dia tidak menerima tawaran baikku. Tapi malah menolaknya, seberapa kasihannya dia?"


Namun seberapa keras aku melantangkan suaraku pada penonton dalam acara ini, tekad mereka sepertinya terkurung oleh kepasrahan. Tidak ada mulut yang berani menyahutku, membuang buang waktuku saja.


'Sial, tinggal selangkah lagi mimpiku akan terwujudkan.' Batinku melangkah pergi dan keluar dari pandangan masyarakat.


"Kalian semua, bawa dia ke tempat Mashiro berada."


Aku menyuruh para bawahanku agar membawa bocah itu pula. Berat bukan kalau harus menyeretnya sendirian?


Penghujung hari tanpa cahaya matahari masuk di ruangan gelap ini, tempat markas besar. Awal dari pergerakanku hingga jembatan kesuksesan di depan, dua tawanan besar tersungkur pula. Tidak ada kebahagiaan tersendiri selain pemandangan ini.


"Oi, Mashiro, sampai kapan kamu memaksakan dirimu seperti itu?"


Aku menyapa kasar sosok yang dianggap pengguna Skill dewa tersebut. Siapa yang tidak mengenalinya?


"Cobalah buka matamu sekejap saja, dan lihat siapa orang ini?" Imbuhku sambil menyilangkan kaki pada tempat duduk bak singgasana ini.


'Tidak ada respon darinya, sial.'


'Sial, sial.. Walaupun aku memiliki Skill persis Mashiro, tapi efek sampingnya, sumpah dah.'


Memang benar sekuat apapun Skill yang dimiliki seseorang, pasti diantaranya ada kekurangan. Begitulah milikku, waktu itu aku asal menerima tawaran Mashiro dan mrmberikan skill analisa padaku, tapi batasan luar biasa juga.


'Memang benar aku dapat mengamati sesuatu dengan akurat, namun indikator dan bar status makhluk di hadapanku menghilang.'


"Sial... "


"Ini Mashiro kapan dah bangunnya."


Aku kesal karenanya, sudah hampir satu minggu dia tersungkur lemas. Dilanjut beranjak menghampirinya yang terpuruk dengan borgol besi di kedua tangan.


*plak!


Sebagai orang tidak sabaran, aku menampar pipi mulus Mashiro. Berharap tamparan ringan itu dapat membangunkannya.


"Bangunlah, pemalas sekali."


Entah karena teriakan atau tamparanku, kedua alisnya sedikit merespon. Diikuti mata dan bibir lesu itu nampak menggeliat seakan cacing terkena sinar panas.


"Lihat siapa itu disebelahmu." Ujarku menggerakkan dagunya kesamping.


Dengan mata sayup sayup, Mashiro melihat bocah yang pingsan sesaat melawanku tadi. Dan terkejut tidak percaya hingga memaksakan pundaknya untuk mengusap bekas kotoran tidur pada wajahnya.


"Diakan."


"Aoi!?"


"Aoi ya, jadi pengguna Skill dewa ini memang mengenalinya ya.."


Bersambung...