The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 8 - Aku Bertanding Melawan Penyihir Naga



'Sudah saatnya ya?'


Aku melihat matahari sudah mulai berubah warnanya secara perlahan. Tak lama menanti, datang dua orang yang bukan lain adalah Taka dan Yogairu. Mereka berdua memang tidak ada bedanya dari dunia asalku, sepasang sahabat yang unik. Seorang yang tahu akan situasi dengan orang yang blak – blakan.


“Aoi ya, kamu datang lebih awal rupanya.” Sapa Taka.


“Iya, aku ingin memanaskan diriku dulu, karena itu aku berangkat lebih awal.” Balasku sambil merenggangkan tubuhku.


“Baguslah kalau begitu! Mari kita mulai saja!” Ucap Yogairu dengan semangat menyelimutinya.


Latih tanding dimulai, aku dan Yogairu berduel satu lawan satu di wilayah yang asri ini. Kami mengambil jarak bertarung kurang lebih 10 meter. Latih tanding ini tidak menetukan siapa yang akan berlutut dihadapan musuhnya, dilihat dari segi manapun kami memakai armor kulit serta pedang kayu.


“Hah? Kenapa tidak memakai pedang asli, lagian aku tidak mahir menggunakan pedang dengan berat dan panjang yang berlebih.” Kesal Yogairu berkali kali mengamati pedangnya dengan tatapan tidak mengenakkan.


“Dasar, ini latih tanding bodoh.” Kata Taka dengan cuek.


Pada dasarnya, aku tidak masalah jika Yogairu menggunakan pedang miliknya. Terlebih lagi dia seorang Assassin yang biasanya memakai senjata ringan dan tajam. Tapi, aku bersukur karena sekarang ini adalah keunggulanku.


Taka menjelaskan kepada kami tentang aturan latih tanding ini, seperti terbagi menjadi 3 ronde, dan setiap ronde dihitung dengan jam pasir yang dibawanya. Kemudian jika berhasil menyerang titik vital dengan bersih atau tanpa halangan apapun, dia pemenangnya. Pedang yang terlepas dari genggamanya dinyatakan kalah.


“Hmm, kukira Role ‘Knight non - license’ milik Taka cuma sekedar untuk pamer, karena itu ‘non – license’. Aku salah menilainya, ternyata benar benar memiliki pengalaman sebagai seorang Knight” Seloroh Mashiro yang ada di sebelahku.


‘Aku tidak paham apa yang kamu bicarakan.’ Gumamku dalam hati untuk berbincang dengan Mashiro.


“Di dunia ini terdapat Role yang ada syarat untuk mendapatkan efek darinya, ketika Role yang didapatkan tanpa memenuhi syarat nya, maka Role itu akan muncul ‘non – license’ setelahnya. Jika memiliki tanda itu, efek yang didapat tidak lebih dari setengahnya.” Jelas Mashiro.


Ternyata sistem Role di dunia ini tidak sesimple yang ada digame game MMORPG. Ini sangat rumit, butuh waktu yang lama untuk memahami semua ini.


"Baiklah, aku harus fokus dengan pertandingan ini."


......................


Aku memegang pedang seperti yang di ajarkan Mashiro kepadaku, dengan latihan yang cukup singkat aku tidak terlalu yakin dengan hasilnya.


Diikuti kedua tangan, posisi pedang tajam lurus seperti mata memandang di hadapan seorang penyihir naga, Yogairu Kineku. Aku sedikit gemetaran, berduel dengan lawan yang tidak sebanding. Tapi, aku harus menerimanya, dan mengukur seberapa besar potensi ku di dunia ini.


“Jangan gemetar begitulah, padahal kamu sudah dapat keuntungan dari pedang itu.” Kata Mashiro melihat gestur tubuhku yang dianggapnya tidak siap.


“Satu!” Teriak Taka mulai menghitung mundur.


“Dua!”


Dihitungan kedua, Yogairu mulai memperkuat kuda kudanya, serta mengambil langkah pijakan diikuti dengan pedang di tangan kanannya yang siap menyerangku. Aku juga mengikutinya, sambil mempererat genggaman pedangku.


“Tiga!” Teriak Taka mengakhiri hitungannya sambi mengarahkan tangannya kedepan sebagai tanda bahwa latih tanding dimulai.


Serentak Yogairu meluncur kehadapanku dan meluncurkan satu tebasan kuat setelah hitungan ketiga, dia sangat cepat sampai sampai aku tidak sempat mengedipkan mata.


*Tak!


Tebasan yang dia berikan, kutangis dengan pedang bagian tengah. Setelah mengeluarkan satu tebasan keras, Yogairu langsung menjaga jarak denganku.


“Cih, jangan bangga dulu.” Ucap Yogairu dengan wajah yang dipenuhi hawa membunuh.


'Tidak, tangkisan pertamaku sebelumnya adalah keberuntungan.'


Batinku terkejut karena dia sudah siap menyerang didepanku. Aku belum sempat melakukan apa apa, hanya memperkuat kuda kudaku.


Dalam jarak yang cukup jauh untuk melakukan serangan, Yogairu mulai menggunakan kakinya untuk memutariku. Kecepatan geraknya sangat cepat, mataku tidak bisa mengikuti gerakannya. Di sela dia bergerak, beberapa tipuan serangan mengarah ke arahku. Aku hanya terdiam dan memperkuat pertahananku, tidak ada yang bisa kulakukan dengan posisi seperti ini.


Semakin lama, gerakannya semakin cepat. Beberapa serangan tipuan menjadi serangan sebenarnya, mulai dari menebas ke arah badanku kemudian kanan – kiri di bagian bawah secara beruntun. Aku tidak bisa melihat gerakannya, setiap kucoba menghindarinya pasti bagian lain yang terbuka menjadi sasaran empuknya. Hanya rasa sakit yang kurasakan berulang kali, saat ini aku bagai boneka jerami hidup baginya.


Tidak ada pilihan lagi selain memperkuat kuda kuda dan menjaga titik vital. Aku pun mulai memperkuat pijakan ku serta genggamanku, dan menunggu celah dari setiap serangan. Tapi saat ini berbeda, dia tidak lagi mengeluarkan serangan beruntunnya. Saat aku mencoba melihat kearahnya, pandangannya menuju bagian dadaku.


Setelah mengetahui bagian mana yang akan dia incar selanjutnya, aku merapatkan kedua bahuku untuk memperkecil celah serangnya. Dan di saat aku melihat ke depan, dia meluncur dengan cepat dihadapanku untuk kedua kalinya. Serangan kali ini lebih cepat, dia menyingkirkan pedang yang kupegang kuat dengan punggung tangan kiri, seakan menyingkirkan lalat di hadapanya. Setelah itu pertahanan ku terbuka dan pedang di tangan kanannya siap untuk menusuk tubuhku.


Saat ujung pedangnya hampir mengenai tubuhku, dia berhenti. Dengan itu aku tahu, jika ronde ini adalah kekalahanku. Untungnya Yogairu masih menahan serangannya, kalau saja serangan itu mengenaiku, pasti akan menimbulkan dampak yang parah di tubuhku.


“Hmm, tidak usah menahan Skill mu, bodoh.” Lirih Yogairu di samping telingaku, kemudian pergi menjauh.


“Ayolah jangan seserius itu bodoh! ini hanya latih tanding biasa. ” Teriak Taka dari kejauhan.


Aku pun bersandar untuk beristirahat di batang pohon yang besar, aku muak dengan kelemahan tubuhku. Mashiro hanya diam saja melihatku.


“Sial, Sial, Sial! Setidaknya aku harus bisa menyerangnya, mau sampai kapan aku jadi boneka jeraminya.” Gumamku kesal.


“Dasar, kamu bahkan belum munggunakan Skillmu sudah putus asa.” Tutur Mashiro menyilangkan lengan seakan posisinya berada jauh dariku.


Setelah mendengar ucapan Mashiro, aku sadar jika belum menggunakan seluruh kekuatanku. Aku yakin dengan menggunakan Skill, kedudukanku bisa seimbang, bahkan melampauinya.


Ronde kedua dimulai, sebelum Taka memulai hitungannya, aku sudah memusatkan fokusku dengan Yogairu. Aku juga tidak bisa mendengar dan melihat apapun kecuali lawanku, bahkan tidak tahu jika Taka sudah memulai pertarungannya.


Di dalam pandanganku hanyalah ruang hampa yang hanya ada aku dan Yogairu, seperti ronde pertama. Dia langsung meluncur maju kedepan dan memberikan tebasan yang kuat, namun ini berbeda. Karena gerakannya sama dan berulang, aku jadi bisa memprediksi tebasannya dengan skillku.


Aku menghindar, terus menghindar dan menghindar. Aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan, tapi ini adalah cara satu satunya.


Aku tidak peduli soal apa yang dia katakan, aku hanya fokus dengan serangan yang akan datang.


“Keren, Aoi mulai bisa menggunakan otaknya.” Gumam Taka yang terus melihat kami bertarung.


Walau semua serangan yang dia berikan, aku hindari. Tapi aku merasakan sesuatu yang panas dalam tubuhku, seperti seluruh darah yang bergerak keluar masuk dari jantung serasa mendidih. Semakin lama aku merasakan gerah di seluruh badanku, keringat ku bercucuran deras, penglihatan ku mulai buram, serta pusing yang hebat di kepalaku.


“Kenapa? Lelah? Padahal hanya kabur seperti anak kucing.” Ucap Yogairu dengan senyum kecil.


'Sial!'


aku baru sadar. Ini adalah Skill miliknya, jadi ini yang disebut penyihir naga. Aku tidak boleh terus menghindar, aku harus cari celah setiap tebasan dan mulai menyerangnya.


“Rasakan panas dalam dirimu. Keparat!” Teriaknya diikuti dengan ayunan yang lebar.


'Aku melihatnya, ini dia! Kesempatanku!'


Saat Yogairu mengeluarkan tebasan dengan ayunan yang lebar ke arah kepala. Aku langsung menunduk sebelum mengenai kepalaku, dan dampak dari ayunan yang lebar itu membuka kuda kuda pertahanannya. Aku segera bangun dan menebas sisi kiri perutnya dengan memanfaatkan tubuhku sebagai pegas.


Serangan itu telak mengenai perutnya, tapi sepertinya tidak berdampak sedikitpun padanya. Yogairu masih bersemangat dan berdiri tanpa hambatan.


*Plak Plak!


Taka menepuk tangannya, dan menghentikan latih tanding.


“Kamu buta apa? Aku masih bisa lanjut, bodoh!” Teriak Yogairu sewaktu Taka menghentikan pertarungan.


“Aturan adalah aturan.” Balas Taka dengan ekspresi acuh.


Kedudukan saat ini seimbang, aku masih dalam kondisi baik, tidak ada luka yang fatal di indikatorku, Ergon yang kugunakan sebelumnya masih tersisa. Aku yakin bisa memenangkannya di ronde terakhir.


Sementara itu. Aku melihat Yogairu dengan nafas terengah engah sedang bersandar di batu, mungkin dia kelelahan karena terus menerus mengeluarkan serangan yang kuat kepadaku.


......................


Istirahat selesai, aku dan Yogairu kembali bersiap untuk latih tanding terakhir, Aku sempat terkejut, karena kukira dia masih kelelahan dan belum sempat memulihkan tenaganya. Tapi, aku salah. Dia terlihat berjalan dengan wajah penuh ambisi, bersiap di posisinya dengan diikuti kuda kuda yang siap bertarung apapun yang terjadi.


Taka mengangkat tangannya dan membalikkan jam pasir yang dia pegang, tiba tiba Yogairu berlari dengan cepat menuju arah ku dengan posisi pedang di bawah lengan kanannya.


'Cepat! aku belum sempat memfokuskan diriku kepadanya. Kemana arah tebasannya? Kiri? Kanan? Ti – tidak akan sempat.'


Aku asal mengayunkan pedangku dengan keras ke arah samping, karena dengan ayunan selebar dan jarak sedekat itu, aku tidak akan bisa menghindar.


*Tak!


Pedang milik Yogairu patah menjadi dua, aku tidak pernah menyangka akan hal terjadi hal seperti itu. Dengan rasa gelisah aku mencoba untuk tetap tenang dan tetap memegang pedangku dengan erat walau seluruh tubuhku gemetaran.


Ekspresi wajah Yogairu sedikit terkejut sambil terus memandangi pedangku, dia sepertinya tidak terima dengan pedang kayu yang diusulkan oleh Taka.


*Plak, Plak, Plak


Taka mendekati kami dengan tepukan tangan yang terus berlanjut, kemudian melihat pedangku serta pedang patah milik Yogairu.


“Sudah – sudah, sepertinya kalian seimbang di latih tanding ini. Pedang milik Yogairu patah bukan karena rapuh, akan tetapi dua serangan kuat yang bertemu dengan cara pegang yang berbeda. Kalian pernah dengar tentang pohon yang besar pasti memiliki akar yang kuat, sama halnya dengan pedang.” Jelas Taka untuk menenangkan kondisi.


“Ma – maksudnya?” Tanya ku dengan tubuh masih gemetaran.


“Yogairu menebas dengan kuat hanya dengan satu tangan, sedangkan kamu menggunakan dua tangan. Kedua benda yang saling bertemu dengan kuat pasti menghasilkan benturan yang keras, karena Aoi memegang pedang nya dengan dua tangan, jadi akibat benturan yang dihasilkan bisa dikurangi dampaknya sedikit lebih banyak dari pada pedang milik Yogairu yang hanya dengan satu tangan.” Jelas Taka sambil meragakan kedua pedang itu saling bertemu.


Setelah mendengar penjelasan dari Taka, aku sedikit tenang. Mungkin karena hasil latih tanding ini seri. Tapi saat aku melihat ke arah Yogairu, sepertinya dia masih tidak menerima dengan hasilnya.


“Ahaha, Baiklah – baiklah, Aoi skill ‘peningkatan’ milikmu dapat diandalkan!” Ucap Yogairu ke arahku sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya.


Aku sedikit tidak percaya Yogairu menerima hasil latih tanding itu dengan tersenyum penuh semangat, namun bagaimana lagi. Dengan ini aku lebih percaya dengan diriku.


“Sepertinya seru! Bolehkah aku bergabung?” Terdengar suara laki laki dewasa dari balik pohon besar.


Saat mendengat suara itu, Taka langsung mengeluarkan senjata di kedua tangan adapun berbentuk seperti Baton milik polisi dengan bagian sisi panjang lancip seperti pedang, yang entah muncul darimana.


Dia keluar dari balik pohon, dia adalah orang yang kutemui saat di tempat petualang berkumpul. Dengan badan kekar dan pedang panjang melengkung di tangan kanannya.


*Sing!


Aku terkejut saat Taka tiba tiba dihadapan lelaki misterius itu dan memberikan dua tebasan tajam secara langsung dengan senjata di kedua tangannya.


Lelaki itu berhasil menangkis satu sisi kanan dari serangannya, tapi tidak dengan tebasan bagian kiri yang melukai dadanya. Terlihat luka itu sangat dalam dan penuh darah segar yang bercucuran keluar dari dalam tubuhnya.


“Mana yang kamu janjikan hari itu, terlebih lagi dimana pimpinanmu!” Teriak Taka kepada lelaki itu dan sikap tubuhnya yang siap bertarung dengan bekas darah menetes dari tangan kirinya.


Bersambung…..


...****************...