The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 32 - Sekarang Waktuku! Hoshizora Taka



Sisi Hoshizora Taka


Meskipun sekedar menggerakkan tanganku sergap, rasa sakit ini tidak sebanding dari dampaknya. Tatkala mengarungi seluruh lautan hanya untuk mencari ikan, hasilnya sungguh merugikan. Namun setidaknya aku tahu tempat dimana ikan terbesar berada.


"Sepertinya tidak repot repot kujelaskan ya?"


Ujar salah seorang bawahan Zylx yang menghampiri kurungan kami, suara gadis itu benar menyilangkan kesan mencekam.


Yogairu sedari tadi kesal semakin menggali dalam perasaan negatif tersebut, seraya berkata, "Apalagi ini? Sebelumnya seorang bapak dungu sekarang apa?! Wanita malam?!"


Perkataannya sungguh menusuk langsung, meskipun aku yang ada di pihaknya, ingin sekali menampar mulut cabul ituitu.


"Tenang dulu niisan." Cakap Asteria, dia sepertinya paham betul posisi kita sekarang.


"Hoshizora Asteria seorang elf dan kakaknya sendiri, Hoshizora Taka adalah manusia ya?"


Sebutnya, perawakan tepat pada hadapan ruji kurungan ini terasa sangat mengintimidasi.


"Elf?" Sahut Mafal.


Tidak, bukan hanya Mafal saja, bahkan semua pandangan mereka terbebankan kepada adikku. Sewajarnya mendengar kata "Elf" di benak mereka, sosok ras langka nan tersembunyi di dunia ternyata salah satunya ada di sekitarnya.


"Mau mu apa?!"


Aku berteriak lantang, ada maksud tertentu di baliknya. Entah apa yang akan terjadi untuk melindungi harga diri kami berdua, sepertinya nyawa saja belum cukup.


Gadis bertudung itu menampakkan senyuman sinisnya, dari sekujur tubuh, hanya bagian mulut yang berhasil memperlihatkan ekspresi dari anggota sekte keadilan. Kemudian mengatakan, "Maunya diriku?"


Perkataannya tersebut dilanjutkan oleh secuil bagian kurungan yang terbuka, cukup untuk dilewati satu orang bergantian. Dilanjut oleh langkah kakinya perlahan menuju bagian bebas itu.


Seolah gerbang penghubung antara kedua dunia, sosok bawahan sekte keadilan itu menghalangi jalan keluar setelah dibukanya, membuat tubuhnya menjadi bagian tuk menutupi celah.


Tanpa basa basi, aku langsung berlari mendekatinya, diikuti tangan mengepal siap mendorong telak badannya.


"Percuma."


Sembari mengatakannya langkah kaki kecil sosok itu mundur perlahan menghindari jangkauan serangku.


Benar, aku meleset, kehilangan tumpuan di kaki kiri, namun kumanfaatkan ketidakseimbangan tersebut menjadi tendangan berbalik memutar mengarah pada bagian kepalanya.


"Keseimbangan tubuh yang kompleks serta pemikiran tenang di segala situasi." Ucapnya berada jauh dari laju tendanganku sebelumnya.


'Salah perhitungan?! Tidak, aku jelas mendengar dan mengingat benar dari setiap langkahnya.'


Terdiam sejenak sebagai istirahat untuk peredaran udara diperedaran darah akibat lonjakan serangan tiba tiba itu, sambil terheran mengapa perhitunganku kali ini meleset.


"Pasti kamu bingung kenapa seranganmu tadi tidak mengenaiku bukan?" Cibirnya.


Sial...


"Sihir angin ternyata bisa mengacaukan fungsi telinga juga ya?"


Gadis misterius itu melanjutkan perkataannya, dia tipe orang yang memberikan setengah setengah jawaban.


Aku benci mengakuinya, namun berkatnya, aku menjadi tahu sebab dari kesalahan kecil itu.


Mengetahui jika sosok yang menghalangi jalan utama agar bisa kabur sudah kupukul mundur, aku berkata dengan lantang, "Kalian semua, pergilah. Aku akan menahannya."


"Ta - tapi Ta -."


"Sudahlah turuti saja!"


Aku menyela ucapan Asteria, mungkin ini pertama kalinya bagiku untuk memotong perkataannya.


Sosok misterius dihadapanku terdiam sejenak, tidak ada raut wajah jelas diantaranya. Mungkin dia kesal karena aku menggagalkan rencananya.


"Yah, tangkapan tuan Zylx sudah lepas semua." Katanya dengan intonasi malas.


"Ingin berlagak pahlawan pada tuanmu itu? Padahal kamu sendirilah yang menjadi titik kesalahan besarnya." Sahutku.


Dia kembali melebarkan senyumannya, lalu berkata, "Bukannya yang berlagak pahlawan adalah dirimu? Hoshizora Taka."


"..."


Aku terdiam seribu kata, perkataannya itu adalah kenyataan padu. Bahkan bekas ucapan tersebut belum mengering pada bibirku.


"Sudahlah turuti saja!" Dia mencoba menyamakan nada suaranya dengan suaraku, kesan yang menyindir. "Gitu ya? Pahlawan di antara teman temanmu?" Imbuhnya belum cukup.


"Berisik!"


Aku mengambil langkah besar dan langsung mendekatinya, sekejap mata serta menyilangkan tanganku bersamaan oleh belati kecil yang kukeluarkan dari black storage sembari melesat.


'Hah?!'


Tepat sebelum mengenainya, mata belatiku terbentur oleh sesuatu tak kasat mata. Seolah kadar udara disekitarnya menolakku untuk menyerangnya.


'Penghalang?' Batinku dilanjut langkah memundur sebagai jarak aman.


'Tidak, penghalang harus ada rapalannya.'


Aku terheran tuk kedua kalinya, selama aku bertarung dan melawan hampir ratusan orang, pertama kalinya aku menghadapi lawan seperti dia. Seakan gadis sekte keadilan itu adalah samudra penuh rahasia, sedangkan aku hanyalah bahtera kecil di atasnya.


"Ayolah Hoshizora, sampai kapan kamu menutupi diri aslimu?" Cibirnya.


"Hah?!"


"Kamu saja tidak tahu soal penghalang ini, apakah kamu melupakan sesuatu dengan Skill Memories - mu itu?"


"Ti -,"


Belum sempat mengatakan sepatah kata penolakan, muncul sebuah pecahan ingatan di otakku. Pecahan Skill Memories yang sengaja kuabadikan hingga sekarang, Tidak hanya sekeping, namun butiran kaya. seolah cemin besar yang dipecahkan dan memantulkan semua kenangan di masa lalu.


'Ini?'


Seorang berpakaian rapi di hadapanku, sekeliling juga. Orang orang terlihat bahagia nan senang pada raut wajahnya sembari pandangannya terbebankan kepadaku. Tak lupa sorak tawa mereka mengiringi setiap detik.


'Elf?'


Benar, massa yang di mengelilingiku adalah elf, begitu pula seorang berperawakan tegas didepanku.


"Hoshizora Taka." Panggilnya menyebut nama lengkapku,


Mendengar itu, tubuhku otomatis bergerak menghampirinya.


'Ah iya, aku ingat. Dia adalah Tiorette, tetua di hutan elf ini.'


Sesaat aku tepat dihadapannya, dia tersenyum padaku. Kemudian menggandeng tanganku dan mengangkatnya ke udara, seraya mengatakan, "Dia adalah satu satunya pahlawan yang dapat kita percayai, Hoshizora Taka namanya!"


Setelah mengatakan kalimat penuh arti tersebut tentunya akan disambut oleh teriakan yang memeriahkan kata pujian nan harapan.


'Waktu ini ya, dimana aku berhasil mengalahkan sekelompok penyusup di hutan ini.' Batinku, perlahan ingatan ini menjadi satu, suatu kesatuan ingatan masa lalu.


"Dengan ini kamu, berhak untuk menjalani kehidupan disini. Kewajibanmu adalah menjaga keutuhan alam dari hutan tersembunyi ini, terakhir laranganmu adalah jangan sekali kali menyakiti keturunan elf." Jelasnya tegas, nasihat bak pidato yang langsung merasuk pada telingaku.


Dengan hormat, aku menganggukkan kepalaku perlahan sebagai bukti rasa terima kasih sekaligus penerimaan atas menyandang kewajibanku tersebut.


"Kalau begitu sekarang giliran kamu yang mengucapkan kalimatku sebelumnya." Tutur Tiorette.


"Saya Hoshizora Taka, dengan ini berhak untuk menjalani kehidupan di hutan elf ini, berkewajiban untuk menjaga keutuhan alam di hutan ini, dan yang terakhir adalah larangan untuk menyakiti seorangpun dari seorang elf. Sedemikian rupa, perkataanku adalah janji." Ucapku lantang nan penuh percaya diri.


Berakhirnya serapah janjiku membuat sorak keras dari para warga semakin menjadi - jadi. Diikuti satu notifikasi penerimaan sebuah role pada pandanganku.


Namun....


Di sela teriakan meriah dan pesta besar besaran atas disambutnya anggota sekalian pahlawan disana, aku teringat sesuatu.


"larangan untuk menyakiti seorang elf."


Setelah perkataan itu muncul dalam benakku, seketika aku tersadarkan kembali di waktu kini. Berhadapan dengan gadis bawahan Zylx.


"Penghalang ini..."


Aku tertegun sebentar, kemudian mengalihkan pandangan kepada kedua telapak tanganku, melihatinya berkali kali. Hingga gadis itu memecahkan suasana konyol diriku ini, "Apa yang kamu lakukan?"


"Bukankah kamu sudah mengingat sesuatu?"


"... "


Tanpa sepatah kata apapun yang dapat menyangkal perkataannya itu, perasaanku kini campur aduk. Pikiranku sendiri menyimpulkan bahwa dia adalah elf selaku memori ingatanku sebelumnya, di sisi lain, hatiku masih berkehendak positif, mana mungkin ras elf bergabung dengan perkumpulan terkutuk tersebut.


"Dasar, apa aku harus membuktikannya langsung ya?" Cakapnya perlahan.


"Elf?"


Sedetik setelah aku menjawab kata otakku, dia membuka tudungnya.


"Tepat sekali, Hoshizora Taka."


Bersambung...