The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 10 - Aku Sekolah di Dunia Lain, West Dranitte Academy



Kehidupan di dunia baru dengan teman lama, suasana berbeda dari dunia lama menciptakan vibes tersendiri. Hari baru dimulai, kali ini bukan alarm atau dering handphone yang mengawali pagi dimana sang surya bangun secara perlahan, akan tetapi suara ayam berkokok diikuti kicauan burung bersahutan bagaikan alarm otomatis di dunia ini.


*Bruk! Bruk!


“Bodoh! Bangun lah! Sialan!” Teriak Taka yang sedang membangunkan Yogairu, tentunya dengan cara kasar, yaitu menendanginya.


Suara berisik itu membuatku terbangun dari tidurku.


Sungguh aku merasa kasihan dengan Yogairu, memangnya seberapa susah untuk membangunkannya? Sampai harus menggunakan kekerasan.


Kami mengawali pagi hari bersama dengan sarapan yang sudah di siapkan oleh Taka, sepertinya hanya aku dan Yogairu yang bangun sedikit kesiangan. Mereka bertiga sudah siap dengan seragam sekolah yang dikenakannya.


Berbeda dengan seragam yang ada diduniaku, pakaian sekolah disini kesannya sedikit menuju ke arah penyihir. Kemeja putih serta dilapisi dengan jubah tipis berwarna biru tua.


Setelah menyelesaikan sarapan, kami berangkat sekolah dengan jalan kaki. Setiap langkah selalu diikuti dengan tawa ria, tidak ada keluh kesah diantara kami. Cahaya matahari serta angin pagi yang memberikan suasana tersendiri di dunia ini.


“Yahoo! Selamat pagi!” seru Mashiro sambil memegang pundakku yang tiba tiba ada di belakang kami.


Aku sedikit heran dengan Mashiro, mengapa saat dia muncul pasti pada waktu santai seperti ini. Terlebih lagi datangnya secara tiba tiba, seperti ini. Siapa yang tidak terkejut dengan itu?


“Aoi – niisan, itu.” Sahut Azuzi dengan suara lirih serta wajah berpaling dariku.


“Iya? Kenapa Azuzi?” Balasku.


“Soal matamu, apakah tidak apa?” Tanyanya.


“...”


Dia masih dengan posisi wajah sama dari tadi. Sepertinya dia malu – malu menanyakan itu, aku juga teringat kalau warna mata kiriku berubah. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa dengan mata kiriku ini.


“Oh, iya! Itu - itu, sebaiknya pakai penutup mata sebelah, mirip perampok laut tuh! Haha!” Ucap Yogairu dengan candaannya.


'Penutup mata ya, itu tidak terlalu buruk.'


Tapi sedikit memalukan, jika harus memakainya seharian penuh. Apalagi dengan perubahan mencolok seperti itu, pasti akan jadi pusat perhatian disekolah nantinya.


“Ti – tidak, lebih baik seperti ini saja.” Balasku, setelah berpikir dua kali, kupikir lebih bagus jika tetap seperti ini.


“Hmm, dilihat lihat kamu cocok kok, haha!” Sahut Taka sambil ikut tertawa.


“Benar kata Ta – kyun, Aoi – san sedikit ke – keren.” Kata Asteria sedikit mengecilkan suaranya.


'Cocok ya, keren ya, hmm.'


Pertama kalinya dapat pujian seperti itu, singkatnya tidak usah disembunyikan lebih baik.


“Baiklah jika menurut kalian seperti itu.” Jawabku dengan wajah senang.


“Jangan bangga dulu, banyak orang tertarik dengan perubahan fisik yang tidak wajar. Kamu ingat kata Taka, jika kekuatan memiliki dampak besar maka efek samping yang di keluarkannya juga akan semakin terlihat. Contohnya mata kirimu.” Tegas Mashiro dengan nada suara serius.


Aku hanya termenung mendengarkan ucapan Mashiro, aku sendiri tidak paham dengan maksudnya. Sebenarnya apa hanya dengan menjalin kontrak dengannya, harus menanggung resiko sebesar ini. siapa juga yang tertarik Skill ‘kontrak’, apalagi berhubungan dengan gadis aneh ini.


Perjalanan ke sekolah pun diiringi dengan ceramah Mashiro yang menjelaskan dengan keadaan disekolah, posisiku di sekolah, serta hal hal berkaitan tentang kondisi sekolah. Karena itu aku tidak terlalu menikmati waktuku bersama Taka dan lainnya.


‘Baiklah baiklah, bukannya kamu terlalu banyak bicara.’ Kesal ku dalam hati.


Mashiro akhirnya berhenti berbicara, kemudian dia tersenyum kepadaku. Seolah – olah mengatakan ‘yosh – yosh anak baik, semangat sekolah ya!’ Menjijikkan tahu.


Kami akhirnya memasuki wilayah sekolah, ‘West Dranitte Academy’ tertulis di atas gerbang pintu masuk. Halaman dan hamparan bunga - bunga memperindah jalan masuk, untuk seukuran sekolah ini cukup luas. Gedung dengan 2 tingkat memanjang berbentuk wajik (belah ketupat), serta gerbang di setiap sisi yang menghubungkan jalan dengan lapangan ditengah – tengah gedung tesebut.


Air mancur yang berada di depan setiap gerbang kedua membuat desain halaman sekolah ini unik, belum lagi semak bunga mengitari setiap sisi dari gedungnya. Bila dilihat dari atas, nampak seperti semanggi daun empat yang terbentuk oleh keempat air mancur tersebut, dan ditengahnya terdapat belah ketupat yang tidak lain adalah gedung utamanya.


Walaupun aku tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan Mashiro, setidaknya aku tahu dimana kelasku berada serta alur dari sekolah ini. Contohnya-


1, Aku berada dikelas yang sama dengan Taka dan Yogairu.


2, Sekolah ini pada dasarnya adalah sekolah umum, namun karena ini adalah dunia dengan ilmu berpedang serta sihir, jadi setelah pelajaran umum akan ada kelas tambahan.


3, Kelas tambahan adalah kelas untuk melatih kekuatan khusus yang ada di tubuh kita, dan terbagi menjadi 4 kelas. Yaitu, Kelas sihir alami, Kelas Pedang, Kelas sihir pendukung, dan Kelas gabungan.


Yah, intinya orang yang berada pada tubuh ini sebelumnya tidak jauh berbeda dengan diriku di dunia asal, hanya seorang pecundang yang belum tahu akan kekuatan dalam dirinya. Jadi aku tidak harus berjuang lebih keras untuk beradaptasi mengikuti alurnya, aku akan melakukan seperti apa yang ada di dunia asalku.


Saat dikelas pun suasananya tidak jauh berlawan, namun aku sedikit terkejut jika ada ras selain manusia di sini. Seperti gadis dengan daun telinga kelinci, yang bukan lain adalah bunny atau apalah itu di game. Kemudian lelaki yang memilki telinga serigala, adalah demi – human dengan ras serigala. Dan-


Aku melihat kearah gadis yang berambut merah muda serta tanduk kecil di kepalanya, dia cantik dan menawan.


'Ti – tidak – tidak, Succubus? Serius? Mana mungkin dia, pasti demi – human. Yah, maksudku mungkin saja, mungkin ras kambing atau sesuatu sejenisnya.' Batinku sesaat.


‘Mashiro, dia adalah demi – human kan?’ tanyaku dalam hati sambil melirik ke arah gadis tersebut.


“Emm, mungkin.” Balasnya dengan senyuman.


'Tidak dapat diandalkan, ah sial. Jawaban macam apa itu.'


Kelas dimulai, ternyata benar apa yang dikatakan Mashiro tentang pelajaran dasar disini. Akan tetapi ini sedikit tertinggal, jika di umur ini aku siswa SMA dan materi yang diberikan disini sepertinya sudah kupelajari sejak SD. Aku tahu jika ini di dunia lain, ilmu peradaban juga tidak secepat yang ada di duniaku. Jadi hal itu kuanggap wajar.


Hal yang tidak wajar adalah ini,


Terlihat Taka yang duduk di bangkunya sedang tertidur pulas saat guru didepan menjelaskan, guru tersebut sepertinya tahu akan hal itu, tapi menghiraukannya. Sedangkan tempat duduk Yogairu yang kosong, dia tidak ada disana sejak pelajaran dimulai.


'Bukannya Taka disini tidak ada bedanya dengan di dunia asalku. Tapi, apanya yang sama? Ini jelas - jelas jauh berbeda, bagaimana bisa murid serajin Taka tertidur saat pelajaran? Lalu, guru itu. Dia tidak sungguh sungguh dengan pekerjaannya, membiarkan muridnya tidur serta kabur saat pelajaran.' Gumamku dalam hati.


“Tidak, guru itu memang sudah tahu akan terjadi hal seperti ini.” Ucap Mashiro membalas suara hatiku.


“Yogairu, dia selalu kabur di pelajaran umum untuk pergi ke kelas sihir alami. Dan Taka, dia memang seperti itu setiap pelajaran. Itu adalah efek samping dari penggunaan Skill - nya, apakah kamu lupa dengan kejadian kemarin? Mana mungkin setelah bertarung mati - matian, dia tidak menggunakan tenaga serta Ergon - nya.” Sambungnya.


Aku paham maksud Mashiro tentang penggunaan Skill milik Taka. Dengan kata lain, dia mengaktifkan skill ‘penumpukan’ dan menerima efek sampingnya waktu pelajaran untuk tidur. Dan karena itulah, mungkin beberapa guru yang mengajar disini sudah tau akan Skill miliknya, kemudian memilih untuk tidak membangunkannya.


‘Lalu bagaimana dengan nilainya? Jika dia selalu tidur di kelas.’ Tanyaku penasaran.


“Berkat skill ‘memories’ nya dia bisa dengan mudah menghafalkan serta mengingat apa yang dia dengarkan.” Jawab Mashiro dengan memperagakan dirinya sebagai guru yang ada di depan kelas.


'Curang, tapi dia tidak memiliki skill bertarung seperti Yogairu. Namun bisa mendapatkan role ‘knight’, seberapa kerasnya berlatih tanpa menggunakan skill?' Aku kagum dengan kerja kerasnya, ternyata benar - benar ‘Taka’ yang sama.


......................


*Teng Teng Teng


Suara bel yang berbunyi 3 kali, tanda akhir dari pelajaran. Para murid merapikan tempat duduknya, dan Taka juga ikut terbangun dari tidur seharian penuh. Dimanapun tempatnya, suasana kelas akan seperti ini, penuh semangat dari setiap jiwanya, diwarnai dengan sinar matahari yang masuk lewat celah celah jendela. Tidak ada yang lebih melegakan setelah seharian belajar tentang materi kehidupan.


Taka dengan wajah masih mengantuk menghampiriku.


“Pagi, Aoi…hoam, lanjut kelas berikutnya yuk?” Ajaknya dengan muka yang masih belum siap diikuti menguap di sela katanya.


'Eh…. ini adalah dirimu sebenarnya Taka?'


“Ba – baiklah.” Balasku.


Kami berdua keluar dari kelas, dan terlihat Yogairu terdiam bersandar di pilar. Dengan ekspresi kebingungan, dia terus - menerus melihat aku dan Taka yang masih mengantuk menghampirinya.



“Berisik, yang terpenting ayo pergi….” Kata Taka dengan nada lemas.


Di perjalanan menuju kelas tambahan, Yogairu sempat bertanya sesuatu kepadaku.


“Hei, Aoi setelah ini kamu pergi ke kelas mana? Dari tadi aku sempat berpikir, jarang jarang kamu ikut kelas tambahan.” Tanya Yogairu kepadaku sambil mengerutkan dahinya.


“….”


Oh, ya dipikir – pikir, sebelumnya orang di tubuh ini tidak dapat menggunakan skillnya sama sekali, bahkan tidak tahu akan skill yang dimilikinya. Jadi, karena itulah dia tidak mau membuang – buang waktunya untuk mengikuti kelas tambahan.


“Benar kata Yogairu, kamu sudah bisa menggunakan skillmu. Seharusnya beberapa kelas cocok untukmu, seperti kelas gabungan.” Sahut Taka, tiba tiba kantuk di wajahnya menghilang.


“Kelas gabungan ya? Seperti pedang dan sihir? Sepertinya menarik.” Balasku dengan senang.


“Aduh, satu kelas lagi ya kita. Entah bagaimana tanggapan Nathan – sensei, pasti bakal


memarahiku lagi…. Sial.” Keluh Yogairu menghela nafas.


“Iya juga ya…..” Sambung Taka lemas mengikuti nada Yogairu.


‘Eh, aku merasa tidak enak dengan kalian berdua. Tapi, bagaimana lagi. Aku tidak tahu apa apa di dunia ini, maaf ya.’ Gumamku dalam hati.


Setelah melewati beberapa langkah menuju gedung tempat kelas berada, kami tiba di gerbang tersebut. Namun sebuah papan tulisan menghalangi jalan masuk, tertulis


“Maaf gedung ini masih dalam pembersihan mingguan, seluruh aktifitas yang ada di sini ditunda sementara waktu.”


“Ah, sial pembersihan ya. Mau bagaimana lagi.” Kesal Taka sesaat setelah membaca papan tulisan tersebut.


“Biarlah mari kita pulang lebih awal.” Ajak Yogairu.


Kami akhirnya memutuskan untuk pulang, sementara itu Taka mengajakku untuk pergi ke hutan elf. Aku tidak tahu tujuannya, tapi Yogairu menolak ajakan itu dengan alasan ingin segera kembali kerumah dan istirahat


Aku mengikuti kemana arah Taka pergi, dan sebelum itu, dia masuk ke kedai makanan untuk membeli banyak sekali roti serta buah buahan.


“Ini, bukannya terlalu banyak? Bahkan kamu menghabiskan seluruh koin yang kamu dapatkan kemarin hanya untuk roti ini?” Tanyaku sambil membawa karung berat yang berisi banyak roti.


“Ah, ini malah kurang menurutku. Apakah kamu keberatan?” Balasnya sambil membawa 2 karung dan keluar dari kedai.


Saat di luar kedai, Taka mengucapkan sesuatu. Seketika 2 karung yang ada di kedua tangannya hilang entah kemana.


“Eh, apa itu? Kemana perginya?” tanyaku terkejut.


“Itu efek khusus dari role yang kumiliki ‘penjelajah’. Jadi aku dapat menyimpan sesuatu yang ada di tanganku dengan efek role itu.” Jawabnya sambil menepuk – nepukkan tangannya.


“Lalu, aku harus membawa karung berat berisi semua roti ini sendiri? Karena itu Yogairu menolaknya, ah sial.” Gumamku


“Sini-.”


Taka sepertinya mendengarkan ucapanku, dia langsung mengambil karung tersebut dan menyimpannya dengan efek role penjelajah.


“Te – terima kasih.” Ucapku dengan lirih.


Kami berdua melanjutkan perjalanan ke hutan elf, menikmati keindahan dan berbagi waktu dengan alam, merasakan siapa diri kita sebenarnya. Melewati hutan rimba yang hampir tidak ada celah masuk bagi cahaya, rawa rawa nan basah serta lembab. Suara serangga mengikuti setiap langkah kedepan.


Aku terheran kenapa juga Taka pergi kesana tanpa alasan sama sekali, terlebih lagi jalan yang ditempuh sangat tidak nyaman. Sangat becek dan berair, menjijikkan. Yang terpenting di mana Mashiro, dia selalu ada setiap aku tidak butuh apa apa, tapi sejak pulang dari sekolah aku tidak melihatnya sekalipun.


“Yoo! Mencariku yah?” Teriak Mashiro dengan lompatan tinggi.


Serentak aku terkejut dan kehilangan langkahku, untungnya aku tidak terjatuh.


“Kenapa Aoi? Maaf ya mengajakmu kesini, sebentar lagi sampai tempatnya.” Ucap Taka melihat kondisiku.


“Eh, tidak apa.” Balasku sambil membersihkan celana.


‘Sialan! Kenapa sih tiba tiba muncul setidaknya menyapa lah.’ Kesal ku


Mashiro sepertinya tidak peduli dengan ucapanku, dia terus melihat sekitar, seakan waspada terhadap lingkungan lembab ini.


“Jalan tersembunyi menuju hutan elf ya?” Tanya mashiro, memecah keheningan.


Aku hanya menganggukkan kepala beberapa kali.


Terlihat didepan sudah menjadi batas akhir rawa rawa, tanah yang kering serta pepohonan yang sangat besar menjulang tinggi ke langit langit. Akan tetapi terselimuti dengan kabut tebal ditengah – tengahnya.


Saat aku keluar dari rawa, aku merasa seperti sedang diawasi oleh seseorang. Taka seharusnya merasakan hal itu, dia juga menolehkan kepalanya berkali kali. Namun, dia membiarkannya dan terus berjalan kedepan.


“Aoi belakangmu!” Teriak Mashiro memperingatkanku.


Belum sempat melihat kebelakang, kaki kananku tertusuk panah kecil. Tidak ada pijakan dan akhirnya terjatuh.


Taka mengetahui hal itu kemudian berteriak.


“Tunggu! Ini aku, Hoshizora!”


Walaupun anak panah tersebut tidak mengenai tubuh bagian vital, tapi aku merasa kesadaranku perlahan mulai hilang.


“Racun Monkshood, Sial, bertahan lah Aoi!” Ucap Taka melihat anak panah yang tertancap di kakiku.


“Kalian semua! Ini teman ku –


Sial, aku tidak kuat membuka mata lagi, penglihatanku semakin memudar.


-Kemarilah kumohon!"


Teman? Siapa memang? Aku tidak bisa mendengarkan suara Taka dengan jelas.


“Tolong netralkan racunnya! Bawa penawarnya, cepat!”


Aku tidak bisa mendengar lagi, mataku sepertinya sudah tertutup. Apakah ini ujung hidupku? 'Ahh, padahal aku ingin bersama Azuzi dan Asteria di dunia ini, tidak mungkin juga ada gadis kucing kecil. Sial…..'


Akan tetapi secercah cahaya putih bersinar dalam kegelapan, Aku mencoba untuk mendekatinya.


“Surga? Tidak tidak mana mungkin aku layak di tempat seperti itu?”


Saat aku mendekat sinar tersebut, Aku terbangun dari tempat tidurku.


Aku melihat sekeliling, ini ada di dunia asalku. Bahkan Azuzi juga ada disampingku, ini sama persis dengan kejadian malam itu.


“Mimpi ya?” Ucapku menghembuskan nafas besar.


“Mimpi? Lalu aku ini apa?” Balas Mashiro dengan ekspresi wajah kebingungan melihatku.


Bersambung……


......................