The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 25 - Mashiro dan Musuh Bebuyutannya



Sisi Mashiro


Dungeon gelap, sunyi, dan dingin. Semua itu cocok oleh keadaanku sekarang, terhimpit di sebuah lubang besar yang kuciptakan sendiri. Pilihan antara mati terkurung atau mati dibunuh, hanya itu saja pikiranku sekarang.


Namun semuanya menjadi lebih baik di saat aku memperoleh mukjizat, sebuah cahaya kecil bersinar pada lubuk mataku. Keajaiban dari ratusan, tidak ribuan penelitian serta eksperimanku. Terciptalah maha karya sempurna sekaligus terakhir, Aoi Syafiqi. Entah asalmu darimana, kehidupan dunia ini ada di tanganmu.


“Sial, kenapa tidak seberuntung ini sih perkiraanku.” Ucapku melawan rasa sunyi di Dungeon.


Bukan karena suatu hal sepele kenapa aku bisa disini. Sekte Keadilan, suatu keadilan pada seluruh jiwa di dunia, tanpa kekuatan tanpa daya. Semuanya ditentukan oleh kasta, bukan harta. Seberapa kaya dirimu, engkau akan kalah dengan penguasa.


“Kok bisa sih, tiba tiba mereka semua membuat markas disini. Dari sebanyak tempat yang ada, kenapa kalian semua sepemikiran denganku.”


Aku adalah salah satu makhluk incarannya, mau tidak mau aku harus melangkah lebih jauh. Tapi kehendak berkata lain, semakin jauh jarakku, semakin cepat pula pemikiran mereka.


Meratakan seluruh kekuatan Skill serta penggunanya merupakan kewajiban mereka, sedangkan lari dari kejaran maut merupakan tanggung jawabku.


Beberapa saat kemudian, aku terkejut sewaktu salah seorang dari mereka menanamkan sebongkah batu berkilauan di tanah. “Batu penghalang sihir?! Yang benar saja? Memasangnya di tempat ini?”


“Sudah Ketua, lalu apa?” Cakap seorang berpakaian serba hitam ketat setelah menancapkan penghalang sihir.


Jaraknya memang cukup jauh, namun dengan Skill pemisahan milikku ini, aku bisa menyebar seluruh bagian tubuhku pada jarak tertentu.


“Biar seperti itu saja, sekarang kita hanya tinggal menunggu.”


Jawab sosok lawan bicaranya, tidak jelas gender atau postur tubuh karena tudung hitam menutupi seluruh tubuh.


‘Menunggu? Siapa? Bukannya dia Zylx, pencetusnya?’


Sesuai pertanyaanku, jawabannya langsung berasa di sekujur tubuhku. Tusukan tajam kecil menyerang setiap bagian tubuh penggerak, kedua kaki dan tangan seakan menyabotasi badan. Meskipun serangan sisi lancip itu tidak terlihat, tapi sungguh ternyatakan oleh darah yang berkucuran membanjiri lubang di tempatku berada.


‘Sial, mereka melacak energi sihirku.’


“Haha, apakah kalian merasakannya? Darah seorang pengguna Skill legenda, jelas terbenamkan disekitar sini! ”


Tawa kejam oleh Zylx menggerakkan batang hidungnya, seolah anjing pelacak yang mengendus aroma mangsa incarannya.


‘Argh, rasa sakitnya masih bisa kuatasi, namun berbeda cerita jika harus kehilangan darah di lubang sesempit ini.’


Selagi beberapa kelompok sekte keadilan tertawa puas, aku terpuruk entah menunggu ajalku di dalam sini. Kini muncul pilihan baru, mati karena kehabisan darah atau tenggelam dalam kubangan darahku sendiri.


“Benar, darah. Aku menicumnya, darah penuh kekuatan. Di sini!”


Sambil menunjuk kearah tanah tandus tepat dimana alas tersebut yang menjadi tutup atas lubang ajal kematianku.


‘Sial, kenapa menjadi seperti ini.’ Batinku pasrah dan melemaskan seluruh bagian tubuhku.


Mengikuti pernyataan bak perintah, para bawahannya langsung menuju tempat tunjukannya. Tidak dapat dielak lagi, pasalnya dari sekian lahan subur, hanya sebagian tanah sebagai atap lubang ini saja yang tandus.


Tanpa pikir panjang para bawahan Zylx tersebut menggalinya, dan sontak terkejut melihatku berlumuran darah. Salah satu mereka mengatakan.


“Ketua, kami menemukannya! Mashiro, sang legenda pengguna Skill dewa!”


*Prok – Prok!


“Hebat – hebat, menghilang beberapa tahun dan bersembunyi di dalam dungeon pusat.” Tukas Zylx menghampiriku diiringi tepukan tangan di setiap langkahnya.


“Lihatlah dirimu, mandi dengan darah yang kamu ciptakan sendiri.” Sambil menarik lenganku dan mengeluarkan seluruh badanku dari lobang itu.


“Hah, Keberuntunganmu saja, kali ini hanya tinggal kebuntunganmu!” Balasku menjawab perkataan konyol, meskipun tahu ucapanku akan menyulut emosinya.


“Dasar, manusia normal akan mati kehilangan darah sekitar 1,9 liter. Sedangkan kamu hampir 2,3 liter, memang hebat legenda pengguna Skill dewa.” Cibirnya menengok ke arah kubangan darah.


“Masih akurat saja ya, Skill Analisa yang kuberikan kepadamu. Setidaknya berterimakasihlah, aku tidak segan – segan untuk mengucapkan “sama – sama” setelahnya.”


“Baik – baik, sebagai ucapan terima kasihku. Aku akan membebaskan nyawamu, pastinya tidak semudah itu.”


“Ingin Skill milikku? Omong kosong! Lebih baik aku mati!” Tegasku menolak tawaran belum di tawarkan tersebut.


“Kasar sekali ya, padahal aku belum mengatakan apapun.” Sangkal Zylx memberikan senyuman kecil nan kejam. “Bagaimana kalau kamu bergabung bersama kami, menjadi persatuan di sekte keadilan.” Imbuhnya memperjelas perkataan sebelumnya.


“Mana mungkin idiot! Mati adalah pilihan terbaik, daripada harus menjadi pecundang sepertimu!”


“Wah wah, keras kepala sekali ya. Baiklah kalau begitu maumu, tapi aku masih ada suatu eksperimen denganmu.” Katanya melihat kelakuan keras kepalaku.


“Jangan membiarkan kematian menggantikan penderitaanmu, setidaknya berterimakasihlah, aku tidak segan – segan unuk mengucapkan “sama – sama” setelahnya. Gitu kan?”


“Tch.”


Rintihku kesal meludahkan darah bercampur air liur.


Aku tidak bisa berkata apapun lagi, pasrah akan kenyataan dihadapanku. Ajalku sudah ada di tangan mereka, seakan Zylx adalah malaikat pencabut nyawa bagiku.


“Kalian, bawa dia. Setidaknya kita manfaatkan dia.”


Perintahnya kepada bawahan sambil melangkah pelan meninggalkanku.


*Bruk


Suara yang nyaring didengar bukan? Seorang gadis ringan dilempar secara kasar hingga bertabrakan dengan dinding keras. Tidak ada harapan lagi bagi seorang budak sepertiku, memperlambat ajal saja sudah menjadi suatu anugerah.


“Ini, setidaknya pulihkan lukamu.”


Tutur salah seorang bawahan sekte keadilan melemparkan sebuah apel dari genggamannya. Sosoknya tertutup jubah hitam itu sama sekali tidak memperlihatkan raut wajahnya.


“Terima kasih, walau percuma sih.” Balasku mengambil apel yang tidak terlihat selayaknya apel jika sudah pucat.


Entah karena alasan khusus atau kebutuhan tertentu, orang tersebut membuka tudungnya, terlihat daun telinga panjang serta rambut putih bersih dibaliknya. Semuanya sudah masuk dalam karakteristik seorang Elf.


Keluhnya sambil mengibaskan kedua tangan pada wajah, berharap dapat meringankan masalahnya.


“Elf? Bahkan makhluk yang menjadi musuh alami dari sekte ini sudah menginjakkan kaki disini?” Sindirku.


“Aku tidak peduli dengan omonganmu, dan aku juga tidak peduli semua perkataan orang lain padaku. Diriku adalah diriku, aku sendiri yang berhak memutuskan jalan hidupku.”


Antara kesal oleh ucapanku dan tidak betahnya pada suasana ini, membuatnya berbalik langkah dan pergi meninggalkanku sendiri.


Setengah jalan dari pintu ruji, Elf tersebut sempat menghentikan langkahnya. Kemudian melirik padaku dan berkata. “Oh ya Mashiro, kamu pasti kenal Taka dan Aoi bukan? Mereka adalah target selanjutnya, tepat saat Party Star dimeriahkan.”


Sisi Aoi Syafiqi


“Aoi! Bosan tahu, latihan yuk.” Suara Yogairu terdengar dari balik ruangan.


Belum sempat menjawab panggilannya, suara Asteria jelas menjawab suatu perkataan yang ingin kukatakan. “Bodoh, besok sudah mulai pertandingannya. Setidaknya hemat tenagamu lah!”


‘Iya sih, aku juga heran dengan Taka yang seminggu ini tidur.’


Batinku sembari melihat pemandangan indah pada senja hari, tentu saja tidak sendiri, Azuzi pasti menemaniku selama seminggu ini.


“Aoi – niisan.” Panggil Azuzi disampingku.


“Iya?” Responku menjawabnya.


“Bagaimana besok? Apakah Aoi – niisan siap?”


“Pastinya, selama ada Azuzi yang melindungiku. Aku pasti akan tetap maju, begitu bukan?” Balasku tersenyum.


Waktu tetap berjalan bahkan jika kita menghentikannya, selarut malampun dilahap oleh indahnya sang surya dipagi hari. Ayam berkokok menjadi suara awal yang terdengar, udara dingin adalah kesan pertama bagi tubuh.


Benar, Party Star.


Kami sudah siap dengan semua itu!


Suasana kota sungguh berbanding berbalik dengan keadaan sebelumnya, tidak heran karena ada perayaan besar besaran saat ini. Party Star tahunan, ajang dimana para murid sekolah terkenal bertanding secara berkelompok untuk menentukan siapa yang terbaik diantara mereka.


“Ayo! Ayo! Bertaruh, lallapallooza di babak pertama!”


“Antara tim Mafal dan tim Taka! Silahkan gandakan koin kalian!"


Suara teriakan seorang pemimpin bar judi dimana – mana, seakan pertandingan kami adalah el classico.


“Lallapalo apalah itu apa sih?” Lirih Yogairu menutup kedua daun telinganya karena risih.


“Ledakan luar biasa, begitulah mereka menyebut pertandingan kita.” Jawab Taka.


‘Lallapo apalah itu memang panjang sekali sebutannya, apa sih dunia ini.’ Batinku kesal dikarenakan suasana serta sebutan tidak jelas itu.


“Kita sudah sampai Ta – Kyun.”


Sebuah colloseum besar dihadapan kami. Iya, seperti di Roma. Sepetak lahan besar berbentuk angka 0 bak stadion bola serta dataran pertandingan ditengahnya, diperjelas oleh barisan duduk para penonton yang mengitarinya.


“Oy, mata belang!”


Teriak seorang Demi – Human ras serigala biru dari dekat pintu masuk, dia adalah musuh bebuyutan kita, Mafal bersama rombongan party di belakanganya.


Seorang Giant, satu perempuan berpakaian penyihir, kemudian lelaki Demi – human yang mirip Mafal, dan terakhir lelaki misterius yang menutupi hampir seluruh wajahnya dengan rambut hijau tua panjang itu.


‘Lah? Kok malah seperti di manga, Main Character dengan rambut seperti itu biasanya jadi karakter cabul.’ Batinku sesaat pandangan mataku fokus padanya.


“Benar Yogairu juga ikut! Yahoo!” Diikuti perempuan berbaju berpakaian khas hitam serta topi besar pada kepalanya.


“Ayumi?! Hah?!” Terkejut Yogairu dan sontak memanggil namanya.


[[Ayumi?]]


Entah kenapa kami berempat serempak mengatakan namanya.


“Siapa dia?” Tanya Taka.


“A – adikku.” Jawabnya lirih.


[[Adik!]]


“Perkenalkan, dia. Kineku Ayumi. Bagaimana Taka?” Jelas Mafal mengenalkannya pada kami berlima.


‘Sial, andai saja ada Mashiro disini. Aku pasti dengan mudahnya membaca skill mereka.’


“Oh, menambah satu atau dua orang tidak akan mempengaruhi pikiranku.” Tegas Taka.


“Tapi-.”


“Tidak apa, aku hanya ingin menghabisi orang cacat yang memiliki bonus telinga dikepalanya.” Lirih Taka.


“Berisik kalian, mari kita selesaikan setelah ini.”


Teriak Yogairu memecah kericuhan antar dua pihak. Kemudian langsung menghiraukan Mafal dan partynya, kami juga mengikuti dibelakangnya.


Di lorong perjalanan menuju tempat Azuzi juga bertanya tentang laki laki misterius pada Asteria, sebuah pertanyaan yang sama oleh pemikiranku. “Nee, Asteria. Tadikan Syu?”


“Iya, murid terbaik diangkatan kami.” Balas Asteria dengan tatapan ragu di sorot matanya.


Bersambung...