
Penghujung kejadian di senja damai, benar – benar memberikan sesuatu berbeda dalam dunia ini. Bersamaan oleh rumor yang beredar tentang penaklukan Dungeon Bonus, terlebih lagi tiga orang setingkat “Remaja SMA” adalah pahlawan dari semua perjuangan kata.
“Gila memang kalian! Menaklukan Dungeon bonus itu sendirian.”
Seru lelaki paruh baya berumur 40 an, sewajarnya seorang Elf, tidak mungkin dia berkisaran tua seperti manusia.
Malam ini diadakan pesta besar – besaran karena kepulangan serta kejayaan kami dalam peleburan, Taka menjadi inti dari acara ini. Sedangkan aku? Yah, seperti beginilah aku, terpojok dalam suasana kebahagiaan orang sambil memegang secangkir penuh cairan kental berwarna biru gelap. Namun perbedaan besarnya adalah sepasang gadis Elf kembar di hadapanku.
“Anu, Lynia – san dan Lylia – san?”
Sapaku sedikit agar mengalihkan perhatian, bahwa aku berada didepan mereka.
[[Iya? ]]
Seraya mengucapkan kata "iya" mereka berdua menatapku sambil saling menempelkan tubuh bagian depan mereka satu sama lain.
“Kenapa Aoi – kun? Padahal kamu juga ikut serta bersama Taka - san, lalu mengapa kamu tidak menikmati pesta ini?”
Sahut Lylia, Gadis Elf sepertinya tidak jauh tua dengan Mikadzuki. Selaku menjadi adik dari Lynia, Elf Kembar berambut hijau cerah.
“Benar tuh, Aoi – kun saja tidak meminum satu tetespun teh yang kami sajikan.”
Tambah Lynia memperjelas perkataan adiknya. Sejujurnya mereka berdua ini sangatlah mirip, jika saja warna rambut halus diantara keduanya tidak di bedakan, Rambutnya berwarna hijau tua tatkala menggambarkan dirinya adalah seorang kakak.
Tidak, perbedaan besar mereka adalah “benda berharga” yang menempel pada di tubuhnya.
‘Teh? Mereka menyebut cairan berwarna aneh ini Teh? Yang benar saja?’ Pikirku melihat air ungu kental dalam secangkir gelas yang kupegang.
“Ayolah, pahlawan bermata unik, kamu harus mencobanya. Rasanya memang mirip seperti sake, tapi tidak akan memabukkan dirimu.”
Ucap Lylia sesaat aku memandangi cangkirku.
‘Sial, Mashiro kemana sih? Aku butuh arahanmu sekarang!’
“Ah, apa kah mau ku bantu dengan mulutku?”
Bisik Lylia mendekatkan bibirnya pada telingaku.
Terkejut mendengar bisikan desahnya, tangan serta mulutku reflek meminum “Teh” Tersebut. Seakan gadis berdaun telinga panjang itu menekan tombol on/of di otakku.
“Apa yang kamu bisikkan ke Aoi – kun?” Gerutu Lynia kepada adiknya.
“Eum, bukan apa apa.”
Balasnya enteng sembari memberikan kedipan mata kepadaku. Rasanya aneh ketika melihat gadis dengan postur tubuh nakal melakukan hal tersebut.
“Enak! Apa ini, rasa segar bersamaan hangat tercampur di setiap tegukkannya.”
Gumamku sehabis menjajal seteguk, dilanjut beberapa kali aku menikmatinya dan tidak sadar ketika cangkir penuh air teh tersebut habis seketika.
“Nikmat bukan? Ini adalah ramuan herbal dari tumbuhan langka yang tumbuh di sekitar sini.” Tukas Lynia.
“Kalau tidak salah, ada tabiat yang mengatakan. Jika meminum satu cangkir pertama adalah kenikmatan hangat dan sejuk, dilanjut cangkir berikutnya merupakan pemulihan energi tubuh dan -.”
“Salah bodoh! Terbalik ucapanmu itu.” Potong Lynia membatasi penjelasan Lylia.
“Lalu apa?” Protesnya, raut wajah penuh amarah langsung menyatu diwajah gadis Elf yang lebih muda tersebut.
Sementara sepasang gadis Elf kembar mendebatkan tabiat dengan asal usul samar - samar, Taka menghampiriku.
“Yo Aoi, bagaimana pestanya?”
Sapanya, lelaki muda penuh keringat sampai membekas di sela bajunya perlahan mendekatiku. Langkahnya yang berat, benar benar memaparkan kelelahan dalam tubuhnya.
“Yah, seperti inilah.” Balasku mengangkat alis seakan menyindir kondisinya sekarang.
“Aoi, mari kita istirahat sekarang.”
Tutur Taka, intonasi di setiap kata melemas mengikuti tubuhnya.
Tanpa basa basi aku mengenggam lengan Taka dan menyeretnya keluar, dengan keadaannya sekarang, kemungkinan besar antara kelelahan dan mabuk karena pesta ini. Menghiraukan kelanjutan pesta ini termasuk sepasang gadis Elf di hadapanku.
Langit sudah menunjukkan waktu malamnya, dimana sang rembulan menjadi tokoh utama. Butiran bintang juga ikut dalam kisah yang dibuatnya. Kesunyian gelap dipatahkan oleh hiliran angin, seolah membuatnya abadi.
“Aoi, di sana.”
Lirih Taka menunjuk kearah rumah pohon. Melihat telunjuknya, aku teringat waktu tempo hari lalu. Dan segera pergi menuju sana untuk istirahat.
Malam larut tergantikan oleh pagi penuh makna, terbangunkan oleh sinar matahari yang masuk melalui celah ruangan. Aku bangkit dari tidur lelap, mengusap kedua mataku yang dipenuhi kotoran debu nan bercampur air mata. Terlihat seorang lelaki setengah telanjang dalam pandangan samarku.
“Pagi, Aoi.” Sapa Taka sambil merenggangkan badan tanpa sehelai kain di tubuhnya.
“Hwuah, Ta – Taka!” Serentak aku terkejut melihat perawakan tubuh kekarnya itu, dan langsung meloncat bangun.
“Pfft, kenapa reaksimu seperti itu?” Sindirnya sedikit menahan tawa.
Kami pun bersiap – siap dan berencana kembali ke kota. Berpamitan kepada seluruh warga disana dan pergi berjalan kaki.
Di perjalanan, Aku sedikit berbincang dengan Taka. Bukan soal kejadian kelam di Dungeon, namun persoalan tentang Skill “Magnify” milikku yang tidak tahu akan sejarah serta keturunan penggunanya.
“Aoi, kamu bisa menggunakan Skill barumu secara langsung?” Celetuk Taka.
“Hmm?” Gumamku mengalihkan pandangan kepadanya.
“Tapi Taka, kalau kamu saja yang paham betul dengan penggunaan skill saja tidak tahu, apalagi aku?” Jawabku mencoba mengubah topik pembicaraan. “Lalu “Hien” itu?” Tambahku.
Seketika Taka mengulurkan kepalan tangan kirinya seperti mengeluarkan tinju kedepan, kemudian menarik punggung lengan kirinya sebagai jeda dari jangkauannya. Namun, dia tidak menarik sepenuhnya. Taka tiba tiba menerbangkannya kembali kearah yang berbeda. Menciptakan dua serangan titik buta hanya dengan satu ayunan.
“Kamu melihatnya? Itu sedikit lambat.” Tukasnya setelah mempraktikan skill “Hien” miliknya.
‘La – lambat? Apa itu? Bahkan aku sedikit telat menyadarinya.’ pikirku ternganga melihat pukulan cepat yang diberikan Taka.
“Ah, iya.” Jawabku ragu ragu atas pernyataan anehnya.
“Tapi ini sangat menyakitkan waktu pertama kali aku mencobanya, tekanan berlawanan yang diberikan pada pergelangan tanganku sangatlah menyiksa.” Gerutu Taka sambil menggibaskan tangannya. “Ah, kita sudah hampir sampai perbatasan.” Sambungnya memotong penjelasan dan memusatkan sorot matanya kearah depan.
Sesampai di pusat kota, kami menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada disana. Dari ras manusia sampai demi – human memandangi kami dengan terheran dan sinis. Bagaikan melihat seorang bunga bangkai, indah tapi tidak sedap.
“Hei – hei, dia Taka dan Aoi? Lalu mana satunya?”
“Kudengar dia seorang Elf.”
Tetesan bisik dalam suasana bising dipusat kota sempat terdengar ditelingaku, percakapan tentang rumor panas memang tak bisa terelakkan.
“Ahh secepat ini kah penyebaran rumor dari guild?” Imbuhnya mewadahkan kedua tangannya sebagai sandaran kepala.
“Rumor peleburan Dungeon Bonus?” Balasku kembali bertanya kepada Taka disamping.
“Iya, karena darahku yang terhubung dalam batu sihir. Karena itulah, guild tahu akan pencapaian dan kemajuanku secara signifikan.” Sanggah Taka menjawab serta memperdalam perkataan sebelumnya. “Kemudian tanpa adanya perbincangan, pihak guild menyebarkan informasi ini langsung.” Timpalnya menghela nafas besar.
‘Darah? Pasti itu sebuah kontrak dengan guild.’ Aku yakin terhadap argumenku.
Tak lama mengarungi derasnya rumor nan pandangan orang orang yang membebani pikiran, kami berdua dikejutkan oleh seorang pria tinggi sedikit lebih tua daripada Taka maupun diriku, mengenakkan kemeja berdasi panjang dan terlapisi oleh jas panjang.
“Nat-.”
*Tok!
Belum sempat Taka menyelesaikan perkataannya, pria tersebut langsung memalu kepala Taka dengan telapak tangan bagian bawahnya. Seolah tidak memberikan sedikit waktu untuk bicara.
“Taka, lalu Aoi!”
Bentak laki laki itu kepada kami berdua, perhatian orang orang di sekitar menjadi tambah terarahkan. “Dua hari menghilang kalian sudah menaklukan dungeon, tidak ajak sensei lagi.”
‘Sensei?’
“Tidak mau, nanti sensei bakalan ngerusuh.”
Jawab Taka, seolah tidak peduli dan menghiraukan pria yang mengaku dirinya adalah guru.
“Duh, Taka mesti gitu. Dan Aoi, sepertinya kamu sudah menemukan kemampuan sejatimu.” Sahutnya pasrah akan perilaku Taka dan mulai menaruh mata kepadaku.
“Ah soal itu, tidak sepenuhnya benar sih.” Jawabku ragu sambil menggarukkan jari telunjuk di pelipis kepala.
“Duh Nathan sensei nih, lagian kenapa kamu bisa sampai sini. Bukannya sekarang waktunya sensei mengajar?” Tukas Taka menarik jas senseinya itu lalu menyeretnya menjauh dariku.
Suasana yang asalnya mengerikan, penuh sepasang tatapan dari kedua mata setiap orang. Kini semakin memburuk, apalagi kedatangan lelaki dengan reputasi sensei mengkeruh keadaan. Mau tidak mau, aku hanya bisa mengikuti alur saat ini.
“Rumah? Bersama seorang sensei aneh ini?” Gumamku terkejut sembari mematri langkah memasuki halaman rumah.
“Kami pulang, ah mereka bertiga masih sekolah ya.” Kata Taka membuka pintu utama.
“Ka – kalian berlima satu rumah? Siapa saja?” Tanya pria berpakaian rapi tersebut, terkejut mendengar ucapan “Kami pulang” dari Taka.
“Iyah begitulah.”
Taka melepaskan tubuhnya dan terjatuh duduk di sofa, diikuti sensei yang ikut meniru perbuatannya namun sedikit lebih sopan. Aku cuma terpaku diam melihat kelakuan mereka, pasalnya hubungannya adalah murid dan guru. Tetapi tidak sedikitpun perilakunya mencerminkan semua itu.
“Perkenalkan, dia Nathan – Sensei. Seorang penanggung jawab tidak berguna di kelas gabungan.” Sindirnya sambil menyilangkan kaki dan mencari posisi nyaman.
“Apa katamu ini, tidak bisakah kamu menjelaskan pribadiku selayak mung-.”
“Tidak, itu kenyataan.” Potongnya membungkam kalimat pembelaan senseinya.
"Eh... "
Tidak dapat berkata lebih, aku juga tahu jika Nathan – Sensei mengenaliku. Aku hanya bisa menganggukkan kepala.
Kemudian dibukalah perbincangan kecil diantara kami bertiga oleh Nathan - sensei yang melayangkan tangannya dibahu sofa.
“Lalu, apa yang membuatmu membawa aku kesini, kamu tahukan jadwalku sepadat apa?”
“Padat? Seorang yang berkeliaran dipusat kota tanpa alasan jelas kini membela dirinya dengan sekedar perkataan itu?” Sanggah Taka menampar bersih kenyataan gerak gerik senseinya.
“Hehe."
Walaupun dia tahu atas perbuatannya, Pria tua setelan jas malah terkekeh.
“Dasar, aku membawa sensei kemari karena skill milik Aoi.” Jelas Taka mengarahkan pandangannya padaku.
“Ohh iya, pasti kalian mendapatkan hadiah yang luar biasa bukan? Apa itu?” Seru Nathan – sensei diikuti tangannya bertopang pada dagu mengamati kami berdua.
“Hien dan Magnify.”
Bersambung…