The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 7 - Aku Pergi Latihan dan ada Rest Area disini?



Terik panas matahari menyinari permukaan dunia ini, pohon pohon menjulang tinggi bak gedung gedung di dunia asalku, suara kicauan burung menggantikan berisiknya knalpot kendaraan. Udara segar berhembus kesana kemari bagaikan ombak yang selalu bergerak dibibir pantai, keramaian orang orang yang sedang beraktifitas menambah suasana yang berlawanan daripada di dunia asalku.


Aku memaksakan diri untuk pergi keluar untuk berlatih, dengan membawa sebilah pedang dibelakang punggung. Sebenarnya aku tidak tahu milik siapa itu, karena terlihat tidak pakai dan penuh dengan debu di gudang rumah Taka.


Bermodalkan pedang dan Mashiro yang selalu mendampingiku, aku berjalan menuju air terjun tempat latih tanding nanti sore. Atmosfir di dunia ini sangat berbeda jauh, duniaku yang penuh dengan teknologi canggih serta peradaban yang maju dikalahkan dengan lingkungan pedesaan yang sejuk disini.


“Setelah melewati jembatan ini kamu akan menemui tempat dimana para petualang beristirahat dan melakukan jual – beli item.” Ucap Mashiro mengarahkan aku.


Setelah melewati jembatan, Aku memasuki tempat yang Mashiro katakan. Tempat ini sangat luas, dipenuhi dengan orang orang yang penuh perlengkapan bertarung. Mereka terlihat sangat gagah, beberapa ada yang beristirahat dan menyembuhkan diri mereka, ada juga orang yang menjual peralatan. Jika dibandingkan dengan duniaku, tempat ini tidak lain adalah Rest Area.


“Satu set Armor seharga 12 koin emas!”


“Uwahh, tadi kita hampir mati bukan?”


“Serius? 50 koin perak terlalu mahal untuk itu!”


Diantara para petualang membicarakan itu dengan keras, saat aku lewat di depan mereka. Tentunya itu adalah teknik Marketing mereka.


Vibes disini terasa sangat hangat dan penuh semangat, tidak heran kalau mereka adalah petualang yang menjelajahi seluruh belantara hutan.


“Hei, Mashiro. bagaimana sistem perdagangan di dunia ini?” Aku penasaran dengan itu dan melanjutkan perjalanan dengan beberapa langkah santai.


“Seperti pada umumnya, barang dengan tingkat kelangkaannya tinggi harganya pun makin mahal. Soal mata uangnya, disini terdapat 3 benda yang dapat disebut nilai tukar, yaitu koin perak, koin emas, dan biji permata. 1 biji permata sama dengan 100 koin emas, sama halnya dengan 1 koin emas adalah 100 koin perak.” Jelasnya sambil menunjuk kearah orang yang membeli beberapa perlengkapan


Jadi di dunia ini tidak menggunakan nominal angka untuk kegiatan ekonomi sebagai mata uang, tapi menggunakan koin dan permata. Ini benar benar mirip dengan Game.


“Apakah kamu ingin membeli sesuatu, seperti pedang atau baju pelindung?” Mashiro bertanya kepadaku, mungkin dia menanyakan hal itu karena aku berbicara soal mata uang.


“Ah, Tidak., aku tidak tertarik dengan sesuatu sa-.”


*Bruk!


Aku menabrak seseorang yang ada di depanku, dia sepertinya sengaja melakukan itu. Karena dia menggunakan tubuh bagian depannya, seolah olah menghentikanku dengan paksa.


“Sepertinya kamu pendatang baru ya?” Ucapnya dengan nada berat dan raut wajah sombong seakan mengintimidasiku yang lebih pendek darinya.


Dia seorang pria yang sedikit lebih tua dariku, dengan tubuh yang kekar dibalut dengan perban di tangan dan di perutnya. Seperti petarung yang siap menghajar apapun di depannya, dengan kepala yang bersih tanpa rambut serta raut senyum palsu yang ada di wajahnya.


“Hiraukan dia! Lanjutkan perjalananmu.” Mashiro mengatakan itu seperti meperingatkan akan sumbu yang terhubung dengan peledak.


“I – iya, Maaf untuk tadi karena aku tidak fokus tadi.” Aku membungkukkan badanku dengan maksud meminta maaf dan menghormatinya.


Pria itu nampak acuh dan memberi jalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Aku bersyukur karena tidak menjadi masalah yang besar, dan langsung melanjutkan perjalananku.


“Pria itu masih mengawasimu loh.” Ucap Mashiro sambil melihat ke arah belakang.


Karena tidak ingin memperburuk situasi, aku tidak menoleh dan berbalik kebelakang. Aku memilih untuk tidak peduli dengannya.


Tidak lama setelah melewati tempat istirahat para petualang aku pun melihat sungai yang arusnya sangat deras, air nya sangat bening hingga seperti air kemasan yang siap minum. Wilayah ini masih asri dan belum terlalu terjamah oleh manusia.


“Ikuti aja arus sungai secara berlawanan, tidak lama lagi kamu akan sampai.” Kata Mashiro sambil melihat jernihnya air sungai ini.


Aku melanjutkan perjalananku dengan menikmati suasana yang tenang ini, ribuan langkah sudah kulewati. Akhirnya aku melihat indahnya arus air jatuh mengalir dari ketinggian dan melalui lintasan bebatuan yang telah terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun lalu.


Air terjun disini sangat tinggi, mungkin dibutuhkan 2 pohon untuk mengukur ketinggiannya. Pesona yang sangat segar, gemercik air diiringi dengan kicauan burung, serta pohon pohon yang rindang menjadi perhiasan yang menambah keindahan tersendiri.


“Baiklah, bagaimana aku memulainnya.” Kataku sambil menarik pedang yang ada di belakangku.


Aku mencoba fokus di tengah tengah suasana alami air terjun. Aku mencoba menghilangkan apa yang masuk di telingaku, gemercik air, kicauan burung, dan suara daun yang terhembus oleh angin.


“Eh? Aku tidak merasakan Skill - ku aktif.”


“Apakah kamu bodoh! Skill - mu aktif jika terpancing oleh Ritme.” Mashiro memukul kepalaku dengan tangannya.


“I – iya, tapi bagaimana aku mendengatkan ritme jika tidak ada musik di sini.” Ucapku bingung.


“Dasar, memangnya sebuah ritme hanya dari musik? Coba kamu liat genangan air yang berjalan mengikuti lintasannya, bukannya itu seperti ritme? Lalu burung burung yang terbang di udara, setiap kepakan sayapnya juga terhitung sebagai ritme.” Mashiro menjelaskan sambil melihat ke arah gerak burung - burung yang bebas di awan.


“…”


Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi setahuku ritme adalah sesuatu yang teratur dan berulang. Membandingkannya dengan benda benda di sekitar memang sedikit mirip, namun untuk fokus terhadap hal itu sangat sulit.


“Tapi-.”


“Tidak usah bilang tapi, kamu belum mencobanya secara langsung. Sekarang perlihatkan fokus mu untuk mengikuti ritme dari burung tersebut.” Jelasnya memotong ucapanku dan menunjuk burung yang ada di atas pohon.


“Baiklah……” balasku dengan nada lesu.


Kedua mataku tertuju dengan burung itu, aku mencoba untuk menghiraukan semua yang ada disekitarku agar bisa fokus dengan satu burung tersebut. Tidak lama kemudian burung tersebut mengepakkan sayapnya dan pergi terbang. Tanpa kusadari kepalaku mengikuti pergerakkannya, Kedua mataku tidak lepas dengan kemana arah terbang burung itu.


Semakin lama, fokus yang kugunakan untuk mengamati burung yang terbang bebas itu semakin kuat. Aku merasa semuanya hampa, hanya aku dan burung itu. Aku pun sadar akan ritme yang dimaksud oleh Mashiro, saat mengepakkan sayapnya aku melihat pantulan gelombang air yang ada di bawah burung itu.


Aku perlahan mulai paham dengan sistem ritme yang ada di penglihatanku, setiap kepakan sayap terlihat pantulan gelombang air di bawah tubuhnya. Dan sebelum mengepakkan sayap lagi, aku melihat sedikit pantulan samar - samar di depan burung itu, dimana titik tersebut memiliki kemungkinan akan menjadi letak untuk mengepakkan sayapnya lagi.


“Aku dapat!” Teriakku karena dapat merasakan efek dari Skill 'Escalation' milikku.


“Benar kan? Dengan kata lain kamu bisa membaca ritme suatu pergerakkan dengan hanya melihatnya, itu termasuk efek Skill 'Escalation' yang terjadi di bagian kepalamu.” Jelasnya dengan ekspresi senang.


“Singkatnya, aku bisa mempredikisi gerakan lawanku saat aku bertarung?” Aku terkejut saat mendengat ucapan Mashiro dan hampir tidak mempercayainya.


“Tidak sepenuhnya salah, walau itu tidak akan terlalu berpengaruh jika melawan musuh yang pandai dan lincah. Tapi setidaknya kamu bisa sedikit mengatasinya.” Balasnya dengan meragakan kuda – kuda memegang pedang.


Aku memang tidak percaya dengan apa yang terjadi didalam tubuhku, bagaimana bisa aku memprediksi gerakan hanya dengan melihat ritme yang diperbuat? Bukannya itu termasuk melihat masa depan? Tapi bisa saja prediksiku salah, karena ritme adalah suatu gerakan yang di ulang ulang. Jika saja musuh yang kuhadapi memiliki banyak gerakan pasti aku tidak bisa mengatasinya.


“Omong – omong kamu bisa menggunakan pedang Aoi – kun?” Tanya Mashiro dengan melihat caraku memegang pedang.


“Eh? Bukannya begini?” Aku menunjukkan genggaman pedangku, dengan posisi ibu jari dan telunjuk sejajar dengan pegangan pegang. Ini mirip forehand jika di bulutangkis.


Aku sebenarnya tidak punya pengalaman menggunakan pedang. Tidak, maksudku di dunia modern siapa juga akan bermain pedang. Jadi aku memegang pedang yang kubawa ini seperti halnya aku memegang raket. Apalagi aku tidak pernah ikut klub bertarung seperti taekwondo atau kendo.


“Bodohmu sedalam apa sih? Bagaiamana kamu bisa menyerang dengan posisi pedang miring seperti itu? Kamu cari mati!?” Teriaknya memarahiku.


“….”


“Dasar, mau gimana lagi. Jadi kamu pegang pedang ini dengan kedua tangan, kemudian cengkeraman telapak tangan jangan terlalu ketat. Rileks, sekaligus tidak longgar, pergelangan tangan mesti lentur.” Mashiro menjelaskan itu sambil menggerakkan tanganku.


Ini sedikit memalukan, ini pertama kalinya tanganku dipegang gadis. Sedikit lembut dan hangat.


“Ah, jadi seperti ini ya. Aku merasa sedikit nyaman.” Ucapku sambil menggerakkan tanganku.


“Coba bagaimana kamu mengayunkan pedang mu.”


*Slash


Suara pedang yang ku ayunkan terdengar seperti membelah angin, aku merasakan sensasi yang berbeda dari sebelumnya. Dan sebuah pop up muncul di hadapanku.


[Role baru didapatkan karena telah mempelajari keahlian tertentu]


[Swordman level 1]


[Pasif yang diberikan adalah damage yang diberikan bertambah 1% jika menggunakan pedang serta menambah keefktifan gerakan berpedang,]


“Hah? Swordman? Apa itu? Role baru karena mengayunkan pedang begini?” Kataku kebingungan.


“Ti – tidak, itu sempurna. Secara gerakan dan kekuatan sudah cukup untuk dianggap memiliki Role itu, aku terkejut kamu bisa mendapatkan itu di percobaan pertamamu.” Balas Mashiro ikut terkejut dan heran.


Aku kira hanya menganyunkan pedang pada umumnya, tapi jika aku mendapatkan role ini berarti aku sudah dibilang cukup bisa menggunakan pedang.


“Omong omong apakah setiap role yang dimiliki pasti ada caranya tersendiri untuk mendapatkannya? Dan apakah efek yang diberikan berbeda beda tergantung Role yang di dapatkan?”


Akibat pop up itu muncul, isi kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan akan kelanjutan sistem dan beberapa pengetahuan dasar di dunia ini.


“Benar, semua Role didunia ini pasti mewakili keahlian yang dimiliki. Contohnya Yogairu, dia memiliki Role ‘Assassin’ karena telah membunuh nyawa seseorang dengan cepat dan tanpa ketahuan. Efek yang diberikan pun juga berbeda.”


Role yang dimiliki Yogairu sedikit menakutkan, dengan syarat membunuh tanpa ketahuan untuk mendapatkan semua itu. Dan aku akan menjadi lawan tandingnya nanti.


“Oh, aku lupa memberitahumu. Kamu bisa mendapatkan Role sebanyak apapun yang kamu mau, tapi hanya dapat menerima 2 efek dari Role yang kamu prioritaskan. Kamu dapat mengubahnya dengan mengucapkan ‘my role’.” Jelas Mashiro melanjutkan ucapannya.


'My Role’


Karena penasaran dengan Role yang kumiliki aku mengucapkannya.


[My Role]


[Prioritas]


[Swordman level 1]


[Penduduk Desa level 2]


[Skill lain]


[Pelajar level 4]


'Ah…. Aku tidak terlalu berharap dengan tubuh ini, baiklah aku akan berusaha.'


Batinku setelah membaca beberapa Role pada pandanganku, tentu saja ini adalah fakta yang mengacu dalam jiwa seorang 'Aoi' sebelumnya.


Aku menghabiskan waktuku dengan berlatih berpedang dan meningkatkan kekuatan fisikku. Seperti berlari, memanjat tebing, dan berenang. Sekali kali aku juga mengasah Skill - ku.


Bebatuan dan udara akan menjadi saksi bagaimana aku memulai perjalanan yang berat ini, angin berhembus, sinar matahari mulai menyengat, keringat dari tubuhku bercucuran seperti menciptakan air mata dengan sendirinya.


Terik matahari mengingatkan ku dengan latih tanding nanti sore, jadi aku menghentikan latihanku dan berniat menghemat tenaga untuk nanti. Dan mulai membasuh tubuhku kemudian kembali.


Bersambung.....


...****************...