The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 14 - Menjelajahi Dungeon Bonus 'Phase 1'



Jatuh dalam mimpi mungkin lebih baik daripada mengalami pengakhiran hidup seperti ini. Terlelap dalam dingin dan gelapnya jurang.


“Ti – tidak ada airnya? Itu dasar!”


Teriak Taka menengok ke bawah, Hamparan tanah rata kering. Tidak akan ada makhluk hidup yang akan bertahan disana.


“Oi, oi, oi!”


Hanya nampak bibirnya fokus dengan apa yang dia harapkan, separuh wajahnya tertutupi oleh jubah dan rambut. Sekilas aku melihat Mikadzuki yang sedang mengucapkan sesuatu, dia sangat tenang dalam situasi ini


“…..datang lah wahai siliran angin, antarkan pengembara melintasi rimba dan cakrawala-


'Rapalan sihir?'


…..bersama dengan mu, cahaya bulan sabit. Tuntulah aku dan berikanlah tubuh kecil ini kekuatan yang maha dahsyat. Crescent Moonlight!” suara lirih Mikadzuki membesar menjadi sebuah teriakan keras, jubahnya yang terbuka memperlihatkan raut wajah badas - nya. Mata berkilauan terang di gelapnya jurang menyala bak sinar cahaya yang terpusat.


Diikuti teriakan yang lantang, muncul sebuah cahaya terang diatas kami bertiga. Berbentuk sabit, menyinari kegelapan jurang, menampakkan seluruh isi dari dasar. Cahaya tersebut berkumpul semakin fokus, akhirnya berbentuk seperti bulan sabit.


Bruk!


“Aduduh.”


Eluhku sambil berdiri membersihkan bagian belakang tubuh, dan terkejut ketika semua masih baik baik saja.


“Keputusan yang gegabah, jika saja tadi waktu rapalanmu telat beberapa detik, itu akan merubah segalanya.” Sambung Taka menatap serius Mikadzuki.


Gadis Elf dengan mata bersinar serta cahaya berbentuk sabit bagaikan bulan diatasnya, hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Merasa bersalah akan pilihan yang dia buat, penyesalan terlihat jelas darinya.


“Namun terima kasih, tanpamu kita tidak akan bisa apa apa.” Timpal Taka.


Meskipun dia sempat memarahi Mikadzuki, namun dia tahu betul keputusan yang dibuat tunangannya itu sudah dipikirkan matang - matang.


Hamparan tanah tandus memenuhi lantai ini, pohon - pohon tanpa daun seumpama tulang belulang yang tertancap ditanah, kabut putih juga menebal disekitar sini. Berkat cahaya bulan milik Mikadzuki, beberapa bagian dapat dipandang oleh mata telanjang. Walaupun sedikit samar, setidaknya tahu medan untuk dilalui.


‘Inikah lantai 10 dari Dungeon ini? berdiri disini saja membuat seluruh tubuhku bergetar’ gumamku dalam hati, sedangkan sorot mataku masih terbelalak oleh sekeliling ruangan ini.


Aku tahu Mashiro dapat mendengarkan itu, namun dia seakan tidak mempedulikannya. Saat ini semua pandangannya teralihkan kepada Crescent Moonlight, Cahaya bulan sabit diatas Mikadzuki. Ketertarikannya terhadap suatu hal sangat lah kental, terlebih lagi kekuatan.


“Kita belum boleh bersantai sekarang, bersiaplah!” Ucap Mikadzuki dengan suara yang berat, mata berkilauan terang masih belum hilang darinya.


Seketika, suara langkah kaki berat terdengar disertai geraman dan raungan keras. Percaya atau tidak, itu adalah kawanan monster di lantai 10 ini. Blood Parade masih belum berakhir.


“Sial!”


Tegas Taka memegang kembali kedua bilah dan posisi tubuh yang siap untuk bertarung.


Mengetahui hal itu, aku juga tidak mau menjadi beban. Memutuskan untuk mengangkat pedangku dan berjalan disamping Taka.


“Mikadzuki, Aoi! Tolong ya!”


Teriak Taka menghadap kami berdua, dibalut dengan wajah penuh keyakinan, dilanjut memperkuat pijakannya dan berlari kedepan.


Suara langkah kaki para monster semakin terdengar jelas, tak lama sosoknya pun terlihat dari bayangan sinar bulan. Dibungkus kabut tebal, gerombolan monster secara brutal berlari ketempat kami berada. Beberapa monster berbentuk seperti b.a.bi raksasa dengan tanduk lancip dihidungnya menerjang maju, diikuti beberapa ekor beruang hitam besar dilengkapi tangan bengkak penuh darah yang menempel dikedua tangannya.


“Blood Parade masih belum berakhir ya?” Celetuk Mashiro melihat sekawanan monster.


Dengan ketangkasan yang dimiliki Taka, dia berhadapan langsung dengan kawanan tersebut. Mengandalkan medan lingkungan untuk bertarung, tebasan kecil dan cepat disetiap ayunannya. Dilanjut setiap langkah yang dibarengi cipratan darah dari monster tersebut. Menggunakan mayat monster untuk pijakan lebar kesana kemari, gerakan tubuh yang gesit membuatnya sulit untuk ditangkap oleh para b.a.bi di barisan depan.


Aku sedikit gemetar melihat Taka bertarung habus habisan disana, aku ingin membantunya, tapi tubuhku menolaknya. Saat ini tangan dan kakiku dirantai dengan beban yang berat, yaitu ketakutan.


“Tetap di posisimu, kawanan sebanyak itu adalah taman bermain untuk petualang level tinggi sepertinya.” Kata Mashiro bernada tegas memberi tendangan telak bagi tubuhku yang bergetaran di hadapannya.


“Apakah selemah ini diriku? Untuk bergerak sa-.”


“Aoi liat belakangmu!” Teriak Mashiro memotongku bergumam.


Kewaspadaan yang berlebih membuatku langsung menoleh kebelakang, terlihat jelas beruang hitam bermandikan darah ditangannya mendekati Mikadzuki yang terdiam memejamkan mata.


Serentak, aku membalikkan posisi pegangan pedangku dan melemparkannya lurus kebelakang mengarah dimana monster beruang tersebut berada. Beruntungnya, pedang tersebut tepat menusuk tubuh besarnya. Mikadzuki yang menyadari itu terkejut dan langsung menusuk mata beruang dengan bilah kecil di pinggangnya.


Sadar jika itu adalah kesempatanku, dengan sigap berlari kebelakang, mengambil pedang yang tertancap ditubuhnya kemudian menebas lehernya.


[Role baru telah di dapatkan karena telah mempelajari keahlian tertentu]


[Adventurer level 1]


[Pasif yang diberikan adalah dapat memunculkan detail monster yang ada tepat dihadapan pelaku, meningkatkan sensitivitas mata terhadap setiap gerakan sebesar 2%]


Indikator yang sama persis seperti saat aku masuk ke Dungeon ini muncul kembali dihadapanku, bersamaan dengan terbunuhnya monster beruang.


“Detail monster dan gerakan mata?” gumamku terheran.


“Jangan bangga dulu, dungeon sebenarnya tepat di depanmu.” Ucap waspada Mashiro menghadap kearah munculnya monster beruang.


Nafas terengah – engah setelah memberikan tebasan kuat tidak dapat dielak lagi. Mau, tidak mau aku harus menghadapi ini semua, membentuk kembali kuda - kuda di tubuh lemahku. Memperkuat genggaman pedang serta memandang semua rintangan didepan mata.


“Terimakasih sudah mengulur waktu, Aoi. Membesarlah kemudian menyebarlah! Keberkahan cahaya bulan!” Seru Mikadzuki, tangan kanan yang memegang pundakku dan tangan kirinya menunjuk ke arah Taka.


Dalam sekejap, bulan sabit diatasnya memusatkan cahayanya kepada kami berdua. Menyebabkan semua sinar terang menjadi redup. Taka menyadarinya, kemudian mengambil jarak dari kawanan monster dan memberikan senyuman percaya diri. Dilanjut memberikan serangan cepat mematikan, dampaknya tidak bisa diremehkan. Hampir semua monster tergeletak di hadapannya.


Sementara itu, ada sesuatu yang berbeda dari dalam diriku, cahaya yang masuk ditubuhku benar benar mengakibatkan dentuman keras. Aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya, melihat kedua tanganku dan mencoba mengingatnya.


Benar, ini seperti waktu aku mengaktifkan Skill ‘Escalation’ di dunia asalku. Ringan, panas, dan cepat bercampur aduk.


"Sebuah Buff?” Ucapku heran sambil melihat sekujur tubuh.


Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari kearah kumpulan monster dibelakang, melihatnya dengan tatapan sebenarnya.


“Horned Bear level 27.” Gumamku melihat indikator status di atas sosok beruang besar didepanku.


“Hati – hati, tubuhnya memang besar, tapi gerakan serta dampak yang diberikan sangat tidak masuk akal.” Ujar Mashiro mengikutiku.


Horned Bear itu mengayunkan kedua tangannya keatas, tangan diatas sudah pasti akan menghantamkan tangannya dengan cepat saat aku mendekatinya. Namun apa yang monster itu gerakkan menjadi lambat dipandanganku. Seakan slow motion, pergerakan yang pelan dapat ku hindari.


“Lambat, tidak, kecepatan tubuhku yang meningkat, ini berkat buff yang diberikan Mikadzuki.” Sembari melompat dan menghindari hantaman keras, di sambung dengan tebasan keras dari atas kebawah.


'Yosh, aku bisa!'


Memanfaatkan gerak lambatnya para monster, aku berinisiatif untuk tetap maju dan menghabisi sisanya. Gerakan yang sama, tubuh hampir tidak ada bedanya, serta celah setiap ayunannya membuatku lihai menebas para Horned Bear.


“Lambat!”


“Terbuka!”


Berkali kali aku ucapkan saat menebas tubuh monster tersebut, walaupun dengan nafas tersenggal, tetap saja mengayunkan pedang adalah satu satunya cara yang bisa untuk tetap hidup.


“Jadi inikah legenda cahaya Crescent Moonlight, pemberian ke jiwa makhluk. Bahkan kekuatannya bisa meningkat 4 kali.” Lirih Mashiro, melihat tubuhku sedang bertaruh darah.


Tebasan demi tebasan, setiap ayunan kecil semakin membesar, semuanya sudah dilakukan. Taka juga nampak keletihan dibagian depan, Mikadzuki bertahan setiap detiknya menjaga pencahayaan tetap tercurahkan. Aku tidak tahu lagi sudah berapa banyak Horned Bear yang kubunuh, pernafasanku tersendat, kakiku mulai berat.


Namun, para monster masih berdatangan. Jumlahnya tidak bisa dipikir secara rasional, entah berapa lama ini akan berlalu. Terus bermunculan disetiap sisinya, tatkala gerombolan semut yang rela mati demi makanan. Perlahan kamipun terpojokkan, kembali berkumpul ditengah dengan tubuh saling membelakangi satu sama lain.


“Tidak ada habisnya…. hah, sial.”


Kataku,bahkan mulut yang tidak sekalipun ikut bertarung, kini tak dapat lagi bekerja sama dengan nafas. Terengah – engah penuh keringat.


“Hanya masalah waktu saja kita disini.” Balas Taka mengusap keringat yang bercucuran di wajahnya.


Blood Parade tidak akan memberikan istirahat, selagi kami berkumpul, para monster itu semakin mendekat. Horned Bear dan Hogder mulai berlari kearah kami, merelakan nyawanya untuk keabadian Dungeon ini.


“Terobos!” Bentak Mashiro.


‘Ha?’


“Langsung terjang ke gerbang boss lantai, setidaknya ada beberapa menit sebelum kemunculan boss.” Wajahnya yang fokus mengarah gerbang besar didepan.


Aku tidak dapat memikirkan apa apa lagi, daripada menunggu waktu untuk para monster itu mendekat lebih baik maju ke gerbang boss tersebut. Sama sama beresiko, namun ini masalah waktu. Cepat atau lambat.


“Kalian berani mempertaruhkan nyawa untuk mengikuti saranku?”


Aku mencoba untuk mengarahkan mereka berdua mengikuti apa ucapanku.


“Kalau ada cara mari kita coba saja!" Seru Mikadzuki, tatapan keyakinan terpampang jelas.


“Aku ikut” Sambung Taka.


“Baiklah, ini mungkin beresiko. Dalam hitungan ketiga kita berlari menuju gerbang boss disana.” Jelasku kepada mereka sambil mengangkat pedangku dan mengarahkannya kegerbang.


“Benar, Setidaknya menghidari kepungan lebih baik saat ini.” Setuju Taka.


“Satu!”


“Dua!”


“Tiga!”


Dalam kehitungan ketiga, sebelum berlari kami memejamkan mata. Dilanjut Mikadzuki memecah bulan yang diatasnya. Menyebabkan kilatan cahaya terang meledak di ruangan ini. Dengan itu, sementara waktu penglihatan para monster akan terganggu karena silauan cahaya di mata mereka. Dan kami memanfaatkannya untuk segera berlari ke arah gerbang boss tersebut.


Di depan gerbang, terdapat satu Horned Bear berukuran cukup besar, tanpa berpikir 2 kali aku langsung melontarkan pedang yang ku pegang ke arah kepalanya. Tepat sasaran, pedang tersebut menusuk diantara kedua matanya. Monster tersebut meraung kesakitan dan bergerak secara brutal.


Diikuti dua tebasan kecil yang diperkuat dengan dorongan pijakan kaki oleh Taka, menikam bisu nyawa seekor Horned Bear. Berhasil melangkahi mayat monster besar ibarat bodyguard gerbang itu, kami pun memasukinya.


Bertolak belakang oleh kondisi di lantai 10, lantai bos ini memiliki pemandangan yang menyejukkan. Hutan asri dengan pepohonan normal yang rindang ditambah tebing tebing yang mengelilingi setiap sisinya, dan menjadi pembatas dari lantai ini.


“Serius disini boss - nya akan muncul?” Tanyaku terheran dengan panorama yang kulihat.


“Mungkin saja, yang terpenting kita harus membiarkan tubuh kita istirahat sesingkatpun.” Balas Taka sambil terjatuh duduk dan melonjorkan kakinya.


“Benar, aku hampir kehabisan Ergon saat ini, sial.”


Eluh Mikadzuki bersandar disamping Taka, sorot matanya kini kembali semula. Tak terasa juga kekuatan Crescent Moonlight yang dia berikan juga mulai memudar.


Sementara itu, aku sedikit heran melihat perilaku Mashiro. Mengamati sekeliling dengan raut wajah kebingungan memegangi dagunya. Memang aku sedikit paham tentangnya, seperti saat dia baru memasuki tempat baru, Mashiro pasti mengobservasinya dengan teliti. Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda dengannya. Sebelumnya dia tidak pernah mengerutkan dahinya sewaktu melihat – lihat. Mungkin dia pernah memasuki tempat ini atau ada sesuatu yang berhubungan dengannya.


‘Kenapa Mashiro? apakah ada yang salah?’ Tanyaku dalam hati, mencoba untuk berbincang dengannya.


Namun, dia tidak berkutik sekalipun. Tetap asik dengan dunianya sendiri. Sadar akan hal itu, aku berhenti dan membiarkannya.


“Jangan – jangan, Bearrock Golem!” Ucapnya dari kejauhan, aku bisa sedikit mendengarnya walau samar samar.


Tiba – tiba, suara burung terdengar ricuh diikuti dengan kepakan sayapnya, membuat daun daun pohon bergerak kasar. Dilanjut gemerisik dari dalam hutan, nampak burung burung terbang keluar menjauh dari rumahnya.


“Sudah muncul ya.” Celetuk Taka mengangkat kepalanya keatas.


Beberapa detik setelah itu, langit langit mulai memerah, warnanya menggambarkan genangan darah yang menggantikan air dikala hujan. Di sambung suara raungan keras di tempat burung burung keluar, dan gemuruh menggetarkan seisi dari lantai ini. Seakan menciptakan pengakhiran dunia ini.


“Dasar, Dungeon ini benar benar tidak memberikan kita istirahat.” Ucap Mikadzuki sambil berdiri bangun menyiapkan busurnya.


Bersambung…..