The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 23 - Ditantang oleh Serigala Aneh dalam Party Star



Suasana sekolah, apa saja karakteristiknya?


Entahlah cuma beberapa murid sedang beraktifitas lalu lalang di halaman sekolah. Termasuk kelompok bermain berlatar belakangkan keluarga kecil ini, Taka, Yogairu, Asteria, Azuzi dan tentunya aku sendiri. Kemudian terpisahkan oleh setiap jalan pembeda tujuan.


“Dah, semuanya. Sampai bertemu nanti.” Seru gadis muda berambut gaya ponytail, Azuzi.


“Bertemu lagi disini ya, sepulang sekolah.” Imbuh Asteria selaku adik Taka dan teman sebaya Azuzi disampingnya.


“Baiklah, dadah!” Balas Taka melambaikan tangannya, aku serta Yogairu juga sempat mengikutinya.


Setelah perpisahan kecil, tinggal kami bertiga. Tidak, sebenarnya kami berempat. Seorang gadis aneh nan tak kasat mata selalu mengikutiku dan ketika dibutuhkan entah kemana dia pergi. Tapi siapa peduli? Kami melanjutkan sisa perjalanan menuju satu tujuan, Kelas 1 – Dummheiten.


Mengisi keheningan diantara perjalanan, Yogairu membukan sepatah perbincangan kepadaku. “Aoi, aku sudah mendengarnya dari Taka. Kalau Skill sekuat itu, apakah tidak terlalu membuang – buang Ergon?”


“Sepertinya tidak, aku juga tidak tahu bagaimana detailnya. Tahu tahu sudah aktif saja Skill - nya.” Pertanyaan Yogairu membuatku mengalihkan pandangan padanya.


“Yang terpenting, Skill - mu itu masih bisa disempurnakan.” Pungkas Taka seolah menjawab keluh kesah diantara kami.


Sesampainya dikelas, seketika suasana lebih sunyi dari sebelumnya. Semua pandangan seisi kelas terbebankan pada kami bertiga, tepatnya aku dan Taka. Bagaikan menoton sepasang penjahat yang baru terbebaskan dari hukumannya, sorot mata mereka semua benar benar sinis.


“Ka – kalian berdua, seperti biasanya. Aku tidak masuk kelas, dah.”


Bisik Yogairu kepada kami berdua diikuti langkah kebelakang secara perlahan.


Namun seorang pahlawan tentunya akan menghadapi masalah apapun dihadapannya, Taka seakan tidak peduli dengan sekitarnya tanpa basa basi menuju tempat duduknya. Aku mengikutinya seperti anak kucing berlindung dibalik tubuh induknya, berjalan kalem dibelakangnya.


“Absen 3 hari tiba tiba langsung menaklukan dungeon.”


“Benar, apalagi dia itu. Siapa sih namanya, bocah tanpa kekuatan.”


“Jangan begitu lihat matanya, dia mungkin numpang saja pada Taka.”


“Mana bisa? Buta kali. Haha, katanya juga mereka berdua bersama elf.”


Selingan cibiran itu menghantui daun telingaku sesaat melewati hutan penuh tatapan kebencian didalamnya.


“Sepertinya rumornya berbanding terbalik ya dengan kenyataan.” Cakap Mashiro disampingku.


‘Yah begitulah, bukan masalah besar bagiku.’


Singkat cerita, saat aku duduk dibangku. Seorang murid bertelinga serigala yang sepertinya ras Demi – Human dengan dominan warna biru cerah dirambutnya berbalik ke arahku seperti melihat orang idiot kemudian berkata. “Aoi ya? Atau mata belang?”


[[Haha!]]


Seluruh murid dikelas menertawakan ucapan serta candaan jelek tersebut, setidaknya Taka satu satunya orang yang termenung.


Aku juga tidak bisa mengucapkan sepatah dua patah kata, tahu akan posisi sangat berlawanan dengan kata “menang”. Aku memilih untuk diam dan menghiraukannya.


Namun suasana suram tersebut terpecahkan oleh hentakkan kaki Taka. “Berisik lah kalian, ini kelas. Idiot!” Perkataan dalam kesunyian itu langsung menarik perhatian semua makhluk dikelas.


“Oi, Candaan fisik itu seperti makanan. Tidak semua orang dapat menerimanya, kamu menganganggapnya lucu?” Tambahnya dengan kepala yang tertunduk, sungguh memberikan kesan mematikan.


“Bahaya, dia dalam pengaruh Skill “Nightmare” nya.” Sahut Mashiro.


‘Taka?’


“Mafal ya? Kalau memang begitu menurutmu, bagaimana kita selesaikan ini pada Party Star bulan besok. Party - mu dan Party - ku, tanpa aturan sama sekali.”


Tantang Taka kepada manusia serigala bernama Mahal tersebut, disertai suara dalam nan serak itu menghiasi setiap kalimatnya.


Tidak ada jawaban darinya, Demi – human bernama Mafal di depanku. Begitu pula semua murid di kelas, seolah Taka adalah seseorang yang menguasai seluruh aktifitas didalamnya.


“Takut? Bukannya tahun kemarin Party - mu masuk finalis ya?”


“Pfft, aku lupa. Kehabisan Ergon dan langsung pingsan, dasar kesalahan seorang pemula." Sindir Taka.


Emosi Mafal sepertinya tersulut karena sindiran Taka, berdiri mengepalkan tangan keatas serta menerima tantangan tersebut. “Baiklah, 5 lawan 5! Siapkan usaha konyolmu itu dalam 1 bulan, dasar pahlawan hasil nyogok!”


“Baguslah, jangan sampai mati ya.” Cibir Taka.


Setelah kejadian ricuh, keadaan sedikit membaik walau masih ada beberapa yang berbisik.


Sepulang sekolah, memang tidak berasa perbedaan sama sekali. Setiap pandangan seperti tertuju pada kami, termasuk Yogairu dari pelariannya waktu pelajaran. Kemudian berlari kearah kami dan berkata. “Taka, Aoi! Serius kamu nantang Mafal?”


“Iya, yang terpenting aku sudah mengajukan izin sebulan untuk memanfaatkannya sebagai camp latihan.” Balas Taka dengan intonasi serius.


“Camp pelatihan!?”


“Benar, Aoi, Yogairu. Kamu susul Asteria dan Azuzi, aku akan pergi menjemput Nathan – sensei.” Pesannya lalu beranjak pergi.


“Taka itu, apakah memang seperti itu?” Tanyaku sembari berjalan dalam lorong kepada Yogairu.


“Entahlah seperti tidak kenal dia saja.” Jawab Yogairu seakan tidak mempedulikan pertanyaanku.


......................


“Sudah berkumpul semua ya?” Celetuk Nathan – sensei selaku penanggung jawab kami.


“Iya, mohon bantuannya!” Seru Taka.


“Duh kalian ini, ngapain aja sih. Merepotkan tahu.” Kesalnya menggaruk rambut.


Entah apa yang akan terjadi selepas ini, Taka menyuruhku untuk bersiap – siap perbekalan, baik sandang maupun pangan selama seminggu penuh.


“Sudah siap semua kan?” Tanya Taka pada kami berempat.


[[Iya!]]


Tak menunggu waktu lama, sekelompok karavan berkuda menghampiri kami. Terlihat dipimpin oleh Nathan – sensei di barisan terdepan. Tanpa basa basi, Taka pun langsung menaikinya, diikuti oleh Asteria dan Azuzi dibelakanganya.


“Ayo Aoi!” Ajak Yogairu beserta uluran tangannya yang mengarah padaku.


“Iya.” Balasku merima tangannya dan menaiki gerbong kayu dengan mesin kaki para kuda.


Merasa semuanya sudah naik, Nathan – sensei mengibaskan tali pada kuda untuk mengisyaratkan perjalanan sudah dimulai.


“Ta – Kyun, kita mau kemana?” Tanya adik dari seorang panggilan ucapannya.


“Pantai.” Jawab Nathan – sensei tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun,


“Asik!” Seru Asteria.


“Pantai, pasir, laut, langit.” Disertai mata berbinar dalam ekspresinya oleh Azuzi.


“Kali ini bukan untuk liburan, tapi untuk kamp pelatihan.” Sahut Taka menyangkal ekspresi bahagia dari kedua gadis itu.


‘Sudah kuduga, pasti seperti alur game - game galge yang sering kumainkan.’ Batinku tidak begitu terkejut.


Singkat cerita, tanpa adanya kenikmatan memandangi keindahan alam karena tertutupnya pandangan oleh terpal kereta kuda. Kami tiba di pantai tempat tujuan, sama sekali tidak ada perbedaan besar antara di duniaku. Hanya sebongkah pasir putih nan halus membatasi irama air dari dangkal kedalam.


[[Baik!]]


“Lalu,”


“Aoi, aku sudah mendengar semuanya tentang Skill - mu.” Seloroh Nathan – sensei padaku.


“I – iya.” Balasku sedikit ragu dengan penjelasan Taka terhadap guru aneh itu.


“Kalau begitu kenapa tidak kamu coba saja?”


“Iya, baiklah. Tapi ada suatu syarat tertentu.”


“Apa itu?”


“Aku harus ada objek lawan dan harus sedikit mengenali pergerakannya terlebih dahulu, apakah kamu ingat, Taka?”


Tanyaku ke Taka karena sedikit malas menjelaskannya panjang lebar tuk kedua kalinya.


“Ah, waktu itu. Aku ingat, iya juga sih. Kalau begitu aku yang akan menjadi lawanmu.” Tukasnya ringkas, padat, dan jelas kepadaku.


“Baiklah, baiklah.” Terimaku pasrah sembari mengeluarkan pedang dari black storage.


“Ya!”


Taka mengambil jarak cukup jauh dariku, dia berada di bibir pantai. Aku sedikit kurang yakin karena ia tidak memakai sama sekali perlindungan ditubuhnya. Namun, siapa peduli? Aku benar benar membencinya.


“Bersiaplah!”


Teriakku disertai kuda kuda dengan genggaman pedang disamping kananku, kemudian mengayunkannya kuat ke arah bawah dan menghasilkan gelombang suara yang cukup keras.


‘Itu! Aku melihatnya jelas’


Batinku sesaat melihat gambaran gelombang suara lalu perlahan bercahaya di sisinya dan membesar menjadi satu kumpulan.


*Wush!


Serangan tak kasat mata itu terkena dalam jangkauan Taka, nampak dia sedikit goyah dipijakannya serta arus pantai sedikit terbelah akibat seranganku.


“Kamu melihatnya Nathan – sensei?!” Seru Taka tanpa dampak kesakitan karena serangan tadi dan menghampiri gurunya.


“Iya, jadi inikah Magnify?” Gumamnya tercengang.


Aku juga ikut mendekat kepada mereka sambil berkata. “Seperti itukah?”


Saking terkejutnya, guru sekaligus penangunggu jawab kami hanya menganggukkan kepalanya. Seakan tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.


“Ayolah, itu belum sempurna tahu!”


Timpal Taka menggoyangkan tubuh Nathan – sensei, berharap akan sadar jika dia melakukan hal itu.


“Iya, Aoi!” Sentaknya sembari memegangi kedua pundakku dan mengarahkan padanganku padanya.


“Iya?”


“Itu adalah Skill luar biasa! Bagaimana caramu mengaktifkannya?” Tanyanya seolah ingin mengambil seluruh ingatanku.


“Aku tidak tahu.”


“Ha?! Kok bisa tidak tahu?”


“Iyah, aku cuma melihat sebuah bentuk seperti gelombang air mengambang. Dan ketika kufokuskan mataku tiba tiba membesar dan menyatu begitu saja.” Jelasku menjawab pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawaban pastinya.


“Jadi itu adalah gelombang suara ya, dan konsep dari Skill ini adalah membesarkan dan menggambungkan ritme setiap gelombang dengan gelombang berikut atau sebelumnya.” Tutur Nathan - sensei panjang lebar dan melepaskan genggaman tangannya.


“Ya, seperti itulah.”


Tidak puas akan penjelasanku, saking penasarannya, guru ingin tahu itu sampai bertanya lebih kepada Taka. “Taka. Bagaimana untuk dampaknya?”


Murid itu mengorek kuda kupingnya, kemudian mengatakan. “Kekuatannya sih tidak lebih dari hempasan udara, seperti sihir milik Mikadzuki. Tapi, suaranya loh. Sakit banget ditelinga.”


“Tidak lebih dari hempasan angin ya?” Gumamku.


“Jadi kemampuanmu ini sangat fleksibel Aoi!” Sahut Nathan – sensei merangkulku.


“Maksudnya?”


“Yah, lihat saja besok. Akan kuberikan dua cara memanfaatkan Skill Magnify milik mu itu dengan tepat.” Tuturnya diikuti langkah maju kedepan, mau tidak mau aku juga ikut terseret perlahan olehnya.


“Kalau begitu, kita istirahat sejenak dulu. Besok pagi pagi langsung kita mulai.” Sahut Taka mengikuti kami di belakang.


“Benar, setelah ini aku akan membahas formasi tim kalian, ada saran Taka?”


‘Formasi tim? Game MOBA apa?’


Aku terselipkan beberapa ingatan saat aku bermain game bergenre itu, dan juga klise seperti ini sudah banyak sekali di manga maupun anime


“Iya nanti.”


Setiap detik telah berlalu, menit dan jam juga begitu. Dikalahkan oleh waktu terbenamnya sang surya tepat di ujung pantai dimana mata dapat memandang ujung ufuk. Kami berhasil mendirikan tiga tenda kecil yang siap digunakan seminggu lamanya. Tak lupa api unggun ditengah yang merupakan hal wajib saat berkemah,


empat orang dihadapan kumupulan kayu terbakar, aku pun. Untuk menghindari rasa suntuk, aku mencoba membuka topik pembicaraan dan bertanya pada Taka. “Taka, apakah formasi itu, seperti yang kamu bicarakan tadi pagi?”


“Benar.” Jawabnya disambi sorot mata terpantul cerminan oleh bara api berkobar.


“Bagaimana itu?” Sahut Nathan sensei penasaran.


“Dua pendukung, Asteria dan Azuzi. Satu All Rounder, Aoi. Satu, Executor Yogairu. Dan Sisanya aku.” Ungkapnya sambil menghitung setiap jari.


“Menurutku itu tidak efektif, bagaimana dengan empat pendukung dan satu HyperCarry?” Usulsn Nathan - sensei mematahkan langsung strategi milik Taka.


“Sensei, aku tidak punya Skill begituan loh.” Gerutu Yogairu.


“Tidak, bukan berarti kita harus mempelajari Skill baru. Tapi kita manfaatkan semuanya.”


“Manfaatkan semua, bagaimana caranya?” Tanyaku masih belum paham dengan rencana Nathan – sensei.


“Skill Asteria, 'Penyaluran'. Dan satu HyperCarry, Taka.” Jelasnya singkat dan menghadap kami bertiga seakan kemenangan sudah nampak dimata.


“Maksud sensei, dengan Skill milik Asteria, dia menggabungkan seluruh Skill kami kepada Taka?” Tanyaku.


“Benar, tapi tidak semua, semisal Skill Escalation, bara api digabungkan di setiap tebasan Hien milik Taka, bukankah itu keren?” Tutur Nathan – sensei.


“Benar tiga kekuatan bersamaan dalam satu serangan.” Gumamku.


“Bagaimana? Setuju atau tidak, kita akan coba besok!”


Bersambung...