
Sisi Yogairu Kineku
Sungguh pengakhiran tidak semulus yang kupikirkan, seharusnya sebanyak prajurit musuh gugur sudah cukup untuk membuat mereka tidak macam-macam lagi. Namun keadaan berbanding terbalik ketika Zylx selaku pimpinannya datang bersama orang yang terlihat lebih tangguh dari prajurit sebelumnya.
Aku tanpa basa-basi langsung memudarkan keberadaanku dan pergi menjauh dari jangkauan mereka.
‘Sial, kalau begini aku serahkan kepada kalian berdua, aku akan segera menyusul dan membawa yang lainnya,’ cakapku sesaat pergi bersamaan mengaktifkan Skill Aura.
Sekiranya cukup jauh, aku berhenti sejenak. Kemudian bertanya-tanya pada dirku sendiri,
“Sial, apakah seperti ini akhir hidup kita.”
“Seharusnya rencana ini berjalan mulus, tapi kenapa? Kenapa orang sialan itu muncul lagi!” umpatku sambil memberikan tinjuan keras pada dinding lorong di hadapanku.
Suara dentuman yang sangat enak di dengar, itu seperti gong di tabuh saat pertandingan tinju favoritku di mulai. Aku sedikit merindukan waktu itu, namun bagaimana lagi? Detik ini juga nyawa kami sudah menari di atas telapak tangan sekte keadilan.
‘Ah, kenapa juga aku mengeluh di sini.’
Aku sadar akan kelakuanku, sungguh naif. Sekeras apapun aku berteriak, jika dunia tidak menerimanya pasti akan berujung percuma. Dan sebanyak apapun aku meminta keringanan, jika dunia tidak memutuskannya pasti akan berujung gagal. Salah satunya hal yang aku bisa dan dunia pasti meridhoinya adalah mencoba dan terus mencoba.
Aku menampar kedua pipiku bersamaan, memusatkan fokus serta keyakinanku pada pelupuk mata berkali-kali. Hingga mulutku berkata, “Sial-Sial! Aku lakukan sajalah!”
Akhirnya berhasil, setelah aku melakukan hal terbilang “Konyol” tersebut, aku memutuskan pergi ke arah selatan. Arah dimana Syu bersama Mob Creature milik Astreria berada.
“Tunggulah pria berambut hijau panjang, aku datang.”
Sisi Ayumi Kineku
Meskipun Zylx sudah menampakkan dirinya serta anak buah kesayangan itu di lorong lusuh, itu tidak akan berpengaruh bagi kami bertiga. Sejak awal, pasangan bersama Mafal yang seorang Executor adalah rekan sempurna. Terlebih lagi sekarang adikku, Yogairu, ikut serta. Bocah itu dapat menyempurnakan Skill-ku jika dia mau.
“Yogairu! Ayo!” teriak Mafal menandakan jika ia akan menyerang.
“Haha! Semakin lama ini menarik!” seru gadis di samping Zylx sembari memainkan kedua tongkat berujungkan rantai dan besiap untuk serangan Mafal.
Senjata yang sangat merepotkan untuk di lawan Mafal sebagai penyerang jarak dekat, keunggulan fleksibel rantai membuatnya bisa memanfaatkan posisi menyerang dan bertahan secara bersamaan. Jika diamati lebih dalam, itu seperti cambuk rantai.
Di sela Mafal melesat maju, tentunya aku tidak diam saja, menggunakan Skill Buff yang kupunya, aku merapalkan sihir kepadanya, ‘Wahai sumber kehidupan, bantulah setetes kehidupan di hadapanmu.’
“Pyro Energy!”
*Ting-Ting!
Dan benar saja, senjata gadis tersebut sangat efektif menghentikan pergerakan serigala kelaparan. Bahkan ia seolah membuat bentengnya sendiri menggunakan senjatanya itu.
‘Tapi, dimana Yogairu? Kenapa dia tidak ikut menyerang?’
Teringat akan adikku yang lebih unggul dalam serangan gerilya, membuatku bertanya-tanya dimana sekarang bocah itu.
“Yogairu?!” teriak Mafal, dia sepertinya sadar jika Yogairu telah pergi.
‘Dasar bajingan, awas aja kalau kita bertemu lagi, adik laknat!’ umpatku sambil mengepalkan tangan.
Karena kesal dengannya, aku terlalu menumpuk Skill Smoke Wave di kepalan tanganku.
“A-Ayumi? Kamu tidak berniat menambah abu bakar lagikan?” celetuk Mafal sesaat memperhatikanku, bahkan dia lebih khawatir daripada musuh dihadapannya.
“Berisik!”
Selain berniat menghancurkan dan mengganggu lawanku, aku juga melampiaskan semua kekesalanku pada gadis yang tengah memutar-mutar senjatanya untuk perisai.
“Mati saja kamu gadis cambuk!”
“Smoke Wave!”
*Wush!
“Sial!” ucap Mafal, saking banyak dan panasnya Skill-ku, dia sepertinya mundur.
Bagaimana lagi? Asap hitam memenuhi ruangan ini, beruntungnya saja Skill ini tidak berpengaruh pada pengguna. Serangan setara asap gunung meletus disertai material yang mudah terbakar membuat serangan ini mengganggu sekaligus mematikan.
“Selesaikan?! Awas aja kamu Yogairu!” teriakku kesal di tengah-tengah asap bernaung.
Akan tetapi, setelah aku berteriak, suara gadis yang sama kembali muncul. Bahkan dia sepertinya terkekeh dan tidak ada pengaruh baginya.
“Haha! Ini benar-benar menakjubkan!”
“Penyihir Buff sekaligus memiliki Skill Buff yang dahsyat seperti ini.”
“Menarik!”
Tak berujung lama, suara tebasan berkali-kali terdengar keras, diikuti asap dari Skill-ku yang perlahan memudar. Dan nampaklah sosok gadis tersebut.
Rambut putih terurai akibat gerakan tangan mengendalikan putaran cambuk, mata badas selaras dengan warna rambut cukup memberikan kesan mencekam, dibalut jubah compang-camping bekas bakaran. Aku yakin jika itu adalah dampak dari Skill-ku, apalagi tudung yang menutupi wajah sebelumnya mungkin sudah ikut terbakar.
“Ara, tangguh sekali ya kamu,” sambutku.
“Yah, aku juga kagum dengan sihirmu. Seorang manusia tapi dengan kekuatan elf,” balasnya menatapku dengan ekspresi menindas.
“Tutup mulutmu!”
Mendapati celah untuk menyerang, Mafal langsung kembali melesat cepat. Tapi hasilnya sama saja, gadis tersebut masih bisa menggerakkan tangannya membentuk gelombang rantai yang melindungi tubuh.
“Sialan!” geram Mafal, pergerakannya juga lebih cepat.
“Haha! Menarik-menarik!”
Sementara itu aku hanya terdiam di tempat, aku ragu untuk memutuskan harus menyerang kembali atau memberikan Buff kepada Mafal. Dan aku masih memiliki Cursed Skill, namun akibatku juga tempat ini tidak memungkinkan untuk menggunakan kemampuan tersebut.
‘Padahal Mafal sedang bertarung mati-matian, tapi kenapa aku hanya diam saja di sini, bodoh!’
Aku hanya bisa menyesal pada hatiku sendiri, memandangi sosok Mafal yang sedang kewalahan. Memang benar, posisiku dengannya adalah kura-kura dan bulan. Hewan lambat bermimpi ingin menggapai bulan.
“Hah?!”
Sesaat aku melamun, gadis sekte keadilan memberikan serangan berkilau secara beruntun. Entah apa jelasnya, sihir maupun skill aku tidak bisa membedakannya.
*Bruk!
“Ayumi, kamu tidak apa!”
Aku terkejut berat, apa yang kualami sekarang saja tidak kumengerti. Setidaknya aku sadar jika Mafal mendorongku.
“A-ah, ya,” balasku sedikit heran.
*Plak!
Mafal menampar keras pipiku, tidak sakit, tapi aku merasakan kenyataannya.
“Bodoh, jangan Mind Down dulu,” singkat Mafal kemudian kembali menghampiri satu-satunya musuh kita.
“Mind Down? Barusan aku hampir Mind Down ya,” gumamku.
“Tapi, hebat juga kamu, penyerang dan bertahan, seperti orang yang kukenal saja. Apalagi kamu bisa menciptakan sihir dari senjatamu itu,” cakap Mafal, tubuhnya kini sudah dibasahi keringat.
“Jadi sihir tadi yang mengarah padaku adalah serangannya ya.”
“Kalau begini aku tidak usah menahannya!”
“Ara? Dewi api?” ucap gadis itu dengan ringannya.
“Akhirnya kamu menggunakan juga ya.”
Suasana benturan antar logam kini mulai samar di telingaku, samarnya pencahayaan lorong ini mulai membara terang. Aku merasa seluruh tubuhku terbakar, bahkan jiwaku merasakan panasnya api, diikuti penglihatanku terhiasi oleh percikan api.
“Wahai sang surya yang menciptakan lintasan alam semesta.”
“Tidak akan rapuh maupun padam.”
“Kami-Kagutsuchi?!” cakap anak buah sekte keadilan.
“Tidak pernah ragu atas keputusan setiap makhluk hidup.”
“Antarkan jiwa ini menuju asal kehidupan, kehangatan, buaian ibu, air mata kenangan.”
“Kemudian tenangkan dan bakar dengan tenang.”
“Demi mewujudkan keabadian dewa api.”
“Izinkan tubuh penuh dosa ini meraup kekuatan dewa.”
“Ka..”
Seekor naga berukuran pilar colloseum muncul dan bernanung di sekitar diriku, berbalutkan api di sekitar tubuhnya.
“Gu..”
Diikuti kembali naga dalam bentuk dan ukuran yang sama.
“Tsu-Chi!”
Serentak, kedua ekor naga tersebut menyemburkan api ganas di sekitarnya. Seolah menciptakan pelindung di tengah-tengahnya, sebagai pusat kekuatan serta majikannya juga, yaitu aku sendiri.
“Sial!” teriak Mafal.
“Akhirnya kamu sendiri yang membakar ruangan ini bukan?” sahut gadis sekte keadilan.
Sisi Aoi Syafiqi
“Kemungkinan besar mereka masih selamat, dan jika saja Taka bisa mengamati keadaan. Dia pasti bisa kabur,” jelas Nathan-sensei.
“Aku tahu itu, tapi musuh kita tidak bisa di hitung dengan jari saja. Satu satunya cara memungkinkan kita menang adalah menghancurkan penghalangnya,” sahut Mashiro memberikan penjelasan sendiri.
Meskipun kita bisa di bilang telah masuk dalam colloseum ini, namun butuh rencana lebih untuk melawan seluruh pasukan sekte keadilan disana. Nathan-sensei dan Mashiro juga tidak mau mengambil tindakan gegabah, hal itu membuktikan seberapa tangguh kekuatan perang yang dimiliki Zylx dan lainnya.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita bagi tugas saja?” usulku di antara mereka yang bimbang.
“Membagi tugas ya?” tanya Nathan-sensei.
“Benar, karena aku tahu lokasi Taka dan partsipan lainnya, aku akan pergi ke lorong.”
“Lalu Nathan-sensei dan Mashiro mengurus para penyihir yang mengaktifkan penghalang ini.”
“Bagaimana Natnat? Aku sih setuju-setuju saja.”
“Iya, bagaimana lagi. Aku hanya bisa jadi pengikut di sini,” pungkas Nathan-sensei.
Kami pun berpencar menjalankan tugas masing-masing, berharap semuanya akan berakhir sempurna. Namun aku juga paham jikalau tidak ada yang sempurna di dunia ini.
“Aku pakai hujan petir saja ya, Natnat,” ucap Mashiro santai sesaat aku berjalan menjauh, tapi aku juga tidak mempedulikannya. Terlebih lagi dia sudah menyatakan kalau Mashiro adalah pengguna Skill Dewa, apa yang tidak mungkin di perbuat dengannya?
“Jangalah Seishou, aku nanti tidak kebagian musuh.”
“Sudahlah, kamu sudah jadi guru bukan, seharusnya kamu lebih dewasa.”
“Permisi, anda juga guru saya loh, Seishou.”
‘Dasar kalian berdua, di saat genting seperti ini masih saja memperhatikan musuh, seperti game battleground.’
Bersambung…