The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 52 Melawan Sekte Keadilan ‘Lambat Laun’



Sisi Aoi Syafiqi


Lorong sunyi tanpa satu pun makhluk selain diriku yang bernafas, melawan kegelapan redup sebelum pertarungan sebenarnya dimulai. Mau lambat atau cepat, aku juga akan menyelesaikan tanggungan ini. Setidaknya aku harus berjuang semampuku.


Namun suasana tersebut tak lama diusik oleh pergerakan di sekitarku. Entah apa itu firasat atau hanya kewaspadaanku, aku menyebar pandangan ke sekitar.


Tanpa memberikan kesempatan diriku untuk gegabah, aku langsung menyiapkan aba-aba blackstorage tepat di hadapan telapak tanganku secara diam-diam. Disambi memberikan gertakan, “Siapa di sana?!”


“Aoi, ya. Syukurlah.”


‘Suara itu,’ pikiranku langsung terpancing sesaat mendengar nada suara tersebut.


“Kamu masih selamat ya,” sapa Yogairu sembari menampakkan dirinya dari bayang di hadapanku.


“Yogairu, kamu?”


“Ya, aku ini. Darimana saja kamu?” ucapnya dengan sedikit menekankan nada, mungkin dia dibaluti kekesalan karena diriku yang langsung meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.


“Maaf, akan kujelaskan nanti. Yang terpenting apakah kamu tahu sumber suara ledakan sebelumnya?”


 Aku mencoba mengalihkan perbincangan dari bahasan itu. Jika saja aku menceritakan semua kejadian sebelumnya, aku tidak yakin kalau bisa menjelaskannya, belum lagi Yogairu mungkin tidak akan mempercayainya.


“Kamigatsuchi,” balasnya singkat.


“Kamigatsuchi? Dewa api?”


Jawabannya itu cukup membuatku heran, kejadian seperti ini sampai-sampai membawa dewa. Bukankah itu sudah berlebihan?


“Iya, hanya berkahnya saja.”


“Berkah?”


“Iya, Kak Ayumi.”


‘Ayumi? Apakah itu seperti cerita Mashiro? Manusia yang meraup berkah dewa,’ batinku sejenak, sedikit mencerna jawaban singkatnya itu.


“Kalau begitu, tunjukkan jalannya.”


Setelah mengucapkan itu, aku langsung berjalan melewati Yogairu dan menyusuri bekas ekornya. Akan tetapi, belum sepasang langkah melewatinya, genggaman tangan Yogairu yang gercap pada lenganku membuat tubuh respon berhenti.


“Tunggu Aoi, bukan hanya aku saja di sini.”


“…”


Aku terdiam bisu seribu kata, maksud Yogairu pasti untuk menemui Syu. Namun tentunya itu adalah hal percuma, aku juga mana mungkin bisa menjelaskan dengan santainya.


“Hei, Aoi. Sebelumnya, kamu dari arah selatan sana kan?”


‘Sial.’


“Iya, aku sebelumnya tidak tahu arah angin di colloseum ini, tapi aku memang lewat sini.”


“Dan Syu? Apakah kamu tidak menemuinya?”


“…”


‘Dia benar-benar ingin menemuinya, sial!’


“Aoi?”


Tidak dapat dielak lagi, mau tidak mau aku harus menjelaskan padanya. Aku menelan air liur kemudian berkata, “Dia, sudah mati.”


Sontak, genggaman tangan Yogairu melemas, dia mungkin sedikit syok mendengarnya.  Itu sudah wajar, kehilangan seseorang yang sudah menjadi satu tujuan dengan kita adalah mimpir buruk


“Bohongkan?” gerutunya.


“Tidak, aku bicara sebenarnya. Syu mati di tangan salah satu anak buah sekte keadilan, tapi dia juga berhasil membunuhnya. Keduanya saling bertumpah darah, melihatnya kesana akan membuang-buang waktu akan pengorbanannya,” ucapku panjang lebar, aku tidak ingin kematian satu rekan kita menjadi penghambat potensinya.


“Begitu ya, terima kasih, Syu. Sebelumnya aku minta maaf jika meminjam Skill milikmu secara tiba-tiba,” ujar Yogairu dengan tertunduk. Lelaki sebayaku itu bekerja keras agar air matanya tidak tumpah ke tanah.


“Akan kuteruskan pengorbananmu, Syu,” imbuhnya kemudian langsung melepaskan lenganku dan berbalik searah selayaknya diriku.


“Kalau begitu, ayo, Aoi.”


“Iya, aku juga minta maaf sekali lagi, aku tiba-tiba meninggalkan kalian.”


Yogairu menghadapku dan memberikan senyuman kecil, kemudia berkata, “Tidak masalah, aku tahu jika kamu juga berjuang selagi kami dikurung.”


“Terima kasih, omong-omong apakah semua partisipan sudah bebas?”


“Iya begitulah, kami semua Party Taka dan Mafal berhasil keluar dari kurungan sihir itu, tapi,” Yogairu menghentikan kalimatnya.


“Tapi?”


‘Ta-Taka? Ada apa? Bukannya tadi-.’


“Dia sedari tadi belum kembali, sebenarnya dia lah yang merelakan dirinya untuk membiarkan kami bebas,” imbuh Yogairu sesaat langsung memotong ucapan pikiranku.


“Lalu yang lainnya?” tanyaku langsung, aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi di kala diriku tiada.


“Soal itu…..”


Cerita dimulai, Yogairu menceritakan semuanya padaku. Sejak aku pergi hingga detik kita bertemu. Bahkan percakapan tentang Skill tanpa Ergon, pertarungan sementara, hingga rencana yang menyebar di segala sudut arah mata angin tercerna dalam otakku. Aku sedikit penasaran akan hal itu.


“Jadi tempat paling aman adalah ruangan yang disinggahi Azuzi dan Asteria?” tanyaku setelah hela nafas lega Yogairu.


“Benar, hanya itu tujuan kita sekarang, dan ledakan di arah barat adalah akibat Zylx dan anak buahnya.”


“Zylx?! Tapi, bukannya tadi,” ucapku terkejut sesaat mengingat ucapan Mashiro jika sosok pimpinan sekte keadilan tersebut sedang dilawannya.


“Bukannya tadi?”


“Iya, Mashiro dan Nathan-sensei sedang melawannya di luar lorong,” jelasku singkat.


“Ma-Mashiro? Pengguna Skill dewa yang menghilang? Dan juga Nathan-sensei?!” sahut Yogairu terkejut dengan jawabanku.


“Iya, entah kamu akan percaya tau tidak dengan ceritaku ini. Namun aku berani memegang ucapanku itu.”


“Jadi, setelah mengetahui jika kurungan sihir hanya bisa dihilangkan oleh penggunanya, aku langsung pergi ke ujung lorong dan…”


Kali ini aku lah yang menceritakan semua kejadian yang kualami, pertukaran informasi di antara kami. Mulai dari meninggalkan mereka hingga aku bertemu dengan Syu. Tidak terlepaskan jika aku menepati Taka berbincang kecil dengan sekte keadilan, dan juga pertemuanku dengan Mashiro di markas Zylx. Tapi, sejauh aku bercerita, tentunya tidak menceritakan diriku yang berasal dari dunia lain.


“Tunggu, Ta-Taka?!” ucap Yogairu heran dengan ceritaku.


“Iya, namun dia tidak terlihat seperti “Taka” sebenarnya. Rambutnya serta matanya seperti tercampur dengan warna siluet ungu, nada bicaranya juga berubah.”


Kami berdua terdiam setelah penjelasanku itu, entah bagi Yogairu itu adalah halusinasiku atau bukan, namun dia terlihat serius memikirkannya.


“Cursed Skill, Nightmare,” ucapnya memecah keheningan.


“Cursed Skill?”


“Benar, apakah kamu ingat sesaat Taka melawan pria misterius setelah kita latih tanding?”


“Iya, memang benar jika dia bukan seperti sosok aslinya, namun waktu itu tidak ada perubahan dalam fisiknya.”


“Aku tahu itu, jika dibandingkan dengan perubahan fisik pada matamu, berarti sama saja dengan Taka,” pungkas Yogairu, perkataannya itu sudah membuat diriku cukup paham akan penjelasannya.


‘Benar juga, apakah kasusnya sama seperti aku dan Mashiro?’


Setelahnya, tidak ada perbincangan apapun di antara kita. Menyusuri jalan lorong tak berujung demi kebebasan semata, sungguh mengenaskan. Semakin lama ke dalam, semakin cepat pula langkahnya.


Hingga sampai di suatu tempat yang suhunya sudah berbeda jauh dari ruangan biasanya. Panas dan gerah menggelegar di setiap sudutnya.


“Panasnya,” gerutuku sambil mengibaskan kerah baju berkali-kali. Memang seperti masuk ke dalam lumbung api, bahkan suara percikan api terdengar di daun telingaku.


“Yah, ini sudah membakar seluruh ruangan ini,” balas Yogairu.


“Kalau begitu, apakah semua orang di sana akan selamat?”


“Entahlah, kalau Kak Ayumi bisa mengontrol kekuatannya mungkin Mafal akan selamat, tapi entah lagi ini.”


Yogairu berhenti di hadapan ruangan tanpa warna selain kemerahan menyala, tanpa sisa kehidupan selain jago api yang terus menerus berkokok keras. Kemudian dia menoleh berkali-kali seolah mencari sesuatu, tentunya dia mencari sosok kakaknya.


“Yogairu, apakah kamu yakin?”


Aku reflek mengucapkannya, bukan berarti aku meremehkan Kak Ayumi maupun Mafal yang ada di sana. Memandangi pemandangan ini, siapa yang tidak bertanya-tanya?


“Itu,” tunjuk Yogairu pada bongkahan kayu terbakar yang roboh.


Bukan hanya sebatang kayu membara, namun terlihat terdapat ruang dibawahnya.


“Aku saja,” usulku sembari mengeluarkan pedang dari blackstorage.


*Wush!


Meskipun tanpa musuh satu pun di hadapanku yang menjadi kewajiban utama Skill Escalation, akan tetapi tebasan keras itu menciptakan pusaran angin yang memecah api. Jadi aku memanfaatkannya untuk mengetahui gelombang angin dan meningkatkannya.


Hasil nyata seperti perkiraanku, dampak serangan tersebut berhasil membelah kayu bekas pondasi lorong.


Sontak, Yogairu langsung berlari menghampirinya.


“Ma-Mafal?”


Bersambung…..