
Sisi Yogairu Kineku
*Slash!
Tebasan keras mengarah pada setengah bagian di tubuh, cukup memuaskanku dalam keadaan kesal. Itu adalah musuh terakhir di ruangan ini, lebih sedikit daripada perkiraanku. Aku juga tidak merasakan aura lebih dari sebelumnya, jadi kuputuskan membersihkan bilah belatiku dengan pakaian konyol mereka.
“Ah, sial sekali, bajuku sudah kotor sebelum pertandingan,” gerutuku saat menyadari bekas darah di pakaianku.
“Oh, aku hampir lupa.”
Selanjutnya, aku langsung menyimpan kembali senjataku dan pergi menengok kedua gadis yang sengaja kutinggalkan dibalik pilar itu.
Namun tidak ada, aku sungguh ingat jelas jika aku menyuruh mereka untuk berdiam diri disini. Tidak mungkin kalau anak buah sekte keadilan mengambil mereka, ada kemungkinan juga mereka pergi lebih jauh.
‘Merepotkan sekali sih, tinggal duduk manis disinikan beres, huh… dasar mereka itu,’ cakapku dalam hati sambil menghela nafas malas.
Tapi, ketika aku melihat sekeliling. Nampak lubang di dinding dengan retakan rapuh disekitarnya, karena rasa penasaran membuatku pergi menengok.
“Jangan bilang kalau kalian bersembunyi dan masuk ke lubang konyol ini,” gumamku.
Saat aku menempatkan separuh mata untuk melirik keadaan disana, terlontarkan batu yang mengarah langsung padaku. Beruntung saja aku masih sempat menghindarinya, namun karena terkejut juga, aku jatuh dan duduk.
“Hah?!”
Sedetik setelahnya, muncul makhluk batu berbentuk beruang kecil dari lubang tersebut. Jika terpacu dalam ingatanku, itu adalah Mob creature milik Azuzi yang diberi nama Kumarokun. Lamun jika ukurannya saja seperti ini, membuatku ragu – ragu memutuskan bahwa dia adalah musuh atau bukan.
“Kuma – kuma!” ucapnya dengan intonasi mendalam.
‘Kumaaaa?’
“Tidak apa – tidak apa, aku ini temanmu kok kumaro-.”
*Plak!
Belum sempat aku menyelesaikan perkenalan hangatku ini dengan cara mengelusnya, dia langsung memukul keras lenganku, dan itu rasanya seperti dilempar batu, sungguh menyakitkan.
“A- aduh!!”
“Kumaa!”
“Apasih maumu! Oi, Azuzi keluarlah dan ajarkan sopan santun pada makhluk ini!”
Karena terlalu kesal, aku berteriak lantang memanggil pemiliknya yang bukan lain adalah Azuzi.
Dan benar saja, dia keluar, disusul oleh Asteria setelahnya.
“Ma – maaf, Yogairu – niisan,” ucap Azuzi lirih seraya menundukkan kepalanya.
Tapi, di sisi lain, Asteria memalingkan wajahnya serta menahan mulutnya untuk tertawa. Imut dan menyebalkan bercampur, membuatku ingin langsung memukul anak itu.
“Huft… terserah kalian, yang terpenting juga tidak apa – apa,” balasku.
“Eh?” ucap Azuzi dan Asteria bersamaan, aku tidak tahu alasan pasti mengapa mereka bisa serentak mengatakannya, namun seolah itu meremehkanku.
“Apalagi?” tanyaku kesal.
“Tidak – tidak, aku merasa kalau Yogairu – niisan adalah orang yang berbeda,” jawab Azuzi sedikit panik.
“Hah?”
“Habisnya Yogairu – san biasanya langsung marah marah, dan tidak seperti ini,” lanjut Asteria menimpali perkataan Azuzi.
‘Lalu, aku biasanya gimana?’ tanyaku pribadi dalam hatiku.
“Sudah – sudah, ini bukan waktunya untuk membahas itu, sekarang kita harus mencari tempat aman untuk kalian berdua,” pungkasku kemudian beranjak berdiri.
“Tapi disini sudah cukup aman,” sanggah Asteria.
“Hmm?”
“Benar kata Asteria, di sini sudah cukup aman, Yogairu – niisan, hanya saja sedikit gelap,”
Dengan ucapan Asteria dan Azuzi, tanpa maksud tertentu aku merangkak masuk ke dalam lubang tersebut.
Ternyata benar begitu perkataan mereka, ruangan ini seperti gudang dan beberapa kotak di sekitar sana. Karena penasaran, aku masuk lebih dalam dan melihat sekelilingnya, Azuzi dan Asteria menyusul. Hanya sebatas tempat kosong dengan satu pintu disana.
“Pintu itu?” tanyaku penasaran.
“Tidak tahu, Yogairu – niisan, kami sendiri tidak berani membukanya,” jawab Azuzi.
“Begitu ya.”
Lebih penasaran lagi, aku memberanikan diriku membuka pintu tersebut.
*Kreeek.
Suara decit pintu itu membuktikan bahwa sudah seberapa ruangan ini ditinggalkan, dan hasil dari baliknya adalah nihil. Lorong gelap tanpa terlihat ujungnya, jadi aku kembali menutup pintu itu.
“Sepertinya cocok untuk tempat persembunyian sementara,” cakapku kemudian mendorong kotak – kotak dan menaruhnya tepat di depan pintu. Hanya untuk berjaga – jaga saja jikalau seseorang misterius masuk yang kemungkinanya kecil.
“Jadi kami berdua disini?” tanya Asteria.
“Iya, aku akan menyusul lainnya juga, adakah yang kalian perlukan?”
Mereka terlihat lemas dan menggelengkan kepalanya. Seakan sepasang kucing yang ditinggal majikannya, tapi, aku bukanlah majikan dari mereka berdua, begitulah setidaknya gambaran wajah mereka.
“Hei Asteria,” panggilku.
“Ada apa Yogairu – san?”
“Apakah kamu bisa menggunakan Skill Penyaluran sekali lagi?”
“Bisa kok.”
“Baiklah, gunakanlah padaku dan kalian berdua.”
“Eh?” ucapnya hampir bersamaan.
“Untuk apa Yogairu – niisan?” tanya Azuzi penasaran dengan apa yang akan aku lakukan.
“Tidak apa,” balasku santai, kemudian membuka Black Storage dan mengambil beberapa makanan serta minuman ringan disana. Kemudian memberikannya pada mereka.
Suasana begitu memprihatinkan, ruangan sedikit berdebu, dihiasi pencahayaan kurang diantara kami. Belum lagi nyawa kita di pertaruhkan selayaknya dadu yang terus diputar dalam permainan papan, entah sampai kapan kita bisa bertahan disini bersama.
“Kalian laparkan? Dan juga, setelah mengeluarkan Skill kalian berdua, pasti sudah menguras pasokan Ergon, jadi akan kubantu sedikit meskipun tidak terlalu berdampak,” ucapku santai.
“Terima kasih Yogairu – niisan,”
“Kalau Azuzi sudah bisa mengatur besar kecilnya Kumarokun, jadi munculkan lebih besar dari ini untuk menutup bekas lubang ini,” pesanku.
“Baiklah, Yogairu – niisan.”
“Kalau begitu, aku pergi dulu, aku berangkat.”
“Iya, hati – hati dijalan,” sahut Asteria.
Dengan itu aku pergi keluar meninggalkan mereka, berharap daun semanggi empat merasuki takdirnya, bagaimanapun juga ini adalah kewajibanku, sungguh merepotkan.
*****
Sesampainya di persimpangan lorong, aku berhenti sejenak. Menaruh pandangan di setiap 3 sisi berbeda dan memilki tanggungan berbeda juga di dalamnya.
“Lalu, aku harus pergi kemana terlebih dahulu?” Aku bertanya sendiri di heningnya lorong.
“Lebih baik ke Kak Ayumi dulu deh.”
Setelah berpikir cukup singkat, tanpa memikirkan dan membandingkan pilihanku tersebut, aku mematri langkah dah pergi ke lajur timur, tempat tim Kak Ayumi dan Mafal berada.
Aku sempat berpikir ditengah perjalanan, ‘Seharusnya aku tadi membantu Syu, dia sendiri di jalur selatan.”
‘Ah, tapi ini sudah setengah jalan juga, dan lagian jalur ke selatan itu cukup jauh, sangat merepotkan.’
Tidak dibutuhkan lama aku sampai di ruangan timur, tempat yang dipenuhi debu di setiap sisinya, ini membuat pernafasanku sedikit terganggu. Untuk menyingkat waktu agar bisa segera menemui anggota lainnya, aku menggunakan Ergon sebagai penggunaan Skill Aura dan melacak keberadaan mereka berdua.
“Ketemu,” ujarku setelah membuka mata.
‘Kenapa mereka sampai sejauh itu, bukannya cuma mengulur waktu saja?’
Aku akhirnya menemui Kak Ayumi yang sedang beristirahat didekat pilar, sedangkan Mafal berdiri berjaga di dekatnya. Kuterka keadaan aman, jadi kuputuskan menemui dan menyapa mereka.
“Halo, Kak Ayumi, dan Mafal juga,” sapaku sembari menghampirinya.
“Yogairu?” sahut mereka bersamaan.
“Ya, ini aku.”
Mafal terlihat sedikit santai kemudian mendekatiku, seraya berkata, “Kalau kamu disini pasti Azuzi dan Asteria sudah aman?”
“Iya, pastinya,” balasku, “Tapi ya, kalian benar – benar menghabisi banyak bawahan di sini,” lanjutku sembari melihat sekeliling.
“Ah ya, ini berkat Ayumi yang memberikan Buff padaku serta menciptakan abu hangat ini,” jawab Mafal ikut memperhatikan sekitar.
Mendengar perkataan Mafal, Kak Ayumi sedikit terkejut, dan berkata lirih, “Ti – tidak, Mafal juga yang mengalahkan semuanya.”
“Iya, intinya kalian bekerja sama, baguslah itu.”
“Oh ya, omong – omong, Yogairu,” celetuk Kak Ayumi.
“Hmm ada apa kak?”
“Apakah Asteria tidak apa? Soalnya Skill Detector milik Syu sedikit berkurang,” tanyanya.
“Apa benar begitu, Ayumi?” timpal Mafal.
“Maksudku, Skill – nya tidak seperti sebelumnya, seperti efeknya yang sedikit berkurang dan samar – samar,” jelas Kak Ayumi mengembangkan ucapan sebelumnya.
Aku memegangi dagu, heran, bermaksud mengulur waktu berpikir atas pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya.
“Aku tidak sebegitu paham penggunaan Skill Asteria, atau bisa jadi Syu yang terkena masalah,” jawabku.
Setelah mengatakannya, entah mengapa suasana seketika menjadi hening. Wajah serius mereka menghiasinya, meratapi perkataanku yang kuucapkan secara asal.
“Benar juga, Mafal hanya bersama Mob Creature milik Azuzi di selatan,” kata Mafal memecah keheningan.
“Apa dia terkena masalah ya?” sahut Kak Ayumi.
Aku merasa bersalah karena ucapanku sebelumnya, jadi aku akan bertanggung jawab dan menyelesaikannya dengan mereka. Kemudian berusul, “Yah, kita juga tidak tahu keadaannya sebelum kita menemuinya.”
“Kalau begitu ayo kita pergi ke jalur selatan,” cakap Mafal, ucapan yang menjadi usulanku.
“Iya, aku juga berniat begitu,” kataku.
Sejurus setelah beristirahat sebentar, kami pergi ke lajur selatan. Sedikit demi sedikit Party yang dibentuk tiba – tiba ini mulai bersatu kembali, aku yang tidak menyangka akan mengalami hal ini sadar jika dunia memang penuh kejutan.
Belum keluar dari jalur timur, karena terlalu herannya dengan debu dan abu bercampur disini aku bertanya pada mereka, dan juga kecurigaanku sepenuhnya pada Kak Ayumi.
“Kalian berdua, apakah tidak terganggu dengan abu ini?”
“Begitulah, Yogairu, seharusnya kakakmu yang bisa menjawab pertanyaan itu,” jawab Mafal.
Aku melirik ke arah Kak Ayumi seraya membatin, ‘Ah benarkan firasatku.’
Tapi mengapa Kak Ayumi hanya diam saja, namun ekspresinya tidak memperlihatkan keraguan.
“Kalau aku menggunakan Skill Bara Api disini mungkin bakal seru,” ucapku dengan nada yang dimain – mainkan, bermaksud untuk menyindir Kak Ayumi.
“Ah – Eh, jangan bodoh!” serunya sedikit gelagapan terkejut.
‘Kembali ke Kak Ayumi yang dulu deh,’ batinku
Tapi, ada seseorang lagi yang menimbali ucapanku tadi.
“Sepertinya saranmu itu cukup bagus ya.”
Suara perempuan, tapi aku tidak mengenalinya, dan cukup lirih suaranya jika dia berada di sekitar sini.
“Siapa?” ucap Mafal waspada.
“Jadi bukan hanya aku saja yang mendengarnya,” lanjutku mengikuti Mafal.
Perlahan, muncul banyangan seorang berjalan mendekat ke arah kami berada. Disertai langkahnya itu sambil berkata, “Aku, aku yang setuju dengan saranmu, tapi tidak dengan tuanku.”
Selanjutnya sosok itu muncul, anak buah sekte keadilan pada umumnya yang mengenakan baju serba hitam. Tapi, bukan hanya dia saja, ada seseorang dibelakangnya.
“Zylx?!”
“Siapa yang bilang tidak setuju, Yuna?”
“Aku memperbolehkanmu,” pungkas Zylx sesaat seluruh dirinya ternampakkan.
Bersambung…