
Sisi Yogairu Kineku
‘Aku sudah hampir mengelilingi setiap sudut dari Colloseum, tapi tidak ada celah gerak yang aman.’
Aku membatin diantara sekelompok bawahan Zylx, mengamati sekitar, dan tidak sedikit aku mendengar perbincangan konyol mereka.
“Sampai kapan sih kita berjaga disini terus?”
Tanya salah satu anak buah Zylx yang berada tepat disamping, aku sempat terkejut karena pandangannya mengarah pada mataku.
“Entahlah padahal tinggal menyerang seluruh yang hadir disini kan kelar.” Balas salah seorang dibelakangku, dia cukup pendek dibandingkan dririku.
“Aku juga lapar banget, kapan makannya.” Pekik orang yang jaraknya cukup jauh, entah kenapa bisa mendengarnya.
Sejujurnya aku tidak mempedulikan perbincangan mereka semua, terlebih lagi tidak ada informasi apapun untuk kabur dari sini.
‘Apa yang kalian bicarakan sih, dasar tidak berguna.’ Kesalku dalam hati kemudian perlahan mematri langkah pergi dari mereka.
‘Yah, sebaiknya aku kembali pada Mafal dan lainnya aja, dari pada membuang sia – sia Ergon untuk pengintaian tidak jelas ini.’
Sudah cukup lama kami terjebak dalam colloseum,mungkin 3 sampai 4 jam. Pastinya banyak pemikiran negatif dalam diri mereka yang terkurung disini, tanpa terkecuali aku sendiri. Butuh keajaiban agar kami bisa keluar dari sini, mustahil juga untuk meratakan seluruh anak buah sekte keadilan.
Hanya butuh beberapa menit saja aku bisa kembali keruangan tempat berkumpul, meskipun luas colloseum ini bukan main, dan seoalah labirin raksasa, aku mudah melacak keberadaan mereka dengan Skill Aura.
Kak Ayumi datang kepadaku dengan muka kesal, seraya berkata, “Lama sekali, kamu makan apa?”
‘Berisik sekali sih, datang – datang disambut seperti ini.’ Batinku tanpa mengubah ekspresi datar tuk menyembunyikan keraguanku. Jika tidak, cemo’oh Kak Ayumi pasti akan lebih parah.
“Ya – ya…maaf.”
“Lalu bagaimana hasilnya?” Sahut Mafal kemudian bangun dari duduknya dan menghampiriku.
“Tidak ada, mustahil kita bisa menghancurkan penghalang yang dibuat oleh puluhan penyihir.”
“Hah?! Lalu kamu dari tadi ngapain! Dasar tidak berguna.”
Sembur Kak Ayumi tanpa adanya penghambat dalam mulut kasarnya itu, lagi pula aku tidak mempedulikannya.
Kemudian Ken juga datang dan ikut berbicang.
“Bagaimana kalau kita hajar satu persatu.” Ujarnya sembari memberikan tinjuan pada telapak tangannya.
“Bisa saja.” Jawab Mafal.
“Lalu kamu Yogairu?” Timpal Ken kepadaku.
Mendengar ucapan Ken, aku melirik ke arah Asteria dan Azuzi yang sedang tertidur lelap. Hal itu membuatku sedikit mengurungkan niat akan usulannya, memang lebih seru jika bertarung langsung daripada bersembunyi seperti ini, tapi sekarang aku harus mengambil resiko sekecil mungkin.
“Syu dan Ohoshi itu?” Tanyaku, sekedar untuk mengalihkan topik pembicaraan ini.
“Ohoshi sedang memusatkan Ergon miliknya kepada Syu.” Celetuk Kak Ayumi menjawab pertanyaanku tersebut.
‘Lah sudah selesai marahnya?’
“Benar, Ayumi. Jika tidak ada kesempatan kabur seperti kata Yogairu, hanya masalah waktu saja kita akan benar benar terpojok disini.” Ungkap Mafal, intonasi suara dan tatapan serius itu sungguh selaras dengan apa yang diutarakan mulutnya.
“Membuat kerusuhan langsungkah?” Tukasku langsung masuk dalam inti pembicaraan Mafal.
“Baru kali ini aku sepemikiran dengan Yogairu, tapi itu memang rencana yang tidak terlalu buruk.” Sahut Kak Ayumi.
“Aku sih tidak masalah.” Kata Ken.
Berbeda dari tanggapan Ken dan Kak Ayumi, Mafal sepertinya satu pemikiran denganku.
“Kalian sih, oke – oke aja. Tapi-.”
Kalimat Mafal terhenti seketika melihat kedua gadis muda itu, siapa juga yang tidak memiliki belas kasihan sehingga memaksa gadis lugu sepertinya untuk bertarung habis - habisan?
“Kita butuh beberapa rencana yang harus diutamakan daripada rencana itu.” Celetuk Kak Ayumi, sebagai seorang perempuan dia juga tahu betapa resikonya ini, terlebih lagi di masa muda.
“Benar, karena itulah aku menyuruh Syu untuk menyempurnakan Skill Detector miliknya.” Ungkap Mafal.
“Baiklah ketua, aku akan lanjut berjaga dulu.” Ujar Ken kemudian pergi perlahan.
“Hah? Ketua? Jangan panggil begitu Ken!” Kesal Mafal, wajahnya sedikit memerah karena panggilan itu? sungguh konyol.
Namun sebaliknya, Ken seolah tidak peduli dengan Mafal dan tetap melangkah pergi.
“Duh Ken! Perhatikan aku, uy!”
‘Dasar manusia memang makhluk aneh.’
Dengan itu aku pergi mendekat kearah Asteria dan Azuzi berada dan membaringkan tubuhku tuk beristirahat sejenak.
Sisi Syu Katsuya
“Kalau begini mengapa kamu tidak memfokuskan dirimu dalam sihir pengembangan saja?”
Dalam kesunyian memecah keheningan, suaraku bahkan menggema di sudut ruangan. Satu satunya orang yang seharusnya menjawab pertanyaanku adalah dia, Norio Ohoshi. Aku juga tidak tahu sebab pasti, mengapa ras serigala nan di di dominani oleh pejuang pedang atau petarung, berbalik kepadanya.
“Begitulah.” Jawab Ohoshi singkat, dia masih fokus dengan gumpalan sihir yang ada di antara kedua telapak tangannya.
‘Gengsi ya? Apakah dia malu kalau dia seorang penyihir berbakat? Ah biarlah, bukan urusanku juga.’ Batinku sejenak sambil melonjorkan kaki.
Sejenak, Ohoshi menghela nafas besar. Sepertinya dia selesai mengumpulkan Skill Centralizaton seperti yang dia katakan sebelumnya.
“Sudah?”
“Iya, mungkin tubuhmu akan butuh adaptasi sebentar.” Balas Ohoshi, kemudian memegang gumpalan sihir berbentuk bola itu dengan satu tangannya.
Peka terhadap perbuatannya, aku bangun.
“Iya.”
Setelahnya, Ohoshi mulai mendekatkan gumpalan sihir di hadapan dadaku. Perlahan namun pasti, benda tersebut diserap masuk oleh tubuhku hingga lenyap seutuhnya.
Bersamaan oleh syaraf tubuh yang menerima lonjakan sihir milik Ohoshi, aku merasakan kesemutan di sekujur tubuh, dilanjut dentuman keras dalam jantungku. Tapi itu masih tidak seberapa sakit, aku tetap bisa menahannya.
“Bagaimana? Apakah kamu merasakannya?” Tanya Ohoshi disertai ekspresi ragu – ragu di wajahnya, entah apa maksudnya dia melakukan percobaan sihir tersebut atau rasa kasihannya kepadaku.
“I – ya, aku bisa.”
Mendengar itu, raut muka Ohoshi berputar 180 derajat, rasa terkejut serta senang tercampur rata di dalamnya. Kemudian berkata, “Kalau begitu coba gunakan Skill Detector milikmu, Syu.”
“Ba – baiklah.”
Aku mencoba untuk bersikap setenang mungkin agar Ohoshi tidak menarik kembali sihirnya, memang benar jika rasa sakit ini mungkin terbilang “ringan” bagiku, namun jika berkelanjutan dampaknya lebih dari itu.
Menggunakan Skill Detector milikku, diikuti penggelapan pada mata untuk di fokuskan kepada otak yang merasakan keberadaan setiap makhluk, hembusan nafas, bahkan detak jantung sekalipun.
“Luar biasa, apa ini? Aku bahkan bisa memandang mereka seutuhnya.”
Mungkin benar efek dari Skill Centralization sangatlah dahsyat walaupun efek sampingnya seperti ini. Perasaan nyata, aku seolah memilki mata tuhan, dapat mengawasi mereka dari atas. Aku bisa mengetahui dengan akurat dan pasti, orang yang berbincang, fokus pada sihirnya, dan orang suntuk.
“Apakah berhasil Syu?” Suara Ohoshi menggagalkan konsentrasiku.
“Ah iya. Ini sungguh berhasil 100 kali lipat.” Balasku memberikan jempol.
Mengetahui hal tersebut Ohoshi nampak bahagia dan menyeringai, mengeluarkan nafas lega serta melepaskan tumpuan tubuh pada kedua lengan seraya berkata, “Syukurlah, kalau begitu. Apakah kamu masih merasakan rasa sakitnya? Ataukah sihir itu masih belum beradaptasi dengan tubuhmu.”
Mendengar ucapan syukur sekaligus pertanyaan Ohoshi membuatku tertegun, memang benar sihir yang bergejolak liar dalam tubuhku kini sudah jinak.
‘Oh iya, rasa sakit ini sudah hilang.’ Cakapku dalam hati
“Sudah tidak terasa kok.”
“Huft, baiklah. Aku kira kamu maih menahannya. Kalau begitu mari kita kembali.” Ajak Ohoshi sembari menepukkan debu di telapak tangan berkali kali, kemudian beranjak bangun.
“Iya, aku juga memiliki beberapa rencana juga untuk mereka.”
Sisi Kyokuro Mafal
Terjebak hanyut dalam kegelapan larut, setidaknya aku harus bisa bersyukur karena masih bisa mengeluarkan nafas disini.
“Namun sampai kapan, kita di sini.” Kesalku memukul sekarung bubuk kayu yang menjadi alas duduk.
Yogairu disamping melirikku, sepertinya ikut naik pitam, sedari awal sejak terkurung disini. Mungkin perasaan itu bertambah karena aku menganggu waktu istirahatnya.
Mengambil nafas besar dan membuangnya sekaligus ekspresi marah, kemudian berkata dengan nada normal, “Apasih maumu, kalau kamu kesal. Bukan hanya kamu saja.”
‘Benar kata, Yogairu. Bukan hanya aku, saja. Bahkan Asteria dan temannya itu mungkin mengalami kesulitan yang sama.’ Batinku, sesaat menyadari sepasang gadis muda tersebut tidur di sebelah Yogairu.
“Kamu tahu, Mafal.” Celetuk Yogairu membuat diriku berpusat kepadanya.
“Ya?”
“Aku seharusnya bisa mengahabiskan seperempat, bahkan setengah pasukan disini. Tapi,”
“Tapi? Apakah kamu ragu untuk melakukannya?”
Entah mengapa ucapan Yogairu terhenti, jadi akumenimbalinya dengan pertanyaan itu.
“Sedikit.”
“Sedikit?”
“Sejujurnya tidak ada Taka yang membuatku tidak memiliki semangat.” Lirih Yogairu.
Aku bisa memaklumi alasan itu, apalagi Taka adalah ketua Party, belum lagi dia adalah teman dekat Yogairu. Raut muka kacau dan pasrah tersebut terpampang jelas bagaimana Yogairu menahan semua bebannya.
“Hei, Mafal. Apakah kamu percaya kalau Taka masih-.”
“Percaya!”
“Ya, aku percaya. Taka itu kuat, dia juga pandai, mengapa juga dia harus kalah? Omong kosong sekali bukan?” Sahutku langsung memotong ucapan Yogairu, memberikan bantahan bersinambung atas omongannya.
“Kalau begitu bagaimana kamu bisa membuktikan ucapanmu itu?”
“Kita akan selesaikan semua ini, lalu bertanding 5 lawan 5 langsung, Kalau tidak, kamu bisa melangkahi mayatku.” Tegasku, saat ini mental Yogairu sangatlah goyah, mau tidak mau beginilah caranya.
“Katamu, kamu bisa mengalahkan setengah dari pasukan inikan? Kalau begitu biarkan aku sisanya.”
“Tapi bagaimana dengan Asteria dan Azuzi?” Balas Yogairu.
“Iya, aku ta-.”
“Aku punya rencana untuk itu.”
Dua orang dari timku, Ohoshi dan Syu datang bertepatan saat aku hendak mengatakan kalimat yang sama seperti ucapan Syu.
“Kalian berdua.”
“Apakah berhasil?” Tanyaku seketika mengetahui kedatangan mereka.
“Iya, sihir milik Ohoshi sangat luar biasa.” Kata Syu. “Dan aku juga memiliki rencana hebat yang mungkin bisa kalian percayakan.” Sambungnya.
Sesaat aku memalingkan wajahku pada Yogairu seraya berkata, “Bagaimana Yogairu? Apakah sekarang kepercayaan padaku masih kurang diperjelas?”
“Yah, tidak usah. Aku tidak ingin membuatmu repot.” Pungkasnya.
Bersambung….