The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 21 - Perbincangan Tentang Skill Lemah dan Bocoran Event



“Hien dan Magnify yah?”


Cakap seorang lelaki lajang selaku sensei dan penanggung jawab atas semua kendali kelas gabungan di West Dranitte Academy.


“Sewaktu memberikan Skill magnify, Core Dungeon mengatakan bahwa kemampuan tersebut adalah suatu kekuatan lemah. Apakah itu benar sensei?”


Tanyaku mengikuti alur perbincangan mereka berdua, setidaknya aku harus ikut tanggung jawab akan Skill didalam tubuhku ini.


“Tunggu dulu, aku adalah tamu disini. Kenapa kalian tidak menyambutku secara ramah?” Sanggahnya menyilangkan posisi kedua kakinya diatas meja.


“Kenapa aku harus menyambut tamu tidak sopan yang ada dirumahku?”


Cibir Taka beranjak dari tempat duduknya. Tak lama, dia kembali bersamaan kedua tangannya membawa 3 cangkir berisi air putih di nampan.


“Lah, cuma air biasa gini? Uang guild dan kerajaan?”


Ungkap secarik pernyataan oleh Nathan – sensei sesaat melihat cangkir disajikan Taka di meja.


“Banyak maunya, bikin sendiri sana, role “Chef” level tinggi milik sensei buat apa?” Balasnya menyerang balik fakta senseinya sendiri.


Di sela perbincangan serius yang tercampur oleh kelakuan konyol mereka, aku merasakan seseorang menghampiriku.


“Halo, Aoi.” Sapa Mashiro, sumber suaranya berasal tepat dibelakangku. “Apakah aku ketinggalan sesuatu menarik?” Imbuhnya.


Tentunya itu adalah Mashiro, siapa lagi kalau bukan dia? Mungkin kali ini aku tidak terlalu terkejut karena ini sudah menjadi kebiasaanya sewaktu muncul entah darimana.


‘Ah, tidak terlalu penting. Kalau mau pergi saja.’


Batinku bercakap pada Mashiro, sambil berusaha tidak mengalihkan ekspresiku kepada mereka berdua.


Jika saja orang asing melihat apa yang sedang kusaksikan ini, mereka tidak akan percaya kalau hubungan Taka dan lawan bicaranya adalah murid dan guru. Siapa sangka anak sepintar nan berbakat itu sangat tidak memiliki sopan santun kepada pembimbingnya.


“Baiklah – baiklah.” Terima Nathan - sensei pasrah.


“Soal Hien, itu adalah kemampuan bela diri kuno. Tidak banyak orang dapat menggunakannya. Satu lawan satu musuh pengguna Skill tersebut adalah mimpi buruk, tidak ada celah atau kesempatan untuk menang. Satu satunya cara mengalahkannya menggunakan senjata jarak jauh.”


Tambahnya menjelaskan panjang lebar kelemahan serta kelebihan dari Skill milik Taka tersebut, kemudian menjentikkan jari kepada secangkir minuman di hadapannya.


“Benar katanya, pedang besar maupun kecil tidak mampu menyaingi kecepatan dan taktik pengguna Hien.” Sahut Mashiro, setelah mendegarkan perkataan Nathan sensei.


“Aku tahu tentang itu semua, dua serangan titik buta dalam satu ayunan. Yang terpenting itu Skill milik Aoi, Magnify.” Timpal Taka.


Tidak tahu harus berkata apa, aku hanya dapat mematung bisu mendengar luasnya pemahaman mereka berdua tentang macam – macam Skill di dunia ini. Sebaliknya, aku belum lama ada disini. Seakan menjadi sebatang kayu yang terseret oleh derasnya arus, diam dan menolehkan pandangan kesana kemari merupakan pilihan utama.


“Magnify yah,” Perkataanya terpotong terhadap air dimulutnya, meminum secangkir air tawar yang entah sudah diberi sesuatu seperti sihir didalamnya.


“Memang benar Skill lemah, haha!”


Sembur Nathan – sensei terkekeh sendiri oleh ucapannya. Sedangkan kami berdua terheran akan kelakuannya tersebut.


“Serius lah, sensei!”


Keluh Taka memukul punggung senseinya, sungguh perilaku tanpa mengenal kosa kata “murid” dalam pikirannya.


“Ah, sudah hentikan Taka. Aku tidak segitunya ingin tahu tentang Skill ini.”


Sahutku menjadi penengah antara mereka berdua. Sudah cukup bersukur dapat menggunakan kemampuan milikku tanpa ada halangan sedikitpun.


“Magnify dianggap lemah karena tidak ada satupun orang yang dapat menggunakannya, dibutuhkan fokus serta konsentrasi luar biasa untuk mengetahui cara kerja Skill itu.” Celetuk Nathan – sensei mematahkan perkataanku sebelumnya.


“Maksudnya?” Tanyaku reflek mengeluarkan pertanyaan penjelas asal mulut polosku.


“Kekuatan sebenarnya dari Magnify adalah pembesaran, dengan maksud memperkuat dan menggandakan kekuatan gelombang suara yang diberikan.” Jawab Nathan - Sensei bertopang dagu. “Contohnya gelombang suara tebasan pedang dapat dilipat gandakan oleh kekuatanmu.” Imbuhnya menaruh tatapannya padaku.


“Aoi, apa ucapan lengkap dari Core Dungeon setelah memberikan skill “Magnify” Kepadamu.”


Tatapannya benar – benar terarahkan di bola mataku, seolah menekan diriku untuk mengatakan semua kejujuran dan rahasia.


“Konsentrasi dan jumlah Ergon luar biasa di tubuhmu merupakan salah satu kunci keberhasilan kalian, sepertinya begitu.”


Balasku mengingat dan membayangkan kembali sesaat aku berada di waktu peleburan.


“Ergon - mu?”


“72.”


“Hah!? Sebanyak itu?” Ucapnya terkejut seolah tidak mempercayai perkataanku.


“Bagaimanapun juga Core Dungeon telah mengakuinya, percaya atau tidak itupun bukan masalah besar.” Timpal Taka memperjelas perkataanku, membuat senseinya terdiam kehabisan kata.


“Dengar ya Aoi, mereka menganggap Skill ini lemah karena tidak tahu kekuatan aslinya. Ada beberapa Skill dimana saat kamu rela mati kehabisan ergon untuk menggunakannya, kemampuan tersebut bakal mengeluarkan nan memperlihatkan sisi kejamnya.”


“Tidak menutup kemungkinan jika Magnify ialah Skill luar biasa, kebanyakan orang orang bilang kalau kemampuan ini amat mengeluarkan banyak Ergon-.”


“Dan dampaknya yang tidak sebanding, karena penggunanya menganggap skill ini tidak efektif, benarkan sensei?” Potong Taka melanjutkan penjelasan senseinya.


“Benar, dengan kata lain, kekuatan Magnify sebenarnya belum diketahui.” Pungkas Nathan Sensei kemudian meneguk sisa air di cangkirnya.


“Jadi begitu.”


Sewaktu aku mengucapkan sepatah kata pemahaman, mereka berdua melihatku dengan raut wajah heran terpasang diwajahnya. Seperti menyaksikan keajaiban tanpa sebab, setidaknya sebagai itulah perumpaan mereka memandangiku.


“Aoi…”


Entah mengapa mereka secara bersamaan memanggil namaku dengan nada melemas.


“Kalau begitu kenapa tidak kalian coba langsung ke Dungeon pusat? Tentunya aku juga ikut.” Sahut Nathan sensei memecah suasana kebingungan diantara kami.


Kebetulan atau memang ekspresi untuk mencari pendapat satu sama lain, aku dan Taka saling menoleh dan bertatapan heran. Kemudian kami menolak ajakannya dengan menggelengkan kepala.


“Kalian menolaknya?”


[[Iya]]


Jawab kami bebarengan mencoba menyatukan nada bicara.


“Kenapa memangnya? Bukannya ini waktu yang pas?”


“Kalau bersama sensei pasti aku menolak.” Ungkap Taka menerangkan alasannya.


‘Hah? Kukira karena perjalanan tadi, seberapa banyak tenaga yang kamu miliki Taka?!’ Batinku terheran akan jawaban tidak masuk akalnya.


“Kumohon.” Ucapnya memelas sambil kedua katanya membulat bundar.


“Sudah kubilang tidak, ya tidak. Lagian jika sensei ikut, semua monster pasti sensei bantai.” Sangkalnya sekali lagi, tak mau kalah.


“Ayolah, sensei berjanji.”


“Tetap tidak, Aoi juga menolaknya bukan?” Balas Taka menolehkan pandangannya padaku.


Melihat postur tubuh Taka itu, aku cuma membantunya dengan menganggukkan kepalaku sekali.


“Liat tuh, dan sekarangkan waktumu mengajar di kelas gabungan.” Tambahnya memberikan pukulan telak bersamaan fakta yang diucapkannya.


“Yah meskipun alasannya bukan seperti Taka sih.” Gumamku.


“Baiklah, aku menyerah. Kalau begitu, aku pamit dulu. Oh ya, ada bocoran mengenai event Party Star dalam 1 bulan kedepan disekolah” Tuturnya sembari berdiri dari sofa.


Setelah perdebatan cukup lama tersebut, Nathan – sensei pergi dan kembali kesekolah. Tersisa aku dan Taka dirumah ini, pekerjaan berat nampak jelas dimata kami, seberapa kotor dan berantakannya setiap sudut dalam ruangan. Jika boleh dibandingkan, pemandangan ini adalah kabin kapal setelah menabrak karang.


Tanpa sepatah kata, Taka mulai membersihkannya perlahan. Sungkan karena hanya berdiri diam melihatnya, aku memaksakan diriku bergerak dan membantunya.


“Sungguh merepotkan, haha!” Seru Taka diikuti tawa kecil bahagiannya.


‘Dia ini, masokis apa?’ Batinku terheran oleh ucapannya.


Siang lelah tak terasa sudah dilampaui, pekerjaan rumah berat terselesaikan sepenuhnya. Tinggal waktu sore dimana semua makhluk menjajal kenikmatan tersendiri dimasa itu. Lelah disetiap bagian tubuh mengakibatkan diriku terlentang di lantai, sedangkan Taka masih sibuk memasak di dapur.


“Eh, Taka.” Panggilku.


“Iya, kenapa?” Jawab Taka, pandangannya masih terfokuskan oleh pekerjaan seorang koki dihadapannya.


“Party Star itu, apa?” Tanyaku teringat akan ucapan Nathan sensei, sebelum berpamitan pulang.


“Pertarungan antar party, iya seperti pertandingan begitu.”


Belum lama Taka menjawab pertanyaan yang kuberikan, pintu utama terbuka.


“Aku pul-. Eh, Ta – Kyun!”


Terdengar suara gadis yang belum sempat menyelesaikan ucapannya, terkejut entah karena apa menyadari kehadiran Taka.


Semangat dari ucapan sebelumnya tersalurkan pada langkah kaki kerasnya, aku terbaring dilantai ini dapat jelas mendengar setiap dentumannya.


“Ta – Kyun!”


Teriaknya langsung memeluk Taka yang sedang fokus memasak. Benar firasatku, dia adalah Asteria, adik kandungnya lelaki berambut hitam kebiruan itu.


“Taka dan Aoi sudah kembali?” Diikuti Yogairu masuk kedalam rumah dan dibelakangnya adalah Azuzi.


“Halo.” Sapaku sedikit memaksakan mulutku untuk tersenyum.


“Aoi – niisan!” Seru Azuzi langsung menyerobot masuk dan menghampiriku,


Pertemuan setelah kurang lebih 4 malam 3 hari antar teman dekat sekaligus keluarga kecil dirumah ini, memberikan vibes yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Hangat, nyaman, bahagia, terkejut semua itu terhidangkan dalam satu waktu.


“Mumpung sudah disini semua, dan sebagai perayaan serta minta maaf kami berdua. Aku membuatkan cukup banyak makan malam.” Sahut Taka disela hulur hilir tawa ria.


“Akhirnya! Makan malan yang benar benar makan malam!” Ungkap lelaki berwarna coklat di bola mata dan setiap helai rambutnya.


“Duh, Yogairu niisan memang memikirkan makan saja.” Sahut Asteria menyangkal perasaan jujur Yogairu.


Aku tersenyum lega melihat sesuatu berharga ini, tidak ada satupun detik yang ingin kulewati.


Malampun tiba, bukan suasana mencekam penuh bahaya dalam pandanganku, akan tetapi kehangatan kebersamaan serta seberapa banyak makanan tersaji di meja. Ini seperti jamuan kerajaan, cukup bervariasi dan banyak macam makanannya.


[[Selamat makan!]]


Kami makan malam bersama, di satu meja besar dengan 5 kursi di sisinya, Taka, Yogairu, Asteria, Azuzi dan aku, menikmati seluruhnya.


Pemandangan yang cukup indah, tidak kalah jauh oleh kenikmatan masakan Taka. Terlebih lagi dia. Pandanganku bolak balik tertuju kepada gadis berambut ungu cerah sedang menikmati makanannya. Rambut ponytail yang tidak diikatnya rapi sepertinya mengganggu waktu makannya.


“Kenapa Aoi – nissan?” Celetuk Azuzi sewaktu dia sadar dan pandangan kita saling bertemu.



“Ah tidak – tidak, hanya saja rambutmu.” Balasku sambil memalingkan wajah.


“Aku tadi terburu buru, jadi belum mengikatnya dengan sempurna.” Terangnya kemudian melahap satu sendok penuh.


“Oh ya Taka, ada Party Star loh. Tadi tertulis di papan pengumuman.” Sahut Yogairu membuka topik pembicaraan baru.


“Hmm iya? Kita kekurangan satu orang tahun lalu.” Jawab Taka.


Berbeda dengan Taka yang semangat mendegar berita dari Yogairu, aku tertegun sejenak mengingat ucapan Nathan - sensei tadi siang.


'Yah... kalau sudah di sebarin seperti ini, bukan lagi bocoran sih.'


Serentak pandangan mereka berempat tertuju padaku, kemungkinan besar adalah “Aoi” dulu yang tidak bisa menggunakan Skill nya dan sering menghindarinya.


“Aku ikut, tahun ini.” Ucapku menjawab keempat wajah dihadapanku.


“Kalau begini sudah lengkap bukan?” Kata Yogairu.


“Ya!”


‘Berlima? Azuzi dan Asteria juga?’ Batinku terkejut


“Kalau begitu sudah diputuskan!” Seru Taka. “Kita mulai latihan berat di dungeon besok, sepulang sekolah.” Imbuh Taka sambil mengangkat sendok ke atas.


Bersambung….