The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 26 - Seharusnya ini akan Jadi Pertandingan Pertamaku, Tapi...



Penghujung dari kamp pelatihan selama hampir sebulan sudah ada didepan mata, sepucuk lorong adalah penghubungnya. Seolah kami berlima adalah paket menuju ke pemiliknya, tentu saja terdapat seseorang yang menyortir kami.


Sosok berjubah hitam dengan tudung menutupi bagian kepalanya berada di hadapan kami, kemudian mengatakan. “Party dari sudut barat ya, Aoi, Taka, Yogairu, Asteria, dan Azuzi.”


“Benar.” Jawab Taka.


“Kalau begitu, silahkan menuju ruangan bagian kanan sebagai ruang tunggu.” Sambil menunjukkan arah menggunakan lengan kanan yang dibentangkan bersamaan jubah hitam, seakan kelelawar dewasa saat malam hari.


“Tunggu, bukannya pertandingan pertama ikut acara pembukaan?” Yogairu menyangkal seorang pengatur jalannya acara tersebut.


Akupun ikut melirik kearah ruangan tersebut, memang benar. Tempat lusuh nan gelap itu mana mungkin menjadi ruang tunggu dalam acara semeriah ini. Dan sedikit curiga padanya, memangnya ada asisten penyelenggara berpenampilan serba hitam?


‘Ini, seperti ada hal yang aneh.’


“Tidak, memang ini yang sudah direncanakan. Party manapun tidak ada yang mengikuti pembukaan, terkecuali Party Justice.”


‘Party Justice? Keadilan? Apa itu, aneh sekali.’ Batinku heran.


“Ayolah Yogairu, cuma beberapa menit saja.” Taka memilih tuk menerima penjelasan darinya, kemudian mengajak kami tuk mengikuti arahannya.


“Benar itu, Yogairu – niisan.” Tambah Azuzi


“Tch, tempatnya sangat kotor loh. Kalian tidak niat bersihin apa?” Cibir Yogairu menerimanya pasrah.


“Sebentar, aku mau pergi ke toilet.” Aku sedikit ragu menyetujui arahannya. “Pak pengatur acara, dimana toliet terdekat dari sini?” Imbuhku bertanya padanya.


“Namamu Aoi ya, tepat sebelum memasuki lorong ini, berada di samping kiri. Waktumu 3 menit dari sekarang.” Sambil mengeluarkan batu sihir kecil dalam sakunya.


Aku beranjak pergi mengacuhkan ucapannya tanpa sepatah katapun.


‘Siapa peduli dengan omongannya? Ke toilet saja diwaktu, yang benar saja? Aku bukan anak kecil tahu.’


Sudah lebih 3 menit sejak aku berpisah meninggalkan party - ku, pastinya sekarang aku berada di kamar mandi sempit ini. Bagaikan sebuah klise dalam manga dan anime, suatu pertandingan besar tapi dipenuhi sesuatu mengganjal disepanjang acaranya.


“Party Justice apaan? Hanya dia yang diperbolehkan ikut pembukaan, mereka nyogok apa?” Gumamku jongkok beralaskan wc jongkok.


“Justice dalam bahasa inggris artinya memang keadilan, namun memangnya di dunia ini ada bahasa inggis?”


“Jangan bilang kalau ada hubungannya sama Sekte Keadilan, ah itu juga masuk akal.”


“Tapi apa tujuan mereka ke sini? Mengambil seluruh kekuatan penonton sekaligus peserta pertandingan?”


“Mengambil tindakan ceroboh, bukannya itu terlalu beresiko? Ada seluruh pasukan kerajaan bersenjata lengkap disini, beserta sang raja.”


Di sela aku bergulat melawan pikiran nyelenehku, terdengar suara langkah kaki lembut. Ini mungkin salah satu hasil latihan kerasku, sedikit peningkatan pada sensivitas motorik tubuh.


Sosok bayangan terlihat dari celah pintu berjalan perlahan, aku bisa melihat kain jubah hitamnya. Kemudian memanggilku dengan intonasi nada lirih dicampur mencekam. “Aoi, pengguna Skill Escalation serta Magnify. Pergi ke kamar mandi beberapa menit lalu, dan sudah melampaui batas yang kuberikan.”


‘Apa ini? dia lagi? Benar benar menjanjikan ucapannya.’ Batinku menyembunyikan seluruh gerakan tubuhku, bahkan menahan nafasku.


“Ayolah, keluar. Teman temanmu sudah menunggu loh.”


‘Apasih, lagian pengatur acara macam apa ini? Mengerikan sekali.’


Tidak berlalu lama, tiba tiba terdengar suara lonceng sekali. Tatkala benda tersebut di bunyikan dari dalam goa, gelombang suara buatannya terasa bergema disetiap sudut ruangan. Begitu pula dengannya, entah mengapa dia pergi secara cepat mengabaikan tujuan pertamanya tuk mencariku.


‘Sudah selesai kah?’


Aku perlahan membuka pintu yang menjadi salah satu lapisan sebagai penutup diriku, berusaha mengintip sekitar memanfaatkan sedikit celah terbuka.


“Dia sudah pergi.” Sembari membuka pintu dan keluar.


Diikuti oleh suara meriah dari balik lorong, aku beranggapan itu adalah acara pembukaan. Namun tujuan utamaku adalah menemui mereka berempat, setidaknya kita harus berkumpul terlebih dahulu.


Sesaat aku pergi menuju tempat sebelumnya kami berpisah, nampak sel pembatas bersinar membatasi ruangan yang ditunjukkan olehnya. Seolah menjadi penjara instan dan mimpi buruk bagi orang jika memegang sel pembatas tersebut karena kilauan terang bak listrik melapisinya.


Suasana awal sangatlah sunyi, hanya terlihat Taka termasuk Party Mafal disebelahnya duduk teridam pasrah. Namun, ketika Azuzi sadar akan kedatanganku. Dia terkejut dan berteriak.


“Aoi – niisan, belakangmu!”


Mengetahui peringatan bahaya dibalik tumpuan tubuh, aku langsung memberikan serangan sikut ditengah tanpa melihat terlebih dahulu siapa pelakunya.


Benar saja, aku merasakan anggota tubuh yang mengenai seranganku, kemudian berbalik dan melihat sosok bertudung hitam bukan lain adalah seorang pengatur acara tadi.


Dia merintih kesakitan memegangi perutnya lalu berkata. “Kukira kamu adalah pengguna sihir karena pasokan Ergon lebih dari rata rata. Membuktikan reflek tubuh segesit itu, ternyata aku salah ya.”


“Aoi! Bunuh saja dia lalu lepaskan kami! Ini adalah jebakan!” Taka berteriak padaku seakan dia mengetahui apa saja kejadian pastinya.


“Dia anak buah Zylx, pemimpin sekte keadilan!” Diikuti oleh Mafal memperkuat fakta Taka.


‘Sial, apakah ini pemanasan?’ Batinku sembari mengeluarkan pedang dari black storage.


“Tunggu sebentar, bertarung satu lawan satu ya? Baiklah aku ladeni sifat kepahlawananmu itu.” Cakapnya juga menyiapkan sesuatu dalam balik jubahnya.


‘Kalau sebagai pemanasan mungkin ini sudah cukup!’


Tanpa basa basi, aku mengeluarkan tebasan pedang pada jarak cukup jauh. Tidak lupa skill peningkatan terhubung dengannya.


*Wush!


Tapi serangan itu terserap mudah sewaktu mendekatinya, seolah gelombang tebasanku dilahap olehnya.


“Haha, serangan yang hebat sekali. Tidak menggunakan ini mungkin aku sudah terbelah menjadi dua.” Pengatur acara itu terkekeh, disertai tangannya keluar dari jubah menggenggam sebatang batu berkilauan.


‘Apa itu? Jimat?’


“Aoi! Yang di pegangnya adalah batu penghalang, semua sihir dengan gampanganya akan hilang jika mengenainya!” Tutur Yogairu.


“Memang kita berdua mungkin sesama pengguna sihir, tapi apakah kamu bisa seperti ini?” Menyimpan kembali pedangku dalam black storage, lalu serentak berlari mendekatinya.


“Aoi?!” Sahut Taka dan Yogairu bersamaan melihatku.


“Tangan kosong? Bocah itu mulai mempelajari hal baru ya?” Mafal juga ikut


Begitu pula dengan musuh dihadapanku, dia terlihat ragu ragu untuk berbuat sesuatu.


“Apa yang akan kamu lakukan penyihir pemula!” Waspadanya bersiap pada pegangan tongkat sihir.


“Ini!”


Sesaat aku berada dalam jarak serang tebasan sebilah pedang, aku menggunakan satu langkah terakhirku untuk mengeluarkan pedang dari black storage tepat di atasku dan memanfaatkan gaya gravitasi jatuhnya benda tajam itu agar menambah daya beban pada ayunanku.


Serangan tersebut telak menebas bagian penghubung antar kepala dan badan, dikarenakan alur bawah keatas tanpa perlindungan sedikitpun.


“Aoi – niisan…” Azuzi nampak linglung menyaksikan pertarungan sekaligus musuh yang kubunuh tuk pertama kalinya.


“Kalian semua, ini jebakan.!” Aku berteriak kemudian menghampirinya.


“Kami semua tahu, pasti ulah Sekte Keadilan, mereka berencana untuk mengacaukan pertandingan.” Jelas Taka.


“Kalau begitu, menepilah. Akan kuhancurkan besi ini.” Aku bersiap mengambil jarak cukup jauh sebagai jalur seranganku.


*Wush!


Tapi seranganku kali ini juga tidak ada bedanya ketika melawan anak buah Zylx tadi, terserap lalu hilang entah kemana bak menembakkan bom nuklir ke black hole.


“Apakah kamu tidak belajar dari pengalaman, bodoh!” Tegas Yogairu.


“Dasar, serangan kuat namun tidak dengan otaknya.”


Seorang di Party Mafal menyindirku, tubuh ideal tak lupa daun telinga serta rambut lebat seperti bulu di kepalanya, sosok yang dipanggil Demi – human.


‘Betul juga, jeruji ini kilaunya mirip batu yang digenggam anak buah Zylx sebelumnya.’ Batinku melihat setiap sisi logam berkilauan membentuk jeruji itu.


“Ini adalah kurungan penghalang sihir, kami di dalamnya tidak bisa menggunakan sihir. Bahkan ergon pada tubuh menghilang.” Jelas Taka secara singkat.


“Lalu bagaimana caranya?”


Mafal selaku rival Taka menyertai penjelasannya dengan menjawab, “Ada dua cara, dibuka oleh pemilik kurungan atau membunuh pemiliknya.”


“Tapi, bukannya tadi orang itu?” Aku menyangkal penjabarannya sambil menunjuk kearah mayat pengatur acara yang tergeletak.


“Tidak semua orang bisa menggunakan kekuatan ini, hanya satu jawabannya, Zylx pemimpin sekte keadilan.” Pungkas Taka.


Mendengar ucapan Taka, aku lantas berlari kearah penghujung lorong. Tanpa mengetahui dan memikirkan sesuatu resiko kedepannya. Bukan bermaskud apa, tapi sedari bertemu dengan bawahan Zylx selaku pengatur acara, semuanya terasa janggal.


Di ujung lorong, sebuah sorotan cahaya terang terlihat beserta suara pidato pembukaan. Kemungkinan besar itu adalah sepetik kalimat dari raja untuk penyelenggaraan acara ini.


“Selayaknya pemimpin kota sekalian wilayah kekuasaan disini, saya akan menikmati setiap detik dari acara ini…”


Setelah keluar lorong, silau matahari menyerangku sementara, namun terkalahkan oleh meriahnya pembukaan dihadapanku. Benar kata anak buah Zylx sebelumnya, hanya terdapat satu party menunduk hormat di hadapan sang raja tua yang sedang membaca selembar kertas ditangan kanannya, juga beberapa pengawal kerajaan.


“Tahun ini cukup banyak peserta Party Star, dan mungkin juga banyak pertandingan meriah yang akan kalian tunggu tunggu.”


Suasana sorak di setiap sudutnya memang tak terkalahkan, namun setiap bagian jarak regu penonton ada satu penjaga berjubah hitam, mirip seperti anak buah Zylx yang tersusun rapi mengitari tempat penonton pada colloseum ini


‘Ini sangat aneh, apa memang di setiap acara seperti ini pasukan pengatur acaranya berpakaian misterius seperti itu?’


Bingungku sendiri berbolak balik dalam pikiranku.


Raja nan wibawa itu menghela nafas kemudian melanjutkan pidatonya, “Tanpa berlama lama, saya Tsukasa Von wolford, meresmikan acara ini!”


*Slash!


Bukan suara sorak meriah atas pembukaan acara ini, namun darah biru sang raja yang berceceran. Leher satu satunya penopang pada tubuh, sudah tidak lagi terhubung. Membuat suasana hening dan kaget seketika.


Di dataran rata ini, aku dapat melihat lima orang se – party, salah satu laki – laki bagian terdepan berperawakan normal dan rambut putih menutup bagian kepala menggerakkan tangan kanannya secara perlahan dari atas ke bawah, sembari tubuhnya berdiri di tengah tengah kesuraman.


“Di – dia, pelaku pembunuhnya.” Gumamku terkejut dan tidak ingin menarik perhatian party mereka akan kehadiranku disini


Kemudian dia mulai berjalan menapakkan langkahnya perlahan kedepan, menghampiri tubuh tak bernyawa sang raja. Setelah ujung kakinya sejajar dengan badan, dia sedikit menunduk dan mencolek bekas genangan darah kemudian menjilati jari bertintakan darah itu.


‘Aneh, kenapa dari sebanyak penjaga disana tidak ada yang berani menyerangnya. Atau setidaknya menghentikannya.’


“Darah bangsawan, seorang raja penguasa.” Kemudian berdiri dan menghadap ke seluruh penonton. “Tapi sayangnya, sekarang tinggal jabatannya saja ya. Apakah boleh aku ambil?” Tambahnya mengangkat kedua tangan lebar lebar.


Tak lama, sebuah kilatan cahaya berkumpul mengitarinya, bagaikan listrik padu mengumpul pada tubuh, Dan melanjutkan pidato raja, “Ehm, sebanyak makhluk disini tidak mungkin ada yang tidak tahu tentang Sekte Keadilan. Dengan terbunuhnya raja kalian, mau tidak mau akukan rajanya!?"



Sehabis memberikan bentakan nan hasutan dalam pidatonya, tiba tiba pengawal kerajaan dibelakangnya tergantikan oleh pasukan bertudung dengan bekas bakaran baju disekitarnya. Belum puas, anak buahnya yang berjaga pada setiap bagian regu penonton ikut mengangkat tangan kanannya.


“Iya, kalau aku jadi raja bakal tentram dan mudah saja. Asalkan terhapusnya pengguna skill didunia ini.” Tambahnya melanjutkan pidato.


Suasana suram semakin diperburuk oleh cahaya ungu, seolah membatasi cahaya matahari masuk yang dipancarkan oleh setiap anak buah Zylx di tempat penonton. Satu persatu dan akhirnya membentuk kesatuan indah dan mematikan.


“Ini lebih buruk dari yang kukira, ternyata persiapan mereka lebih dari sekedar mengganggu.” Gumamku bersembunyi di balik pilat lorong.


“Nah! Pilihlah kalian semua! Hidup damai tanpa kekuatan, atau Mati dengan kekuatan?”


Bersambung….