The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 36 - Bukankah ini Kisahku? Aku Kembali Lagi



“Berarti kita masih punya harapan?!”


Seruku, menengadahkan mata berbinar pada Mashiro


diikuti ekspresi terkejut nan semangat ketika mendengar seluruh ucapannya.


“Iya, Aoi.”


Seruan Mashiro tersebut sangat membuka lebar gerbang cahaya dilubuk mataku, aku yakin kesempatan ini adalah pertama sekaligus terakhir bagiku. Peluang yang akan membebaskan seluruh permasalahanku secara bersamaan.


“Pertama – tama, kita harus kembali ke duniaku.”


“Iya, aku tahu itu. Tapi bagaimana?” Reflek diriku bertanya atas perkataan Mashiro itu.


Mashiro tersenyum manis, bahkan gemulai wajahnya tersebut memenuhi pandangan gundahku. Lalu berkata, “Bukankah sudah kuceritakan padamu? Aku adalah pengguna Skill Dewa, aku dapat menggunakan ratusan Skill yang kumau.”


‘Jadi seperti dewi begitukah maksudmu?’


Batinku, aku sedikit terpikirkan hal tersebut ketika mengingat sebuah alur cerita di Anime yang bersangkut paut dengan dewa – dewi.


‘Benar begitu, Aoi!’ Sahut Mashiro, memberikan senyuman ambigunya padaku.


“Sial….”


Aku benar – benar lupa hal sepenting itu, banyak faktor yang membuatku melupakannya. Salah satunya adalah keadaan hati sedari pasrah menjadi bungah tersebut.


“Tapi aku bukan dewi, aku hanya manusia biasa tahu. Tidak seperti dewi ataupun dewa yang abadi.” Ungkap Mashiro.


“Baiklah – baiklah, kembali ke topik utama. Bagaimana caranya kita kembali?”


“Aku paham apa keluh kesahmu, saat ini juga aku sedang berusaha untuk mengumpulkan Ergon sebanyak mungkin, atau bisa….”


Belum habis kalimatnya, Mashiro memijat dagu.Tatapannya begitu fokus hingga aku sendiri tidak paham apa yang dipikirkannya.


“Bisa?”


“Pembagian Ergon.”


“Pembagian Ergon?”


Entah mengapa aku reflek mengikuti ucapannya, bahkan sistem sarafku berkehendak untuk mencerna kalimat tersebut.


“Iya, aku akan menggunakan Ergon – mu, Aoi.”


“Tu – tunggu? Maksudmu bagaimana? Kamu tahu sendiri kalau di dunia ini tidak ada Ergon atau sihir apalah itu.”


Sanggahku, setelah mendengar jawaban Mashiro. Bukan karena alasan tertentu aku menolaknya, namun hal tersebut sudah dibuktikan tempo hari lalu. Mana mungkin aku rela merasakan siksa tersebut tuk kedua kalinya.


“Iya, bukan berarti aku mengambil alih Ergon – mu, aku hanya menggunakannya untuk perantara saja.” Sambung Mashiro, gadis itu benar - benar tidak peka dengan sekitarnya.


“Aku paham kok, tapi bagaimana bisa? Tidak ada Ergon atau sihir seperti di duniamu.”


Namun seberapa banyak aku mengoceh agar bisa menolak tawaran konyol itu, Mashiro tetap fokus pada olah sistem otak gilanya, seraya bergumam panjang.


“Pembagian Ergon mungkin pilihan bagus, tapi pasti ada beberapa cara lagi, ah iya bagaimana kalau recovery?” Mashiro terdiam sejenak, pandangannya sama sekali menolak dari lawan bicaranya.


“Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin bisa begitu, kalau keadaan abnormal pada tubuh itu pasti bisa, tapi kali ini masalah penggunaan Ergon.” Sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Ah! Bagaimana kalau aku meminjam tubuh Aoi – kun.”


Setelahnya fokus yang dibuat itu pecah, kemudian mulai mengalihkan perhatiannya


padaku.


“Baga-.”


“Tidaklah, mana mungkin aku menerimanya.”


Benar, belum sempat Mashiro menyelesaikan usulan pendapat aneh keduanya itu, aku menolak mentah – mentah, sudah sepatutnya begitu.


“Bagaimana kalau tukar tubuh?” Timpalnya.


“Tidak.” Balasku disertai nada malas, ekspresi intonasi itu sudah kugunakan saat dia bergumam yang tidak – tidak.


“Perpindahan Skill?


“Ti-.”


‘Perpindahan Skill? Itu mungkin mirip dengan perpindahan jiwa, tapi ini lebih efisien dan menarik daripada sebelumnya.’


Batinku sejenak, hampir saja aku keceplosan kata penolakan. Entah ide apalagi yang muncul setelah ini jika aku mengatakannya.


“Baiklah kalau begitu sudah di putuskan!”


“Ha – hah?!”


“Bukannya Aoi, sudah setuju kalau itu lebih efisien dari ide sebelumnya?”


Ungkap Mashiro dengan lugunya, aku seperti keledai yang terperosok dalam lubang sama. Bodoh sekali, sampai melakukan kesalahan sama di kedua kalinya.


“Duh, bukan begitu maksudku, itu hanya sebatas pemikiranku saja, kenapa kamu tiba – tiba seenaknya saja memutuskan.” Balasku sedikit menekan nada sambil mengacak – acak rambut kumal.


“Tapi itu beneran bukan ide yang terlalu buruk loh, Aoi.” Celetuk Mashiro membuatku langsung berganti ekspresi ketika menatapnya.


“Huh?”


“Iya, jadi aku akan memindah, ah tidak. Sekalian saja memberikan beberapa Skill – ku padamu, Aoi. Dengan begitu kamu pasti dapat menggunakannya.”


Jelas Mashiro singkat, walaupun sedikit merubah beberapa kosa kata yang ingin diucapkannya. Tapi setidaknya aku paham maksud dari ucapannya.


“Maksudmu, menggunakan tenagaku untuk pergi ke dunia sana? Bukannya itu sama saja?”


Aku tidak ingin langsung menerima penjelasannya, terlebih lagi konsep penggunaan Skill itu tidak ada bedanya dengan sebelumnya, sama - sama menguras tenaga dan hal itu sangat menyakitkan.


“Tidak begitu parahnya dengan memindahkan tenagamu untuk Ergon di dalam diriku, disebabkan juga ketika kamu menggunakan Skill itu, jiwa dan tubuhmu akan terpisah.”


Ungkap Mashiro, sebegitu meyakinkan diriku agar bisa menerima tawarannya tersebut.


“Kalau memisahkan jiwa dari tubuh ya, sudah pasti tidak akan merasakan sakit atau rasa letih. Itu mungkin lebih baik.” Gumamku.


“Jadi intinya hanya tidak ingin merasakan sakit atau capek itu ya? Dasar laki laki macam apa kamu ini?” Cibir Mashiro terhadap ucapanku sebelumnya.


“Memangnya siapa yang ingin merasakannya?”


Mashiro menengadahkan kedua pipinya pada telapak tangan, kemudian tersenyum kecil padaku seraya berkata, “Ara, padahal kata orang, rasa sakit adalah pengalaman dan bukti kerja keras loh.”


“…”


“Bagaimana Aoi? Apakah kamu sekarang percaya denganku?”


Tatap Mashiro serius padaku, seolah senapan api yang berada tepat didahiku. Ekspresi wajah itu mengingatkanku saat pertama kali bertemu dengannya.


“Baiklah, aku akan tetap di pihakmu sampai kontrak ini selesai.”


Sedetik setelah aku mengatakannya, Mashiro langsung menarik kedua lenganku dan mengenggamnya erat sembari menutup padat pandangannya.


“E – Eh?”


Tubuhnya yang tidak berbeda jauh dari segi tinggi maupun berat, membuat sosoknya memenuhi bola mataku.


Sekejap, Mashiro membuka matanya. Kemudian melepaskan genggamannya tersebut lalu berkata, “Sudah selesai Aoi, sekarang beberapa Skill sudah kuberikan padamu.”


“Tapi serius, aku tidak merasakan apapun. Bahkan tidak muncul tulisan dalam pandanganku.”


Namun berbeda dari yang kukira, tidak efek apapun di dalam tubuh. Seingatku, ketika aku memperoleh sebuah Skill atau Role tertentu, pasti akan muncul sebuah notifikasi atau pop up di mata memandang.


“Tidak Aoi, itu jelas jelas sudah ada dalam tubuhmu. Mungkin karena ini adalah duniamu, karena itulah tidak muncul sebuah notifikasi.”


“Begitu ya? Baiklah, bagaimana aku memulainya?”


“Yah mungkin ini sedikit rumit, kamu harus mempersiapkan portal sihir dulu untuk jiwamu. Kemudian melepaskan jiwa dari tubuhmu secara langsung.” Telaah Mashiro sembari memperagakan jarinya di setiap tahapnya.


“Kalau tidak salah itu, Skill yang kamu ucapkan dahulubukan?”


Tanyaku kembali pada Mashiro, karena terakhir kali aku berpindah dari dunia ini, Mashiro mengatakan itu.


“Bukan, Skill itu digunakan untuk memindahkan jiwa dari tubuhmu. Oh iya, karena Skill portal yang kuberikan tidak sepenuhnya sempurna, jadi akan mempersingkat durasinya.” Tutur Mashiro.


“Lalu Skill portal - nya?”


“Bond Waves.”


“Bond Waves?”


Serentak muncul cahaya matrix yang sama persis sesaa taku melihatnya berbaring tempo bulan lalu, sungguh indah. Namun sebaliknya, aku merasakan tekanan yang kuat seakan gravitasi menolakku untuk berdiri.


“Ar – Argh!”


“Langsung Aoi, gunakan Skill Diamond Soul!” Teriak Mashiro dengan gampangnya selepas aku menjerit kesakitan.


“Di – Diamond Soul!”


Dan benar saja, aku lepas. Pandanganku memusat padu, seluruh badanku seringan kapuk. Rasa nyata dari lompat tinggi dan berakhir dalam samudra dalam nan luas, sangat melegakan namun menakutkan.


Ini sungguh menyerupai samudra yang dingin serta gelap, pandanganku seutuhnya kosong, hanya ada Mashiro di sampingku, itupun aku tidak tahu apakah dia akan senasib bersamaku atau sebaliknya.


“Sudah kuduga.”


Celetuk Mashiro, sorot mata bebas tersebut sangat ambigu dan begitu sulit tuk di jelaskan menggunakan kata – kata.


“Sudah kuduga? Apakah aku gagal?” Sahutku sedikir menirukan nada bicaranya.


“Tidak kok, Aoi. Ini berhasil.” Cakap Mashiro tulus kemudian menengadahkan wajahnya padaku, gemulai raut muka itu sungguh bersinar dalam kegelapan.


“Ah – eh.”


Tiba tiba, sesuatu besar menyeret keberadaan kita berdua, mirip sebuah black hole yang mengisap apapun disekitarnya tanpa terkecuali.


Setelahnya, seluruh penglihatanku benar benar kosong, begitu pula indera lainnya. Tatkala kematian sudah bersahabat, tapi sepertinya tidak mungkin. Aku belum merasakan apa itu rasanya mati.


“Aoi!”


“Aoi!”


Aku mendengar suara gadis, tidak lain adalah suara Mashiro.


‘Mashiro? Apakah aku berhasil berpindah dunia?’ Batinku pertam kali mendengarkan panggilan namaku tersebut.


*Plak!


Sebuah tamparan telak menghujam pipiku, benar benar perih.


Serentak aku membuka kelopak mataku, dan memang benar aku melihat tubuh asli Mashiro.


“Mashiro?”


Kali ini gadis itu berada di hadapanku dengan tubuh aslinya, meskipun tidak ada perbedaan jelas saat dia menjadi roh. Dan latar belakang rusuh di penuhi luka dan debu, kemudian tempat kurungan ini adalah sambutan hangatnya.


Mashiro tersenyum setelahnya aku memanggil namanya, aku merasakan senyuman yang benar benar senyuman tanpa adanya maksud tertentu.


[Skill baru telah didapatkan dari pembagian oleh insan]


[Penyesuaian pada tubuh]


[Pengoptinalan pada fungsi tubuh dan penggunaan Ergon]


[My Skill telah diperbarui]


Namun pandangakun terhadap Mashiro teralihakan oleh sebuah notifikasi muncul di sorot mataku. Berisi tentang penjelasan Skill pemberian Mashiro.


“My Skill.”


[My Skill]


[Skill Passive: Escalation]


[Skill Default: Kontrak]


[Skill Active: Magnify; Steady; Centralizer**]


[*Skill Special: Diamond Soul; Bond Waves*]


[Curse Skill: None]


“Hah?! Skill Active Steady dan Centralizer? Kemudian Skill Special tadi?” Seruku terkejut sesaat melihat beberapa list Skill tambahan.


“Iya, itu adalah beberapa Skill yang mungkin berguna


untukmu Aoi. Jadi Bersiaplah.”


“Bersiap?”


Bersambung…