
Pagi di penuhi fajar lantaran kerja keras sang surya. “Tidak ada keistimewaan pada pagi hari.” Perkataan tersebut harusnya tersabotasi sekalian pengucapnya. Sesuai kosa kata “baru” dalam sebuah kalimat, setiap pagi adalah kesempatan tanpa batas untuk memperbaiki masa lalu.
Aku membuka kelopak mata, langkah awal sebagai perubahan besar. Bukan karena suatu alasan tertentu aku bangun pada pagi buta ini, akan tetapi suara tebasan berkali – kali yang mengusik indera pendengar.
“Taka? Gerakan itu, dia latihan sejak kapan?”
Gumamku melihat seorang bermandikan keringat membasahi tubuh penuh ototnya sedang mengayunkan kedua belati kecil dalam genggamannya berkali kali, dari balik jendela.
Tidak mau kalah dengannya, aku langsung pergi menghampirinya. Tanpa setetespun air membasuh wajah bangun tidur serta rambut tidur yang ingin menutupi sudut mataku memandang.
“Pagi Taka.”
Sapa diriku sembari merenggangkan kedua lengan dan mengeluarkan uapan rasa mengantuk dalam tubuh.
“Ah ya, selamat pagi Aoi.”
Balas Taka, sempat berhenti sejenak kemudian kembali melanjutkan latihannya.
‘Seberapa fokus dia? keringat sebanyak itu tidak mungkin ia dapatkan baru baru ini.’
Batinku melihat tetesan keringat di tanah, seakan menyirami tanah kering pijakannya tersebut.
“Aoi, kenapa tidak kamu coba saja skill mu itu?” Tanyanya sembari matanya tetap terpusatkan pada gerakannya.
“Hmm? Bagaimana?”
“Mana ku tahu, coba kamu terapkan seperti apa yang dikatakan sensei.”
Pungkasnya menghentikan gerakannya kemudian mengusap beberapa tetes keringat disekitar lekukan leher
“Melipat gandakan gelombang suara?” Cakapku mengernyitkan dahi.
“Iya, tinggal menebaskan pedang sekuat tenagamu. Lalu besarkan dengan Skill magnify - mu.” Saran Taka kemudian melemparkan pedang panjang yang disimpannya dalam black storage, pasif role explorer.
‘Tinggal menebasnya kan?’ Batinku memperhatikan setiap sisi pedang.
Seperti pelajaran dasar sewaktu bersama Mashiro, aku mengambil sejarak kuda kuda, dan menggenggam pedang tersebut dalam hadapan mata memandang kedepan. Selepasnya memberikan ayunan besar nan terbuka.
*Wush!
Suara hempasan dari ayunan tersebut memang terdengar jelas, namun tidak dengan kekuatan Skill nya.
“Percuma, sekeras apapun aku mengayunkan pedang, semua orang juga tahu kita tidak bisa melihat gelombang sua-.”
‘Melihat gelombang suara? Jika aku bisa melihat arah serang musuh menggunakan Skill 'Escalation', pasti aku dapat memperkirakannya juga.’
Ucapku menunuduk pasrah dalam hati menyangkal serta memotong pernyataan yang kuberikan sebelumnya.
“Kenapa Aoi? Kamu berhasil merasakannya?”
Seketika pikiranku teralihkan karena Taka, kini semangatku berkobar tuk mengaktifkan kekuatan sebenarnya dari Skill 'Magnify' itu. Langsung menengadahkan kepalaku dan terarahkan padanya.
“Taka, tolong sekali lagi. Tunjukkan bagaimanamu menggunakan Hien.”
“Baiklah.”
Terimanya mengeluarkan nan memainkan kembali dua belati kecilnya.
Permintaanku diterima mentah mentah olehnya, dengan kecepatan dan kelincahan, Taka melakukannya sama persis sewaktu aku melihatnya dari balik jendela.
Benar benar arah serangan yang tidak dapat diperkirakan, kedua tangan memberikan masing masing dua tusukan berbeda, ditambah lagi dia bukan hanya mengasal, tapi tepat di titik buta lawan. Semua itu terlihat jelas ketika Taka selalu mengarahkannya pada sisi samping dan serangan balik, rabbit punch adalah istilahnya.
Aku tidak diam saja, dengan Skill “Escalation” milikku. Aku berusaha mengamati setiap celah dari gerakannya, menciptakan sebuah ruangan putih diantara kami.
“Yosh, aku melihatnya. Mungkin tanpa kekuatan ini, pergerakan itu bagaikan rudal dari segala arah. Tapi setidaknya sekarang aku bisa melihatnya sedikit lambat.” Gumamku sesaat, tanpa sadari langkah kakiku bergerak menuju hadapannya.
“Aoi?”
Sembari Taka masih menggerakkan seluruh otot dalam tubuhnya, aku sudah bersiap dengan pedang disetiap genggaman jariku. Dilanjut menghempaskan ayunan besar tuk kedua kalinya.
“Terlihat! Itu dia!”
Aku mendapati sebuah garis melengkung samar - samar yang dihasilkan ayunan pedang tersebut, muncul berirama dari kecil kemudian membesar berkali kali. Bagaikan sebuah air tenang nan di ganggu oleh satu saja tetesan air, dan menciptakan pola gelombang.
“Apa yang akan kamu lakukan dari jarak sejauh itu, oi!”
Teriak Taka keheranan ketika melihatku memegang kuda kuda dari luar jarak serang.
“Aku dapat!” Seruku saat melihat sebuah cahaya disisi lekukan gelombang tersebut.
*Wush!
Sebuah pembesaran gelombang suara tersebut berhasil dibesarkan, serentak menggelengar bak petir dikeluarkan secara bersamaan. Dampaknya benar benar tidak masuk akal, setiap satu gelombang itu berkumpul jadi satu dan memusat menjadi satu tebasan tak terlihat.
“Hah?!”
Kali ini gelombang tak terlihat itu menjadi satu individu yang menampakkan sisi aslinya, memberikan serangan efek tebasan suara menghempaskan udara disekelilingnya, termasuk Taka dihadapanku,
“Sial!”
Jeritnya sedikit terlemparkan kebelakang sejauh kurang lebih 5 langkah dari tempat asalnya.
“Maaf Taka, apakah kamu tidak apa apa?”
Tanyaku melepaskan semua atribut skill dan segera menghamprinya.
Sesaat aku mendekati Taka, sosoknya tertunduk, entah karena kesakitan atau rasa dendamnya akibat dampak Skill - ku. Keadaanya juga sangat memprihatinkan, sebuah luka gores dilengan dan kakinya.
“Ta – Taka?”
“Haha! Keren! Menakjubkan sekali Aoi! Coba lakukan sekali lagi!” Cakapnya tertawa dari balik muka tertunduk misteriusnya.
“…”
Aku tidak tahu harus meresponnya bagaimana, ekspresi yang ambigu, kagum dan dendam.
“Aoi? Aku tadi belum siap, tolong lakukan lagi.” Pinta Taka tuk kedua kalinya, tapi kali ini mukanya menatapku bersamaan mata berbinar di dalamnya.
“Tapikan-.”
“Kumohon!”
Bermula sebuah permintaan menjadi permohonannya kepadaku, dia bahkan menghiraukan luka ringan disekujur tubuhnya.
‘Dia ini, masokis apa?’ Batinku melihat kelakuannya.
“Baiklah, bersiap lah.” Sembari membenahkan postur tubuh dan mengambil kuda kuda di hadapannya.
“Ya!”
“Tunggu kalau jarak sedekat ini, bagaimana bisa ada ruang untukku mengayunkan pedang?”
Timpalku sewaktu Taka berdiri tepat di hadapanku dan hanya menyisakan jarak sekitar dua lengan.
“Begitukah?” Tanya Taka dengan polosnya.
“Oh, baiklah.” Jawabnya kemudian mundur beberapa langkah.
‘Oke, sekarang-.”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapan serta pengaktifan tahap pertama dari Skill 'Escalation'. Taka tiba – tiba langsung melesat maju. Mendaratkan pukulan mengarah pada kepalaku, namun berkat 'Escalation' yang sudah terkaitkan padanya walaupun belum sempurna. Setidaknya aku bisa menghindarinya dengan menundukkan wajahku.
‘Hien?!’
Bukan hanya memberikan sebuah pukulan tangan kosong, seperti dipraktekkan sebelumnya, pukulannya kembali terarahkan disisi dada samping kiri. Pukulan telak mengenai rusukku, Bisa saja itu langsung mengenai jantung.
“Argh!”
Jeritku kesakitan diikuti beberapa air liur keluar dari mulutku akibat hentakkan pukulan Taka.
‘Anak ini, benar benar dendam.’
Batinku kehilangan tumpuan tubuh lalu tersungkur ke tanah tanpa alas sehelai kain pun.
“A – Aoi?!
Sahut Taka panik melihat keadaanku, sedangkan aku sudah tidak dapat bangkit untuk membalas ucapan aneh dari sesorang yang sengaja memukulku.
“Hwaah! Aoi!”
“Ti – tidak apa, aku hanya..”
Aku bahkan belum sempat menghabiskan sepatah dua patah kataku karena terhalang sakit dan nafas acak acakan dalam diriku.
Mungkin ada kalanya perkataan “Tidak ada keistemewaan dipagi hari.” Itu benar. Bukan masalah istimewanya, namun rasa perih ini sungguh tak tertahankan. Kukira pagi ini akan menjadi sesuatu yang berbeda, namun ini sama saja oleh rasa sakit yang kuperoleh.
*Brak!
“Hoam, apasih berisik dipagi hari seperti ini.”
Itu sepertinya suara Asteria sedang membuka pintu secara keras, tapi aku tidak dapat memastikannya dengan jelas karena kondisi saat ini.
“Ta – kyun? Aoi – niisan!”
“Aku tidak apa, hanya sedikit kecelakaan.” Jelasku dengan nada lemas, pastinya Asteria tidak akan percaya.
“Oh, baiklah, dan Ta – kyun kamu tidak memasak hari ini?”
‘Dia mempercayainya!’
“Ah ya, maaf Aoi.”
Sahut Taka kemudian memanggulku masuk kedalam rumah.
‘Terima kasih Taka, tapi aku benar benar membencimu tahu.’
Keadaanku kini telah membaik setelah dibaringkan Taka di sofa, mungkin rasa sakitnya sudah menghilang namun tidak dengan perasaan baru yang muncul.
Benar, seorang gadis menatapiku. Azuzi Namida, dia adalah satu satunya orang iba terhadap keadaanku saat ini.
“Aoi – nissan, sudah enakan?” Tanyanya, intonasi malunya tak terelakkan terhadap pandangannya padaku.
“Iya, maaf membuatmu khawatir.” Jawabku bangkit dari sofa.
“Syukurlah.”
Lelaki tanpa adanya pengakuan salah karena perbuatannya, menatapku dengan seolah aku adalah kelinci percobaan nan siap menjadi objek penelitiannya, kemudian berkata. “Aoi, Skill Magnify - mu itu, tidak bisa diremehkan.”
‘Membahasnya lagi?’
“Coba kamu tingkatkan secara memusat, jangan menyebar.” Jelas Taka menyajikan beberapa lauk makanan dinampannya.
“Magnify? Apa itu, Aoi – niisan?” Tanya Azuzi tidak paham mengerti apa yang kami bicarakan.
“Skill baru, begitulah Azuzi – chan.” Balasku pada gadis kecil di sampingku. “Walaupun kamu menyarankanku seperti itu, aku bahkan tidak tahu cara menggunakannya secara detail.” Sambungku sekalian membenahi perkataan Taka.
“Lah?!”
Cakap Taka terheran, pasalnya dari sekian Skill didunia ini, permasalahan utama adalah tidak tahu cara menggunakan Skill. Namun, masalahku berbeda. Sebuah pengaktifan Skill tanpa sepengetahuan penggunanya.
“Sudah nanti saja, sekarang kita makan dulu.”
Tandasku menghentikan topik pembicaraan tersebut dan langsung mengalihkannya.
“Ya.”
......................
Yogairu dengan mulut penuh makanan, berbicara padaku. “Awoi, kwtanya kamw sudwh bisa mengwatfikwn Skill?”
‘Habiskan dulu sana, menjijikkan.’ Batinku melihat kelakuannya.
“Iya begitulah.”
“Benarkah? Kalau begitu sepulang sekolah langsung saja kita daftar Party Star!” Seloroh Asteria mendengar perbincangan kita berdua.
“Iya, aku sudah menyiapkan semuanya untuk itu.” Kata Taka.
“Menyiapkan semuanya? Aku juga ikut?” Sahut Azuzi sedikit terkejut menjatuhkan alat makannya.
‘Azuzi?’
“Kekuatanmu itu penting sekali untuk pertarungan antar tim.” Ucap Yogairu seakan mendukungnya lewat ucapan.
“Benar Azuzi, kamu adalah tank. Lalu Asteria adalah healer di bagian belakang? Begitu bukan?” Terang Taka menjeleskan sedikit rencananya. “Lalu Aoi kamu sebagai kontrol permainan, berada di tengah, seorang penyerang dan bertahan. Apakah kamu keberatan?” Imbuhnya mengadahkan sorot matanya padaku.
“Baiklah, kita juga sudah pernah menyobanya jugakan.” Terimaku setuju.
“Yogairu, usahakan dirimu tidak mencolok sebisa mungkin. Seorang penyihir dan assasin adalah kelebihanmu, berikan serangan saat musuh lengah.” Pungkasnya kemudian kembali memakan sesendok nasi dipiringnya.
“Dan kamu, Taka?” Tanyaku karena sadar jika namanya sendiri tidak disebutkan.
“Ta – kyun jelas menjadi prajurit bagian depan, seorang MVP kita.” Sahut Asteria menjawab pertanyaanku.
“Tidak, kita akan berjaya karena kerja sama. Bagaimana?”
Tutur Taka mengambil celah diantara perkataan adiknya itu kemudian mengulurkan kepalan tangannya ketengah – tengah meja, bermaksud untuk memberikan tos atas dibentuknya tim ini
“Ya!” Diikuti Yogairu dari sebelah kanan.
“Pastinya!” Dan kedua gadis muda.
Taka memandangiku dengan wajah penuh kepercayaan diri, dan bertanya. “Bagaimana Aoi?”
“Sudah jelas lah!” Seruku memberikan pukulan ringan membalas perkataan mereka berempat.
Bersambung....