
“Nah! Pilihlah kalian semua! Hidup damai tanpa kekuatan, atau Mati dengan kekuatan?”
Suara bak petir menggelegar di sudut colloseum, bukan hanya telinga, namun dampaknya menyambut panas pikiran setiap makhluk disana.
Di sisi kanan beberapa orang cuma dapat pasrah menerima kenyataan di cerminan matanya, bersumbu dari satu pribadi menuju kelompok.
“Ini bohongkan?”
“Tsukasa – dono? Sudah tiada?”
“Hari ini adalah waktunya kita menebus dosa bukan?”
Hilir sepatah dua patah kata menyertai kegelisahan mereka, satu satunya pikiran mereka adalah mengalah mengaku pasrah.
Namun di baliknya, ada juga orang yang masih teguh dengan kepercayaan pada dirinya, Berusaha menyemangati diantaranya bahwa suatu kegelapan pasti karena adanya cahaya.
“Oi! Mana mungkin semudah itu kamu mengalahkan kami!”
Seorang penoton dengan suara lantangnya memecah kesuraman.
Mendengar teriakan keras tersebut, sedikit demi sedikit hati orang orang disana tergerak. Orang di sebelahnya menambah kesan perlawanan sebelumnya, “Benar! Disini banyak prajurit dan kami juga bisa melawanmu!”
“Belum lagi para peserta disini!”
‘Benar benar kekuatan argumen kelompok, kepercayaan diri mereka mengumpul melawan rasa ketakutan dihadapannya.’
Batinku masih mempertahankan tempat persembunyianku.
Entah apa yang akan terjadi jika aku tertangkap oleh mereka, kemungkinan terburuknya pasti kematian. Namun salah satu pikiran terberatku adalah sudah satu bulan penuh aku tidak pernah bertemu dengan Mashiro, bukan berarti kangen atau apalah itu, aku sungguh butuh bantuannya untuk meningkatkan seluruh kemampuanku.
Lelaki yang sedang berdiri ditengah colloseum menahan emosinya, terlihat dari wajah menunduk seolah tidak ingin setiap celah menatapnya. Kemudian berkata, “Dasar kalian makhluk bodoh yang hanya mengandalkan Skill, kalau begitu nikmatilah ini!”
Seiring pandangannya terbungkam, sejalar api di sekeliling tubuh membesar. Perlahan namun pasti, setiap detiknya menjadi bara panas menyengat di kulit.
“Pa – panas, apa yang akan dilakukannya.” Gumamku merasakan panas dan gerah ditubuhku.
“Nah! Masih kurang cukup?!”
Bentaknya bangkit, kemudian mengangkat kedua tangannya diikuti pusaran angin diantaranya.
‘Sihir angin?’
Sifat angin yang dapat menerima segala elemen didalamnya, membuat bara api tersebut tercampur aduk bersamaan laju putaran api. Tentu saja, hawa panas dihasilkannya merata diseluruh colloseum.
“Kekuatan macam apa ini?”
Karena tak kuasa menahan panas, aku sedikit melangkahkan kakiku mundur dan berlindung di balik dinding lorong.
Hasilnya adalah hempasan angin panas, seakan ledakan awan kawah dari gunung meletus. Begitu pula diriku, meskipun tidak sepenuhnya terkena dampak bersih ledakannya. Membuat tubuh tanpa persiapan sedikitpun itu terlontarkan pada dinding kasar.
“Sial” Rintihku kesakitan kemudian bangun.
Belum cukup, aku masih bersikeras mengintip apa yang akan dilakukan pimpinan Sekte Keadilan tersebut.
“Bagaimana! Apakah kalian mampu menandingi kekuatan ini? Bahkan kalau aku mau, aku bisa saja membakar kalian.” Zylx tetap melanjutkan pidato setelah memberikan gertakan kecilnya. “Masih tidak percaya bahwa kesetaraan di sini seimbang?” Tambahnya.
“Kalau kami mengikuti Sekte Keadilan apakah semua akan setara?!”
Sahut salah satu penonton dengan raut wajah ketakutan.
Zylx tersenyum sejenak, kemudian menghela nafas besar. “Benar! Tidak ada pengguna skill diantara kalian semua. Aku-, tidak, kita akan mengatur semua struktur negara bahkan dunia ini dengan baik.”
“Bohong, bahkan di dunia asalku. Semua orang tidak memiliki kekuatanpun masih ada yang namanya ketidakadilan.” Desisku tidak percaya.
Namun tidak tahu apa alasannya, pemimpin Sekte Keadilan itu menggerakkan batang hidungnya, tatkala seekor anjing yang mengendus makanan disekitarnya.
“Mashiro?” Celetuk Zylx heran dan melihat ke sekeliling.
Sesaat dia mengalihkan pandangannya, aku juga ikut menyembunyikan diriku. Akan tetapi percuma, sepertinya ia melihat celah gerakanku.
‘Mashiro? Kenapa dia mengenalinya?' Batinku sembari menahan nafas.
Seperti dugaan, Zylx menyadari adanya diriku. Aku mendengar langkah kaki perlahan menuju ke arah persembunyianku. Walaupun tidak tahu pastinya, tapi sepenuhnya yakin jika itu adalah dia.
“Seorang bocah?” Zylx tepat berada di depanku. “Mata itu, aroma Mashiro ada di dalam dirimu.” Imbuhnya.
“…”
Aku terdiam bisu di hadapannya, tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Terasa hawa keberadaanya menutup rapat mulutku.
“Kamu? Anaknya Mashiro?” Tanyanya perlahan mendekatkan wajahnya pada telingaku.
‘Anak? Mana sudi aku menjadi anak dari gadis itu?’
“Bu – bukan, aku hanya partisipan di pertandingan ini.” Jawabku terbata.
“Tapi, kenapa aku mencium aroma Mashiro ditubuhmu? Ah, benar pasti kamu suaminya.” Zylx menjaga jaraknya dan sedikit mengerutkan dahinya.
‘Malah suami! Tidak akan terjadi pada hidupku itu!’ Jerit batinku menolak tuk menahan pertanyaan yang diberikannya.
“Buk-”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Zylx memotong ucapanku. “Jangan jangan kamu yang membebaskan Mashiro ya?”
Sembari mengatakannya, dia mengumpulkan sihir api yang sebelumnya dipertontonkan di tengah colloseum. Serta sorot matanya padaku seolah melihat orang idiot.
“Mana mungkin, terlebih lagi apa hubunganmu dengan Mashiro?”
Aku mencoba untuk melawan perkataannya, beranggapan jika terus menerus di tindas pasti akan memperburuk situasi.
“Wah wah wah, lalu kenapa juga saat aku menyebut nama Mashiro sepertinya kamu juga kesal?” Balas Zylx semakin memperkuat lonjakan api disekitar. “Bukankah para peserta lomba pertandingan sudah di kurung?” Tambahnya.
Menyadari amarah yang tercerminkan dari kekuatan itu, aku mengambil beberapa langkah besar kebelakang untuk menjaga jarak dengannya. Kemudian mengeluarkan dua belati sebagai senjata utama dalam isyarat pertarungan ini.
“Yah, untungnya aku yang mengaktifkan kurungannya. Jadi-.” Potongan kata tersebut dilanjutkan oleh serangan api bak tombak yang menuju ke arahku.
Aku berhasil menghindarinya dengan gercap mundur, mungkin bisa dianggap sebagai gertakan dari pada serangan. Karena itu lebih lambat dan tidak seberapa dari pusaran api sebelumnya.
‘Meski lebih lambat dan laju serangannya gampang dibaca, tapi dampaknya…’
Batinku melihat bekas serangan itu menciptakan lubang bekas bakaran cukup dalamdalam, sehingga bara api tersebut seolah membuat sarang baru disana.
“Reflek yang bagus, Ergon yang melimpah. Kamu ini sebenarnya siapa?” Tanya Zylx menghampiriku.
Menolak untuk diam, aku juga melangkah mundur perlahan bersamaan langkah kaki majunya.
“Aku hanya seseorang yang telah dikutuk di dunia ini dan harus menjamin kebebasan hidup seorang gadis aneh!” Bentakku, tapi tidak berpengaruh dengannya.
“Hmm? Maksudmu Mashiro?”
“Benar!”
Serentak mengeluarkan tumpuan berat pada kaki kanan lalu memanfaatkannya sebagai gaya pegas dan melontarkan satu tebasan disertai tubuhku melesat maju.
Serangan dasar seperti itu tentu dapat dielaknya dengan mudah, kemudian berkata. “Bermain pedang ya? Tidak masalah sih, akan ku layani.” Dilanjut mengeluarkan pedang bermodelkan Sabre dari dalam black storage - nya.
‘Mana mungkin aku bisa menang satu lawan satu melawannya. Tapi ini lebih baik daripada harus pasrah mengikuti keinginan bodoh itu.’ Pikirku sambil menyiapkan kembali peganganku pada pedang,
Tanpa basa basi, aku langsung mengambil pilihan pertama. Menyerangnya maju diikuti kedua tangan yang siap membungkam setiap pergerakan, mengarahkan serangan pembuka ini pada bagian kepalanya.
*Ting – Slash!
Benar saja, memadukan pengalaman bertarung Taka serta pelajaran dasar pedang oleh Nathan – sensei, menghasilkan dua serangan kuat secara berkelanjutan. Namun salah satu serangan harus di tepis dan menyebabkan goyahnya keseimbangan pada kuda kudaku.
Zylx cuma terkena goresan pada sisi kanan dagunya, mengusap dan berdecak, “Aliran pengguna dua belati memang gesit ya.”
Tak ingin mengasihi waktu istirahat baginya, aku langsung meluncur lagi. Memberikan serangan sama namun lebih memperhatikan arah perlindungan pedangnya.
Akan tetapi, aku terkecoh oleh momentumnya. Bukannya menghindari salah satu atau kedua tangan, tapi Zylx malah mendekati lajur serangan itu. Menempatkan dirinya dihadapanku, dan menyebabkan kekuatan seranganku itu meleset tanpa tumpuan.
‘Tidak kena?!’
Dalam jarak sedekat ini, adalah mimpi buruk bagiku. Tanpa pertahanan sedikitpun, memberikan serangan telak untuk musuh. Dan tentunya Zylx tidak menyia – nyiakan kesempatan itu, memberikan tendangan lutut kerasnya pada tubuhku.
Aku mengatur ulang jarak dan mundur sementara merintih kesakitan akibat luka yang ditimbulkannya, “Argh!”
Sama seperti sebelumnya, Zylx tidak mau melonggarkan peluang besarnya. Kali ini dia maju menghampiriku dengan cepatnya.
Melayangkan ayunan pedang padaku, namun tidak kubiarkan serangannya itu mengenai tubuhku. Bebarengan menahan rasa sakit, aku berusaha menangkis setiap haluan tajam yang diberikannya.
“Keterampilan berpedang yang hebat.”
“Ringan!”
“Tajam!”
“Cepat!”
“Padahal Ergon mu cukup banyak.”
“Namun bodohmu menjadi ahli pedang.”
Umpatan berbaur pujian tersebut di semburkan langsung bersamaan setiap sabetan, seolah menyatu dengan irama suara logam terbentur yang dihasilkannya.
Mengambil tindakan satu lawan satu dengannya bukan pilihan buruk, terlebih lagi kedua belati ini lebih cocok soal menyerang dan bertahan. Sebanyak apapun dia memberikan serangan, ujung ujungnya akan terbebankan pada salah satu belati milikku.
Sampai di saat Zylx kehabisan nafas dan menarik langkah lalu menghentikan ayunannya, “Ck, menghabiskan waktu saja!” Kesalnya kemudian mengumpulkan sihir sekali lagi.
“Iya, aku mengakuinya, dalam bidang pedang, aku dan kamu sangat jauh tingkatannya. Tapi tidak dengan sihir.”
“Pecundang.” Gumamku mengganti senjataku menjadi pedang panjang sewajarnya.
“Apa yang akan kamu lakukan dengan pedang tumpul itu?” Zylx menyadari perubahan senjataku seiring dia mengumpulkan kekuatannya.
“Ini!”
*Slash!
Tidak mau membiarkannya menyelesaikan sihir penghancur itu, aku menyerangnya menggunakan gelombang suara dari tebasan pedangku. Berbeda dengan sebelumnya, aku tidak memusatkan kekuatan ini, tapi sekedar mengumpulkannya.
Pijakan kaki Zylx tergoyahkan, sihir api disekitarnya gagal total. Melihatku dengan sorot mata membunuh sembari menutupi telinganya akibat seranganku sebelumnya.
“Kamu!” Geramnya.
Bukan menjadi serangan pamungkas, namun sebuah rudal pembantu yang dapat menganggu pergerakan serta pendengaran musuh. Dikarenakan kelebihan frekuensi udara, mengakibatkan sistem saraf pendengaran tidak berfungsi sementara waktu. Gelombang suara yang berlebih akan menciptakan hempasan besar, jika di taksir bisa sebanding dengan sihir angin.
“Pertanyaanku terjawab ya, jumlah Ergon diluar pemikiran itu, inikah kemampuanmu?” Zylx tersenyum kecil, dilanjut kedua tangan gemetaran menyiapkan luapan sihir.
“Asal dirimu tahu ya, ini bukan murni sihir. Bodoh!” Kesalku muak dengan semua bualannya.
“Baiklah baiklah, kalau begitu. Apakah kamu masih dapat menandingi kekuatanku ini?!” Teriaknya sambil menengadahkan kedua tangan.
Usut punya usut, tercipta sebuah sihir besar diatasnya. Kombinasi antara api nan di bungkus oleh angin, siap ******* apapun yang dikehendakinya.
‘Sial, itu lebih dahsyat daripada di colloseum sebelumnya. Apakah aku bisa menahannya? Tidak, aku pasti bisa!’
“Jadi? Apakah kamu bisa?”
Tanpa sepatah kata, aku mengambil langkah besar kanan sebagai tumpuan utama. Kemudian menggenggam erat pedang ditelapak tangaku. Dan ingin menjawab pertanyaannya dengan kekuatanku sendiri.
“Namamu Aoi ya? Selamat tinggal!”
Bersambung…