
Gumpalan langit berwarna merah darah dengan cepat menutupi bagian atap dari lantai ini, ibarat genangan kekalahan menaungi kami bertiga. Gemuruh semakin membesar, menyebabkan getaran di setiap pijakan. Kicauan burung bersahutan mengisyaratkan penderitaan yang akan datang.
Groar!
Suara raungan keras terdengar dari arah inti hutan, kami bertiga segera terbangun dari istirahat singkat. Mendengar suara tersebut, diselimuti rasa waspada dicampur ketakutan kami bersiap dengan tubuh sebatang kara.
'Pedangku?'
Aku teringat saat memasuki gerbang tadi, pedangku masih menancap dikepala Horned Bear tadi.
'Ah sial, sekarang bisa apa dengan tangan kosong ini.'
“Suara ini, ternyata benar. Bearrock Golem, adalah boss Dungeon bonus ini.” Sahut Mashiro, tatapan mata kosong muncul dibola matanya.
'Ada apa ini? seberapa kuatnya Boss lantai ini.'
Pikir heran, baru kali ini aku melihat Mashiro seperti ini, wajahnya menampakkan betapa kerasnya dia bergulat dengan ingatan masa lalunya. Suasana juga mencekam, sedikit mulai mengeruhkan perasaan takut dipikiranku.
“Kalian bersiaplah, kita akan melawannya.” Tegas Taka bersiap.
Di sisi lain, Mikadzuki sadar jika tanganku tanpa senjata, kemudian melemparkan belati kecil miliknya kepadaku.
“Ini, kamu tidak bisa bertarung dengan tangan kosong bukan?”
Pisau alias belati yang Mikadzuki berikan ini seluruhnya terbuat dari logam seperti besi, namun ringan. Tidak ada semacam kayu atau karet untuk pegangannya, terpampang jelas di besi tengah belati ini ukiran tertulis “Hoshizora”. Aku berasumsi jika ini awalnya adalah milik Taka yang diberikan kepadanya.
Singkat cerita, Monster boss muncul dari dalam tanah. Menggerakkan seluruh tanah di area ini, dan suara gemuruh yang menyertainya. Nampak, tubuhnya amat besar tidak jauh berbeda dengan tubuh para Horned Bear. Perbedaan besarnya adalah tubuhnya yang tertupi semacam batu ibarat armor yang melapisi suluruh bagian tubuhnya.
Aku menyaksikan indikator diatas monter tersebut, memang boss tersebut adalah Bearrock Golem yang dikatakan Mashiro barusan. Meskipun levelnya lebih tinggi dari kawanan monster di lantai 10, yaitu 94. Tidak heran jika dia adalah boss dari Dungeon ini.
“Level 94 ya, masih ada kemungkinan kecil.” Celetuk Mashiro, senyuman kecilnya muncul kembali, mengingatkanku waktu pertama kali bertemu dengannya. “Ukurannya memang sama, tapi kali ini sepertinya lebih mudah.” Sambungnya menatapku.
Anak panah melesat maju diikuti pusaran angin yang nampak menjadi kekuatan dorongan ekstra, mengenai mata sebelah kiri Monster tersebut.
Luka tersebut menyebabkan pergerakan Bearrock Golem tidak dapat dikontrol, meraung kesakitan serta kedua tangan yang digerakkan kesana kemari waspada terhadap musuh dilawannya.
Musuhnya adalah Gadis High – Elf, Mikadzuki menarik busur untuk memberikan serangan keduanya. Sembari menguatkan tarikannya, semburan angin mengumpul ditangan kananya. Tidak dibutuhkan waktu lama, terbentuk gumpalan angin yang berpusar mengelilingi anak panah dalam busur tersebut akibat banyaknya angin terkumpul.
“Itu kah sihir angin.” Gumamku ternganga memerhatikan putaran angin bak ****** beliung.
Sekejap, Mikadzuki melepas ujung jarinya. Melawan hukum alam, anak panah tersebut menerjang angin dan melesat untuk kedua kalinya. Seperti dugaan, serangan itu mengarah ke sisi kepala Monster, tepatnya mata bagian kanan.
Tetapi setiap ayunan tangannya yang dilindungi oleh batu menepis telak serangan itu. Bukannya terpental, saking kuat terjangannya, anak panah tersebut menancap dilengan kanan. Membuatnya tahu akan posisi kita bertiga berada, kemudian menoleh ke arah Mikadzuki dengan tatapan dendam. Tanpa merasakan apapun, monster itu langsung bergerak mendekati kami.
Serentak Taka maju mengangkat kedua belatinya, berlari berhadapan satu lawan satu tanpa memikirkan resiko apapun. Sadar akan tubuhnya yang tertutupi batu, Taka mencoba melawannya dengan tenang serta terus mengamati kelemahan disetiap gerakkannya, tidak mengambil tindakan gegabah, dia terus menghindari setiap serangan dari Monster bos tanpa memberikan balasan sekalipun.
“Siku! Setiap siku adalah tutik lemahnya!” Teriak Mashiro ingin membantu Taka mencari kelemahan dari Boss itu.
Diriku paham jika sekeras apapun Mashiro berteriak, tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali aku. Maka dari itu, benar atau salah, aku menyampaikan setiap kata Mashiro kepada Taka.
“Taka! Incar bagian sikunya!”
Terselip penjelasan di otakku, jika setiap pelindung tibuh pasti ada celah sisi untuk bergerak. Karena itulah Mashiro mengucapkan hal itu.
“Serang setiap siku di senggang saat dia melebarkan lengannya!” Teriakku memfokuskan lubang mulut dengan kedua tangan untuk memperjelas suaraku kepadanya.
Setelah mendengar teriakkanku, Taka perlahan mendekati lengan monster itu. Meskipun dia memiliki tubuh yang gesit, dia hampir kewalahan dengan musuh besarnya. Setiap langkah kakinya terhalang oleh ayunan besar tangan monster tersebut, seakan monster boss itu menciptakan area benteng sendiri.
"Aoi, jika Taka sedekat itu, aku ragu untuk membidik nya." Mikadzuki dengan kedua tangan yang bergetar menarik anak panah dari busurnya, sejalan seperti ucapannya, mata serta jari jarinya menolak untuk menyerang.
'Sial, tubuh sebesar itu masih bisa bergerak cepat. Apa yang harus aku lakukan, berpikir lah.'
"Kekurangan dari penggunaan armor adalah pergerakan serta penglihatan, kamu harus bisa mengelabui keduanya." Desis Mashiro.
'Ah, Mata!'
Aku tersadar jika mata kanan monster itu dapat mengetahui pergerakan Taka, karena itulah dia masih bisa melindungi tubuhnya. Sebab itu juga Mikadzuki kesusahan mengincar mata sepasangnya, padahal bagian pertahanan kepala terbuka lebar. Bagaimana pun caranya kita harus membungkam penglihatan nya.
Tidak berpikir panjang, aku ikut berlari menuju monster Bearrock golem tersebut, di bagian depan bersama Taka. Tiada cara lain, jika Taka menurunkan pedangnya dan mundur, pertahanan monster itu kembali stabil, kemungkinan kecil untuk Mikadzuki membidiknya. Apalagi dengan strategi sebelumnya, hanya masalah waktu saja sampai Taka kehabisan tenaga.
"Mikadzuki! Tahan, aku yang mengincar matanya!" Teriakku kepada Mikadzuki sambil menyiapkan peganganku kepada bilah kecil. "Taka! Alihkan perhatiannya, tolong ya!" Lanjutku kepada Taka.
"Baiklah." Balas Mikadzuki menerima perintahku serta melepas anak panahnya.
"Aku tidak tahu apa rencanamu, tapi baiklah!" Diikuti Taka menyerang maju.
Kedua rekan yang bukan lain adalah temanku mempercayai apa yang aku lakukan, tidak mau mengecewakan keyakinan mereka berdua, aku harus menyelesaikan ini.
Tiba masanya bertatapan dengan batu bergerak, pandanganku dipenuhi oleh kaki raksasanya. Seperti yang direncanakan, monster ini hanya fokus satu penyerang di sekitarnya. Taka menyibukkan pergerakannya sangat sempurna, seolah dia menciptakan arena satu lawan satu dengan boss tersebut.
"Ti - Tinggi, walaupun aku sudah mendekatinya bagaimana untuk menusuk mata kanannya dengan belati kecil ini." Gumamku melihat keatas tepat di kepala monster tersebut.
Tidak ingin mengambil resiko besar, serta tubuh yang menolak, kami berdua melompat kebelakang menghindari nya. Menjaga jarak serang dengan monster itu, mencoba mengatur kembali nafas.
'Sial.......'
"Gunakan Skillmu, mungkin sedikit berguna." Sahut Mashiro.
'Oh, ya. Aku masih bisa.'
Memulai dari awal, aku memusatkan fikiranku kepadanya. Hanya ada aku dan Bearrock golem tersebut, di ruang hampa ini. Tidak mengenal medan pijakan ataupun suasana sekitar.
Taka menyadari hal itu, tanpa arahanku dia melesat kedepan lagi. Kali ini dia mencoba menggiring monster tersebut kepadaku, di setiap langkahnya pasti memancingnya untuk mendekat.
Pandanganku cuma tertuju pada monster yang mengayunkan kedua tangannya seakan bertarung sengit dengan seseorang, perlahan semakin mendekatiku. Tidak dibutuhkan waktu lama lengan dari monster itu berada diatasku, bersiap untuk ******* tubuhku.
'Ah, sial!'
Kaget bukan kepalang, aku langsung mundur kebelakang untuk kedua kalinya. Akibatnya, fokus yang ku bangun runtuh seketika dan melepas penggunaan skillku.
Nampak Taka di balik tangan raksasa tersebut, tahu dalang dari pergerakan monster itu, aku menyalahkannya. Tapi, aku tidak langsung ke inti apa yang dia perbuat, melainkan tetap berpikir dengan tenang alasan Taka melakukan itu.
Di sisi lain, tangan raksasanya perlahan kembali seimbang di tubuhnya, serta akan melancarkan serangan selanjutnya. Melihat hal itu, aku paham apa yang dimaksud Taka. Dia memancing pergerakan tangan monster untuk menjadi pijakan menuju kepalanya.
"Baiklah, tolong Taka!" Seruku mengisyaratkan paham tentang rencananya.
Taka membalasnya dengan senyuman serta anggukkan percaya diri, kecepatan tubuh yang seirama oleh semangat, mendukung seluruh performanya. Berulang kali dia lakukan, maju dan menjadikan dirinya umpan. Tanpa kesalahan, bahkan luka gores pun tidak ada ditubuhnya.
Ini mungkin beresiko fatal, aku harus memanfaatkan peluang ini walaupun sekecil ujung jarum.
Takdir menyertai kita, lengan kanan monster itu menjulur kembali. Seperti dugaan, ayunan besar tanpa genggaman itu menghasilkan ketidak seimbangan pada tumpuannya. Tangannya tergeletak diikuti dengan tubuhnya.
Kesempatan langka tidak mungkin terulang - ulang, menggunakan Skill yang kumiliki, aku langsung menapaki lengan bak jembatan batu. Taka di belakang tidak tinggal diam, tenaganya tak kunjung padam, kegesitannya menebas cepat sisi lengan kiri. Kedua tebasan tersebut mengenai penggerak utama, dampak yang diberikan semakin berlipat.
Tetap fokus dibagian mata kanannya, aku melanjutkan pelarian dengan tapakan disetiap bagian lengannya. Memegang belati di tangan kiri secara terbalik serta tangan kanan yang siap menggenggam untuk menambah dorongan.
Sampai di pundaknya, menyiapkan kekuatan dikedua kaki, memperkuat pijakan dan melontarkan tubuhku dihadapan monster bos tersebut. Dilanjut dengan menusukkan belati di bola matanya, merasa belum cukup, aku memukul pegangan di tangan kiri dengan tangan kanan, luka yang dihasilkan semakin dalam. Reflek, monster tanpa sepasang penglihatan tersebut mengadahkan mukanya ke langit disertai raungan kesakitan.
Hal tersebut menyebabkan pegangan ku terlepas, dan jatuh tanpa kekuatan tubuh. Taka menghampiriku serta membantu untuk berdiri.
Seketika tubuh Bearrock golem terpendam perlahan masuk ke tanah, getaran yang dihasilkan sangat lah berefek. Suaranya bagaikan gunung erupsi serta gempa tanpa perhitungan sekalipun.
"I - ini sungguhan level 94?" Potong Mashiro melihat getaran tanpa henti disekelilingnya, tatapannya sama persis waktu masuk di lantai ini.
Aku menghiraukan ucapannya, tetap fokus dengan tubuh monster yang terhenti setelah setengah darinya terpendam. Kali ini dia berhenti, terdiam mematung bagaikan monumen kuno. Perhatian kami bertiga masih belum teralihkan, tanpa meredakan tubuh sedikitpun.
"Aoi! Skillmu!" Teriak Mashiro panik seolah bahaya adalah udara yang dihirup.
'Skill?'
Tanpa berpikir dua kali, aku menuruti perintah Mashiro. Menggunakan skill ku dan memusatkan fokus kepada bos itu.
Takjub oleh kekuatan yang kumiliki, skill peningkatan ini bisa menampakkan langsung seluruh tubuh lawanku, tanpa terhalang tebalnya tanah aku dapat melihatnya jelas.
"Tu - tunggu, apa itu yang keluar dari tubuh Bearrock Golem" Gumamku terkejut melihat sesuatu seperti batu menjalar dan berkumpul menjadi satu.
"Spike Rock? Aoi waspada terhadap akar itu!" Teriak Mashiro.
"Belum selesai" Sahut Taka, belatinya masih bertahan dan tajam.
Kumpulan akar tersebut membentuk sebuah ujung tombak lancip di ujungnya, mengerucut seperti stalagmit dengan ukuran besar dan mulai bergerak kearah kita berada.
"Hati hati, hindari batu itu!" Tegas Mashiro, arah matanya sama sepertiku, melihat pergerakan stalagmit yang terus melaju.
"Masih belum juga, sial. Sebentar, dia merubah arah serangannya. Kemana? Tidak kesini?" Gumamku kaget, Stalagmit yang hidup ini bergerak menajuhi kami, tentunya dalam tanah, karena itulah Taka tidak menyadarinya.
"Arah itu menuju-"
Saat aku menghitung kemungkinan jalurnya, ternyata itu mengincar Mikadzuki yang ada jauh di seberang kami. Serempak aku langsung berlari kearahnya, tidak bisa berpikir jernih karena tubuhku bergerak sendirinya.
"Tu - tunggu, Aoi?" Tukas Taka heran melihatku berlari tergesa-gesa.
"Sial, tidak sempat."
"Mikadzuki! Menghindar!"
Ternyata benar apa kata Mashiro, Stalagmit bergerak bagaikan rudal bawah tanah itu benar benar ingin mengakhiri Mikadzuki tanpa jejak.
Bersambung....
......................