
"Bermimpilah seakan kamu hidup selamanya, dan hiduplah seakan kamu mati hari ini. "
Mungkin kata kata itu cocok untuk menggambarkan situasiku saat ini, bangun dari kematian dalam mimpi. “Apakah ini mimpi? Tapi gadis itu, mengapa dia disini?” sebuah pertanyaan yang tersesat dan terus berputar di kepalaku. Pagi nan menyegarkan, mungkin aku tidak bisa merasakan nikmat itu.
“Mimpi? Lalu aku ini apa?”
Pertanyaan aneh yang dilontarkan gadis itu serta keberadaannya disini membuatku kesal.
Aku melihat sekeliling untuk kedua kalinya, menyentuh pipi Azuzi yang tertidur pulas di sampingku. Jam digital juga terlihat jelas, setiap detik berjalan maju menunjukkan pukul 8.54 pagi hari. Aku juga mengambil Smartphoneku serta menyalakannya.
“Ti – tidak, ini kenyataan.” Ucapku lirih, ekspresi bingung dan terkejut menjadi satu.
Mashiro tersenyum kecil, di lanjut dengan berjalan mengelilingi ruang ini.
“Keren! Walau aku tidak merasakan ada batu sihir, benda ini bergerak dengan kemauannya.” Serunya melihat jam antik dengan kedua matanya yang mengikuti pergerakan pendulum yang berayun.
Aku mencoba untuk berpikir positif, aku pergi dari tempat tidur kemudian meminum segelas air di ikuti dengan mengusap wajahku beberapa kali. Tapi, percuma. Itu jelas jelas Mashiro. Ah sial.
“Ahh…. Jika gadis aneh ini mengikutiku sampai sini, aku harus berbuat apa.” Keluhku sambil menaruh gelas kosong ditangan.
Mashiro tertawa kecil, lalu menghampiriku.
“Ayolah ambil sisi baiknya, dengan ini kita bisa terus bersama bukan?”
“Ha? Sisi baik? Menurutmu dengan gadis aneh yang nempel terus itu sisi baik?” Kesalku.
“Ara, pikirkan lah baik baik. Jika aku bersamamu maka Skill default milikmu aktif bukan? Bagaimana dengan Skill lainnya?” Balasnya memegang daguku dan mengangkatnya keatas agar bisa bertatapan empat mata dengannya.
“Skill lainnya? Escalation?” Gumamku dan memalingkan wajahku dari hadapannya.
“Dengan kata lain, aku masih memiliki status seperti game yang ada didunia mimpi dan aku juga masih bisa menggunakannya di dunia ini?”
“Bodoh! Itu bukan mimpi tahu! Itu benar benar dunia disana!” Teriak Mashiro.
Sekeras apapun Mashiro berteriak, tidak ada yang bisa mendengarkannya selain aku sendiri. Bahkan suasana diruangan ini tenang, Taka dan lainnya masih tertidur pulas, mereka nampak tidak terganggu sedikitpun.
“Setelah kau melalui beberapa hari, kau masih tidak percaya? Au ah, sebodoh apa sih kamu.” Gerutunya kesal.
Memang itu seperti kenyataan, tapi aku masih belum yakin. Yang terpenting aku harus memastikan ucapan Mashiro itu benar, Soal Status identitas.
Aku membangunkan Taka kemudian berpamitan dengannya, aku sedikit kasihan, dia masih belum sepenuhnya tersadarkan dari tidurnya. Mata sayup – sayup diikuti dengan anggukan kepala 2 kali adalah jawaban darinya, tak lama tubuhnya pun tidak kuat menanggung rasa kantuk di kepalanya. Akhirnya jatuh dan tertidur lagi.
......................
Sesampainya dirumah, tubuhku digerakkan dengan rasa penasaran tak terbendung. Memutar musik favoritku di mp3 player serta menghubungkannya ke headphone bluetooth yang kupakai di kepala. Aku mencoba untuk fokus sebagaimana aku menggunakan Skill - ku ini sewaktu latih tanding dengan Yogairu.
Mashiro nampaknya bingung dengan apa yang kulakukan, apalagi melihat headphone yang ada di kepalaku.
“Benar! Aku merasakannya! Jadi ini! Ini ya?” Teriakku keras.
Aku merasa gejolak api menyala di dalam tubuhku, panas tapi menyenangkan. Penglihatan ku juga terpusat, ini semakin terasa. Panas tubuh serta pikiran fokus dengan irama yang melantun setiap ritmenya menyatu di seluruh ragaku. Aku menggerak gerakkan tangan dan kaki ku, ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya, Ringan dan cepat.
“Musik? Jadi begitu ya, ternyata kamu paham apa yang kumaksud.” Lega Mashiro menghembuskan nafas besar.
Aku mencoba mengangkat kursi, meja bahkan kulkas, aku tidak merasakan beban berat sama sekali. Ini terasa ringan, seperti memegang setangkai bunga. Belum puas dengan itu semua, aku pergi keluar.
“Eh, Aoi.”
Sahut Mashiro terkejut karena aku tiba tiba pergi keluar, dilanjut dengan ekspresi bingungnya melihatku fokus dengan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.
“Benar, ini adalah peningkatan! Aku bisa melihat jelas, bahkan bayangan tetesan yang kulihat sebelumnya kini menjadi bayangan sesungguhnya. Semakin nampak, semakin bisa aku memperkirakan kemana gerakan lanjutannya.” Semangatku bergejolak dalam hati.
Akan tetapi suara musik yang berirama di headphoneku mulai mengecil dan terputus putus, tidak lama kemudian terhenti. Aku sadar jika aku menggunakan Headphone Bluetooth yang jaraknya tidak bisa terlalu jauh dari device - nya. Mendadak tubuhku kehilangan tumpuan dan terjatuh, lantas aku merasakan lelah yang luar biasa, sampai sampai tidak bisa menaikkan kepalaku.
“Enak? Itulah efek samping dari setiap skill.” Sindir Mashiro.
Tatapan orang orang mengarah kepadaku. Orang yang tiba tiba terjatuh tanpa alasan, siapa juga yang tidak menyadari akan hal itu.
Sial…..
Anak kecil berambut merah sedikit panjang menghampiriku, menarik perempuan tua yang bukan lain ibunya dengan bergandengan tangan.
“Nee, nee Nii – san tidak apa?” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya, ibu yang berada di belakangnya terlihat tersenyum dengan apa yang dilakukan anaknya.
“Ah, terimakasih.” Balasku meraih tangannya.
“Mata, eh tidak. Lain kali hati hati ya, Nii – san.” Dengan itu anak beserta ibunya meninggalkanku.
Mashiro terdiam, dia sepertinya terkejut melihat pasangan ibu anak tersebut.
“…”
“Dia, kamu kenal Aoi – kun?” Tanya nya, pandangan nya masih menuju ibu dan anak tersebut.
“Tidak lah.”
Aku kembali ke kamarku, berbaring di sofa. Banyak pertanyaan yang masih belum aku ketahui hingga saat ini. Di ikuti dengan Mashiro yang masih mengamati sekeliling ruangan.
Dengan melihat telapak tangan yang dihiasi dengan latar belakang langit langit dinding rumah, aku bertanya kepada Mashiro.
“Mashiro, bagaimana jelasnya efek samping dari setiap Skill. Seperti milikku, aku tidak terlalu paham.”
“Ha?” Mashiro kaget dan memalingkan wajahnya kepadaku.
“Kukira sejak memutar musik, kamu sudah paham. Ternyata seorang bodoh tetap lah bodoh walaupun berpindah dunia sekalipun.”
“Yah…..”
“Baiklah, intinya. Skill Escalation milikmu hanya meningkatkan sistem olah pikir tubuh seperti adrenaline dari otakmu, sehingga memaksakan organ tubuh mengikuti otakmu.” Jelasnya kesal.
Artinya, Peningkatan yang dimaksud adalah pikiran. Sedangkan tubuh cuma sekedar mengimbangi apa yang diolah otak, dan menghilangkan apapun indera yang membatasinya. Jika di dunia sebelumnya hanya Ergon yang terkuras, kali ini langsung ke organ tubuh. Karena itu aku tadi tiba tiba kehilangan tumpuan kakiku.
“Ah, dengan kata lain, jika aku ingin mengoptimalkan skill ini, aku harus meningkatkan ketahanan tubuhku begitu?” Tanyaku mengerutkan dahi.
“Benar, itu sama berlakunya di kedua dunia.” Jawab Mashiro dengan nada semangat.
Walau sekarang aku semakin tahu bagaimana penggunaan skill yang ada di tubuhku, aku tidak peduli dengan pemanfaatannya atau pun pengoptimalannya. Dengan memegang Smartphone di kedua tangan, duduk di sofa seharian penuh, tidak berpindah dan bermain game tanpa bosan. Aku benar benar bersyukur karena bisa memainkan game ini lagi, hanya sekitar 2 hari tanpa game, hari hari terasa berat.
Mashiro yang dari tadi berada dihadapanku tidak bosan melihatku bermain, dia juga tidak pernah lepas dari penglihatanku, sungguh menjengkelkan.
“Hei, Aoi. Apakah kamu tidak bosan dengan benda itu?” Tanyanya memecah keheningan diatara kami berdua, memiringkan kepalanya dengan tatapan mata yang terfokus pada Smartphoneku.
“…”
Aku hanya terdiam tidak mempedulikan dengan pertanyaannya, dan masih melanjutkan gameku.
“Siapa juga yang peduli dengan itu? Aku ingin menikmati waktu ku disini. Terlebih lagi bukannya aku sudah mati di dunia sebelumnya, mana mungkin kembali secara tiba tiba di dunia aneh itu.” Lirihku
“Tu – tunggu, bersama kamu? Dimanapun? Yang benar saja?”
“Ya itu pilihanmu, kembali ke duniaku atau bersamaku di dunia ini selamanya.” Jelasnya dengan nada serius, itu mengingatkan ku bagaimana pertemuan pertamaku dengannya.
Mata yang fokus dengan lawan bicaranya, tatapan yang dingin, serta nada bicara seakan menekan dan memaksa. Membuatnya seperti pembunuh yang sedang meng – interogasi mangsanya.
“Apa… Maksudnya ucapanmu itu?”
“Menyelesaikan kontrak dan selesai.” Pungkasnya.
Aku tidak tahu apa maksud dari ucapannya, menyelesaikan kontrak? Dengannya? Kembali lagi ke dunia tidak jelas? Omong kosong macam apa itu. Membingungkan, kenapa juga harus repot repot pergi ke dunia lain untuk bebas dengan gadis aneh seperti dia.
“Lalu bagaimana jika kontrak kita selesai? Selesai sudah?” Tanyaku serta menghentikan gameku dan meletakkan smartphone.
“Entahlah, walau kontrak kita berakhir. Masih ada kemungkinan kamu bisa menggunakan skill milikmu di dunia ini, terlebih lagi Skill ‘Kontrak’ termasuk Skill langka. Secara logika memang tidak berguna, tapi ini bisa lebih kompleks dari yang kau bayangkan.” Dengan menjelaskan itu dengan nada lembut yang dibuat buat, dia mendekatiku perlahan.
“Lalu bagaimana caranya menyelesaikan ini semua?” Timpalku, karena sudah muak dengan ini semua.
Di tengah tengah aku mengucapkan itu, Mashiro duduk di sebelahku. Dia semakin dekat, Mashiro mungkin hanya Roh. Tapi, aku bisa merasakan hawanya.
Kemudian mendekatkan bibirnya di daun telingaku, dan berbisik kepadaku.
“Tolong diriku.”
Baru kali ini aku mendengar ucapannya dengan nada pasrah, itu terasa nyata. Aku bisa mengetahuinya dari kepasrahan yang di utarakan melalui bisikannya.
“To – tolong? Apa yang kamu harapkan dari aku?” Kataku, serta menaruh kedua tangan di dada.
“Aoi – kun, janji.” Ucapnya sedih dengan jari kelingking mengarah di hadapanku.
Aku tidak tahu apakah dia benar benar diselimuti kepasrahan atau hanya topengnya saja, akan tetapi mana bisa aku membiarkan gadis dengan ekspresi sedih dihadapanku seperti ini. yang terpenting aku harus tahu inti permasalahannya serta bagaimana cara penyelesaiannya.
“Baik, aku janji.” Balasku dan menarik jari kelingkingnya.
“Terimakasih.”
Senyumnya yang mencoba menutupi raut kesedihan diwajahnya, namun itu semua sia sia. Air mata tidak bisa membohonginya, perlahan lahan mengalir membasahi muka.
“Kamu ingat lelaki yang bernama Hyaki Gako?”
“Iya, Bandit yang dibunuh Taka itukan?”
“Benar, dia adalah salah satu anggota sekte keadilan.” Ucapnya, mengusap air matanya dan ekspresi serius yang mulai muncul di wajahnya.
“Sekte Keadilan? Apa itu?”
“Sebuah kelompok yang menginginkan keadilan di dunia, dengan merampas semua kekuatan setiap orang dan mengumpulkannya kedalam lembaran. Mereka bertujuan untuk menciptakan dunia baru dimana kesetaraan adalah intinya, dan hanya orang tertentu yang boleh menggunakan kekuatan khusus.” Jelasnya
“Tujuan mereka mengumpulkan semua kekuatan setiap orang? Lalu kenapa saat lelaki itu bilang kepada Taka jika mangsanya adalah aku dan Yogairu.” Ucapku mengerutkan dahi.
“Karena aura setiap orang berbeda, mereka akan mendahulukan kekuatan besar yang terlihat dari aura seseorang, dan Hyaki Gako tertuju denganmu. Tidak, itu karenaku.”
“Karenamu?”
“Iya, karena Skill ‘kontrak’ milikmu bukan hanya bisa berkomunikasi denganku, tapi juga berbagi Ergon serta skill di tubuhmu.” Tuturnya dengan mengarahkan jari telunjuknya di dadaku.
“…”
Suasana menjadi hening, suara detik jarum jam terdengar. Kami berdua terdiam bisu, tidak tahu cara bagaimana menerima serta menanggapi kenyataan itu. Bulan sudah nampak dilangit, malam yang makin larut benar benar menambah kesunyian diantara kami berdua.
“Lalu, apa yang ingin aku lakukan untukmu?”
“Selamatkan tubuhku di Dungeon pusat kota, tolong.” Jawabnya, air yang terlihat dibola matanya tidak bisa ditahan. Sedikit demi sedikit keluar memecah keheningan malam.
“Kamu ingat dengan Skill ‘Pemisahan’ milikku? Aku menggunakannya agar bisa memisahkan jiwa dengan tubuhku untuk bersembunyi dari kejaran sekte keadilan. Dengan meletakkan tubuhku dalam labirin tersembunyi tepat di level tengah Dungeon pusat, aku pikir itu adalah tempat terbaik. Tapi aku salah, labirin itu terhubung dengan markas sekte itu. ” sambungnya.
Selama ini aku paham apa yang terjadi serta mengapa ‘Aoi’ yang ada di dunia itu menerima kontrak Mashiro. Mungkin karena dijanjikan kekuatannya atau hal yang berhubungan dengan itu.
“Baiklah akan kucoba.” Terimaku.
Mashiro terlihat sangat senang, dengan senyumnya dia merasa sedikit keputusasaan yang menyelimuti dirinya perlahan mulai luntur.
“Sebelum itu, bagaimana aku kembali ke dunia itu. Bukannya aku sudah mati karena terkena racun monk apalah itu.” Tanyaku sambil meregangkan tubuhku.
“Tidak! Bisa, aku yakin. Coba kamu berbaring di kasur.” Perintahnya, menunjuk ke arah kasurku.
Aku menyetujuinya dan berbaring di atas kasur, Mashiro mengikutiku kemudian berdiri disamping kasur.
Mashiro memegang kedua tangannya diatas dadanya, dengan tubuh sedikit merunduk dia mengucapkan sesuatu di mulutnya. Aku bisa mengetahui itu karena bibirnya yang tidak berhenti bergerak.
Sesuatu garis cahaya berbentuk segi delapan berwarna biru dan merah muncul tepat di atasku, perlahan setiap sudut mengeluarkan cahaya baru dan terhubung dengan sudut lainnya. Tidak di butuhkan waktu lama garis tersebut terhubung dengan semua sudut, bentuknya indah terlihat seperti pola matrix yang sangat kompleks.
“Terimalah harapan bodoh ini, Diamond Soul!” Teriak Mashiro, seketika garis cahaya yang berkumpul membentuk matrix jatuh menembus diriku.
“Argh!”
Aku tidak bisa melihat apa apa di sekitarku, gelap nan dingin. Ini sama seperti saat perjalanan menuju hutan elf.
“Hei, Aoi kau bisa mendengarku?” terdengar suara yang samar samar.
“Suara? Taka? Di – dia memanggilku.” Aku membuka mataku, sedikit buram. Di lanjut dengan menggerakkan beberapa jari jari ku.
“A- aoi!” Suara itu semakin jelas terdengar.
Jelas, suara itu jelas terdengar di telingaku. Penglihatanku juga mulai kembali normal, sadar jika terbaring lemas di kasur, aku langsung mengalihkan pandangan ku kepada Taka.
“Syukurlah, kamu masih sadar.” Ucapnya lega disertai dengan tubuh yang terbanting ke dinding.
Awalnya aku pikir separuh diriku menghilang seperti siang yang berubah menjadi malam. Nyatanya bukan, dua sisi tersebut cuma pergantian posisi matahari dan bulan. Ini hanya persamaan dan perubahan dunia, aku masih bisa.
Aku mengerahkan tenagaku untuk bangun, Indikator yang kulihat di pandanganku semuanya hampir berwarna merah. Benar benar mengerikan. Aku mencoba menggerakkan tanganku, untungnya masih bisa.
“Tu – tunggu tolong istirahatkan tubuhmu…..” Ucap gadis dengan daun telinga panjang.
Rambut hijau keemasan sepanjang lehernya dengan mata berwarna biru muda cerah, tidak salah lagi dia adalah seorang elf. Gadis itu berdiri di depan pintu dan terkejut melihat kami berdua.
Setelah mendengar itu, tiba tiba Taka memegang kedua tanganku. Menurunkan tubuhnya dan merunduk di depanku.
“Maaf kan dia, kumohon. Mikadzuki, gadis itu yang telah memanah mu. Memang ini mungkin tidak sepadan, tapi sungguh aku minta maaf dari lubuk hatiku.” Pintanya menempelkan tanganku diwajahnya.
Aku tidak pernah melihat Taka seperti ini, dia melakukannya karena ada alasan kuat dibaliknya. Hubungan dengan gadis elf itu pasti menjadi sebab dia meminta maaf sampai seperti ini.
Bersambung…….