The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 53 - Melawan Sekte Keadilan ‘Roh Api dan Kamigatsuchi’



Sisi Aoi Syafiqi


“Mafal!”


Serentak, Yogairu dan aku langsung mengangkat tubuh Mafal yang terpuruk hampir hangus dalam lubang kotak. Sosoknya saja sudah penuh luka bakar serta baju koyak, sepertinya hal sangat buruk menimbanya.


“Kamu bawa Mafal bentar,” pinta Yogairu kemudian berlari masuk ke kobaran api.


“Ta-tapi!”


“Tolong ya, Aoi!”


Percuma saja, sekalinya dia memiliki keinginan, ia akan selalu yakin. Bahkan nyawa saja bukan menjadi masalah besar bagi dirinya. Tidak ada yang bisa menghentikan, selain ego pemikirannya.


“Sial, lalu, apa yang harus aku lakukan dengan Mafal yang sekarat ini?”


Kesalahan besar bagiku dan Yogairu karena meninggalkan Mafal denganku, aku yang tidak memiliki Skill penyembuhan seperti milik Asteria atau Azuzi harus mengemban tanggung jawab ini, yang benar saja? Bahkan aku tidak memiliki pengalaman P3K sedikit pun.


Mau tidak mau, aku harus melakukannya, ini menyangkut nyawa seseorang. Jadi langkah pertama yang kulakukan adalah menjaga jarak aman dari kobaran api ini, setidaknya mencari tempat aman untuk Mafal berbaring.


Di sela tubuhku memikul Mafal, aku teringat sesuatu, “Mashiro, katanya dia akan pergi bertemu di sini, apakah dia tersesat atau gimana?” gerutuku kesal.


“Aku di sini kok, aku hanya melihat-lihat sekitar dahulu sebelum menolongmu,” tepat setelah aku kesal, suara gadis berparaskan biru laut tersebut kembali muncul dalam benakku. Dan pastinya itu bukan efek dari Skill Kontrak yang lalu.


“Melihat-lihat dahulu, alasan macam apa itu?” balasku datar dan terus melanjutkan langkah, “Tidak heran, itu memang hobimu.”


“Hobi?” sahut suara Nathan-sensei, sepertinya dia juga ikut dengan Mashiro.


“Iyalah, kalau tidak aku lihat-lihat dahulu, memangnya kamu tahu penyebab ledakan ini?”


“Baik-baik, lalu apa memangnya?” tanyaku langsung berniat untuk membuktikan ucapan Mashiro.


Mashiro mengambil nafas besar kemudian mengeluarkannya perlahan, dilanjut dengan mencolek debu di dinding, seraya berkata, “Ledakan tadi bukanlah kekuatan Zylx atau anak buahnya.”


“Iya, aku tahu itu, Kamigatsuchi milik keluarga Kineku bukan?” sahutku berlandaskan penjelasan singkat dari Yogairu tadi.


“Benar, singkatnya, ledakan ini bukanlah kekuatan langsung, namun bekas ini,” lanjut Mashiro akan penjelasannya sembari menunjukkan kepada kami berdua bekas debu yang ada di jarinya.


“Debu?” tela’ahku langsung bermodalkan visual.


“Bukan, mungkin bentuknya seperti debu biasa yang sedikit gelap, tapi dari segi bau, ini sudah berbeda jauh kandungannya dari sekedar kotoran biasa,” cetus Nathan-sensei sesudahku.


“Benar, dari masalah bau dan kandungan sudah jelas-jelas adalah zat yang mudah terbakar.”


“Maksudnya bubuk mesiu?”


Mulutku tanpa sengaja mengucapkannya, mengacu dengan penjelasan mereka dengan debu mudah terbakar atau semacamnya, membuat pikiranku teringat tentang bubuk mesiu yang biasanya digunakan pada senjata api di dunia millenial.


“Ah iya, seperti bahan peledak itu,” ujar Nathan-sensei.


‘Huh?! Di dunia ini sudah ada bubuk mesiu? Yang benar saja?!’ batinku terkejut habis-habisan, kemungkinan yang sungguh tidak masuk akal. Pasalnya, di dunia sihir nan kuno seperti ini, bisa-bisanya terdapat bahan tersebut.


“Kesimpulannya, kebangkitan Kamigatsuchi atau dewa api di tubuh Kineku membuat reaksi langsung pada bubuk bubuk yang sudah disebar hampir memenuhi ruangan bagian barat ini,” timpal Mashiro kembali melajutkan penjelasannya.


“Apakah ini memang rencana Zylx dan anak buahnya itu?” tanyaku.


“Ada kemungkinan iya, tapi aku memilih tidak mungkin, karena mustahil bagi setiap makhluk dapat melihat Skill anugrah dewa,” jawab Mashiro.


“Aku juga beranggapan ini bukan rencana mereka, akan tetapi kesengajaan Ayumi,” diikuti Nathan-sensei mengutarakan pendapatnya.


“Jadi, maksud kalian berdua, memang Kakaknya Yogairu memang sengaja melakukan ini?”


“Jika dilihat dari tubuh Mafal yang berada di dalam area terendah di ruangan ini, aku percaya memang Ayumi melakukannya. Gadis itu juga masih memiliki kesadaran penuh dalam keadaan Kamigatsuchi,” jelas Nathan-sensei.


Mashiro menatap sebentar Mafal yang belum tersadarkan diri, kemudian kembali menghela nafas dan berkata, “Benar, mustahil juga anak ras serigala itu masih utuh jika tidak ada persiapan terlebih dahulu.”


‘Ah, masuk akal juga,’ batinku.


“Lalu sekarang bagaimana? Kalau Zylx tidak ada di sini, apakah ini jebakan?” tanyaku pada mereka.


“Zylx bukan masalah besar asalkan kita bisa bekerja sama satu sama lain,” jawab Mashiro.


Kemudian Nathan-sensei melanjutkan ucapan Mashiro "Iya, yang terpenting kita harus bersama terlebih dahulu.”


“Aku hanya bertemu dengan Yogairu, dan dia sekarang masuk dalam sana untuk menjemput kakaknya, bagaimana?”


“Tentu saja, kita langsung menolongnya,” usul Mashiro, kemudian menarik lenganku seraya berseru, “Ayo, Aoi, dan Natnat, titip dia ya!”


Sisi Yogairu Kineku


Dalam mata tertutup dan mematri langkah keras nan kencang menerjang kobaran api, aku menstabilkan terus nafasku agar tidak menghisap asap, dan fokus dalam Skill Aura untuk mencari keberadaan Kak Ayumi.


‘Di sana!’


Aku menyadari gelombang ledakan susulan kedua kalinya, dan itu sama persis rasanya dengan aroma api ini, membuatku yakin bahwa hal tersebut tempat Kak Ayumi berada.


Singkat cerita, aku berhasil naik dari lorong. Entah ini di mana, namun pastinya masih dalam ruang bawah tanah. Keberadaan Kak Ayumi juga terasa besar di sekitar sini, Tanpa jeda waktu untuk beristirahat maupun memberi luang masa jantungku, aku mulai menapaki kembali lantai ini.


“Kak Ayumi!”


“Di mana kamu!”


“Jawablah!”


Setiap teriakan tersebut kulantangkan terus di setiap persimpangan, mencoba keberuntunganku saja, apakah Kak Ayumi dapat mendengarnya. Sayangnya tidak ada apa apa dalam kubangan api ini, sungguh hal yang percuma.


Akan tetapi, aku mulai menyadari suatu hal. Sejak aku berkeliling kesana kemari, tidak ada perubahan dalam keberadaan Kak Ayumi, di susut mana pun itu, hasilnya tetap saja sama.


“Roh api?”


Perkataan itu terselinap dalam pikiranku, dalam Kagutsuchi maupun jelmaan dewa api, mereka akan bisa merubah dirinya menjadi roh api. Aku pernah mendengar itu.


‘Tapi, mustahil Kak Ayumi melakukan ini tanpa tujuan.’


‘Lalu, apa memang tujuannya? Apa hanya untuk memperlambat laju gerak musuh atau menarik perhatian musuh, itu terlalu berlebihan.’


Setelah pikiranku mengatakan hal tersebut, daun telingaku merasakan pergerakan langkah kaki yang menghampiriku. Aku sedikit berjaga-jaga dan mempererat genggaman pada pedangku.


“Roh api ya,” celetuk suara gadis, membuat tubuhku sontak berbalik ke arah sumber suara itu.


Kecurigaanku terpatahkan oleh apa yang kulihat saat ini, tepat di hadapanku, Aoi dan sang pengguna Skill Dewa yang di bicarakan temanku itu bersamanya, dia memang benar-benar mengatakan hal sesungguhnya.


“Roh api? Apa itu?” tanya dengan polosnya Aoi yang ada di samping Mashiro.


‘Bahkan bocah itu tidak mengerti roh api, memangnya sudah berapa lama kamu hidup di sini?!’ gerutuku dalam hati. Murid west dranitte academy tidak mengerti soal hal seperti itu adalah kemunduran pesat.


“A-Aoi!” panggilku.


Keduanya menoleh ke arahku, syukurlah. Kemudian mereka langsung menghampiriku segera.


“Roh api, maksudmu Kamigatsuci milik Kak Ayumi memang memecah menjadi roh?”


“Iya, sepertinya begitu.”


“Tapi mengapa? Memangnya apa yang dilawannya sampai-sampai menjadi roh?”


“Menyandera,” jawab Mashiro singkat, membuat diriku kesal akan jawabannya.


Aku terdiam, berpikir apa yang di maksud dengan “Menyandera”, begitu pula dengan Aoi. Dia juga sedari tadi tidak mengucap sepatah katapun.


“Roh api dan menyandera? Apakah itu seperti kurungan sihir atau semacamnya?” sahut Aoi.


Mashiro menganggukkan kepalanya perlahan seraya


berkata, “Iya, Kamigatsuchi-nya memecah untuk menyandera lawannya.”


Ucapan itu langsung membuatku terkejut, apakah sekuat


itu lawannya sehingga Kak Ayumi menjadi roh api untuk menghentikan pergerakan


anak buah sekte keadilan tersebut.


“Berarti memang benar ya, Kak Ayumi memecah dirinya menjadi roh api,” pungkasku.


“Apakah itu buruk, ah tidak, maksudku, apa ada yang tidak bisa kita lakukan untuk mengembalikannya?” seloroh Aoi dengan intonasi terpecah.


“Bukan begitu, masih ada yang bisa kita lakukan.”


“Yaitu membunuh sandera itu.” lanjut Mashiro, tepat setelahku.


Bersambung….