
*Wush!
Suara tebasan pedang memecah kesyahduan pantai, sinar matahari terik beserta gelombang laut seakan ingin melahap keberadaan dataran. Wilayah dimana semua orang dapat melepaskan penat dan menikmati waktu luang mereka, kini menjadi tempat pelatihan keras.
“Tidak Aoi, pusatkan lagi kekuatan lengan dan tumpuan pada pedangmu.”
Cakap seorang pria lebih tua dari kami berlima, dia adalah penanggung jawab pelatihan ini. Nathan – sensei.
“Sensei! Mana mungkin mengumpulkan bara api pada logam keras seperti ini.”
Sahut teman sebayaku, berada di bibir pantai untuk meningkatkan penggunaan *Skill “Bara Api” pada tiap benda. Penyihir naga dari timur*, Yogairu Kineku.
“Bagus Taka, sekarang kamu pindah ke dalam air. Hien membutuhkan pijakan serta pinggul yang kuat sebagai penahan sekaligus kekuatan, gelombang air dapat membantumu.” Sambil menunjukkan kearah tengah pantai kepada Taka.
“Baiklah.”
*2 Jam kemudian.
Dikira sudah cukup pelatihan di pagi harinya, Nathan – sensei menepukkan tangannya sebagai penanda jika waktu istirahat.
“Kita Istirahat dulu, 1 jam. Lalu Aoi dan Yogairu selepasnya pindah posisi.”
[[Baik!]]
“Gila, capek sekali. Mengayunkan pedang terus menerus membuat tanganku kram.” Cakapku sambil bersandar pada pohon kelapa.
“Yogairu, bagaimana perkembanganmu?” Tanya Taka.
“Tidak paham, aku lebih baik mengutuk orang daripada mengutuk benda keras seperti ini, mana mungkin bisa terbakar.”
Geru Yogairu menunjukkan belati kecil bekas latihannya, mungkin tidak dapat disebut “Belati” jika permukaannya sudah rapuh.
“Oh ya, Asteria dan Azuzi kemana?”
Pertanyaan itu tanpa sadar keluar dari mulutku, reflek semata saat melihat sekeliling tidak ada dua gadis imut.
“Mereka berdua tidak latihan fisik seperti kita, namun peningkatan kapasitas Ergon” Jawab Taka.
“Iya, Azuzi dibutuhkan karena beruang raksasanya yang bisa menjadi Tank untuk kita, sekaligus healer bersamaan dengan Asteria. Namun umur mereka nan terbilang muda itu, membuat kapasitas Ergon dalam tubuhnya sedikit.”
Jelas Yogairu, selaku penyihir dia paham betul bagaimana penggunaan Ergon, kehabisan barang itu merupakan mimpi buruk bagi setiap pengguna sihir.
”Jadi begitu ya, aku paham, kapan kapan aku akan mencoba porsi latihan mereka.”
Mendengar sepatah kalimat pemahamanku, entah mengapa mereka berdua bersamaan menatapku kesal seraya berkata. “Tidak, Ergon milikmu sudah diluar akal.”
“Eh, tidak boleh ya?”
Mereka kompak menganggukkan kepalanya, seolah menjadi bagian dari tentara yang diwajibkan serasi disetiap gerakannya.
“Yang terpenting kita harus fokus dengan latihan masing - masing dan nikmati waktu un-.” Belum habis kalimat, Taka terbaring dan tertidur pulas.
“Benar apa katanya.”
Kami memanfaatkan istirahat sejenak itu untuk tidur, mungkin terbilang percuma tapi nyatanya sempurna. Hal ini sudah kita lakukan sesaat di dungeon sebelumnya.
“Yosh – Yosh bangunlah kalian!” Nathan – sensei membangunkan kita bertiga. “Lah, Yogairu ikutan juga.”
“Woi! Bangun para murid tolol!” (Don’t try at school)
Detik dilumat oleh menit begitu pula dengannya, kini suasana hati matahari sudah menjadi titik penghabisannya. Bukan sang surya saja, kami bertiga tentunya tidak mau kalah dengannya.
“Argh! Sudah cukup Sensei! Capek tahu!”
Teriak Yogairu kesal, mungkin dia hanya duduk diam dan fokus, namun semua itu juga dibutuhkan tenaga ekstra.
“Sebentar kita tunggu Asteria dan Azuzi, dan melakukan percobaan formasi kemarin malam.” Jawabnya.
‘Gila, seberapa banyak tenaga yang dimilikinya? Sejak siang, dia terus menggerakkan tubuhnya, terlebih lagi di dalam air seperti itu.’ Batinku melihat Taka terus menerus mengayunkan pedangnya.
Tak lama, sepasang gadis muda sudah datang. Salah satu dari mereka, Asteria menyapa kami. “Yahooo!”
“Yahoo! Gundulmu! Lama sekali!” Balas Yogairu, dia terlihat sangat lelah.
“Sudah berkumpul semuanya ya? Baiklah, Taka dan Aoi kemari!” Sambil mengeluarkan pedang besar dari black storage.
Lelaki aneh tersebut seketika berubah menjadi sosok yang berbeda, aku bersumpah dengan kata kataku ini. Pedang sebesar tubuhnya itu seakan menjadi bos di game.
“Rencana tadi malam ya?! Baiklah, kalian semua. Ayo!” Seru Taka mengepalkan tangannya keatas.
Entah bagaimana aku harus melakukannya, yang terpenting hanya harus berdiri ditengah – tengah bagian tim supporter dan attacker. Bisa dibilang, aku adalah keduanya.
“Kami mulai Sensei!”
“Asteria!” Aba – aba Taka mengisyaratkan mulainya formasi.
“Wahai salju terkasih, wahai kemerahan terkasih, wahai cahaya bintang terkasih biarkanlah mereka berada disisimu.”
Rapalan tersebut memanggil secerah cahaya di bawahku, Taka, dan Yogairu, perlahan membentuk sebuah pola sihir rantai bergerak memutar.
“Berhasil, penyaluran untuk tiga orang, Azuzi giliranmu!” Lanjut Taka.
“Hmm! Kumarokun! Datanglah!”
Sambil melambaikan tangannya bawah keatas, kemudian muncul boneka besar mirip seekor beruang raksasa dari dalam tanah.
‘Kumarokun… Untung saja tidak ada di duniaku. Jika saja, ada, tidak - tidak itu mimpi buruk’ Batinku memandangi beruang besar nan ganas.
“Sisanya tinggal kita!”
[[Ya!]]
Taka melesat maju, memang benar benar orang yang tidak takut mati. Sedangkan Yogairu, role assasin - nya dimanfaatkannya dengan sempurna. Menghilang dalam pandangan semua orang. Dan tugasku adalah-
“Hien milikmu terlalu lambat Taka!” Cakap Nathan sensei diikuti ayunan pedang besarnya menghalau pergerakan. “Yogairu, percuma menyiapkan kekuatan api dari sana.” Imbuhnya milirik kearah semak.
‘Hah!? Selagi dia mengayunkan pedang, dia masih bisa melihat kondisi sekitar?’
“Aoi, kita sudah satu lawan satu disini. Ruangan hampa putih ini, hanya kita berdua!” Teriaknya sesaat aku berhasil mengaktifkan skillku padanya.
‘Tidak mungkin.’
Tanpa basa basi, aku mengayunkan pedangku sekuat kuatnya. Memberikan sebuah serangan tanpa adanya persiapan sedikitpun.
‘Dapat!’
Entah karena buah kerja keras dari latihanku sebelumnya, atau adrenaline yang terpaksa keluar. Tebasan keras menciptakan gelombang suara, dan lagi lagi bersatu ketika ku melihatnya. Namun kali ini bukan membesar, memusat dan mengecil adalah hasilnya.
*Slash!
Serangan tersebut terkena telak pada tubuh Nathan – sensei. Jelas dampaknya pada bajunya yang sobek tepat ditengah, tapi langkah kedepannya serta sorot mata mengerikan tidak tertahankan sama sekali. Saking paniknya aku sampai melepas skillku dengannya.
“Sudah cukup untuk hari ini.” Tukasnya menghentikan pertandingan ini, mereka berlima lega setengah mati dan terduduk lemas ditempatnya. “Jangan bangga dulu, banyak kekurangan dari kalian.”
Nathan – sensei menarik nafas besar, selayaknya pembimbing dia menjelaskan satu persatu dari kesalahan kami. “Pertama, Taka. Seranganmu terlalu gampang dibaca, mungkin cepat tapi biasa. Lalu, Yogairu. Kenapa kamu menyiapkan pedang api disana bodoh! Bukannya kalian bertiga sudah terhubung oleh Skill milik Asteria?!”
“Asteria dan Azuzi, tingkatkan lagi. Kumarokun bisa lebih besar daripada sebelumnya, Asteria juga, efek dari Skill penyaluran terlalu lemah.”
‘Oh, ya skill milik Asteria itu apa saja ya? Lalu Mashiro dari kemarin tidak muncul muncul, setidaknya bantu aku dalam kamp latihan ini.’
“Kemudian Aoi.” Tegas Nathan – sensei, bola matanya telak mengalahkan pikiranku. “Terlalu lama, terlalu panik, terlalu lemah. Skill hebat seperti itu harus kamu manfaatkan dengan baik.” Imbuhnya memberikan saran seakan ancaman kepadaku.
“Jangan terlalu dibawa hati, Aoi. Seranganmu tadi benar benar luar biasa, mungkin aku saja tidak bisa menahannya.” Celetuk Taka dari belakang dan merangkulku.
Diikuti Yogairu yang tidak mau kalah dari temannya mengikuti kelakuan Taka. “Benar tuh, bawa santai saja!”
“Iya, aku tahu itu.”
“Berisik bodoh, lagian tadi kamu mengapa menumpuk skill bara api disana?” Tanya Taka.
“Sama aja, aku memanfaatkan Skill “Escalation” dengan Skill - ku, apakah efektif. Itu lebih baik daripada orang idiot yang langsung maju tanpa rencana sama sekali.” Balas Yogairu.
Langit memerah tepat diseberang, menghiasi kebersamaan kami. Walaupun bukan dunia asalku, bersama teman teman sebaya sudah cukup bagiku. Aku juga rindu suasana di dunia sana.
Sisi Nathan – sensei.
“Perkembangan mereka sangat cepat, ini belum seminggu. Satu hari sudah berlalu, kekuatan bertarung mereka setara dengan pasukan kerajaan.” Gumamku sembari mematri langkah perlahan dibibir pantai, menikmati keindahan alam senja mempesona.
“Mungkin perkataanku pada mereka tadi sedikit berlebihan. Taka, selama ada kamu, tim beranggotakan 5 orang itu pasti akan berjaya. Yogairu juga, kamu sudah mulai memanfaatkan Skill Asteria, menggabungkan bara api dalam penumpukan ya.”
“Dua gadis muda itu juga tidak kalah hebatnya, menggunakan Skill berkapasitas tinggi di umurnya sekarang. Dan Aoi Syafiqi, jika saja seranganmu tadi sempurna, tidak menutup kemungkinan untuk aku terluka parah. Sungguh konsentrasi dan kegigihan yang cemerlang.”
Setiap langkahku diguyuri oleh ombak pantai, setiap kali menyentuh kakiku. Aku selalu memikirkan mereka berlima. Mungkin setiap kisah mereka akan menjadi sejarah tersendiri, sebuah masa depan cemerlang bagi dunia ini.
Sisi Aoi Syafiqi
***1 Minggu kemudian**
Kamp pelatihan sudah seminggu berlalu, saat ini kami sedang perjalanan menuju gunung. Entah apa yang dipikirkan oleh pembimbing aneh dan menyeramkan itu. Mungkin lebih baik jika aku bisa melihat pemandangan alam, tapi sayangnya keadaan tidak mendukungnya sekalipun.
“Kita sudah sampai, pegunungan yang jauh tenang dan sejuk.” Sambut Nathan – sensei menghentikan laju kudanya.
“Gunung ya,” Gumam Yogairu.
“Bu – bukannya disini ada beruang.” Lirih Azuzi tiba tiba berada disampingku.
“Tidak apa Azuzi, asalkan terus bersama, kita akan baik baik saja.” Tuturku sedikit menghiburnya.
Perbedaan yang terlalu menyimpang dari hari sebelumnya, permukaan laut dengan titik tertinggi daratan. Banyak sekali perubahan iklim didalamnya.
“Kita disini untuk melatih ketahanan, gunung adalah tempat yang cocok untuk semua itu. Semakin tinggi, udara semakin tipis. Bagaimanakah kalian bisa bertahan disituasi ini.” Jelas Nathan – sensei memimpin perjalanan kami, mencari tempat sempurna untuk mendirikan tenda.
“Ini sangat sulit lima kali lipat daripada dataran biasa.” Imbuh Taka.
“Benar, terlebih lagi kamu Aoi.” Pungkasnya sembari melirikku dengan tatapan penuh keyakinan.
“…”
*1 Minggu kemudian
-Wush!!
“Argh! Sudah – sudah cukup, hentikan.” Jerit Nathan – sensei mengulurkan telapak tangannya, sedangkan tubuhnya terkapar di tanah.
“Aoi, seranganmu itu.” Sahut Taka.
“Sudah sempurna ya?” Diikuti Yogairu.
“Hebat, seperti sihir anginnya Mikadzuki – san.” Asteria juga.
Dengan nafas terengah – engah, aku berusaha menjawab perkataan mereka. Latih tanding ini sungguh melelahkan. Bukan, karena kehabisa Ergon, tapi kondisi lingkungannya. Memberikan satu ayunan besar saja sudah butuh persiapan nafas besar beserta kekuatannya.
“I – iya, Terima kasih.”
“Kalian berlima, kamp pelatihan sudah selesai. 1 minggu sisanya adalah waktu istirahat, gunakan waktu itu sebaik – baiknya.” Pesan Nathan – Sensei berdiri tegap.
[[Ya!]]
“Kalau begini, aku yakin kalian pasti bisa memenangkan Party Star tahun ini.”
“Pastinya! Kita akan menjadi party nomor satu di dunia!” Seru Yogairu.
Keadaan sepulang kerja keras merupakan salah satu kenikmatan tersendiri. Semuanya terbaring lemas di gerbong kayu ini, mereka sudah berusaha dengan baik. Hanya aku saja yang masih terjaga bersama Nathan – Sensei.
“Oh ya Sensei, Apakah Sensei tahu soal sekte keadilan?” Tanyaku penasaran di sela perjalanan damai nan tenang.
“Tahulah, seluruh kota pasti mengenal sebutan itu.” Jawabnya serempak tepat setelah ucapanku.
‘Bagaimana keadaan Mashiro saat ini, aku belum bertemu dengannya sama sekali semenjak memulai kamp pelatihan 2 minggu lalu.’
Bersambung…