
*Sebelum kemunculan Kagutsuchi milik Ayumi Kineku
Sisi Aoi Syafiqi
Aku tahu ini adalah penghujung dari janjiku dengan Mashiro. Entah apa yang akan terjadi jika aku berhasil maupun gagal, namun pastinya semua hasil kerja keras akan ternampakkan di sini. Sepatutnya pepatah, “Apa yang kamu tanam, itu yang kamu panen”. Semoga saja sesuatu keberuntungan tidak sengaja menamparku kembali, namun sepertinya mustahil.
“Apa mereka semua akan baik-baik saja ya?”
Gumamku sembari mematri langkah cepat di lorong, bukan hanya Nathan-sensei atau Mashiro yang mengurus sebagian besar musuh, tapi aku juga merasa bersalah telah meninggalkan mereka di kurungan sihir tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sampai di suatu persimpangan besar, jika dariku berarti ada 6 jalur, dan di salah satu dindingnya terdapat suatu peta besar. Jadi aku memutuskan untuk menengoknya sekaligus mencari tahu keberadaanku.
“Tapi yah, aku juga tidak tahu setiap lorong ini ujungnya kemana? Dan juga kita masuk dari tengah-tengah, bukan jalur utama,” ujarku bingung sembari memandangi setiap sudut peta.
Ini sangat berbeda dari duniaku, kalau pergi ke tempat wisata pasti dalam petanya ada fasilitas atau setiap alat bermain. Akan tetapi, petunjuk jalan di dunia ini hanya bermodalkan jalan saja. Malah tempatku memijak kaki saja tidak tergambarkan di sana, sungguh menyebalkan.
“Huft, setidaknya kasih tanda letak peta ini di pasanglah, malas sekali untuk menggambar.”
Belum lama aku termenung di sana, terdengar suara canda tawa kecil di sekitarku. Ruang penuh lorong gelap tatkala saluran pipa tanpa akhir membuat pantulan redu suara menjadi gelombang kenangan yang membuatku teringat masa kecil.
‘Suara? Siapa?’
Karena kewaspadaan, aku mencoba tetap tenang dan perlahan mencari dimana suara itu berasal. Pasalnya, kemungkinan munculnya tawa seperti itu adalah kebahagian, dan kebahagian di dapat dari posisi orang yang menang. Seperti itulah pemikiranku.
Namun olah pikirku dipatahkan langsung oleh fakta yang muncul dalam sorot mataku.
“Aman-aman kok, adikmu itu sudah cukup sering ke hutan.”
“Malahan, terakhir kali Taka kemari, dia mengalahkan Dungeon Bonus,” imbuh seorang gadis bercerita ringan di sebelah lelaki yang persis tanpa ada perbedaan padu dengan Taka.
‘Taka?’
“Begitu ya, ternyata anak itu sudah berkembang pesat, mungkin dia bisa mengalahkanku,” balas lelaki di sampingnya.
‘Mereka bercerita tentang Taka? Tapi, bukannya itu Taka?’ batinku sambil tetap menjaga minim keberadaanku di antara mereka.
Tidak, sebenarnya ada sedikit perbedaan jika seseorang cukup mengenal Taka dengan dekat. Lelaki itu memiliki suara yang lebih berat daripada Taka, terlebih lagi ujung rambut birunya kontras menjadi warna ungu cerah. Meskipun menciptakan siluet indah dalam parasnya, firasatku buruk jika mengatakannya secara langsung.
Dan gadis itu, jubah panjang berwarna hitam serta rambutnya yang selaras dengan pakaian memberikan kesan misterius. Itu juga tidak ada bedanya dengan seragam sekte keadilan. Rasa penasaranku bergejolak panas untuk mengetahui siapa sosok mereka sesungguhnya, dan mengapa mereka begitu santainya dalam medan perang ini?
“Lalu apa yang dia dapatkan setelah peleburan?”
“Kalau tidak salah Skill Active, Hien,” jawab gadis tersebut.
“Wah, itu sepertinya cocok dengan aliran pengguna pedang ganda seperti Taka.”
“Dan itu, Leora.”
‘Tunggu, Leora?! Kakaknya Taka?’
Sontak aku terkejut mendengar gadis sekte keadilan itu memanggil sosok Taka dengan nama kakaknya, Leora Hoshizora. Seorang Elf, yang dalam pengakuan Taka, ia telah membunuhnya sendiri.
“Hmm?”
“Apakah kamu baik-baik saja dengan tubuh berkapasitas Ergon milik adikmu itu?”
“Ah benar juga, tubuh Taka cuma memiliki 37 Ergon didalamnya, sepertinya akan susah untuk menggunakan sihirku,” jawabnya lugas dan sedikit melamun.
‘Apa ini? Mirip seperti asal-usul diriku ke dunia ini?’batinku kembali, perkataan mereka berdua benar-benar mengingatkanku tentang malam dimana Mashiro menceritakan semuanya. Semua yang membuat kejadian ini terjadi.
“Bagaimana lagi, hanya dia yang memiliki Cursed Skill milikku, mau tidak mau juga ini sudah termasuk keberhasilan,” ucap lembut Leora.
“Benar juga, kalau begini kamu tidak bisa menggunakan sihirmu.”
“Tenang saja, aku masih bisa menggunakan Skill milik Taka bukan?”
‘Oi-oi, apa ini? Apakah benar kalau tubuh Taka sedang dikendalikan oleh kakaknya? Ini sungguh tidak baik-baik saja.’
Di lihat oleh perbincangan kecil mereka berdua saja sudah jelas jika itu bukan Taka, melainkan kakaknya sendiri yang merasuki tubuhnya. Kemudian mengacu dengan ucapan tentang sihir itu sungguh mengkhawatirkan diriku, aku yakin pasti jika mereka akan bekerja sama dengan sekte keadilan. Tidak dapat di elak lagi karena salah satu anggotanya saja berbincang santai dua mata.
Kemungkinan terburuk juga, salah satu dari kita pasti akan melawan Leora, dengan kata lain menghadapi tubuh Taka, dan itu adalah mimpi buruk.
“Tapi-.”
Leora memotong ucapan gadis sekte keadilan tersebut dengan menempelkan ujung jari telunjuk pada mulutnya, kemudian berkata, “Tidak apa-apa, kalau musuh Zylx saja, aku dengan mudah membunuhnya.”
‘Membunuh Zylx? Pimpinan sekte keadilan?’
Pikiranku yang mengarah pada tujuan aliansi mereka untuk menghabisi kami, kali ini terbalik sepenuhnya. Membunuh Zylx adalah tujuan Leora, lalu kenapa ada salah satu anggota sekte keadilan di sana? Pertanyaan itu memutar kencang di otakku.
‘Jika itu tujuan mereka, mengapa tidak bersama-sama? Dan lainnya kemana? Yogairu, Asteria, Azuzi?’
Pukulan keras telak menghantam pikiranku, sebuah kenyataan bodoh yang tidak kuingat sesaat melihat Taka. Rekan Party-ku lainnya, jika dia ada di sini, lalu di mana sisanya? Apakah gadis itu juga melepaskan semuanya?
“Tidak-tidak, kita tidak harus membunuhnya, kita butuh kekuatannya.”
*Blarr!!
Suara ledakan bercampur hempasan api besar menggelegar tepat setelah perkataan gadis itu. Suasana ini mengingatkan diriku saat satu lawan satu melawan Zylx, tidak dapat dipungkiri lagi jika ini adalah serangan untuk sekian kalinya.
“Sudah waktunya Leora, ayo!”
“Ya!”
‘Kemana? Kemana perginya mereka?’ batinku heran ketika mereka berdua hilang dalam kedipan mata.
“Sial.”
“Sialan, kenapa juga aku sebelumnya bilang kepada Mashiro kalau aku tahu tempat kurungan mereka berada.”
Sisi Mashiro
Kubangan ungu ciptaan puluhan orang begitu menawan di hadapanku, mereka bersusah payah menciptakan mangkok sihir ini untuk sebuah maha karya sekaligus benteng. Namun itu percuma bagiku dan Natnat.
“Lalu, apa yang kita lakukan dengan orang-orang di sini?” sahut Natnat.
“Entahlah, sayang sekali jika di hancurkan,” balasku.
Kemudian Natnat memandangiku seperti orang idiot seraya berkata, “Jadi, Seishou mendukung musuh begitu?”
“Bukan begitu maksudku Natnat, apa sih yang kamu bayangkan tentangku.”
“Huft, jarang-jarang soalnya melihat gumpalan sihir sebanyak ini,” imbuhku.
Memang benar gagasanku terhadap sihir penghalang ini, penggunaannya yang membutuhkan persiapan serta latihan matang mengharuskan pengguna susah payah memanfaatkannya. Belum lagi jika dalam jangka waktu lama dan harus menguras deras Ergon.
‘Yah, karena ini sekte keadilan pasti mereka tidak butuh latihan. Zylx mungkin memberikan syarat skill penggunaan sihir itu secara percuma.’
“Ada apa, Seishou?” celetuk Natnat melihatku termenung.
“Mari kita bunuh semuanya deh.”
“Ya! Itulah yang aku tunggu-tunggu,” seru Natnat, “Kalau Seishou ingin melihat sihir penghalang ini lagi, aku bisa membuatkannya untukmu dari para murid-murid.”
“Sungguh?”
“Iya, dengan syarat,” ujar Natnat dengan wajah konyolnya, aku yakin dia akan memperalatku.
“Apa ya?” balasku disertai nada malas.
“Pinjami aku Skill Liquidation!”
“Kamu akan mengkombinasikannya dengan Solar Energy ya Natnat?”
“Tentu saja!”
Dan akhirnya aku pun meminjaminya Skill Liquidation, Skill yang mengunci target musuh dalan jarak pandangnya dan dapat digunakan lebih dari ratusan target tanpa pengurangan Ergon. Tentunya Skill tersebut sangat fleksibel untuk dikombinasikan dengan Skill lainnya seperti milik Natnat.
“Yosh setidaknya 67 target sudah terkunci, waktunya ledakan kecil muncul.”
“Ya-ya…” balasku sembari menutupi kedua telinga.
Natnat terhenyak sejenak, sudah pasti, karena menggunakan Skill langsung kepada 67 orang sekaligus yang menyebabkan lonjakan besar pada penggunaan Ergon. Aku sedikit khawatir akan keadaannya, namun jika dia Mind Down itu salahnya sendiri.
“Batu kecil akan membunuh jika dilontarkan secara cepat.”
“Begitu pula dengan kekuatan alami.”
“Hiduplah sumber kehidupan yang melindungi lapisan planet.”
Natnat bangun, pertanda jika dia sudah selesai nan siap untuk pelafalan rapalan Skillnya. Sosoknya sungguh mengerikan, bersamaan mata merah terang serta keringat yang keluar deras menampakkan seberap besar kekuatannya.
“Matilah kalian brengsek, Solar Beam,” pungkas Natnat lirih sembari menjentikkan jarinya, suaranya yang sedu membuat ketukan jari tersebut terdengar menggelegar di telinga.
Hasilnya sudah pasti, penghalang sihir tersebut langsung runtuh seketika bersamaan penyihirnya. Membuat angkasa kini menampakkan wujudnya tanpa gangguan kilauan ungu sebagai penghalangnya, sekaligus pertanda jika perlawanan besar sudah di mulai.
“Uwaah, hebat sekali kamu Natnat!” pujiku memberikan dua jempol.
“Itu pujian atau meremehkan, Seishou?” balasnya lemas.
Tapi, ini sepertinya sudah menghabiskan sebagian penyihir sekte keadilan. Tinggal bagaimana kita meratakan prajurit didalamnya.
“Tapi Seishou.”
“Hmm? Minta Ergon?”
“Bukan-bukan, aku masih bisa. Masalahnya, aku hanya memberikan setengah dari serangan tadi.”
“Jadi tidak seutuhnya, eh, mereka masih hidup?”
“Iya, Seishou tahu sendirikan kinerja setiap Skill Type Solar milikku.”
Aku paham, cara penggunaan Skill yang susah namun menguntungkan. Sebuah kekuatan penghancur nan dengan mudah di besar maupun di kecilkan. Jika kekuatan maksimal, memungkikan korban untuk mati. Namun jika Natnat hanya menggunakan sebagian, ada kemungkinan korban sadarkan diri.
“Setidaknya dalam jangka waktu cukup lama sih,” sambungnya terkekeh.
“Iya-iya.”
Setelahnya, aku langsung terjun menyerang, Natnat juga mengikuti dari belakang.
Usut punya usut, sesaat kami berdua hendak masuk di salah satu pintu, terdengar suara tepuk tangan berkali-kali. Tentunya, aku tidak asing dengan ciri khas suara itu.
“Dasar, sudah kuduga bakal begini,” ujar Zylx di belakang kami.
“Mau bagaimana lagi ya.”
Kali ini wajah Zylx sangat serius, meskipun ekspresinya yang tidak terlalu menggambarkan keseriusan dalam suatu hal. Akan tetapi, aura dari kekuatan sihirnya benar-benar bergejolak, seolah kekuatan itu sudah tidak kuasa lagi berada di tubuhnya.
“Yo, Zylx. Lama tidak berjumpa ya!”
Bersambung...