
Pagi cerah dengan penuh semangat, dipadamkan oleh masalah yang semakin mengeruh. Sepertinya cahaya matahari lupa akan tugasnya, suara burung terdengar bersahutan seakan mau mengingatkan hal itu kepada sang surya. Namun, kayu sudah menjadi arang. Semuanya tidak bisa dikembalikan seperti semula kecuali memulainya dari awal.
“Aoi, kamu beneran tidak apa? Tapi warna mata kirimu menjadi berwarna biru, apakah kamu yakin?”
Seorang pria mengenakan piyama tidurnya dan ekspresi yang tidak sepenuhnya siap untuk menerima ini menatapku dengan jeli. Dia adalah Hoshizora Taka di dunia ini, sama persis seperti yang ada dunia asalku. Bahkan suara dan nada bicaranya sama, mungkin aku hanya harus menganggapnya Taka dan memulai dengan kehidupan ini.
“Ah, keliatannya begitu. Aku merasa baik baik saja kok.” Balasku.
“Fufu, sepertinya Aoi – kun sudah mulai menerima kenyataan ini ya.”
Mashiro mengatakan itu dengan lirih di belakang Aoi, dia sedikit tersenyum seolah – olah puas dengan apa yang selama ini dilakukannya.
‘Aku lupa dia bisa mendengarkan suara hatiku dengan jelas, silahkan tertawa saja!’ Camkan kalimat itu dalam hati.
“Jika kau merasa begitu, mungkin itu adalah suatu efek samping ketika kamu sudah bisa mengaktifkan Skill.” Ucap Taka sambil merenggangkan tubuhnya.
“Eh, apa maksudmu? Memang benar sih, aku mengaktifkan Skill Default – ku. Tapi, hal seperti memang ada?” Tanyaku ragu, saat ini aku benar-benar kosong, selayaknya bayi yang baru lahir keduni.
Mashiro disampingku menganggukkan kepalanya.
“Benar apa yang dikatakan Taka, coba liat mataku. Warnanya biru bukan? Warna mata kirimu berubah karena kamu terikat sebuah kontrak denganku. Jadi itu semacam tanda atau bukti bahwa sudah mengaktifkan Skill berupa membuat kontrak.”
“Tentu sajalah! Kamu juga tahukan efek samping Skill yang kumiliki?” Tegas Taka.
“Ah, I – iya.”
Aku baru saja datang di dunia ini, serta belum mengetahui banyak hal tentang bagaimana dunia ini berjalan. Jadi mau, tidak mau aku hanya bisa mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berharap Mashiro selalu bisa mengarahkanku.
“Oh, jadi memang karena kejadian kemarin yah. Syukurlah.”
“…”
‘Hei, Mashiro. Apa maksudnya efek samping dari skill yang digunakan’
Pilihan terbaik hanyalah bertanya kepada Mashiro, meskipun aku tidsk sepenuhnya percaya pada dia. Namun karena Mashiro menganggapku sebagai kelinci percobaan yang sempurna, mana mungkin dia akan menyia - nyiakan kesempatan itu begitu saja.
“Di dunia ini, walau tidak semua Skill memiliki efek samping, tapi beberapa darinya ada. Sebagaimana milik Taka. Skill Passive: Penumpukan dapat menumpuk dan mengumpulkan sistem tubuhnya, contohnya ketika dia mengumpulkan Ergon selama 2 hari untuk digunakan selama 1 jam. Pengaruhnya memang sangat besar, menggunakan seluruh Ergon selama 2 hari di waktu yang bersamaan dapat meningkatkan seluruh Skill. Namun di harus membayar semua itu dengan merasakan 2 hari tanpa memiliki Ergon sama sekali."
Jelas Mashiro secara detail, aku hanya mengambil Kesimpulan seperti semakin besar efek yang dihasilkan Skill tersebut, semakin besar juga dampaknya, aku mulai sedikit paham dengan penggunaan Skill tersebut.
“Baiklah Aoi, kamu istirahat dulu, aku akan buatkan sarapan untuk kita.”
Ucap Taka pergi dari tempat tidurku dan keluar dari ruangan, setelah itu aku sadar jika ini sama seperti dunia asalku berarti tidak hanya dia disini.
Aku melihat sekeliling, dan melihat Yogairu yang tertidur, kemudian aku melihat selimut yang bergerak di tempat tidur milik Taka. Aku sempat berpikir itu adalah hewan pelindung seperti di game MMoRpg pada umumnya. Tapi sepertinya bukan, saat selimut tersebut sedikit terbuka. Aku terkejut melihat seorang gadis yang tertidur pulas, dan itu adalah Asteria.
Setelahnya, aku teringat sesuatu.
'Sebentar, jika Asteria tidur bersama Taka dan Yogairu tidur di sofa, yang artinya ini sama persis waktu menonton film horror di dunia asalku. Kalau begitu... '
Aku melanjutkan kalimatku dengan menelengkan kepalaku ke arah kiri dan terlihat gadis di sebelah. Aku sedikit terkejut, bisa bisanya aku tidak sadar akan hal itu sejak kemarin malam. Dia adalah Azuzi, teman Asteria waktu di dunia asalku.
Karena khawatir nantinya dia tidak nyaman, aku bergeser sedikit demi sedikit agar tidak membangunkannya. Akan tetapi itu semakin memperburuk situasi, dia sedikit membuka matanya.
'Ti – tidak ini bukan salahku, ini faktor waktu, sinar matahari juga mulai masuk kedalam ruangan.' Panikku dalam hati, tidak mungkin juga kuucapkan secara lantang.
Namun melihat ekspresinya yang sedang tertidur itu sangat imut ditambah lagi rambut nya yang terurai memberikan bonus tambahan. Aku ingin merasakan pemandangan ini setiap pagi, tapi sepertinya tidak mungkin.
Tidak lama kemudian Azuzi mulai sadar jika aku disampingnya, dia sedikit terkejut dan menyembunyikan dirinya dalam selimut.
“Pa – pagi, Aoi niisan.” Suaranya yang malu malu keluar dari balik selimut.
“Ah, iya. Pagi juga.” Balasku sedikit mengalihkan pandangan dari Azuzi.
Suasana menjadi canggung, aku tidak tahu harus bicara apalagi. Ini sangat memalukan. ‘bangun pagi bersama gadis yang lebih muda di tempat tidur yang sama.’ Bukannya itu alur yang ada di game bergenre RomCom.
“Maaf ya, aku mengkhawatirkan kakak kemarin. Aku pikir akan kehilangan kakak.”
Perkataan Azuzi memecah keheningan diantara kita berdua, dan dia juga membuka selimutnya.
“Ah, tidak apa kok, aku baik baik saja.”
Aku sempat berpikir, jadi ini ya, rasanya dikhawatirkan seseorang. Aku belum pernah mengalaminya di dunia asalku.
Azuzi sepertinya menyadari mata kiriku, kemudian dia mendekat ke arahku.
“Hei, apakah benar begitu? Warna mata kakak berbeda loh.”
Dia sangat dekat denganku, aku bisa melihat seluruh wajah imutnya dihadapanku.
“Ti – tidak, ini karena aku berhasil mengaktifkan Skill - ku.”
“Baiklah kalau Aoi – nissan bilang begitu. Selamat ya, ternyata kemarin malam langsung membuahkan hasil.”
“I – iya, Terimakasih.”
“Hari ini Aoi – niisan istirahat dulu, aku akan segera kembali.”
Azuzi mengatakan itu sambil keluar dari tempat tidur, aku sempat tidak percaya jika di umurnya sekarang dia bisa menjadi sosok seperti ibu yang peduli dengan sekitarnya.
“Fufu~ sepertinya Aoi – kun tertarik dengan gadis yang lebih muda darinya ya.” Cibir Mashiro, nada suara yang dimain - mainkan itu sungguh menggelikan.
Aku lupa, daritadi Mashiro ada disampingku.
“Berisik, apa sih maumu.”
“Aku kan disini sebagai pendampingmu loh, Aoi – kun. Kamu yakin bisa melakukannya sendiri?” Ucap Mashiro sambil sedikit memperlihatkan senyumannya.
“Baiklah, lalu bagaimana?”
Tanyaku kepada Mashiro, aku tidak tahu akan membahas apa. Tapi setidaknya kalimat pertanyaan tersebut jawabannya beragam.
“Gadis itu bernama Azuzi Namida, 14 Tahun. Dia memiliki Skill Passive: Sampul dan Skill Default: Kumarokun. Rolenya adalah “Pelajar” level 8. Hanya itu saja yang kulihat darinya.”
“Kalau diingat kembali ‘Kumarokun’ adalah boneka beruang yang dia miliki di dunia asliku, apa yang kamu ketahui tentang Skill itu?” Aku teringat waktu Yogairu melemparkan boneka Azuzi, walaupun aku tidak tahu alasan mengapa benda itu dipanggil Kumarokun.
Mashiro terdiam sejenak, ekspresi itu terlihat sama saat aku menanyakan tentang aku dan tubuh ini.
“Eh, Setahuku Skill itu berjenis Summon yang berarti dia memunculkan makhluk yang ia beri nama Kumarokun.”
Aku kira pertanyaan kali ini tidak dijawab olehnya, dengan ekspresi seperti itu dia mirip dengan internet yang dapat menjelajahi seluruh artikel dengan mudah.
“Jadi seperti itu, mungkin semacam pelindung.”
Tanpa disadari matahari sudah setengah perjalanan menuju puncaknya. Terlihat Taka masuk dan membawa nampan yang berisi sup dan sesuatu yang mirip roti, dia berjalan ke arah ku kemudian memberikan sup kepadaku.
“Mungkin ini bisa mempercepat penyembuhanmu, ini berisi beberapa tumbuhan langka yang tumbuh di lereng gunung.” Cakapnya sembari memberikan seporsi sarapan di tempat tidurku.
Sup itu memiliki kuah yang sedikit berwarna pucat dan beberapa sayuran didalamnya, ini terlihat mengerikan.
“Ba – baiklah, terima kasih.”
Saat aku memakan sendok pertama, ini terasa berbeda. Rasa dari sup ini manis dan masam, sedikit gurih dan lembut saat memasuki mulut, rasa ini seperti pertamakalinya aku memakan sayuran. Aku sedikit bersalah karena menilai sup buatan nya ini dari luarnya saja
Disaat yang sama Taka membangunkan Asteria dan Yoga, dia memang kakak yang baik hati, membangunkan adiknya dengan lembut. Namun, seperti Preman yang mengajar bawahannya ketika membangunkan Yoga. Sungguh kejam.
“Ayolah bodoh, sampai kapan kamu tidur terus dasar pemalas!” Taka membangunkan Yogairu sambil menendangnya dengan keras.
Aku pikir memang tidak ada bedanya mereka berdua di dunia ini, pasangan yang selalu ribut dan tidak pernah akur.
“Sakit bodoh! Ini hari minggu bukan? Kenapa kamu membangunkan ku sepagi ini?” Sangkal Yogairu pada Taka, sejujurnya aku tidak terlalu mempedulikan hal itu.
“Berisik kebanyakan alasan, lihat, Aoi yang terluka semalam sudah bangun lebih pagi dari pada kamu pemalas!”
Taka mengatakan itu dengan keras sambil menunjuk ke arahku, sementara itu Yogairu langsung bangun dan melihatku juga.
“Eh? Hahaha! Lihat lihat, mata Aoi berbeda warna. Aneh bukan!”
Yogairu yang melihatku langsung tertawa dengan keras, itu sedikit memalukan.
“Hei, Aoi. Apakah karena tersambar petir semalam fungsi matamu hilang satu? Haha!” Sambungnya, terus terkekeh sembari memandangiku.
“Ah, tidak.”
“Apa kau bodoh! Bukannya kasihan malah menertawakannya, Dasar.”
Taka mengatakan itu sambil memukul Yogairu.
“Maaf – maaf tapi itu sedikit lucu.”
“Tidak apa, aku juga baru sadar tadi pagi. Aku pikir ini efek samping dari Skill yang kuaktifkan.”
Setelah mendengarnya, Yogairu terlihat bersemangat, kemudian dia menghampiriku.
“Jadi, jika efek samping dari Skill mu sampai merubah warna matamu, bukannya Skill itu sangat kuat? Memangnya Skill apa yang berhasil kamu aktifkan?”
Selidik Yogairu padaku, tatapannya seketika berubah menjadi polisi yang sangat sergap untuk melakukan investigasi.
Tiba tiba Mashiro memegang pundakku
“Jangan beritahukan mereka soal Skill ‘kontrak’ milikmu, bilang saja ini adalah Skill ‘Escalation’.”
Mashiro mengatakan itu dengan serius, sepertinya dia memiliki alasan untuk menyembunyikan Skill ini.
“Ini semacam Skill peningkatan.”
“Oh! Menarik, aku penasaran dengan itu. Mau kah kamu memperlihatkannya?” Seru Yogairu, semangatnya sedikit tersulut.
Aku mengerutkan dahi, aku tidak sepenuhnya paham apa yang dia katakan.
“Memperlihatkannya? Bagaimana?”
“Mari kita latih tanding!” Ajaknya.
Saat dia mengatakan itu Taka menarik bahu Yogairu, seakan dia memperingati apa yang dikatakan sebelumnya.
“Bodoh! Aoi baru saja sembuh, dan kamu mengajaknya latih tanding?”
“Cih…”
“Ah, Baiklah aku terima tawarannya. Jadi kapan kita latih tanding?” Tanyaku, sekaligus menerima tawarannya.
Rasa penasaran menyelimuti seluruh bagian tubuhku, aku tidak peduli apa yang terjadi. Aku hanya ingin tahu ada di tingkat mana aku berada. Terlebih lagi dia adalah temanku sendiri, ini mungkin kesempatanku untuk menguji Skill yang kumiliki.
“Kamu serius Aoi? Tubuh mu belum di kondisi optimal loh.” Taka sedikit mengkhawatirkan ku.
“Tidak apa, tubuhku sangat baik, sampai sampai aku ingin berlari saat ini.”
“Tetap jaga semangatmu Aoi!” Ucap Yogairu dengan tatapan yang penuh keyakinan kepadaku.
Mashiro hanya terdiam dan tersenyum mendengar itu.
“Baiklah kalau itu mau kalian berdua, bagaimana kalau nanti sore di dekat air terjun?” Seloroh Taka.
[[Setuju!]]
Setelah selesai berbincang dengan mereka berdua, akhirnya Taka dan Yogairu pergi. Yogairu sepertinya sangat menantinya, dia bilang akan pergi ke sungai untuk mandi dan sedikit berlatih. Dan Taka pergi ke hutan untuk mencari beberapa obat obatan.
Aku memilih untuk berdiam sebentar di kamar dan sedikit berbincang dengan Mashiro. Dia benar benar tidak pergi sama sekali, bagaikan raja dan pembantunya. Tapi keadaannya terbalik, aku adalah budaknya.
“Hei, Mashiro. apakah ini adalah keputusan yang baik untuk latih tanding dengan Yogairu?”
Mashiro yang terdiam tiba tiba sedikit tekejut mendengar pertanyaanku.
“Tidak sepenuhnya salah. Kamu juga penasaran dengan Skill mu kan? Ini juga bagus untuk dirimu kedepannya, Latih tanding tidak akan memberikan luka yang fatal pada tubuh mu.”
Mendengar beberapa kata dari Mashiro aku sedikit tenang. Tapi aku juga ingin tahu Skill apa yang dimiliki Yoga.
“Apakah kamu tadi melihat Skill milik Yogairu? Aku ingin sedikit persiapan untuk nanti.”
“Aku melihatnya, Yogairu Kineku, 17 Tahun. Dia memiliki julukan ‘Penyihir Naga dari Timur' Dengan Skill Passive: Aura, Skill Active: Bara api dan memiliki Role ‘Assassin’ level 5 lalu ‘Curser’ level 3. Dia terlihat sangat kuat dan mengerikan, julukannya bukan hanya hiasan.”
Dia bahkan memiliki julukannya, itu cocok dengan semua Skill yang dia miliki. Tapi aku sedikit bingung, ternyata ada orang yang bisa menggunakan sihir dan berpedang.
“Bukannya Role ‘Assassin’ dan ‘Curser’ itu berlawanan? Orang yang bisa menyerang dengan jarak dekat serta jauh dengan mudah ya?”
“Dunia ini tidak semudah yang kamu bayangkan, kamu bisa menggabungkan sihir dalam senjatamu. Mungkin Yogairu adalah tipe seperti itu, meletakkan kutukan di pedangnya.”
Jadi begitu, ini sepertinya menarik. Aku akan berusaha di percobaan pertamaku. Baiklah mari kita berlatih!
Bersambung....
...****************...