
Mendengar penuturan Lyla, Jessica ingin percaya, tapi ia juga ragu jika belum membuktikan sendiri.
Lyla sempat menanyakan apakah Jessica ingin tinggal dengan dia untuk sementara waktu agar bisa sekalian pulang dan pergi ke sekolah bersama Simon? Setidaknya selama Frans masih di Bali. Tapi seperti biasa. Jessica menolak usulan itu. Dia ingin tinggal dengan Merry saja.
Selain itu, di rumah Merry sekarang sudah ada seorang pembantu yang waktu itu dibawakan oleh ibu Merry, sehingga segala pekerjaan rumah tangga tidak lagi di hendle oleh Merry. Merry hanya bertugas mengurus Jessica saja. Seperti membantu anaknya itu memakai seragam sekolah dan menyisiri serta menguncir rambut lurus Jessica.
“Nah, sekarang kamu sudah cantik,” ucap Merry setelah selesai mengepang dua rambut panjang Jessica.
Jessica menatap dirinya di cermin. Mommy nya ini memang selalu pintar menata rambutnya sehingga membuat dia tampak seperti putri. Itu kenapa Frans suka memanggil Jessica dengan sebutan Princess.
“Mommy. Apa kalau nanti adikku sudah lahir, Mommy akan tetap membantu mengepang rambutku?” tanya Jessica.
Merry yang mendapat pertanyaan itu agak bingung.
“Tentu. Kenapa memang?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya suka saja jika Mommy membantuku untuk menguncir atau mengepang rambut. Aku jadi terlihat cantik jika Mommy yang mendandani.”
Merry memeluk gadis kecilnya itu.
“Karena kamu memang gadis yang cantik, jadi mau didandani seperti apa pun kamu akan terlihat cantik, Honey.”
Jessica tersenyum kepada Merry. Dia yakin kalau mommy nya memang tidak akan berubah.
Ya, sejak Isabelle mengatakan kata-kata yang menyebalkan menurut Jessica itu, tidak sehari pun Jessica berhenti mengamati mommy nya. Perasaan takut kalau Merry berubah tidak lagi menyayanginya masih menguasai pikirannya.
Setelah Jessica selesai berdandan, Merry mengajak gadis kecilnya itu untuk sarapan.
“Mommy, apa aku boleh minta untuk disuapi pagi ini?” pinta Jessica.
Merry lagi-lagi dibuat bingung dengan perubahan Jessica. Dia tidak tahu tentang pertengkaran Jessica dengan Isabelle karena Jessica belum menceritakan hal ini kepadanya. Tapi Merry bisa menduga kalau memang Jessica jadi manja begini pastilah karena sebentar lagi dia akan punya adik. Katanya, saat seorang anak akan memiliki adik, mereka akan berubah menjadi manja. Dan begitulah Jessica sekarang. Maka, Merry dengan senang hati mengabulkan keinginan anaknya ini.
“Baiklah. Tapi untuk kali ini saja ya. Kamu tetap harus membiasakan diri untuk mandiri juga,” ucap Merry mengingatkan.
“Yes, Mom. Untuk kali ini saja,” jawab Jessica sambil mengangguk tegas.
Maka Merry pun menyuapi Jessica. Kebetulan menu sarapan mereka pagi ini adalah nasi goreng. Dan Jessica makan begitu lahapnya.
Ketika Jessica selesai menghabiskan nasi goreng di piringnya, kebetulan Lyla sudah datang. Terdengar dari bunyi klakson mobil yang dinaiki wanita itu.
“Ayo, mommy Lyla sudah datang. Sekarang kamu habiskan susumu dulu,” ucap Merry yang sudah berdiri dan mengambil tas Jessica.
Jessica pun meminum susunya lalu menghampiri mommy nya untuk dipakaikan tas. Setelah itu dia mencium pipi Merry lalu melambaikan tangan kepada mommy nya sebelum melangkah ke luar.
Setiap pagi Lyla dan Simon memang akan datang ke rumah Merry dulu untuk menjemput Jessica, dan pulangnya mereka juga akan mengantarkan Jessica langsung ke rumah itu. Kadang mereka meminta Jessica untuk main sebentar di rumah mereka sampai sore, sebelum Lyla mengantarkan Jessica pulang. Selagi tidak menginap, Jessica biasanya mau-mau saja untuk ke rumah Lyla.
Tapi siang ini agak berbeda. Setelah Lyla menjemput Simon dan Jessica di sekolah lalu mengantar Jessica ke rumah Merry, dia mampir dulu di sana. Seperti rencananya dua hari lalu, dia akan membahas tentang hak asuh Jessica. Maka begitu sampai di rumah Merry, Lyla dan Simon ikut turun dan masuk ke dalam.
“Lyla, tumben sekali kamu mampir ke sini. Ayo, duduk,” sambut Merry.
“Kalian duduklah dulu, aku akan membuatkan minum,” lanjut Merry yang beranjak ke dapur.
Merry ke dapur dan meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan minum bagi tamu mereka serta menyiapkan kudapan.
“Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan sehingga datang ke sini, Lyla?” tanya Merry.
Lyla menganggukkan kepala.
“Apa itu?”
“Ini tentang Jessica.”
“Tentang Jessica?” tanya Merry sambil membelalakkan matanya. “Kenapa dengan Jessica? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya yang tidak aku tahu?”
Lyla buru-buru menggeleng.
“Tidak, bukan seperti itu,” ucapnya.
“Lalu apa?”
Asisten rumah tangga Merry datang membawakan minum dan kudapan, lalu kembali lagi ke dapur untuk melakukan tugas lainnya. Setelah itu baru Lyla melanjutkan ucapannya.
“Ini tentang Jessica,” ucap Lyla yang membuat kening Merry berkerut.
“Hak asuh Jessica? Apa maksudmu?”
“Waktu itu Jessica dan Simon mengatakan kalau seorang teman Jessica bilang kepada Jessica bahwa jika Jessica memiliki seorang adik, maka Jessica tidak akan disayang lagi. Saat itu Jessica terlihat sedih dan khawatir, meski dia tidak mempercayai ucapan itu.”
“Lalu?”
“Saat Jessica mengatakan itu kepadaku. Aku jadi berpikir apakah nanti hal itu akan terjadi?”
Melihat ekspresi tidak suka dari Merry, Lyla buru-buru melanjutkan ucapannya.
“Bukan maksudku tidak mempercayaimu dalam merawat Jessica, aku hanya berpikir … kamu dan Frans akan punya anak sendiri, anak yang memang benar-benar anak kalian, dan Jessica … kamu mengerti maksudku. Jessica bukan anak kandung kalian. Aku khawatir jika nanti dia punya adik, dan dengan statusnya yang berbeda dengan adiknya, jika ada bentrokan kecil saja, dia akan mudah salah paham kepada kamu dan Frans. Dia mungkin akan berpikir kamu dan Frans tidak menyayanginya karena dia bukan anak kandung kalian,” jelas Lyla.
“Yah, aku tahu kemungkinan seperti itu mungkin ada,” sahut Merry.
“Jadi, aku berpikir … mungkin nanti aku bisa membawa Jessica untuk tinggal denganku, untuk menghindari hal seperti itu.”
Lyla sudah mempertimbangkan semuanya. Beberapa hari lalu, Simon mengadu tentang kekhawatiran Jessica, dan Simon segera menyampaikannya kepada mommy-nya.
“Kasihan Jess, Ma. Dia bisa tinggal di sini, kan sama kita, kalau benar aunty Merry nanti punya bayi?”
“Aunty Merry pasti akan menyayangi Jess, Simon. Kamu tidak perlu khawatir.”
“Lebih baik Mommy bicara sama aunty Merry supaya Jess tenang.”
Lyla selalu tak berdaya jika Simon yang menginginkannya. Lagi-lagi ini tentang Jessica, gadis kecil yang membuat dunia mereka seperti tak beraturan.
Merry menghembuskan napas.
“Kamu tahu, apa pun yang berkaitan dengan Jessica, aku dan Frans tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Kita perlu membicarakan ini dengan Jessica dulu. Jika Jessica memang setuju, aku tidak masalah. Bagiku yang terpenting adalah Jessica nyaman dan tidak merasa terbebani.”
Lyla pun mengangguk. Dia bersyukur karena Merry bisa diajak berdiskusi tentang hal ini tanpa perlu ribut-ribut seperti yang dikhawatirkannya. Dan dia memang merasa banyak hal yang berubah dari Merry semenjak menjadi ibu dari Jessica.