
Simon tidak bisa berkata apa-apa mendengar penuturan Agnes. Semua yang dikatakan Agnes itu benar. Seharusnya dia sudah menyatakan rasa sukanya kepada Jessica bahkan jauh sebelum Jessica berkenaan dengan Robin yang akhirnya membawa tragedi.
"Jangan hanya berpikir, Simon. Kamu harus melakukan sesuatu, bertindaklah sebelum Jessica kembali melakukan kesalahan karena kamu tidak tegas menyatakan perasaan."
Agnes hanya ingin Jessica bahagia.
"Agnes, aku bingung apakah kamu yakin Jessica tidak akan berubah sikap?" Simon meragu.
"Katakan misalnya dia menolak aku, bayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Hubungan kami pasti akan renggang."
"Hei Simon, kamu ini laki-laki, tapi kenapa bersikap seperti perempuan. Lakukan dulu, bicaralah, kita tidak tahu apakah Jessica menolakmu atau justru menerima. Jika hal terburuk adalah kamu ditolak maka kalian sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap tidak saling bermusuhan."
Agnes gemas dengan keraguan dan sikap overthinking Simon.
"Agnes, kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak siap dengan penolakan itu. Aku memang bodoh dan tidak siap kehilangan Jessica. Aku pernah kehilangan dia cukup lama dan saat itu hidupku tidak baik-baik saja," tutur Simon.
Mereka berbincang di ruang tamu apartemen Jessica, setelah Simon membaringkan gadis itu di kamarnya.
"Ceritakan semuanya biar aku tahu, mungkin bisa membantumu."
Simon mengingat lagi momen menyedihkan saat dirinya terpisah dari Jessica.
"Jessica dikembalikan ke panti asuhan usai tragedi yang menimpa keluarga angkatnya. Dia jatuh dari tangga lalu mengalami hilang ingatan. Aku sudah mengusulkan Jessie untuk tinggal bersama kami tapi mama menolak tanpa alasan yang jelas. Saat itu Mama bilang masalah legalitas hukum pengangkatan anak, tapi bukankah masalah legalitas itu bisa diupayakan?"
Simon masih tak terima karena dulu Lyla menolak Jessica dengan alasan yang tak jelas.
"Aunty Merry juga mengangkat Jessica sebagai anak dan aku pikir Mommy juga bisa melakukannya, tapi Mommy bersikeras mengembalikan Jessica ke panti asuhan. Saat itulah aku terpisah dengannya, dan itu jadi saat terberat dalam hidupku. Baru setelah aku lulus kuliah aku bisa mendekatinya lagi."
"Pantas saja sekarang kamu nempel terus sama dia," seloroh Agnes.
"Buat aku ini saat-saat yang paling membahagiakan. Meskipun tak mengungkapkan perasaan, setidaknya aku bisa dekat dengannya dan itu sudah cukup."
"Hmm, kini aku harus paham kenapa Simon tidak buru-buru menyatakan perasaannya. Ia tahu jika ia mengungkapkan perasaannya, Jessica akan berubah pikiran.
"Jessica mempunyai ketakutan berdekatan dengan laki-laki. Apakah kamu tahu itu?"
Simon mengangguk ragu lalu menjawab," jika laki-laki itu orang baru pasti dia menolak. Jessie hanya bisa terbuka kepadaku. Mungkin aku satu-satunya temannya."
"Iya kamu benar. Saat kuliah Jessica juga didekati banyak pria, tapi dia menolaknya. Dia tidak bisa bergaul dengan teman laki-laki."
"Itulah yang aku maksudkan, Agnes. Aku rasa Jessica mengalami trauma, tapi aku tidak tahu trauma apa dan penyebabnya."
Agnes menarik napas panjang. Ia sendiri juga tidak tahu, karena Jessica tidak pernah berkata jujur tentang hal itu kepadanya.
"Jessica tidak bicara terus terang padaku, tapi setelah kita mengobrol sekarang, aku akan berusaha untuk menanyakan sebenarnya apa yang terjadi padanya."
Simon suka ide Agnes tapi ia ingat satu hal.
"Kalau itu membuat dia bersedih, jangan lakukan Agnes. Aku nggak mau bikin dia sedih."
"Kamu terlalu memberlakukan Jessica seperti anak kecil, Simon! Dia sudah cukup dewasa." Agnes kesal dengan sikap Simon.
"Karena aku sangat menyayanginya," ungkap Simon membuat Agnes terdiam.
Setelah mengobrol cukup lama, mereka berdua akhirnya tertidur di ruang tamu apartemen Jessica.
Pagi hari saat Jessica terbangun gadis itu kaget mendapati Simon dan Agnes yang tertidur di sofa.
"Rupanya mereka di sini semalaman, bodohnya aku. Pasti aku semalam mabuk dan mereka mengkhawatirkan aku. Kalian berdua memang teman yang baik," gumamnya.
Jessica segera membuat kopi dua gelas untuk Agnes dan Simon. Aroma kopi itu membuat Simon membuka matanya.
"Morning Jessie."
"Hai Simon, morning. Pasti aku sudah merepotkanmu tadi malam?"
Simon menggelengkan kepalanya. Dia menatap Jessica yang terlihat cantik tanpa polesan make up. Pada dasarnya Jessica memang sudah cantik. Melihat wajah gadis polos di depannya ini Simon teringat saat mereka kecil dulu.
"Pasti Agnes yang meneleponmu kan? Aku lupa-lupa ingat."
" Jangan lakukan hal bodoh seperti tadi malam, mabuk di bar. Kalau kamu mau mabuk ajak aku."
Simon berkata ketus, Jessica tersenyum. Mendapatkan perhatian Simon seperti ini membuat hatinya menghangat.
Mereka bersahabat sejak kecil dan Jessica juga tidak ingin berharap lebih dari persahabatan ini.
"Bagus sekali, kalian minum kopi tanpa aku," cetus Agnes sambil mengucek-ucek matanya membuat Jessica dan Simon tertawa.
"Telingamu lebih tajam dari kelelawar," ucap Simon sambil terkekeh. Agnes pura-pura marah.
"Bagaimana keadaanmu, Tuan Putri? Apakah kamu sudah merasa baikan?"
"Agnes jangan membuat aku malu."
"Tentu saja kamu sudah mempermalukan dirimu sendiri. Kamu bahkan hampir telanjang di bar tadi malam." Jessica melongo tak percaya, tapi Agnes memasang wajah serius.
"Apakah benar begitu? Oh tidak, itu sangat memalukan!" Jessica menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Agnes tersenyum, ia senang menggoda Jessica. Gadis itu hanya bercanda, tetapi candaan Agnes itu membuat Simon terperangah. Dia menganggap hal itu benar-benar terjadi.
"Lihat saja kalau kamu sampai berani melakukannya lagi," ancam Simon. Agnes dan Jessica gantian tertawa.
"Jessie ada satu fakta tentang Martha. Kamu benar, ternyata dia bukan ibu yang baik untuk Katy. Semalam aku mengantarkan gadis kecil itu ke apartemen Juan."
Jessica membelalakkan matanya tak percaya.
"Serius? Kamu melakukannya? Pasti pagi ini Martha akan mengamuk lagi," ucap Jessica.
"Iya kamu benar sebaiknya kita segera bersiap ke kantor, kalau perlu kita sewa security supaya Martha tidak bisa berbuat semaunya."
Simon menyimak obrolan dua gadis itu dengan serius.
" Tenang saja aku akan melindungi kalian. Aku akan menyewa beberapa bodyguard tanpa kalian ketahui."
"Simon apa yang kamu takutkan? Ini baru Martha, kita belum berhubungan dengan kasus geng atau mafia besar," sergah Agnes.
"Aku hanya ingin melindungi Jessica," ucap Simon sambil menatap kedua bola mata Jessica .
Jessica tak sengaja membalas tatapannya dan itu membuat jantung Simon hampir meledak. Agnes menyadari hal itu, dia lalu berpamitan.
"Hello aku pulang sekarang, mau mandi lalu berganti baju dan kembali ke kantor. Kalian lanjutkan saja bertatapan seperti ini seharian."
Agnes menghabiskan kopinya lalu segera pergi.
"Tunggu dulu, Agnes."
"Sudahlah aku tak punya waktu untuk melayanimu lagi Nona."
Agnes menghilang di balik pintu. Kini hanya tinggal Simon dan Jessica yang saling salah tingkah. Mereka duduk berhadapan, untuk pertama kali Jessica merasa gugup.
'Kamu juga mau pulang sekarang?" tanya Jessica.
Simon merasa diusir. Ia pun menganggukkan kepalanya lalu berkata," sebenarnya aku masih ingin sarapan denganmu tapi rupanya kehadiranku cukup mengganggumu."
"Tidak, bukan begitu. Maksudku aku bisa membakar roti sekarang lalu kita sarapan. Setelah itu baru kita pergi."
"Baiklah Jessie, jika itu mau kamu."
Jessica tersenyum dia selalu suka tingkah Simon seperti dulu saat dia kecil.
"Kemarin uncle Aaron menelponku dan mengabarkan kondisi Aunty Merry sudah membaik. Dia akan membawanya pulang"
"Oh ya? Benarkah?"
"Uncle Aaron sudah menyewa apartemen karena rumah lama sudah dijual."
"Kenapa dia tidak tinggal di sini saja? Aku harus bilang kepada uncle Aaron untuk membawanya ke sini," jawab Jessica.
"Kamu bicarakan dengan uncle Aaron, tapi aku rasa dia tidak akan mengizinkannya."
"Kenapa memangnya?"
"Bukan apa-apa, mungkin dia tidak ingin merepotkan kamu. Karena kamu bekerja dan pasti sangat sibuk."
"Simon, aku tetap ingin mencobanya."
"Oke silakan telepon, ini nomornya."
Simon memberikan nomor ponsel Aaron. Jessica menyimpannya di ponselnya. Ia langsung menghubungi Aaron. Beberapa kali ia menelpon, tapi Aaron tidak menjawab.
"Mungkin dia belum bangun," ucap Simon.
"Iya tapi aku sudah tidak sabar untuk bicara dengannya. Aku ingin Mommy kembali ke sini menemaniku seperti dulu."
"Iya aku rasa itu juga baik untukmu juga untuk Aunty Merry. Dia tidak akan merasa kesepian. Tapi kamu tahu 'kan para Nyonya itu tidak pernah mau tinggal dengan anaknya dengan alasan takut mengganggu."
Jessica berpikir sejenak, yang dikatakan Simon itu benar adanya.
"Ya mungkin aku bisa menyewakan apartemen di sekitar sini," pungkas Jessica kemudian.
"Aku lebih setuju begitu. Jadi kapan kamu akan membakar roti untukku?" tanya Simon
"Hahaha, maafkan aku terlalu asik mengobrol sampai lupa. Tunggu sebentar ya."
Simon selalu suka dengan tawa renyah Jessica. Dulu dia berpikir tidak bisa menikmati lagi tawa itu.
Jessica selalu menjadi energi baru untuknya. Seperti pagi ini.
Simon datang ke rumah sakit dengan senyum menyungging di bibirnya, hingga membuat rekannya, Austin, keheranan.
"Tak biasanya kamu datang ke kantor dengan wajah secerah ini. Apa Jessica menerima kamu jadi kekasihnya?"
Austin tahu tentang Jessica karena Simon menceritakan semuanya.
"Tutup mulutmu sudah ada pasien menunggu kita harus kerja keras hari ini."
"Siap dokter Simon. Sebaiknya singkirkan wajahmu yang berbinar itu, aku muak melihatnya," ejek Austin membuat Simon meninju lengan kawannya itu.
"Iri, bilang, Bos!"