
Vivian tersenyum ke arah Lyla yang tercenung karena tak menyangka Vivian begitu mudah berbelok hati kepada Aaron. Sedangkan Aaron bingung harus berkata apa. Merry memandangnya seolah ingin tahu seserius apa hubungan adiknya dengan Vivian. Merry melihat Vivian masih terlalu muda untuk Aaron yang sudah berusia mendekati empat puluh tahun.
"Ehmmm, kami memang berhubungan tapi ini baru awal. Maksudku kami harus melakukan banyak penyesuaian lagi."
Vivian mendekati Aaron lalu merapatkan tubuhnya membuat Aaron kikuk. Apalagi saat Vivian memeluk pinggangnya. Simon yang melihat pemandangan itu justru tersenyum.
"Wah, ini kejutan. Uncle Aaron diam-diam ternyata bergerilya. Jessie, kamu enggak ingin mengucapkan selamat kepada uncle Aaron?"
Jessie tersenyum lebar. Ternyata dia salah sangka. Awalnya ia menyangka Vivian tertarik dengan Simon, ternyata dugaannya keliru. Maka ia pun mengucapkan selamat.
"Wah, kamu benar Simon. Mereka ini benar-benar pasangan yang serasi bukan? Uncle Aaron dan Vivian, aku sangat berbahagia untuk kalian. Ayo semua kita bersenang-senang karena Mommy sudah pulang dan uncle Aaron akan segera menikah!"
Semua yang hadir mengangkat gelasnya. Vivian menjadi kikuk karena tak menyangka Simon justru berbahagia. Seharusnya ia cemburu pada Aaron. Sontak kenyataan itu membuat Vivian terpukul.
Saat ada kesempatan Vivian menyusul Simon ke balkon.
"Simon, bagaimana hubungan kamu dengan Jessica sekarang?"
Simon menoleh ke arah Vivian.
"Hubunganku baik-baik saja. Tidak ada masalah seperti biasanya."
"Jadi kamu belum mengatakan perasaanmu?" tebak Vivian.
"Kami berteman sejak kecil, aku tahu kapan waktunya, jangan khawatir. Mungkin sebentar lagi kami akan menyusulmu menikah."
Jawaban itu sungguh di luar dugaan Vivian.
Mereka akhirnya pulang setelah acara berakhir. Hanya Jessica yang sedang berbincang dengan Merry.
"Aku senang akhirnya Mommy pulang." Jessica tak juga melepaskan pelukannya. Merry sangat terharu melihat sambutan tulus Jessica. Dalam hatinya Merry mencoba menyangkal prasangka bahwa Jessica adalah pelaku pembunuhan yang sebenarnya.
"Sepertinya kecurigaanku ini tak beralasan, tak mungkin Jessie melakukan hal keji itu," gumamnya dalam hati.
Aaron yang punya niat sejak awal mencari kebenaran akhirnya mendatangi rumah Merry yang telah dijual kepada orang lain. Alangkah terkejutnya Aaron saat melihat papan yang bertuliskan 'For Sale'
Pria itu segera menghubungi nomor yang tercantum di dalam papan reklame.
"Halo saya ingin membeli properti milik Anda. Bisakah kita bertemu?"
Aaron ingin membuat kejutan untuk Merry. Pria itu memutuskan membeli kembali rumah itu untuk kakaknya. Aaron berharap dengan cara itu ingatan Jessica bisa kembali dan Merry juga akan membaik.
Setelah memutuskan harga yang pantas, Aaron segera membereskan transaksi rumah itu. Ia berbicara kepada Simon tentang kejutan yang akan ia berikan kepada kakaknya.
"Wah ini ide yang bagus uncle. Aunty Merry pasti akan suka." Simon menyambut antusias.
"Bagaimana dengan Jessie? Apakah menurutmu dia juga akan senang?"
Simon terdiam sesaat. Jessica memang sudah lama ingin ingatan itu kembali. Jika sekarang ia kembali ke rumah itu, mungkin hal itu bisa memicu ingatannya.
"Tentu Jessie akan senang. Kapan uncle berencana memberikan kejutan ini?"
"Pekan depan saat ulang tahun Merry. Aku akan menyewa orang untuk membersihkan rumah itu sekaligus menata ulang supaya tampak seperti dulu."
Usaha Aaron tak sia-sia. Ia memperlihatkan gambar desain interior seperti dulu dan semua sekarang siap. Betul-betul mirip dengan saat Jessica kecil dan tinggal di sana.
Hari yang ditunggu pun tiba. Jessica dan Merry dibawa ke rumah itu dengan mata tertutup.
"Sebetulnya kalian ini mau bawa kami kemana?" tanya Merry.
"Sudahlah nanti juga kakak tahu."
Simon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Akhirnya mereka tiba di rumah itu. Dengan berhati-hati Merry dan Jessica turun dari mobil.
Setelah membawa keduanya masuk ke rumah, Aaron segera membuka penutup mata Merry.
Perempuan itu menoleh ke kanan dan kiri.
"Happy birthday, Merry, happy birthday, Merry!"
Sambutan lagu selamat ulang tahun diterima Merry dengan mata berkaca-kaca. Ia bahkan berteriak histeris saat melihat sahabatnya dan juga tetangganya datang untuk merayakan ulang tahunnya.
"Selamat datang kembali Merry, kami senang akhirnya kamu bisa kembali ke rumah ini."
Lyla memeluk Merry erat-erat diikuti tetangga dan sahabatnya yang lain. Mereka bersukacita karena Merry sudah kembali ke rumah itu.
Sementara itu wajah Jessica memucat saat mengetahui ia berada di rumah lamanya. Tatapan mengarah pada setiap ruangan. Jessica naik tangga dan menuju ke kamarnya.
Gadis itu tersentak kaget melihat semua ruangan masih sama seperti saat ia kecil dulu. Ada kasur kecil untuk tubuh kecilnya.
Lalu piano di ruang tengah yang dulu sering ia mainkan.
Memasuki kamarnya seolah ingatannya kembali melayang pada satu masa di mana dulu ia dan Frans sering menghabiskan waktu bersama.
Kali ini ingatan itu begitu kuat. Tak ada yang terlewat, semua bagai putaran film di dalam otaknya. Ingatan itu menukik tajam pada satu peristiwa yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya. Setidaknya Jessica berpikir begitu sebelum kehilangan ingatannya.
Richard melakukan sesuatu yang akhirnya menimbulkan trauma itu setelahnya. Belum hilang trauma itu tiba-tiba Frans yang seharusnya melindungi dia, juga melakukan hal yang sama.
"Ahhh!"
Jessica menjerit kesakitan sambil memegang pelipisnya.
"Jessie, kamu tidak apa-apa?"
Simon datang dan mendapati Jessica berwajah pucat.
"Simon, kenapa mereka tega melakukan hal itu kepadaku?"
"Siapa?"
"Richard dan Daddy. Mereka tega melakukan hal bejat itu padaku."
Tangis Jessica pecah. Dadanya turun naik, napasnya memburu tak beraturan.
Gadis itu syok saat memasuki ruangan di mana dulu baby Moana dibaringkan. Jessica teringat apa yang ia lakukan. Kali ini bukan samar-samar. Semua terlihat jelas dalam ingatannya.
"Mommy tidak bersalah, Simon! Aku yang melakukannya!" Jessica berterus setelah berhasil mengingat lagi semua hal yang dulu pernah ia lakukan.
"Tenanglah Jessie, kamu pasti kesakitan. Jangan ingat hal-hal yang bisa membuat kepalamu sakit. Kamu berhak bahagia, dan aku akan terus menjadi temanmu jika memang kamu ingin kita berteman seperti dulu."
"Simon, aku ingat pernah mengatakan semua ini padamu, bukan?" Jessica menelusuri wajah Simon dengan pandangannya. Dia mengingat semuanya.
Saat malam kejadian ia membunuh baby Moana, ia bersepeda lalu melihat Simon datang. Jessica menangis dalam pelukan Simon.
Simon terus berusaha menenangkannya.
"Jangan khawatir Jessie, tidak ada orang yang tahu apa yang kamu lakukan. Aunty Merry semakin kasar padamu sekarang. Kamu tidak perlu takut, semua orang akan mengira ini perbuatan Aunty Merry."
Jessica membelalakkan matanya. Jadi selama ini Simon sudah tahu rahasianya? Jessica panik karena baru sekarang menyadari hal itu.
Kenapa Simon bersikap biasa saja?