The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Tragedi Berikutnya



Kondisi Jessica berangsur membaik. Hanya tiga hari dia langsung pulang. Gadis itu memilih kembali ke apartemennya yang sempit.


Ia meninggalkan apartemen yang diberikan Robin. Baginya kisah cintanya telah berakhir saat Robin memilih membawa perempuan lain ke apartemennya.


Setelah merasa pulih, Jessica kembali masuk kerja. Ia bertemu Agnes yang terlihat cantik pagi ini dengan setelan blazer berwarna cokelat. Mereka berbincang ringan. Melihat wajah Jessica yang muram, Agnes tahu kondisi Jessica sedang tidak baik-baik saja.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Jessie? Apakah ini tentang Robin?" tanya Agnes.


Jessica terdiam. Dia tidak ingin membagi lukanya dengan Agnes, karena merasa malu. Saat Agnes memperingatkannya, Jessica tidak mendengarkan.


"Ayolah Jessie, kamu bisa berbagi apa pun denganku termasuk kebrengsekan Robin. Aku yakin kamu pasti sudah tahu sekarang."


Jessica terdiam.


"Jessie, apa langkahmu selanjutnya? tanya Agnes.


"Agnes aku minta maaf karena waktu itu aku tidak mendengarkanmu."


"Ya aku tahu saat itu kamu sedang bucin. Sudahlah yang penting kamu sudah tahu siapa Robin sebenarnya. Aku harap kamu tidak salah langkah lagi."


"Ini terlalu sulit untukku, Agnes."


Jessica menundukkan kepalanya. Dia bahkan tak sanggup menatap Agnes.


"Sebetulnya apa yang terjadi? Kamu tidak pernah mau bercerita jadi aku tidak tahu di antara kalian."


"Robin tidak sepenuhnya salah, karena ini masalahnya adalah aku.


"Iya kamu selalu bilang masalahnya ada di kamu, tapi kamu tidak berterus terang. Katakan apa yang terjadi, Jessie."


"Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan laki-laki," ucap Jessica perlahan. Pada akhirnya ia harus mengakui bahwa laki-laki hanya membuat rasa traumanya bangkit lagi.


"Kamu ada masalah apa dengan laki-laki? Seperti yang aku pernah bilang dulu, lebih baik kamu berkonsultasi dengan psikolog, supaya bisa ada pencerahan," saran Agnes.


"Aku mencoba mempercayai Robin. Kupikir itu awal yang baik, ternyata aku salah."


Jessica terus mengumpat dalam hati. Dia tidak terima dengan perlakuan Robin yang membawa wanita lain ke apartemennya.


Gadis itu pulang ke apartemennya, saat jam kerjanya telah usai. Pada saat yang sama, Robin mendatanginya ke apartemen.


"Jess kita harus bicara sekarang," ucap Robin.


Pria itu tidak tahu kalau Jessica sudah memergoki dirinya saat bersama Marty.


"Apalagi yang mau kamu bicarakan, Robin? Mulai sekarang kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."


Jessica melepaskan cincin di jari manisnya lalu memberikannya ke dalam genggaman tangan Robin.


"Jess apa-apaan ini? Kamu tidak bisa bersikap begini. Ini namanya kamu bersikap sepihak!"


"Apalagi yang harus aku jelaskan Robin? Kita berpisah baik-baik karena aku tidak bisa menjalani hubungan ini. Oke semua ini salahku karena aku yang nggak bisa menghilangkan rasa trauma kepada laki-laki melebihi semuanya. Rasa takut, kecemasan ketika kamu menyentuhku itu sangat menyiksa, dan aku tidak mau semua itu jadi membebani kamu."


Jessica akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya.


"Jess, tapi aku bisa menerimanya. Jangan bilang putus karena aku tidak akan mau melakukannya. Kita lanjutkan komitmen ini." Robin menjawab dengan wajah tegang.


"Sudahlah jangan bersandiwara lagi di depanku Robin. A ku tahu apa yang kamu lakukan di apartemen kemarin."


Wajah Robin memucat mendengar kata-kata Jessie.


"Iya aku tahu, kamu bersama gadis itu menghabiskan malam kalian yang liar di ranjang. Aku menyaksikan semuanya jadi kita tidak usah saling menyakiti lagi." Jessica berkata tegas tapi Robin tidak terima Jessica memutuskannya.


Robin mencintai Jessica, lebih tepatnya terobsesi dan ingin memiliki Jessica.


"Kamu tidak bisa melakukan ini," Robin mencengkeram tangan Jessica sambil mengguncang tubuhnya.


"Dengar Jess, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu."


"Aku bilang lepaskan!"


"Dengar ******, sudah terlalu banyak yang aku lakukan untukmu.


Jadi sekali ini saja turuti perintahku, kita akan menikah dan semua akan baik-baik saja."


Jessica menatap tajam ke dua bola mata Robin. Gadis itu memberontak lalu kembali berteriak," tidak akan ada pernikahan!"


Jessica berusaha melepaskan diri, dia berbalik membelakangi Robin. Laki-laki itu menarik tangan Jessica, lagi membuat gadis itu mengibaskan tangannya.


Robin tidak mau tahu. Ia terus memaksa Jessica mendengarkan kata-katanya. Bahkan dia mendorong tubuh Jessica hingga terhimpit ke dinding.


"Dengar, aku mau menikah denganmu, dan kamu tidak punya pilihan untuk menolak. Di sini yang bermasalah adalah kamu, bukan aku, jadi kamu harus menuruti semua kemauanku. Obsesi pada diri Robin sudah mengalahkan logikanya, hingga pria itu tega mengancam Jessica.


"Tidak ada alasan untukmu menolak aku, tidak juga kamu Jess. Jadi jangan berani-berani bersikap arogan denganku."


"Lepaskan aku, Robin! Aku tidak akan melepaskan sampai kamu bilang kita akan menikah." Robin terus mencengkram tangan Jessica.


"Tidak akan! Kamu ini gila atau apa? Hubungan kita tidak mungkin dilanjutkan!"


"Bagaimana bisa kita terus berkomitmen, kalau cara kamu menyakitiku seperti ini."


"Aku tidak ingin menyakitimu. Selama ini aku sudah cukup memaklumi kekuranganmu. Bahkan aku menawarimu untuk datang ke psikolog atau psikiater Aku mau mendampingimu karena aku mencintaimu."


"Itu membuatku sakit, Robin. Kamu hanya ingin tidur denganku, jangan pikir aku tidak tahu." Jessica berbicara dengan luapan emosinya.


"Kamu harus menikah denganku!" Robin sudah hilang akal. Menikah dengan Jessica adalah obsesi terbesarnya.


"Aku bilang tidak mau, Robin!" Pandangan mata Jessica berkilat penuh kemarahan.


Robin terus mengungkung Jessica. Pria itu tidak membiarkan Jessica lolos, hingga Robin berhasil membanting Jessica ke atas kasur.


Jessica yang merasa terancam sontak mengambil vas bunga yang ada di meja. Gadis itu menghantamkan vas bunga itu di belakang kepala Robin hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Sudah aku bilang aku tidak mau menikah denganmu, tapi kamu memaksa." Jessica mencoba melepaskan diri.


Robin tak memberi kesempatan Jessica lolos. Ia menarik kaki Jessica hingga gadis itu terjungkal.


Robin menampar wajah Jessica berkali-kali hingga gadis itu memekik kesakitan, tetapi Jessica tetap berusaha melawan. Kali ini dia berhasil meraih sebuah besi di bawah meja.


Rak sepatu di bawah meja yang terbuat dari besi itu kembali dihantamkan Jessica mengenai kepala Robin.


Ia menyerang Robin membabi buta hingga membuat pria itu mengaduh. Jessica tak ingin memberi kesempatan Robin lolos. Gadis semampai itu memukul Robin berkali-kali dengan rak besi itu membuat Robin terkapar berumur darah.


Jessica tidak memedulikan teriakan Robin yang mengerang kesakitan. Potongan ingatannya kembali. Ia teringat saat ia mendorong tangga Annabelle waktu ia kecil. Jessica memegang kepalanya lalu melemparkan rak besi dari tangannya. Ia panik melihat Robin terkapar berlumuran darah.


"Oh tidak! Ini bukan aku yang melakukannya. Robin, Robin, bangunlah Robin!"


Jessica terus mengguncang-guncangkan tubuh Robin yang bersimbah darah, tetapi Robin ternyata sudah mengembuskan napas terakhirnya.


Jessica segera menelepon Simon dengan panik. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini yang ada di dalam pikirannya hanya nama Simon. Simon orang yang bisa membantunya dari situasi sulit ini.


"Halo Simon, amu ada di mana? Aku aku butuh bantuan datanglah ke apartemenku sekarang.


Simon yang sedang mengendarai mobilnya menuju apartemen segera membelokkan setir ia bergegas pergi ke apartemen Jessica. Pria itu merasa Jessica sedang tidak baik-baik saja dari suaranya yang panik dan ketakutan.


Sesampainya di apartemen Jessica, Simon terkejut melihat Jessica yang meringkuk di pojok kamar. Ia juga melihat tubuh Robin berlumuran darah.


"Apa yang terjadi? Jessie kamu baik-baik saja?" tanya Simon.


Jessica menutup kedua telinganya dengan tangan dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya.