
Richard terus menasihati Aaron supaya pria itu segera menemukan gadis baru, dan tidak lagi tergila-gila dengan Anne.
“Aku tahu, makanya aku tak menyuruhmu berhubungan dengan sembarang gadis. Kau bisa mencari gadis yang paling dekat denganmu sehingga saat kau berpikir untuk menyakitinya, kau akan berpikir dua kali.”
Aaron menghitung berapa banyak gadis yang ada di dekatnya. Setelah lama mencari dalam memorinya, ia hanya menemukan satu nama.
Cindy, gadis manis yang selalu menganggap dirinya senior dibandingkan Aaron hanya karena masuk ke kantor ini lebih cepat dua bulan darinya. Namun, apa mungkin Cindy mau menjadi pacarnya? Mereka berdua jarang akur karena masalah pekerjaan.
“Cindy? Apa kau suka dia?” Richard kembali mengusulkan satu nama yang ia tahu selalu ada di samping Aaron.
“Kau bisa pikirkan nama lain? Aku dan Cindy selalu saja ribut soal pekerjaan. Apa kau mau aku ribut di saat date pertama kami?” Aaron mencibir.
“Cih, dasar manusia pemilih. Kau itu pria yang hanya menyukai milik orang lain. Jangan-jangan saat aku berpacaran dengan Tassy, kau juga akan menyukainya?”
Aaron tak menjawab karena Richard semakin melantur. Ia hanya menghela napas mengingat beberapa hari lagi akan diadakan pernikahan yang sangat tidak ia nantikan. Untuk itu, ia harus mulai menata hati. Kini ia tahu perasaan Tassy waktu ia tolak dulu.
Mereka kembali bekerja. Cindy yang melihat Aaron tak bersemangat akhirnya mendekati pria itu dan mencoba mengacau lagi. Sudah menjadi hobinya sekarang untuk membuat Aaron kesal. Bukan karena ia iseng, tapi melihat Aaron murung lebih membuat hatinya sakit dibandingkan marah kepadanya.
“Aaron, kau ini kan juniorku. Bisa tidak saat istirahat kau masuk lebih awal dariku?” Cindy memancing emosi Aaron yang baru saja duduk di bangku yang meja kerjanya bersisian dengan Cindy.
“Kenapa begitu? Itu namanya diskriminasi.”
“Tidak apa-apa kalau kau tidak mau, aku bisa datang lebih telat darimu kalau begitu.”
Setelah mengucapkan itu, Cindy kembali ke mejanya dan mengerjakan sisa pekerjaannya. Namun ternyata tidak bertahan lama karena semakin ia perhatikan, Aaron semakin kacau. Tak sengaja ia melihat undangan Anne yang tergeletak di mejanya.
“Enak ya kalau sudah punya pasangan ... aku iri kepada Bu Anne karena akan segera menikahi pria kaya raya yang mencintainya.” Cindy sengaja mengeraskan suaranya agar Aaron bisa mendengarnya.
Tak ada respons. Aaron hanya diam saja sambil mengerjakan sesuatu.
“Oh iya, apa kau akan datang ke acara Bu Anne?” tanya Cindy tak patah arang.
“Entahlah.” Kali ini Aaron menjawabnya.
“Kenapa entah? Bukannya kau dekat dengannya? Aku pikir dia senior yang mengajarimu banyak hal sejak pertama masuk ke kantor ini.”
“Benar. Dia adalah seniorku yang baik hati, bukan seperti seseorang yang mengaku senior tapi malah mengganggu pekerjaanku.”
Aaron menyindir Cindy yang langsung terdiam. Akhirnya Aaron berhasil memberikan sindiran halus kepada Cindy dengan alami.
Cindy tak bisa lagi bicara apa pun, ia kehabisan topik. Namun, ia masih ingin melihat wajah serius Aaron tapi ia tak mau lagi mengganggu. Banyak hal yang ia sukai dari Aaron, salah satunya sikap dingin yang selalu Aaron tunjukkan kepada wanita-wanita lain. Lucunya, Aaron jarang bersikap dingin kepadanya, lebih tepatnya karena Aaron selalu kesal kepada Cindy.
“Cindy, apa kau mau pergi ke acara pernikahan Bu Anne bersamaku?”
Cindy tersentak saat kalimat itu keluar dari mulut Aaron sendiri. Ia langsung menoleh tak percaya dan menyeret kursinya ke sisi Aaron yang masih menatapnya dengan pandangan menuntut jawaban.
“Aku tidak salah dengar, kan? Kenapa kau mengajakku?” Cindy malah bertanya balik karena tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Aaron melanjutkan pekerjaannya. Ia merasa gila karena sudah mengajak Cindy pergi dengannya. Apa ini artinya Aaron akan membiarkan Cindy menggantikan tempat Anne di hatinya? Namun, Alex sendiri tak yakin kalau Cindy akan menyukainya karena mereka setiap hari selalu ribut.
Cindy kembali ke mejanya. Ia mencerna apa yang dikatakan Aaron adalah ajakan atau hanya sekadar ledekan.
Jika benar, maka ia akan sangat suka. Namun, kalau hanya iseng maka ia akan membalasnya suatu saat nanti.
Cindy terus memperhatikan Aaron dari samping. Untuk orang sedingin Aaron, ajakannya tadi sudah merupakan hal yang sangat jarang dikatakan. Apa ia serius? Meskipun iseng, tidak ada salahnya Cindy menerima ajakan itu. Toh, sejak tadi Cindy memang berpikir untuk mengajak Aaron pergi ke suatu tempat. Ada sesuatu yang perlu ia luruskan.
“Anu ... Aaron, apa ajakan tadi masih berlaku?” tanya Cindy dengan gugup.
Aaron menoleh. Ia penasaran kenapa Cindy terlihat salah tingkah. Apa ajakannya tadi membuatnya seperti ini? Kalau iya, apakah ini kesempatannya untuk menjalin hubungan dengan wanita lain?
“Tentu saja. Asal kau mau, aku akan menjemputmu ke rumahmu.”
“Baiklah. Aku akan berdandan yang cantik agar kau tidak malu jalan bersamaku!”
Kali ini Aaron benar-benar kaget. Tadi Cindy tidak bercanda? Kenapa dia tiba-tiba mau pergi bersamanya?
“Dasar bebal! Itu artinya Cindy mulai membuka hati untukmu!” Richard kesal karena sahabatnya ini sangat bodoh.
“Aku hanya heran kenapa semudah ini? Sehari-hari dia bersikap ketus padaku. Ini benar-benar keajaiban,” ucap Aaron lagi.
“Sudahlah jangan banyak omong, lebih baik kamu mencari busana terbaik untuk menghadiri pernikahan Anne, buat dirimu setampan mungkin supaya Anne sadar dia telah memilih pria yang salah.”
“Sialan kau! Kalau dia menyesal memilih pria yang salah harusnya bukan di hari pernikahannya, tapi dari sekarang.”
“Ya mungkin dia terlalu buta untuk menyadari ada pria tolol yang mencintainya, atau mungkin pengaruh kekayaan memang sehebat itu. Kita tahu calon suaminya pemilik perusahaan ternama bukan?”
“Itulah kenyataan yang membuatku tak percaya diri. Anne pasti lebih memilih pria kaya ketimbang aku yang dia tahu gajiku bahkan selalu habis di akhir bulan.”
“Haha, kau memang menyedihkan, sobat. Mau minum? Di bar banyak gadis-gadis muda yang masih segar, dan bagus untuk menyegarkan pandangan.” Richard tersenyum penuh arti.
Dia tahu Aaron selalu suka melihat gadis-gadis ABG yang berkumpul di bar, mengharap pria dewasa mentraktir mereka. Sebagai upahnya, mereka rela melakukan apa saja, tapi biasanya hanya sebatas ‘mengisap’ tidak lebih.
“Baiklah kalau kau memaksa,” jawab Aaron tanpa merasa dipaksa. Richard segera memukul bahunya.
Mereka tiba di bar yang sudah penuh dengan berbagai macam manusia. Benar kata Richard, gadis-gadis muda lebih mendominasi klub yang suara hentakan musiknya sangat keras itu.
“Pilih satu, Dude, daripada kau tak bisa tidur malam ini,” bisik Richard.
Pria itu segera memilih gadis yang ia suka lalu membuka botol dan mereka saling mengobrol, tak lama kemudian keduanya bergeser ke sudut ruangan yang remang-remang.
“Sial, si gila itu meninggalkanku!” umpan Aaron menyadari Richard telah mendapatkan mangsa.