The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Rahasia Kecil



Seminggu sudah berlalu, Aaron dan Richard telah kembali bekerja, dengan berat hati mereka pamit kepada Merry dan Frans. Mereka keluar ke rumah sakit bersamaan dengan Lyla dan Lucky yang usai menjemput Jessica dan Simon.


Sebelum pergi Richard mendekati Jessica dan berkata penuh ancaman.


"Gadis cantik, anggap yang kemarin terjadi itu rahasia kecil kita berdua. Om nanti akan kesini lagi dan kita akan bersenang-senang. Tapi kalau kamu membuka mulut, Om pastikan itu akan jadi akhir yang buruk. Kamu paham?"


Jessica menganggukkan kepalanya dengan terpaksa.


Sesampainya di dalam, Jessica berlari menghambur ke dalam kamar Merry, gadis cilik itu sudah tidak sabar bertemu dengan wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri karena telah merawatnya sejak kecil.


“Mommy!” seru Jessica.


“Sayang, mommy kangen sekali.” Merry segera memeluk putrinya itu.


Lucky menatap Frans dan menepuk bahunya.


“Bagaimana apakah sudah ada perkembangan dengan kondisi Merry?”


“Hasil pemeriksaan terakhir hari ini keluar, aku juga sudah tidak sabar menunggunya.”


Lucky segera membimbing Frans untuk duduk di sofa ruangan karena terlalu sesak jika semua orang berdiri, Lucky mengamati kantung mata Frans lalu berkata, "sabar dan tenang saja, Frans. Dokter pasti sudah menyiapkan langkah antisipasi.” Frans mengangguk.


“Bagaimana, apakah Jessica merepotkan kalian?”


“Tentu tidak. Oh ya, kami tidak pernah memiliki sedikit pun pikiran buruk kepada kalian berdua dan kalian berdua juga pasti tahu akan hal itu. Kami berdua bersedia membantumu dan Merry untuk menjaga dan merawat Jessica, seperti kami menjaga dan merawat Simon. Selama Merry berada di rumah sakit untuk proses pemulihannya, biarkan kami yang merawatnya.  dan tidak akan membedakan mereka berdua. Bukan begitu, Sayang?" Lucky melirik Lyla sekilas.


"Hmm, ya, benar sekali itu, Sayang," jawab Lyla yang lalu mengalihkan netranya pada Frans.


"Benar sekali apa yang barusan dikatakan oleh suamiku, Frans. Kami berdua sama sekali tidak merasa keberatan jika Jessica harus tinggal bersama kami dan Simon selama Merry memulihkan kondisinya. Berapa lama pun waktu yang akan diperlukan untuk memulihkan kondisi kandungan Merry, kami dengan senang hati akan membantu kalian berdua."


Frans mengembuskan napas panjang, pria itu merasa lega mendengar perkataan pasangan suami istri yang berada di depannya tersebut. Dengan mengulas senyuman di bibirnya, Frans pun mengucapkan terima kasih kepada Lucky dan Lyla yang datang tepat waktu, dan sudah bersedia untuk membantu dirinya dan Merry


"Hai, Merry. Bagaimana keadaanmu hari ini? Terus terang kami berdua merasa terkejut saat mendengar cerita Frans yang menyebutkan bahwa kamu masuk ke rumah sakit karena pendarahan. Kenapa bisa sampai terjadi hal seperti itu? Apakah kamu terlalu aktif beraktifitas sehingga membuatmu mengalami pendarahan seperti ini?" tanya Lyla bertubi-tubi. Ia baru mendapatkan cerita yang sebenarnya dari Frans.


Merry menampilkan senyuman manisnya pada pasangan Lucky dan Lyla ketika dia mendengar Lyla mengajukan pertanyaan tanpa jeda sedikit pun itu.


"Sebenarnya aku sudah melakukan saran dokter untuk melakukan istirahat total di atas tempat tidur. Tapi, ya, aku merasa bosan karena hanya boleh berbaring saja, minum obat dan makan pun harus kulakukan di atas tempat tidur begitu juga dengan buang air kecil. Hal seperti itu membuatku merasa kesal, hingga kadang- kadang aku merasa begitu ingin sekali memindahkan tempat tidurku di luar saja supaya aku bisa menikmati suasana," jawab Merry.


Lyla tersenyum lebar ketika mendengar jawaban Merry. Wanita cantik berkulit putih itu pun membalas perkataan Merry, "bersabarlah, Merry. Semuanya akan segera berlalu terlebih nanti ketika bayi kecil kalian hadir di dunia ini dengan selamat dan sempurna. Nikmati saja semuanya."


"Jessica, kamu kenapa, Sayang? Kok wajahnya kelihatan bersedih seperti itu?" tanya Merry lembut.


Jessica ingin sekali menceritakan apa yang dialaminya, tapi ia teringat ancaman Richard. Kepada siapapun ia bercerita, Richard bilang akan tahu dan membunuhnya. Akhirnya Jessica mengurungkan niatnya.  Biarlah ini akan jadi rahasia kecil yang ia simpan selamanya.


"Enggak papa, Mommy. Jess sedih melihat Mommy seperti ini. Apa tidak sakit ditusuk jarum seperti ini, Mom?" tanya Jessica ingin tahu sambil menunjuk ke arah tangan kiri Merry yang ditusuk dengan jarum infus. "Jessica kangen sekali pada Daddy dan Momny."


Merry tertawa kecil mendengar pertanyaan putri kecilnya begitu juga dengan Lyla yang berdiri di belakang kursi yang diduduki oleh Jessica.


"Sayang, Jessica anak mommy. Jessica jangan sedih. Tangan mommy ditusuk jarum seperti ini karena momny sedang tidak sehat. Adik bayi yang berada di dalam kandungan sedang sakit sehingga adik bayi perlu diobati. Tapi, karena adik bayi belum lahir ke dunia, jadi dokter harus mengobati adik bayi dengan cara seperti ini. Menusuk tangan kiri mommy dengan jarum."


Merry mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti Jessica, sementara Lyla mengusap lembut rambut panjang, lebat dan hitam milik Jessica dengan penuh kasih sayang.


Jessica menggangguk- angguk mendengar penjelasan Merry. Dalam hati gadis itu kembali berkata jika adik bayi yang dikandung Merry itu sangat merepotkan dan membuat mommynya sakit hingga harus dirawat di rumah sakit dan meninggalkan dirinya


"Oh dokter yang menyuntik tangan Mommy seperti ini? Tapi kenapa harus seperti ini, Mom? Apa tidak ada cara lain selain menyuntik tangan? Jessica tidak suka melihat Mommy sakit seperti ini. Kapan Mommy pulang?" Kembali gadis cilik itu bertanya bertubi-tubi menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya pada Merry dan Lyla.


"Kasian Mommy. Mommy Merry pasti sakit karena tangannya disuntik seperti ini."


Lyla bertukar pandang satu dengan yang lain, kemudian Lyla menggantikan Merry untuk memberikan penjelasan pada Jessica yang masih menatap kedua ibunya silih berganti.


“Jess, pertanyaanmu banyak sekali. Lihat itu aunty Merry jadi pusing menjawabnya,” sergah Simon.


“Biarin, aku ingin ngobrol lama dengan Mommy. Aku rindu Mommy.” Semua mata berkaca-kaca mendengar perkataan Jessica. Mereka terharu dengan kedekatan Jesscia dan Merry.


"Mommy nanti kalau adik sudah lahir, mommy akan pulang, kan? Jarumnya juga dilepas?" tanya Jessica ingin memastikan jika jarum infus itu tidak akan bercokol lama di tangan kiri Merry.


"Tentu Sayang, berapa lama jarum itu akan menempel di tangan kiri Mommy Merry, yang pasti jarum itu akan berada di sana sampai adik bayi yang ada di dalam kandungan kembali sehat dan kuat," terang Lyla.


Jessica menganggukkan kepalanya, perlahan dia mulai mengerti apa arti perkataan kedua mommynya barusan. Jessica kemudian berdiri dengan menginjak kursi yang sempat dia duduki lalu mengusap- usap perut Merry yang mulai membuncit.


"Adik, cepat sembuh, jangan bikin mommy sakit lagi, jangan merepotkan, nanti aku akan memukul kepalamu kalau kamu bikin mommy jadi sakit.”


Lyla, Merry, Lucky dan Frans tertawa terpingkal- pingkal mendengar percakapan antara Jessica dengan janin yang berada di dalam kandungan Merry. Keempat orang dewasa ini merasa gemas sekaligus khawatir dengan ucapan Jessica.


Bagi orang dewasa ini terdengar lucu, tapi bagi Jessica, ia sedang melakukan ancaman yang kelak akan ia buktikan. Salah satu penyebab ia dipaksa Richard adalah bayi ini.