The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Dendam Terbayarkan



"Kamu sudah mengingatnya?" tanya Richard panik.


"Tentu saja, Anda orang yang sangat kejam, memaksaku melakukan sesuatu yang akhirnya menghancurkan masa depanku." Tuan Richard, Anda bahkan mengancamku untuk tidak menceritakannya kepada semua orang termasuk dengan Mommy." Richard terdiam. Pria itu melihat kilat kemarahan di mata Jessica.


"Aku bukan Jessica yang bodoh seperti dulu, dan aku tidak akan membiarkan kamu lolos." Jessica tersenyum penuh misteri.


Tiba-tiba Richard merasa tenggorokannya terbakar, lalu dada sebelah kirinya terasa nyeri, laki-laki itu merasa kesulitan bernapas. Dadanya sesak napasnya tersengal-sengal.


Dia teringat tadi Jessica menawarinya minum. Richard memandang ke arah gelas di atas meja.


Jessica mengangkatnya.


" Mari kita minum lagi, Tuan Pedofil."


Tak berapa lama kemudian tubuh Richard pun roboh.


Jessica  sudah mengingat Richard saat pertama kali mereka bertemu, dan gadis itu sudah merencanakan semuanya.


Hampir setiap pagi mereka minum bersama. Jessica memberikan satu minuman yang telah diisi dengan serbuk berbahaya. Semacam racun yang tidak terdeteksi tapi mematikan. Ia telah merencanakan semuanya.


Racun itu membutuhkan waktu tiga minggu hingga satu bulan agar bekerja secara efektif.


Siapapun yang meminumnya hanya akan terlihat sebagai pasien gagal jantung.


Melihat Richard roboh sambil memegang dada kirinya, Jessica berpura-pura panik. Dia tahu ada CCTV yang merekam semuanya.  Jessica segera menghubungi Simon, lalu berteriak," Simon bisakah kamu datang ke sini sekarang? Sepertinya Richard butuh bantuan! Dia sakit!"


teriak Jessica.


Simon pernah mendengar kepanikan serupa,  nada suara yang sama saat Jessica menemukan Robin di dalam apartemennya. Sekarang Simon juga mendengar nada itu lagi, hingga membuat kekhawatirannya membuncah.


Dengan cepat dokter muda itu berlari menuju ke kantor Jessica.


Tak hanya itu, Jessica juga menghubungi Agnes. Dia bilang kalau Richard mungkin terkena serangan jantung. Agnes yang sedang melakukan wawancara dengan calon klien segera melanjutkan mobilnya kembali ke kantor.


Mobil Simon dan Agnes datang hampir bersamaan. Keduanya segera berlari menghampiri Jessica memasang wajah sangat panik, ketakutan serta menangis.


"Aku sudah membangunkannya berkali-kali, tapi Richard tidak juga bangun. Entahlah tiba-tiba dia roboh di depanku," ucap Jessica.


"Tenanglah Jessie, Simon akan membantu Richard."


Jessica mengusap air matanya.


"Kami sedang membicarakan masalah pekerjaan, tiba-tiba Richard mengeluh dadanya sakit.  Lalu ia langsung roboh."


Semua terdiam mendengar kepanikan Jessica.  Simon memberikan bantuan kepada Richard, tetapi sepertinya pria itu sudah meninggal.


Simon akhirnya menghubungi ambulans. Tak lama kemudian ambulans datang. Mereka mengikuti ambulans menuju rumah sakit.


Jessica menangis tersedu-sedu, Agnes terus menenangkannya.  "Tenanglah Jessie, semua ini bukan salahmu."


"Simin, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah benar Richard mempunyai penyakit bawaan?" Agnes bertanya pada Simon yang masih terdiam.


"Sebaiknya kamu tenang dulu Jessie. Kita dengarkan saja penjelasan dokter ahli." Simon terlihat berdiskusi dengan beberapa dokter.


"Ayo Jessie, sekarang kita pulang dulu. Richard sudah pergi."


"Agnes, aku bingung bagaimana caranya kita mengembalikan semua modal Richard, sedangkan perusahaan baru berjalan. Sekarang dia meninggal."


"Sudahlah jangan kamu pikirkan, semua pasti punya solusinya."


Tiga hari kemudian Jessica dan Agnes berada di area pemakaman. Mereka baru usai mengikuti prosesi pemakaman Richard. Jessica berbicara pada Simon tentang kekhawatirannya.


"Simon, tidak mungkin kita mengembalikan modal Richard secepat ini, karena perusahaan baru saja berjalan.


"Simon, bagaimana hasil pemeriksaannya?" Agnes menoleh ke arah Simon.


"Sepertinya memang Richard mengalami gagal jantung, dia terkena serangan jantung mendadak. Jessie, kamu masih ingat apa yang kalian bicarakan  terakhir kali? Mungkin dia mendengar sesuatu yang membuatnya syok." Simon menduga-duga.


"Kami sedang membahas tentang pekerjaan. Ia punya banyak rencana di kepalanya. Memang aku sedikit mendebatnya. Ya Tuhan, apakah itu yang menyebabkan dia mengalami serangan jantung?" tanya Jessica panik.


"Mendebat seperti apa maksudmu?"


"Aku bilang kita kami tidak akan bisa mendapatkan banyak klien dalam waktu dekat. Mungkin sebulan bisa menangani dua perkara saja itu bagus, tapi Richard malah menertawakanku.  Dia bilang kalau hanya dua klien kenapa harus buka kantor sendiri?" Jessica mengusap wajahnya.


"Iya aku tahu Richard orang yang ambisius. Iya kami sempat berdebat kecil, aku bilang tergantung dengan Agnes, karena dia yang berhubungan dengan marketing. Lalu Richard menyombongkan diri bahwa dia bisa membawa sepuluh klien dalam satu bulan. Saat itulah aku bilang itu tidak mungkin, lalu dia roboh."


Simon dan Agnes mendengarkan penuturan Jessica dengan saksama.


"Dengar Jessie, jelas ini bukan salah kamu.  Memang Richard sudah ada riwayat gangguan jantung sebelumnya." Simon berkata supaya Jessica tidak terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Benarkah Simon?" tanya Jessica tidak percaya. Ia menatap ke arah Simon. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


"Sudahlah jangan khawatir sekarang kalian berdua bisa melanjutkan kantor firma hukum itu dengan tenang."


Jessica tersenyum dalam hati.


Kini dendamnya sudah terbayar lunas. Namun itu hanya sementara, pada malam-malam berikutnya Jessica merasa sangat tersiksa dengan ingatan tentang Richard yang sudah sangat gamblang dalam benaknya.


Satu persatu perkataan Richard sekarang sudah bisa ia ingat, bahkan sampai saat Richard meregang nyawa. Hal itu membuatnya sangat terganggu.  Jessica kembali menemui psikiater untuk menjelaskan kondisinya.


"Akhir-akhir ini saya kembali tidak bisa tidur.  Entahlah potongan-potongan masa lalu itu kembali hadir.  Tapi kali ini dalam versi komplit saya sudah tahu pada saat kecil mengalami pelecehan seksual yang cukup serius." Jessica menjelaskan kondisinya.


"Maksud kamu sudah tahu siapa orangnya?"


"Iya, saya ingat siapa pelakunya.


"Lalu apa sikapmu  sekarang?" tanya dokter Stevie.


"Saya sudah memaafkannya," ucap Jessica berbohong.


Dokter Stevie hanya terdiam sambil melihat kertas di hadapannya.


"Jessie, di sini kita melakukan sesi wawancara dan sepakat tidak ada kebohongan. Katakan semuanya kepadaku," perintah dokter Stevie. Dia bisa tahu pasiennya sedang berbohong atau bicara jujur.


"Baiklah saya akan mengatakannya, saya memang benar-benar sudah memaafkannya.  Sekarang dia sudah meninggal," ucap Jessica.


"Ceritakan bagaimana dia meninggal?"


"Saya tidak tahu, tiba-tiba dia roboh. Menurut dokter Simon, dia terkena serangan jantung.


"Sejak kapan kamu tahu dia pelakunya?"


"Akhir-akhir ini saya menyadarinya. Saya menyesal tidak sempat bertanya banyak hal padanya. Kenapa dia melakukan itu."


"Jessie, apakah benar kamu sudah bisa memaafkannya?" tanya dokter Stevie lagi. Dia merasa ada yang janggal.


"Saya berusaha tapi potongan ingatan Itu mengganggu saya terus. Saya tidak tahu sampai kapan ini berakhir. Akhir-akhir ini saya tidak bisa tidur."


"Apa yang kamu rasakan sekarang?"


"Cemas, gelisah, takut, entahlah saya merasa cemas dan selalu ketakutan," jawab Jessica berterus terang.


"Bukankah dia sudah meninggal, seharusnya itu membuatmu tenang. Ada yang kamu sembunyikan dariku, Jessie?"