
Lyla tertegun mendengar pertanyaan Vivian.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Lyla kemudian.
"Aku bisa merasakannya, Tante. Tatapan Simon pada Jessica sangat membuatku iri. Tante tahu 'kan kalau aku sangat mencintai Simon?"
Lyla menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia tahu, akhir-akhir ini Vivian sering meneleponnya. Terkadang gadis itu bahkan berani datang ke rumahnya hanya untuk minum teh bersama Lucky. Lyla tahu Vivian tulus mencintai Simon tapi Simon masih sibuk mengejar cinta Jessica. Sejujurnya Lyla berharap Simon menikah dengan Vivian.
"Vivi, kamu tahu Simon mencintai gadis lain kenapa kamu masih mengejarnya?" tanya Lyla.
"Sebelum melingkarkan cincin di jari istrinya, aku rasa masih ada harapan, bukankah begitu?"
Lyla terharu mendengar jawaban Vivian. Wanita itu senang Vivian mencintai putranya sedalam itu.
"Sebegitu cintanya kamu dengan Simon, tapi dia malah sibuk mengejar cinta lain." Lyla berujar lirih.
"Jessica itu orang yang beruntung dicintai begitu hebat oleh Simon. Aku ingin merasakan sedikit saja perhatian Simon tapi rasanya itu sia-sia," keluh Vivian. Meskipun ia masih ingin berjuang untuk mendapatkan cinta Simon, terkadang ia merasa lelah juga.
"Jangan khawatir, Sayang. Tante akan membantu kamu."
Dua bola mata Vivian berbinar mendengar penuturan Lyla. Selama ini memang dia merasa berjuang sendiri. Sekarang Lyla sekali berada di pihaknya.
Mungkin kini kesempatannya untuk mendapatkan Simon bisa lebih besar.
"Membantu seperti apa, Tante?"
"Tante akan terus menasehati Simon dan memohon padanya untuk menyukaimu."
"Oh tante tidak perlu melakukan itu. Aku akan terus berjuang sampai Simon menoleh kepadaku."
"Baiklah gadis baik, kamu lakukan apa yang kamu inginkan dan Tante juga akan melakukan bagian Tante sendiri."
Vivian tersenyum penuh arti. Ia sangat senang mendapat dukungan dari Lyla sampai ia memeluknya erat.
Gadis itu kemudian memeluk Lyla sambil tersenyum bahagia. Pada saat bersamaan Jessica masuk ke dalam ruangan tempat Lyla dirawat. Ia melihat kehangatan dua perempuan di depannya.
Jessica sedikit tertunduk, ia tidak pernah mendapat pelukan hangat itu dari Lyla. Entah apa salahnya. Jessica sepertinya merasa asing di tengah keluarga Simon, padahal Simon selalu mengatakan sejak kecil mereka bersama-sama. Bahkan kata Simon, Lyla yang mengantarkan mereka ke sekolah dulu. Tapi ingatan itu sekarang musnah.
"Aunty, maaf ya kalau saya harus pulang sekarang ada klien yang sedang menunggu di kantor semoga Aunty cepat sembuh dan segera pulang dari rumah sakit."
Jessica mendekati Lyla, Vivian menggeser duduknya memberi ruang pada Jessica untuk berpamitan.
"Iya, Sayang. Terima kasih juga kamu sudah datang ke sini. Apakah kamu perlu diantarkan Simon?" tanya Lyla.
Jessica menggeleng tapi Simon menganggukkan kepalanya.
"Tidak perlu, biar Simon di sini menjaga Aunty saja. Saya bisa pulang sendiri."
"Bagus, Sayang. Wanita memang harus mandiri," ucap Lyla dengan sengaja menyiratkan supaya Lyla pulang sendiri.
"Mommy tahu kantorku dan kantor Jessica berdekatan, jadi aku akan mengantarnya ke kantor."
"Simon, tidak usah, aku bisa pulang sendiri," ujar Jessica tetap pada pendiriannya.
"Jessie, sudahlah kamu jangan menolak. Mommy, aku pergi dulu ya "
"Simon, masih ada yang ingin mommy bicarakan dengan kamu." Simon memandang ke arah Lyla dan Vivian.
Seperti biasa dia tidak bisa menolak keinginan Lyla. Tapi saat ini ia sedang ingin bersama Jessica.
"Mommy bisa nggak kalau kita bicaranya ditunda nanti malam selepas kerja Simon? Pasti nanti malam Simon ke sini lagi," tutur Simon dengan sopan.
"Jangan Simon, sebaiknya kamu bicara dengan Aunty Lyla sekarang. Aku bisa pulang sendiri kok. Aku tadi juga datang sendiri."
Jessica tersenyum mencoba mengaburkan perasaan kecewanya. Seharusnya ia tidak perlu kecewa. Ia sudah biasa pergi sendirian. Hanya satu hal yang membuatnya sedikit resah adalah kedekatan Lyla dengan Vivian. Tatapan hangat Lyla kepada Vivian membuat hati Jessica seperti tercubit.
"Sama-sama Jessie, aku juga senang bertemu denganmu. kapan-kapan mungkin kita bisa merencanakan pergi liburan bertiga dengan Simon." Vivian menawarkan diri.
"Ide yang bagus, sepertinya bisa kalian wujudkan sesegera mungkin," dukung Lyla.
Lagi-lagi Jessica merasa tidak enak, tapi gadis itu tak punya banyak pilihan selain segera keluar dari rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan Jessica merenungkan semua perkataan Lyla yang menyiratkan tak menyukai kehadirannya di dekat Simon.
"Aku dan Simon hanya berteman kami bahkan berteman sejak kecil tapi sikap Lyla tadi menunjukkan kalau dia tidak menyukai kedekatanku dengan Simon. Apakah aku harus menjauhi Simon? Kehilangan teman kecilku demi menyenangkan hati mamanya?"
Jessica bermonolog. Dia bisa saja tidak memikirkan kata-kata Lyla, tapi tatapan Vivian kepada Simon tadi benar-benar membuat hatinya panas.
Sesampainya di kantor, Agnes sudah menunggunya.
"Bagaimana keadaan mamanya Simon?" tanya Agnes. Jessica hanya menjawab semua bai, lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Apakah sudah kamu dapatkan data-data untuk kita bisa mengamati Martha lebih dekat? tanya Jessica.
"Tentu kita bisa mulai malam ini. Dia sering pergi ke pub yang ada di kota barat." Agnes memang bekerja dengan cekatan.
"Baiklah sempurna aku juga sedang ingin minum," tutur Jessica membuat Agnes mengernyitkan keningnya.
"Sejak kapan Jessica suka minum-minum di bar?" batinnya.
Selama ini dia melihat Jessica hanya minum di ruangannya hingga mabuk. Gadis itu tidak suka keramaian.
Akan tetapi dugaan Agnes itu gugur saat melihat Jessica begitu menikmati bergelas-gelas minuman di pub. Sesekali dia menggoyangkan tubuhnya. mengikuti alunan musik.
"Jessie jangan lupa tujuan awal kita ingin mengikuti Martha, bukan bagian dari pesta," bisik Agnes.
Jessica tidak terlalu mendengar kata-kata Agnes karena hentakan musik yang sangat keras. Gadis itu berteriak," hah? Apa? Apa yang kamu bilang, Agnes? Aku sedang bersenang-senang, tolong jangan ganggu aku!" teriak Jessica sambil terus meliukkan tubuhnya mengikuti irama musik.
Satu jam berlalu Martha juga sudah menghabiskan beberapa botol minuman. Pekerjaan Agnes sekarang semakin berat karena harus mengawasi dua orang. Jessica yang mabuk, Martha juga dalam keadaan mabuk berat.
Ketika Martha keluar dari bar, Agnes menarik tangan Jessica.
"Ini sudah cukup! Jessie, Martha sudah keluar dari sini."
"Aku masih ingin berpesta, Agnes."
Jessica terus meracau," kamu tahu sekarang Simon sedang dekat dengan Vivian?"
Agnes membelalakkan matanya
"Jadi ini tentang Simon," pikirnya.
Dengan sigap Agnes menarik tangan Jessica untuk segera keluar dari bar.
Dia membiarkan Jessica tertidur di mobil sementara ia mengikuti Martha yang sedang memberhentikan sebuah taksi di depan Agnes. Ia mengikuti taksi itu hingga tiba di apartemen.
Sesampainya di apartemen Agnes terus mengikuti Martha yang berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Agnes sudah tahu lantai di mana Martha tinggal.
Gadis itu diam-diam mengikuti hingga ke depan apartemen yang lebih tepat disebut rumah susun.
Tak butuh waktu lama Agnes mengendap-ngendap sebelum akhirnya menemukan satu apartemen tempat tinggal Martha. Ia mendengar Marta berteriak-teriak kepada Katy.
"Mama sudah bilang jangan bikin banyak sampah! Kenapa setiap Mama pulang rumah selalu berantakan? Kamu nggak bisa ya bersih-bersih sendiri? Setidaknya bersihkan bekas makan, cuci piring dan gelasmu sendiri!"
Prang!
Terdengar bunyi piring dibanting. Agnes sudah bisa membayangkan di dalam sana pasti Katy sedang merasa ketakutan.