
Merry merasa sangat sedih karena selama acara baby shower, Jessica selalu menjauh dari dirinya. Bahkan setiap didekati oleh Merry, gadis itu pasti sudah berlari menjauh terlebih dahulu. Ketika Merry ingin mengajak Jessica berfoto bersama pun dia sudah pergi menjauh sebelum Merry berhasil menemuinya.
Wanita itu benar- benar merasa kehilangan sosok Jessica yang biasanya begitu manja dan sayang kepada dirinya. Gadis cilik itu seolah menghilang begitu saja ibarat debu yang tertiup angin. Merry mencari Jessica kemana- mana, tetapi bocah perempuan itu tidak terlihat sama sekali.
Frans yang merasa heran dengan tingkah Merry yang terlihat bingung itu pun pergi menghampiri istrinya dan menanyakan apa yang menyebabkan dia terlihat kacau seperti itu padahal acara masih berlangsung. Merry menjawab semua ini karena Jessica selalu menghindari dirinya setiap kali didekati olehnya.
"Hmm, begitu. Baiklah, nanti aku akan mencoba mencari Jessica dan berbicara dengannya. Siapa tahu dengan begitu aku bisa membuatnya berterus terang." Frans mencoba menenangkan Merry.
Merry mengangguk, dia berharap semoga suaminya berhasil mencari tahu apa penyebab gadis kecilnya itu kini selalu menjauhi dirinya. Sementara itu, di kejauhan tampak seorang gadis cilik sedang mengawasi Merry dan Frans yang tengah berbincang berdua.
Raut wajah gadis itu terlihat begitu sedih. Dia merasa dirinya sudah tidak dipedulikan lagi oleh Merry dan Frans sejak pasangan suami istri itu diberitahu jika Merry tengah mengandung sekitar tujuh bulan yang lalu.
"Mommy, Daddy. Apakah Jessica harus pergi dari sisi Mommy dan Daddy jika adik bayi itu lahir nantinya. Mommy dan Daddy tentu akan lebih menyayangi adik bayi daripada Jessica, karena adik bayi tentu jauh lebih lucu daripada Jessica." Gadis kecil itu bermonolog dengan dirinya sendiri.
Jessica kembali menjauh dari tempat tersebut ketika menyadari bahwa orang yang diamatinya sedari tadi rupanya sudah menyadari keberadaannya dan mulai melangkahkan kakinya ke arah Jessica berdiri sebelumya.
Frans yang sudah sampai di tempat segera mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya untuk mencari keberadaan Jessica yang tadi sempat dilihatnya berdiri di tempatnya saat ini seraya mengawasi dirinya yang tengah berbincang dengan istrinya, Merry
“Jessica, di mana kamu berada, Nak. Kami berdua sangat kehilangan dirimu, Jessica. Pulanglah, karena daddy akan memberimu kesenangan.' Frans berkata lirih pada dirinya sendiri.
Frans bermaksud mencari Jessica kembali, tetapi pembawa acara memanggil namanya untuk mendampingi Merry dalam acara baby shower hingga selesai, mau tidak mau hal tersebut membuat Frans harus mengurungkan niatnya untuk mencari Jessica.
Acara baby shower itu berlangsung dengan sangat meriah dan lancar sesuai dengan yang diharapkan, tanpa seorang pun yang tahu bahwa di pojok halaman ada seorang anak kecil tengah menangis tersedu sendirian hingga acara baby shower itu berakhir, tak seorang pun mendekati dan menemaninya. Lyla dan Lucky lupa untuk memberitahukan keberadaan Jessica pada Frans dan Merry. Mereka pikir Jessica aman saja ditinggal dalam keadaan tertidur dalam ayunan tersebut
Acara telah usai, beberapa orang mulai membersihkan bekas- bekas acara. Merry yang baru saja selesai berganti baju, mendadak teringat pada Jessica, putrinya yang selalu menjauh darinya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Merry berkeliling mencari Jessica. Akan tetapi, gadis cantik itu tidak dapat ditemukan di mana pun.
"Jessica! Jessie! Kamu di mana, Nak!" seru Merry.
Frans yang mendengar seruan Merry, segera menghampiri istrinya dan menanyakan ada apa. Merry mengatakan bahwa Jessica tidak bisa ditemukan di mana pun di dalam rumah. Mendengar hal itu, Frans pun bergegas ikut mencari dimana Jessica saat itu.
"Jessie! Jessie!" Frans dan Merry berseru memanggil nama Jessica. Namun, gadis cilik itu tetap tidak dapat ditemukan dimana pun juga.
Frans dan Merry pun akhirnya memutuskan untuk berpencar dengan harapan bisa lebih cepat menemukan Jessica. Pasangan suami istri ini memeriksa dengan teliti seluruh ruangan di rumah mereka, tetapi hasilnya nihil. Keduanya pun kembali keluar dari dalam rumah dan mengelilingi halaman rumah yang sangat luas itu sambil tetap meneriakkan nama Jessica. Akan tetapi, tidak ada jawaban sama sekali dari gadis cantik itu.
Merry merasa putus asa karena tidak dapat menemukan Jessica sama sekali, wanita itu kemudian menghampiri suaminya, Frans dan menanyakan bagaimana perkembangan pencarian yang dilakukan olehnya. Frans menjawab bahwa dia belum menemukan Jessica sama sekali. Frans melihat istrinya sudah sangat kelelahan ditambah dengan kehamilan yang dibawanya.
"Hai, jangan khawatir akan Jessica, Sayang. Aku sudah memasrahkan pada Lyla tadi," kata Frans pada akhirnya.
Frans menyuruh Merry untuk duduk saja di kursi taman sementara dirinya terus mencari dimana Jessica berada. Merry menuruti perintah sang suami. Dengan hati resah, wanita itu merapal berbagai doa yang dia hapal berharap semoga gadis kecilnya dapat segera ditemukan. Dalam keresahannya, Merry diam- diam menangis. Dia merasa sangat kecewa karena tidak bisa berlaku adil pada Jessica hanya karena pendarahan yang dia alami beberapa bulan yang lalu.
"Hik Hik! Hik Hik!"
Tiba- tiba saja samar- samar terdengar suara tangisan anak kecil di ayuanan rotan yang sedikit tersembunyi karena banyak pohon bunga di sana. Merry menajamkan indera pendengarannya untuk mendengarkan suara yang sepertinya dia kenal.
Merry baru saja hendak beranjak pergi dari tempat tersebut ketika tiba- tiba telinganya kembali menangkap suara tangis samar- samar itu. Bulu kuduk Merry seketika itu juga merinding karena takut, tetapi rasa penasaran mengalahkan ketakutan yang dia rasakan. Merry kembali mencari ke tempat itu dan ...
"Jessie! Jessie! Kenapa kamu ada di situ, Sayang? Kemari Jessie. Jangan di situ, bahaya! Kalau kamu nanti di gigit binatang bagaimana?!" Merry memanggil Jessica yang masih bergeming.
Karena merasa tidak berhasil memanggil Jessica, Merry pun berteriak memanggil Frans, suaminya yang segera berlari karena mendengar teriakan panik istrinya, Merry.
"Ada apa, Sayang?! Kenapa kamu berteriak- teriak seperti itu?! Membuatku panik saja!" cecar Frans.
"Lihat itu! Siapa di sana! Jessie di sana!" jerit Merry seraya menunjuk ke arah Jessica yang bersandar di tembok seraya memejamkan matanya.
"Jessica takut, takut jadi sembunyi di sini," kata Jessica lirih.
"Jessie!" pekik Frans. Dengan cekatan Frans memindah- mindahkan beberapa pot bunga mulai dari yang kecil hingga yang besar agar bisa masuk dan mengeluarkan Jessica dari sana.
Setelah jalan masuk terbuka, Frans dan Merry pun merangsek memeluk Jessica yang masih memejamkan matanya dan menangis. "Mommy, Daddy! Jangan tinggalkan Jessica! Jangan lupakan Jessica walaupun sudah ada adik bayi! Mommy, Daddy!"
Merry dan Frans terkesiap mendengar perkataan Jessica. Mereka berdua memeluk Jessica yang rupanya mulai demam. Frans menggendong Jessica hingga masuk ke dalam kamarnya. Merry gegas mengganti pakaian dan mengompres badan Jessica, beruntung demam anak itu segera hilang dan begitu sadar Merry pun segera berkata bahwa bagaimanapun juga Jessica tetaplah anak sulung mereka dan tidak akan berubah hingga kapan pun dan apa pun yang terjadi.
Saat Merry sudah tertidur, Frans masuk ke dalam kemar Jessica. Ia menyalakan lampu.
“Sayang kamu sudah tidur?”
Jessica baru saja terbangun saat mendengar pintu kamarnya dibuka.
“Daddy akan memberikan kamu ponsel, tapi jangan sampai kamu bilang mommy, oke?”
Bola mata itu berpendar kegirangan.
“Daddy serius membolehkan aku main game lagi?” tanyanya senang.
“Iya, Sayang. Rasanya daddy tak tega melihatmu bersedih. Tetapi ada syaratnya, kamu harus main game itu bersama daddy. Kita akan melihat video reward-nya bersama-sama, lalu di situlah daddy akan menjelaskan semuanya, bagaimana?”
Jessica sudah diberitahu Simon bahwa game itu berbahaya dan harus dibawah pengawasan orang tua, maka Jessica berpikir jika sekarang Frans sudah mengajaknya bermain bersama itu akan aman baginya.
Malam-malamnya gelisah karena ia terus kepikiran video itu, maka ia pun segera mengangguk tanda setuju.
“Ini sudah daddy setting game-nya. Kita akan menonton bersama. Ingat Jessie, kita harus merahasiakan ini dari mommy selamanya, deal?” Frans mengacungkan jari telunjuknya.
“Deal,” ucap Jessica sembari mengaitkan jari telunjuknya ke jari Frans.
Malam itu Jessica mendapat pelajaran lagi bahwa selalu ada rahasia kecil yang harus disimpannya. Saat daddy kemudian meraba tubuhnya dan menyuruhnya menirukan adegan di dalam video, gadis kecil itu hanya bisa mengangguk pasrah.