
Tidak ada yang bisa menerima kematian bayi cantik mungil dan lucu itu, bahkan Frans sekalipun. Laki-laki itu terus menangis menyesali diri kenapa ia begitu abai dengan kesehatan mental Merry yang mengakibatkan bayi kecil mereka meninggal.
“Selamat jalan Moana kecil, daddy akan menyayangimu selalu.”
Frans meninggalkan area pemakaman. Lucky menemaninya. Lyla berjalan di belakang mereka berdua.
“Ini tidak akan terjadi kalau aku lebih peduli pada Merry,” sesalnya.
“Sudahlah, ini sudah terjadi. Yang harus kita pikirkan sekarang bagaimana kondisi mental Merry selanjutnya. Dia bahkan masih menganggap Moana masih hidup,” tutur Lucky resah.
Saat mereka berangkat ke pemakaman Merry sedang menggendong boneka, ia berpikir itu Moana bayi kecil mereka.
“Secepatnya kamu harus membawa Merry ke psikiater, karena kondisinya sudah semakin parah, Frans.” Lucky memberi saran. Frans menganggukkan kepalanya. Kini ia tak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Merry.
Saat ia pulang Frans mendapati Merry sedang tidur. Ada botol obat tidur yang tergeletak di atas meja.
Tiba-tiba ia teringat Jessica. Sejak keramaian meninggalnya Moana, ia sedikit mengabaikan Jessica. Frans segera ke atas menuju kamar Jessica.
“Hai, Sayang, kenapa kamu melamun?” tanya Frans saat melihat Jessica sedang duduk di dekat jendela kamarnya dengan mata menerawang jauh.
“Kasihan Mommy, aku tak tahu bagaimana membuatnya sembuh seperti dulu.” Jesica menyembunyikan wajahnya di kedua paha yang terangkat. Gadis kecil itu duduk di pinggir kasur dengan kedua kaki bertumpu di atas kasur.
“Mommy akan baik-baik saja, Daddy yang akan membantunya sembuh dan mengajaknya ke dokter.”
“Mommy tidak mau dokter. Kenapa Daddy selalu memaksa mommy ke dokter?”
“Karena hanya itu yang bisa daddy lakukan untuk menyembuhkan mommy.” Frans duduk di hadapan putrinya.
“Daddy, apakah daddy akan marah kalau aku katakan sesuatu?” selidik Jessica.
“Mengatakan apa, Sayang?” Frans mulai tidak tenang. Ada rahasia besarnya yang disimpan Jessica, jangan sampai anak ini membocorkannya.
“Mommy melihat ponselku.”
Frans terperanjat mendengarnya. Dia selama ini sudah sering bilang agar Jessica berhati-hati menyimpan ponselnya.
“Bukankah Daddy sudah bilang kamu harus menyembunyikannya? Lalu mommy bilang apa?” Wajah Frans makin terlihat panik. Jessica mengamati perubahan wajah itu.
“Mommy bilang aku harus mengembalikan ponsel itu kepada Julie.”
“Oh gadis pintar, kamu bilang ponsel itu milik Julie?” Jessica mengangguk. Kini Frans bisa bernapas lega. Putrinya ini sangat cerdik.
“Daddy sangat menyayangimu, anak cantik. Sekarang mau bermain game sama daddy?”
Lagi-lagi Jesica menganggukkan kepalanya. Dia senang akhirnya daddy-nya kembali. Mereka main game lalu melihat video reward bersama-sama. Frans kembali memeluk putrinya itu hingga Jessica pun menuruti perkataannya.
Keesokan harinya, Merry terbangun dan mendapati Frans di sisinya.
“Sayang, apakah Moana sudah bangun?” tanya Merry sambil berbisik kepada Frans.
Frans membuka matanya. Sampai sekarang Merry tetap menganggap boneka yang ia letakkan di dalam box bayi itu adalah Moana kecilnya.
“Sayang, hari ini kita harus ke dokter, kalau tidak kau bisa menularkan penyakit kepada Moana. Lihatlah obat di atas meja itu, kau meminumnya secara rutin bukan?”
Merry mengangguk. Dia selalu minum obat itu dan merasa baik-baik saja dengan dirinya.
Akhirnya Merry setuju, ia pun pergi ke psikiater ditemani Frans. Seorang suami harus siap antar ke mana pun istrinya pergi. Frans pun mengambil cuti demi mengantar sang istri.
Di dalam ruangan psikiater, Frans mendengarkan apa yang dibicarakan Merry dan psikiater. Frans sudah memberitahu kepada psikiater tentang apa yang terjadi.
“Bagaimana perasaan Nyonya selama ini?” tanya psikiater.
“Saya mengalami suasana hati yang bisa berubah dengan cepat dari senang menjadi sedih. Kadang saya tidak mau makan, bahkan untuk mengurus diri sendiri pun malas. Saya juga mudah tersinggung, kewalahan, dan cemas. Serta sulit tidur.” Merry menjawab apa adanya yang dialami setelah melahirkan.
“Kurang lebih selama dua minggu saya mengalami hal seperti itu,” ucap Merry.
“Berarti Nyonya Merry memang mengalami baby blues syndrome. Yaitu kondisi yang banyak terjadi pada ibu yang baru melahirkan. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Sebab, baby blues syndrome yang tidak ditangani bisa berpotensi menyebabkan depresi pasca melahirkan.” Psikiater menjelaskan apa itu tentang baby blues.
Merry dan Frans pun mengangguk tanda mengerti.
“Jika istri mengalami baby blues, maka suami berperan penting dalam kesembuhan sang istri.” Psikiater tersebut menatap Frans sambil tersenyum.
“Baby blues terjadi karena apa, Dok?” tanya Frans.
“Baby blues bisa terjadi karena biasanya ada perubahan hormon, kelelahan juga bisa. Terus kesulitan beradaptasi juga bisa.” Psikiater tersebut menjelaskan panjang lebar.
“Apakah Nyonya Merry mengurus bayinya sendirian?” tanya Psikiater tersebut.
“Tidak, Bu, dibantu baby sister dan saya,” sahut Frans. “Apa takut dianggap ibu yang pilih kasih bisa menyebabkan baby blues?” tanya Frans lagi.
“Iya, bisa. Karena mengalami kecemasan dan stres itu tadi. Apa Nyonya Merry seperti itu?”
“Iya, Dok, saya takut anak sulung saya merasa terkucilkan dan merasa tidak dianggap.” Merry menjawab dengan lirih.
Kemudian, Merry menanyakan bagaimana cara mengatasi baby blues tersebut. Kemudian, sang psikiater pun menjelaskan bagaimana caranya mengatasi baby blues itu. Psikiater mengatakan kalau sebaiknya Merry tidak membebani dirinya sendiri. Kemudian, diusahakan untuk tidur yang cukup dan dianjurkan tidak stres serta tidak berpikir yang macam-macam.
“Karena baby blues ini berbahaya sekali jika telat dalam penanganan, sebaiknya Nyonya Merry minum obat yang saya resepkan,” sahut Psikiater.
“Iya, semoga kondisi istri saya segera membaik.” Frans yang menjawab, sedangkan Merry hanya mendengarkan. Terkadang ia merasa kesadarannya kembali, tapi tak lama kemudian ia seperti orang kebingungan.
“Nyonya Merry, sebaiknya Anda banyak beristirahat dan tidak usah berpikir yang aneh-aneh setelah ini,” ucap Psikiater.
“Apa istri saya perlu dirawat di sini, Dok?” tanya Frans.
“Untuk saat ini tidak perlu, cukup dirawat jalan di rumah dengan rutin meminum obat.” Psikiater tersebut tersenyum menatap Frans dan Merry. “Nanti baby blues sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu, berbeda jika sudah sangat parah memang harus ada penanganan khusus,” lanjut Psikiater.
Frans cukup lega. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya Merry sudah bisa menerima bahwa Moana telah meninggal. Saat ini mereka sepakat merahasiakannya. Baik Frans, Merry maupun Lyla tidak ingin memperpanjang masalah ini. Bisa-bisa dokter akan menyarankan Merry untuk dirawat di rumah sakit jiwa. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Frans meremang.
Merry menuruti petunjuk dokter, ia meminum obat dari psikiater itu secara teratur.
Suatu pagi Frans dikejutkan teriakan Merry yang sangat keras.
“Siapa yang menukar bayiku dengan boneka? Di mana Moana? Di mana bayiku?” teriak Merry histeris. Perempuan itu sangat marah mendapati box bayinya ternyata berisi sebuah boneka.
Jessica yang mendengar teriakan mommy-nya segera keluar kamar lalu berlari menuju ke bawah.
“Kembalikan anakku!” teriakan Merry itu membuat Jessica bergegas hingga tak sengaja kakinya tersandung lalu tubuhnya jatuh bergulingan di tangga.