The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Mulai Cemburu



Melihat wajah Jessica yang tiba-tiba berubah murung, Merry menyapa putrinya.


 “Kenapa Jessica, apa kamu tidak suka punya adik?” tanya Merry khawatir.


Jessica menggeleng pelan. “Bukan begitu, Mom. Aku hanya bingung saja harus bagaimana menjaga adikku nanti.”


Merry dan Frans tertawa.


“Dia masih di perut, Jessica. Jadi kamu tidak perlu memikirkan itu sekarang.”


Frans sempat ingin membatalkan keberangkatannya ke Bali karena ingin menemani Merry. Namun Merry tidak mengizinkannya.


“Kamu tetap harus pergi, Frans.”


“Sayang, tapi aku ingin di sini saja. Bersamamu dan calon anak kita.”


“Aku tidak ke mana-mana. Aku akan tetap di sini sampai kamu pulang nanti.”


“Astaga … aku benar-benar tidak ingin pergi.”


“Frans …”


“Iya, iya, aku akan pergi.”


“Kalau begitu bersiap-siaplah.”


“Lalu kamu bagaimana?”


“Ada Jessica yang akan menemaniku di sini.”


“Tapi Jessica masih anak-anak.”


“Aku sudah besar, Daddy. Aku akan menjadi seorang kakak sebentar lagi,” protes Jessica yang merasa dianggap remeh oleh daddy nya.


Frans tertawa sambil membawa Jessica ke dalam pelukannya.


“Maafkan Daddy, Princess. Daddy lupa kalau sekarang kamu sudah besar. Habisnya kamu ini terlihat sangat manis,” ucap Frans yang kemudian mencubit pipi Jessica gemas.


“Au, sakit, Dad.”


Jessica berusaha menyingkirkan tangan Frans dari pipinya.


“Sudah, sebaiknya Daddy pergi saja,” usir Jessica.


Frans pura-pura cemberut.


“Jadi, kamu tidak merindukan Daddy? Kenapa kamu malah mengusir Daddy sama seperti mommy mu itu? Daddy jadi sedih sekarang karena kamu sudah tidak sayang pada Daddy lagi.”


Jessica menghembuskan napas, merasa bersalah dengan daddy nya.


“Bukan begitu, Dad,” kata Jessica dengan wajah bingung.


“Tapi jadwal penerbangan Daddy tinggal sebentar lagi. Nanti Daddy bisa terlambat jika tidak buru-buru pergi sekarang juga,” ingat Jessica.


Frans kembali tertawa.


“Oke, Princess. Daddy akan berangkat sekarang.”


Frans pun mengecup kening Jessica lalu beralih mengecup pipi Merry.


“Jaga dirimu dan anak-anak baik-baik,” pesan Frans.


“Kamu juga. Jaga diri baik-baik.”


Kemudian Frans pun pergi menuju bandara meski dengan berat hati. Dia merasa berat meninggalkan Merry, apa lagi setelah mendengar kalau istrinya itu tengah mengandung anak pertama mereka, terlebih kondisi Merry yang masih terlihat kurang sehat.


Namun, bagaimana pun Frans tetap harus pergi. Dia pun melakukan penerbangan menuju Bali. Ketika mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Frans langsung menghubungi istrinya itu melalui video call. Menyampaikan kalau dia sudah tiba dan menanyakan kabar Merry.


“Aku baik-baik saja, Frans. Kita bahkan baru bertemu beberapa jam lalu,” jawab Merry yang tampak kesal.


“Daddy …. Sudah, Daddy tenang saja. Ada aku di sini yang menjaga Mommy.” Itu suara Jessica.


Saat Merry mengarahkan kamera ke arah Jessica, tampak Jessica sedang memijat kaki Merry.


“Wah, baik sekali Princess. Nanti saat Daddy di rumah, bisakah kamu memijat Daddy juga?”


“No, Dad! Kalau Daddy yang hamil, aku baru akan memijat Daddy,” jawab Jessica tanpa mengalihkan pandangannya ke layar handphone.


“Kamu perhitungan sekali dengan Daddy.”


“Tidak boleh protes, Daddy ….”


Setelah mengetahui kalau dia akan menjadi seorang kakak, Jessica memang mulai membiasakan diri untuk bersikap lebih dewasa. Dia bahkan sempat berpikir kalau akan meniru Simon. Akan tetapi Jessica jadi takut jika adiknya lahir nanti dia tak mendapat kasih sayang dari mommy dan daddy nya lagi.


Jessica mendengar cerita dari temannya kalau mempunyai adik itu sangat menyebalkan karena mommy akan lebih fokus pada adik kecil yang baru lahir.


Saat malamnya, Jessica meminta untuk tidur di kamar Merry. Dia terus memeluk Merry dan mengusap perut mommy nya lembut. Dia ingin tahu apakah jenis kelamin bayi yang ada di dalam perut mommy nya.


“Dia ini laki-laki atau perempuan?”


“Belum tahu, Honey. Dia masih terlalu kecil, jadi kita belum tahu apa jenis kelaminnya.”


“Apa dia bisa mendengar jika aku ajak dia bicara?”


“Tentu. Dia bisa mendengar suaramu.”


“Apa dia juga bisa menjawab pertanyaanku?”


Merry terkekeh.


“Tidak, Honey. Kalau pun dia bisa menjawabnya, kamu tidak akan bisa mendengar suaranya. Karena suaranya sangat sangat kecil.”


“Lalu kapan dia lahir?”


“Mungkin sembilan bulan lagi.”


“Kenapa lama sekali? Aku ingin buru-buru bisa melihatnya, Mom.” Jessica ingin segera tahu makhluk menyebalkan yang akan mencuri perhatian mommy dan daddy nya.


“Kamu yang sabar ya, Honey.” Merry mengelus rambut Jessica lembut.


Jessica terus mengajukan beragam pertanyaan kepada Merry sampai gadis itu tertidur.


Merry tersenyum melihat putrinya itu. Dia sempat khawatir jika Jessica tidak siap memiliki seorang adik. Tapi tidak seperti bayangannya, Jessica tampaknya suka sekali karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakak.


Gadis kecilnya itu bilang dia akan memamerkan tentang hal ini kepada Simon nanti di sekolah. Dia akan bilang kalau dia juga sudah dewasa seperti Simon karena akan menjadi seorang kakak seperti kembarannya itu.


Merry yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Merasa bersyukur karena Jessica tumbuh menjadi anak yang pengertian dan penyayang. Merry tidak tahu jika saat itu Jessica hanya memilih aman dengan bersikap seolah rela menerima calon adiknya. Padahal jau di lubuk hati anak kecil itu sedang mengumpulkan cara untuk menyingkirkan adiknya.


Merry pun tidur malam ini sambil memeluk Jessica dengan hati bangga.


Paginya, ketika terbangun tidur rasa mual kembali menyerang Merry. Wanita itu langsung ke kamar mandi. Sementara Jessica yang mendengar mommy nya muntah-muntah langsung beranjak dari ranjang untuk menyusul wanita itu. Setelah Merry keluar dari kamar mandi, Jessica membantu mengurut tengkuk mommy nya seperti yang kemarin daddy nya ajarkan.


“Mommy sebaiknya istirahat saja. Aku akan pergi ke sekolah sendiri hari ini,” kata Jessica.


Jessica sebenarnya ingin izin masuk sekolah, tapi mommy nya itu pasti tidak akan mengizinkannya. Jadi agar tidak membuat mommy nya khawatir atau terlalu banyak beraktivitas dengan kondisi tubuh yang lemah ini, Jessica memutuskan untuk pergi sendiri saja tanpa diantar oleh Merry.


“Kalau begitu Mommy hubungi Mommy Lyla dulu agar bisa mengantarmu ke sekolah,” kata Merry.


Jessica mengangguk. Kemudian Merry menghubungi Lyla untuk meminta tolong kepada wanita itu untuk menjemput Jessica dan mengantarnya ke sekolah.


“Apa kamu bisa datang ke sini untuk menjemput Jessica? Frans sedang di Bali dan aku belum bisa mengantar Jessica ke sekolah.”


“Oke, aku akan ke sana. Nanti aku akan menghubungimu jika aku dan Simon sudah dalam perjalanan.”


Tak lama kemudian datang pesan dari Lyla yang mengatakan kalau dia sudah dalam perjalanan menuju rumah Merry. Merry pun menyuruh Jessica untuk cepat menghabiskan sarapannya karena sebentar lagi Lyla dan Simon akan datang.


“Apa Mommy baik-baik saja ditinggal sendiri di rumah?” tanya Jessica.


“Nanti Grandma akan datang, Honey. Jadi ada yang membantu menjaga Mommy selama kamu sekolah.”


“Baiklah kalau begitu.”


Kemudian Lyla dan Simon pun datang. Lyla sengaja turun dari mobilnya karena sekalian ingin menjenguk Merry. Kemarin dia belum sempat menjenguk wanita itu.


“Bagaimana kondisimu sekarang? Apa masih kurang enak badan?”


“Hanya sering mual saja. Tapi aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatianmu, Lyla.”


“Sama-sama.”


Jessica menarik-narik pelan tangan Lyla untuk meminta perhatian dari wanita itu. Dan setelah Lyla menatapnya, Jessica lalu menyampaikan pengumuman kepada Lyla dan Simon.


“Mommy sedang hamil sekarang, dan katanya sebentar lagi aku akan jadi kakak,” pamer Jessica berwajah datar. Tak ada gurat bahagia di wajah mungilnya.


Lyla yang terkejut mendengar kabar itu langsung menatap Merry.


“Benarkah?”


“Iya.”


Lyla lalu memeluk Merry dan mengucapkan selamat. Sementara Simon hanya diam saja melihat ekspresi Jessica yang biasa saja, bahkan terlihat tidak suka.