
Jessica kini lebih tenang karena saat di rumah malam hari ia bisa bermain ponsel sepuasnya. Tentu saja ia harus menyembunyikannya dari Merry. Memang ia senang karena bebas bermain kapanpun, tapi tanpa ia sadari hal itu membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Jessica kini tak lagi suka berteman, ia lebih sering menyendiri. DI sekolah pun nilainya mulai menurun, meskipun tidak drastis.
Saat malam tiba, Jessica juga ditemani Frans yang secara sembunyi-sembunyi mendatangi kamarnya. Mereka punya rahasia yang akan terus disimpan keduanya. Jessica memang tak bisa menolak, karena ia juga menikmatinya. Sejauh ini semua berjalan baik-baik saja setidaknya begitulah kesimpulan Frans.
Karena istrinya sedang hamil dan tak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya, lelaki itu tak bisa berpikir waras lagi. Menjadikan Jessica sebagai alat pemuas nafsunya memberikan kesenangan tersendiri baginya. Frans sellau memberikan hadiah-hadiah kecil saat pulang kerja. Tentu saja Merry tidak curiga, ia justru senang karena sekarang Jessica sudah kembali ceria dan lebih penurut.
Setelah beberapa bulan menjalani kehamilan tanpa keluhan, Merry merasakan perutnya kembali sakit, rasa sakitnya sama seperti rasa sakit yang dia rasakan saat pendarahan beberapa bulan yang lalu. Namun, bedanya kali ini tidak ada bercak darah berwarna kecokelatan seperti dahulu, sehingga dia menanggapi rasa sakit itu dengan biasa saja.
Merry masih beraktifitas seperti biasanya, meski pun beberapa kali harus berhenti karena merasakan kontraksi di perutnya. Wanita itu berpikir jika kontraksi yang sering dia rasakan adalah kontraksi palsu seperti sebelum- sebelumnya. Dia bahkan masih sempat mengantar dan menjemput Jessica ke sekolah meskipun harus menahan perut yang kadang- kadang mengalami kontraksi. Merry juga masih menyempatkan diri berbelanja dan memasak untuk makan siang bersama dengan Jessica nantinya.
Usai memasak, Merry membersihkan rumah dan pada saat itulah kontraksi yang dia rasakan semakin menguat dan dekat intervalnya. Namun, Merry masih berusaha untuk mengabaikannya. Baru setelah beberapa jam kemudian dia merasa tidak sanggup lagi menahan semuanya, keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi dahi dan punggungnya. Kontraksi yang dirasakannya pun semakin menguat, hingga dia tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya. Dengan wajah memerah, Merry bergegas menelepon Frans.
"Frans bisakah kamu pulang sekarang? Sepertinya ini saatnya sudah tiba. Aku merasakan kontraksi terus-menerus,” kata Merry.
"Tentu sayang, aku pulang sekarang, Tunggu aku segera datang.” Suara Frans terdengar panik mendengar suara Merry di telepon.
"Perutku ... rasanya sakit sekali. Cepatlah Frans, aku sudah tak tahan lagi,” jerit Merry.
Frans terkejut mendengar jeritan Merry, dengan tergesa dia pun mematikan laptopnya dan membereskan meja kerjanya, dan segera meninggalkan kantor sesegera mungkin setelah meninggalkan pesan pada sekretarisnya. Frans mengemudikan mobilnya dengan kecepatantinggi karena khawatir dengan keselamatan Merry.
Sementara itu, di rumah Merry sedang mempraktekkan olah pernafasan dari olah raga ibu hamil yang dia ikuti selama proses kehamilannya, ditemani dengan Jessica yang terus menggenggam tangan Merry sambil sesekali menyeka keringat di dahi mommy-nya tersebut.
Akhirnya setelah beberapa lama menanti dengan segenap rasa, Frans yang tiba di rumah dengan perasaan kacau pun langsung berteriak. "Merry! Sayang! Kamu di mana? Jessica! Merry!"
Merry mendengar teriakan Frans yang memanggil namanya. Sebenarnya dia sangat ingin menjawab teriakan tersebut, tetapi suaranya tidak bisa keluar karena kontraksi yang dirasakannya sudah semakin menguat dan sering. Beberapa kali wajahnya terlihat meringis kesakitan.
Jessica yang melihat hal itu segera berteriak memanggil, "Daddy!Cepat kemari, tolong Mommy!"
Mendengar suara teriakan tersebut, Frans serta merta berlari mencari arah suara dan mendapati Merry serta Jessica sedang berada di kamar tamu yang berada di lantai dasar tidak seperti kamar utama dan kamar anak, yang semuanya berada di lantai dua.
Frans mendapati Jessica tengah memegangi tangan Merry serta mengusap- usap perut besar mommy, sementara Merry berulang kali menghela napas panjang untuk mengenyahkan pikirannya tentang rasa sakit selama kontraksi berlangsung.
Tidak menunggu waktu lama, Frans segera menggendong istrinya, Merry dan memasukkannya ke dalam mobil di kursi penumpang yang berada di depan, sementar Jessica segera membuka pintu penumpang di bagian belakang dan merangsek masuk ke dalam mobil.
"Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Frans yang memilih untuk segera berangkat.
Frans seketika menghentikan laju mobilnya dan mengalihkan perhatiannya pada Jessica dan yang masih menatapnya bingung. "Kenapa, Jessie? Ada apa? Memangnya kenapa kalau tidak berangkat sekarang? Kasihan Mommy jika kita berada di sini terlalu lama."
"Daddy pintunya belum dikunci.”
Jessica menunjuk ke arah pintu depan rumah yamg masih terbuka lebar.
Frans pun memalingkan wajahnya ke arah pintu depan dan langsung menepuk dahinya ketika menyadari belum mengunci pintu.
"Ah iya, kamu benar. Daddy lupa! Sebentar, ya, Mommy, Daddy tutup pintu dulu," kata Frans langsung turun dari mobil menuju ke rumah.
Merry yang saat itu tengah mendapatkan kontraksi yang entah keberapa kalinya merasa lucu dengan kejadian tersebut sehingga dia tertawa terpingkal- pingkal sembari meringiskan bibirnya menahan rasa sakit.
Sementara itu, di depan pintu depan. Usai mengunci pintu, Frans gegas berlari kembali mendatangi istri dan putrinya yang setia menanti di dalam mobil. Frans merasa khawatir dengan keadaan Merry yang sudah terlihat begitu kepayahan merasakan kontraksi pada kandungannya.
Namun, alangkah terkejutnya Frans ketika ternyata dia mendapati Merry, istrinya dan Jessica, putrinya tengah tertawa terpingkal- pingkal. Karena tidak tahu apa yang kedua wanita berbeda usia itu tertawakan maka Frans pun bertanya dengan wajah kebingungan.
"Ada apa? Kenapa kalian berdua tertawa seperti itu? Sepertinya kalian berdua sedang senang. Apa ada yang sesuatu hal yang lucu?” tanya Frans penasaran.
Frans menatap Merry dan Jessica silih berganti, tetapi kedua wanita itu masih terus tertawa terpingkal- pingkal dan tidak menjawab pertanyaan Frans. Mereka berdua malah semakin tertawa melihat ekspresi wajah Frans. Namun, kejadian itu tidak berlangsung lama karena Merry kembali mendapatkan kontraksi yang menyebabkan dia kembali meringis dan membuat Frans bergegas melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Frans segera mencari kursi roda dan mendorong istrinya ke ruangan bersalin. Di dalam ruang bersalin tersebut ada beberapa orang wanita yang juga dalam posisi hendak melahirkan. Oleh suster jaga, Merry ditempatkan di ranjang pertama yang terdekat dengan pintu keluar dan masuk, sehingga dia bisa melihat orang keluar masuk dengan jelas.
Di ruang bersalin tersebut, suster jaga menyuruh Frans untuk mengurus administrasi sebagai langkah awal prosedur penanganan proses bersalin Merry. Demi kenyamanan istrinya, Frans bersama dengan Jessica pun bergegas menuju ruang administrasi untuk mengurus semua yang diperlukan. Sementara itu, di ruang bersalin para suster jaga tengah mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan saat proses persalinan nanti.
“Daddy apakah orang melahirkan sesakit itu? Aku terus mendengar mommy berteriak kesakitan.”
“Iya memang begitu, semua wanita yang melahirkan akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Tapi semua itu akan terbayar setelah bayinya lahir.”
“Kalau begitu aku tidak akan punya anak,” cetus Jesscia.
Gadis kecil itu tidak berani melihat darah, dan sekarang saat mendengar Merry meraung-raung kesakitan di dalam mobil, Jessica harus meremas ujung bajunya. Jessica selalu menyerap apa yang dilihat dan didengar, sekarang keputusannya sudah bulat, ia tak akan pernah mau punya anak jika tumbuh dewasa nanti. Gadis itu tak menyadari dengan alasan yang sama ibu kandungnya meninggalkannya.