
Frans menatap dokter Shen, dia ingin mendapatkan kejelasan atas kondisi Merry.
"Begini, Pak Frans. Persis dengan apa yang sudah pernah saya sampaikan sebelumnya bahwa kehamilan Ibu Merry kali ini sangat lemah. Kita beruntung masih memiliki waktu untuk berusaha menyelamatkan janin tersebut. Yang ingin saya tanyakan apakah Ibu Merry sering beraktifitas berat sehingga tidak bisa beristihat maksimal seperti yang saya sarankan sebelumnya pada Bapak dan Ibu?" tanya dokter Shen.
"Tidak, Dok. Sejak kontrol pertama dahulu dan Dokter mendiagnosa jika kandungan istri saya lemah, saya tidak pernah lagi mengijinkan istri saya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga apa pun, bahkan untuk maaf melakukan hubungan suami istri pun saya tidak pernah lagi meminta pada istri saya, karena saya takut terjadi hal- hal seperti ini. Jadi, selama ini bisa dipastikan jika istri saya hanya berbaring di tempat tidur saja," papar Frans.
Dokter Sinta menggangguk- anggukkan kepalanya mendengar penjelasan suami pasien yang sudah menjadi langganannya sejak awal kehamilannya. Dokter Sinta tersenyum ramah pada Frans.
"Hmm, jika mendengar cerita Pak Frans kemungkinan di rumah Ibu Merry mungkin masih kurang total dalam melakukan bedrest. Oleh karena itu, saya menyarankan agar Ibu dirawat secara intensif saja di rumah sakit, supaya lebih terjaga dan terawasi sehingga bisa mengurangi resiko, jika kondisinya terus memburuk kami terpaksa melakukan operasi cesar untuk mengeluarkan janinnya," kata dokter Shen.
“Apakah ini tidak berbahaya?”
“Usia kandungannya memang baru tujuh bulan, tapi sudah bisa dilahirkan jika kondisinya tak memungkinkan untuk menunggu di dalam rahim.”
Tanpa banyak pikir, Frans pun menyetujui saran dokter Shen dan segera setelah Frans mengurus administrasi rawat inap untuk Merry, wanita itu segera dipindahkan ke kamar rawat.
Akibat pendarahan tersebut Merry harus dirawat lebih intensif. Wanita itu terlihat sendu dalam sorot matanya, selama ini dia selalu terlihat ceria. Merry harus berjuang demi anak yang dikandungnya agar bisa hidup.
"Sayang, kamu pasti kuat. Bantu Mommy, ya." gumam Merry sambil mengusap perutnya.
"Bagaimana keadaan janin saya, Sus?" tanya Merry pada suster jaga yang kebetulan sedang meneriksa selang infus yang melekat pada tapak tangannya.
Suster tersebut kemudian menatap wajah Merry dengan hangat dan lembut, dia membacakan hasil pemeriksaannya pada saat itu. Merry tersenyum mendengar semua informasi yang diberikan oleh suster jaga.
"Jadi saya harus benar-benar bedrest, Sus? Apakah tidak boleh jika saya dirawat di rumah saja?" tanya Merry beruntun.
"Jika Ibu dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan dalam segala hal kemungkinan tingkat kesembuhan cepat, tetapi sebaliknya. Jadi semua situasi dan keadaan hanya Ibu yang tahu," jelas Sang Suster.
Merry mengangguk mulai mengerti, suster tersebut akhirnya pamit undur diri karena masih banyak tugas. Dia harus memeriksa keadaan si pasien sebelum dokter masuk keliling.
"Saya permisi dulu, Ibu. Semoga lekas sembuh!" pamit suster.
Merry tersenyum mengantar kepergian sang suster. Lalu entah mengapa netranya ingin terpejam sejenak. Tetapi otaknya melarang untuk itu. Merry masih kepikiran dengan Jessica.
"Bagaimana dengan anak itu jika aku harus dirawat secara intensif seperti ini? Apakah Richard bisa menjaganya?" lirih Merry.
Dalam ruangan itu, hanya ada Merry. Karena ruang rawatnya tersebut temasuk kamar vip. Sengaja Frans memesan kamar itu untuk kenyamanan Merry. Lama kelamaan netra Merry mulai terpejam perlahan, akhirnya wanita itu terlelap.
Semenatara Frans, sesaat sebelum suster jaga keliling untuk memeriksa, lelaki ini keluar ke apotik rumah sakit untuk menebus resep yang sudah dia terima. Dalam perjalanan pulang dari apotik, tiba-tiba terlintas bayangan Jessica yang mencari keberadaan Merry.
"Bagaimana dengan Jessica jika Merry harus dirawat secara intensif, aku harus minta bantuan Aaron!" lirih Frans diakhiri dengan jeritan kecil dari bibir tipisnya sambil menyunggar surai rambut hitamnya.
Akhirnya langkah Frans sampai di depan pintu kamar Merry bertepatan saat suster jaga keluar dari kamar itu. Frans gegas melebarkan langkahnya guna menyusul langkah sang suster. Dengan suara agak ditekan Frans memanggil suster jaga yang hendak melangkah lurus ke depan searah jalannya
"Suster!" panggil lirih Frans.
"Bagaimana keadaan istri saya di dalam, Sus?" tanya Frans dengan nada lirih.
"Bagus, Tuan. Dari segi ketahanan tubuh, Nyonya Merry sangat baik, kesehatan seperti riwayat darah tinggi sepertinya tidak ada, kadar gula pada tubuh Ibu Merry sudah cukup. Namun, untuk gula jangan konsumsi berlebih," papar suster
"Terima kasih, Sus!" balas Frans.
Lelaki itu memegang dan menarik handle pintu dengan mengulas senyum dengan berharap banyak pada Merry. Ketika pintu terbuka, netranya langsung tertuju pada wajah Merry yang sendu dan sedikit pucat. Perlahan Frans melangkah mendekat, diletakkan semua obat yang sudah ditebusnya. Frans masih kepikiran dengan Jessica.
Frans terus memandang wajah Merry yang sedang terlelap dalam mimpi, lelaki itu tersenyum lalu mengulurkan jemarinya untuk memindai wajah Merry dengan penuh kasih. Jari Frans kembali berjalan mengitari hidung Merry, lalu menepuk pelan pipi wanita tersebut.
"Merry, bangunlah!" ucap Frans dengan suara lembut dan rendah.
Mendapat sentuhan hangat nan lembut, Merry terbangun dan membuka matanya dengan pelan. Senyumnya mengembang kala melihat senyum Frans yang ada di depannya. Merry maraih jari Frans yang masih menempel pada pipinya kemudian dibawa dalam pelukannya.
"Bangunlah dulu, Sayang!" ulang Frans lembut.
"Hehe, ini aku sudah terjaga," jawab Merry.
"Sayang, apakah terpikir olehmu bagaimana si Jessica nanti jika kamu tinggal selama masa pemulihan di sini?" tanya Frans dengan nada rendah.
Merry mengernyitkan dahi lalu menepuk ujung kepalanya sendiri. Hal itu dia lakukan karena belum memikirkan apa yang terucap dari bibir suaminya. Merry tersenyum masam, dan Frans sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Merry, istrinya.
"Kamu pasti tidak memikirkan hal itu, 'kan?" tanya Frans.
"Hehe, iya. Bagaimana, apakah kamu punya ide, aku berpikir menitipkannya kepada Lyla?" tanya Merry dengan meraih tapak tangan Frans untuk diciumnya penuh kasih.
"Baiklah, itu ide bagus. Jessica kita titipkan pada Lyla dan Lucky." tanya Frans
"Semoga mereka tidak keberatan, Sayang!" ujar Merry bersemangat.
Akhirnya diperoleh kata sepakat suami istri tersebut bahwa Jessica akan dilimpahkan pengawasannya pada Lyla dan Lucky. Senyum lega terukir pada sepasang suami istri tersebut. Apa yang baru saja mereka rencanakan ternyata semesta menjawabnya langsung. Lyla dan Lucky datang berkunjung disertai dengan Jessica.
"Hai!" sapa Lucky.
"Wah kebetulan sekali kalian datang," balas Frans.
"Memangnya mengapa dengan kedatangan kami? Sepertinya kalian sangat menunggu kehadiran kami," kata Lyla.
Sementara itu Richard dan Jesscia sedang bermain di ruang tengah, tak lama ia mengajak Jessica masuk ke dalam kamar.
“Aku punya permen yang sangat enak, ada juga es krim, tapi maukah kamu bermain sebentar dengan Om?” tanya Richard dengan pandangan penuh nafsu kepada Jessica.