The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Kemarahan Merry



Setelah kelelahan berputar-putar di komplek rumahnya, Jessica pun berhenti. Gadis itu terangah-engah menenangkan dirinya sendiri. Seandainya


Merry pun keluar dari kamar dan bertepatan dengan kedatangan Lyla dan Lucky. Frans juga baru saja selesai mandi.


“Simon tidak merepotkan kamu, kan, Merry?” tanya Lyla.


“Simon tidak merepotkan, kok, justru membantuku jaga adik bayinya.” Merry tersenyum. “Itu sekarang mereka lagi nunggu adiknya yang tidur,” lanjut Merry.


“Syukurlah kalau gitu. Maaf aku tadi tidak langsung ke sini, kebetulan ada kesibukan mendadak tadi, jadi sekalian nunggu Lucky pulang,” ucap Lyla.


“Iya, tidak apa-apa, kok,” sahut Merry.


Kemudian, Frans mengajak Lucky untuk duduk di ruangan tersebut. Sementara, Lyla ingin melihat sang bayi dan kedua anak kembarnya.


“Hati-hati, kalau adik bayinya lagi tidur jangan dipegang-pegang. Nanti bangun terus nangis,” ucap Lyla.


“Aunty Lyla,” ucap Jessica.


“Mommy.” Simon langsung menghambur ke pelukan Lyla.


 


“Nggak nakal, kan, di sini?” tanya Lyla.


“Nggak Mommy, Simon bantu Jessie,” ucap Simon dengan polosnya.


 


Lyla dan Merry pun tertawa kecil mendengar jawaban Simon.


“Aku senang ada mereka di sini.” Merry tersenyum menatap mereka bertiga bergantian. “Tapi ....”


 


“Tapi, kenapa?” tanya Lyla.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba sang bayi menangis. Merry terlihat panik dan langsung mendorong Simon dan Jessica. Lyla yang melihatnya pun kaget. Dia merasa ada yang aneh dengan Merry. Tak lama kemudian, Merry masuk ke dalam kamar.


“Mommy memang seperti itu, Bu. Suka tiba-tiba nangis tanpa sebab. Terus kalau adik bayinya nangis langsung panik.” Jessica pun menceritakan pada Lyla.


Lyla mengangguk paham. Sebab, Lyla juga pernah mengalami hal yang sama saat dulu baru saja melahirkan. Mungkinkah Merry mengalami baby blues? Lyla pun bertekad untuk menggali informasi dari Frans.


Lyla mengajak Jessica dan Simon keluar kamar dan menyuruh mereka pergi ke ruang bermain mereka.


Lyla duduk di samping Lucky. Frans dan Lucky pun heran melihat wajah Lyla yang tak biasa.


“Lyla, kamu kenapa?” tanya Lucky.


“Frans, apa Merry seperti ini sejak melahirkan?” Tanpa menjawab pertanyaan Lucky, Lyla bertanya pada Frans.


“Seperti ini bagaimana maksud kamu?” tanya Frans bingung.


“Suka tiba-tiba panik, apalagi saat bayinya nangis,” sahut Lyla.


“Iya, semenjak melahirkan emosi Merry kurang stabil. Suka tiba-tiba marah-marah tidak jelas. Terus tiba-tiba nangis dan katanya takut kehilangan Jessica, serta takut tidak bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya.” Frans mengatakan apa yang diketahui selama ini.


“Sepertinya Merry terkena baby blues, Frans. Kita harus mengajak Merry konsultasi.” Lyla menatap Frans dengan serius.


“Kenapa harus konsultasi?” tanya Merry tiba-tiba.


Lyla kaget karena kedatangan Merry yang tiba-tiba. Lyla pun tersenyum menatap Merry dan memintanya duduk di dekatnya.


“Semua ini demi kebaikanmu, Merry.” Lyla menggenggam tangan Merry dengan erat.


“Memangnya aku kenapa?” tanya Merry tak mengerti.


“Semenjak melahirkan emosi kamu kurang stabil, kan?” tanya Lyla.


Lucky dan Frans pun hanya mendengarkan ucapan Lyla.


“Iya, aku sering menangis sendiri. Tiba-tiba aku sedih tanpa sebab, apalagi kalau lihat bayiku menangis. Terus aku kadang juga takut kalau Jessica akan meninggalkanku,” ucap Merry. “Emosiku naik turun. Kalau lihat bayiku nangis rasanya aku ingin menyalahkan orang yang ada di dekat bayiku. Aku mikirnya dia menyakiti bayiku,” lanjut Merry.


“Itu artinya kamu terkena baby blues, Merry. Kita harus konsultasi. Supaya kamu bisa sembuh. Semua ini demi kebaikanmu. Kita ke psikiater ya?” pinta Lyla.


Merry masih berpikir untuk pergi konsultasi karena dia merasa baik-baik saja.


“Satu lagi, kamu jangan pernah takut kalau Jessica akan meninggalkanmu,” ucap Lyla.


“Iya, Merry, apa yang dikatakan Lyla benar, kita konsultasi saja, ya?” Frans ikut bersuara.


Merry menarik napas dalam. Dia merasa dirinya baik-baik saja.


“Kita ke psikiater, ya, biar mendapat penanganan yang tepat. Supaya kamu bisa sembuh. Demi kebaikan kamu dan bayinya. Demi kebaikan semuanya juga. Kalau mental ibunya sehat, maka semuanya akan baik-baik saja.” Lyla tersenyum pada Merry.


“Aku tak butuh psikiater, hei kalian ini, aku pasti akan segera membaik, percayalah” ucap Merry.


Lyla pun semakin cemas. Diam-diam ia pun segera menghubungi psikiater handal yang dia kenal. Lyla pun menyarankan agar Frans yang menemani Merry untuk konsultasi. Sebab, suami juga harus memahami apa saja yang perlu dilakukan oleh penderita baby blues. Lyla yang akan menghandle semuanya selama Merry ke psikiater.


Frans membujuk Merry tapi perempuan itu terus marah-marah. Hingga saat Frans terus memaksa, Merry menyiram wajah Frans dengan segelas air putih yang ada di meja depannya.


Melihat Frans yang wajahnya basah, Merry bukannya minta maaf tapi malah berlari ke kamarnya dan mengunci diri di sana.


“Merry buka pintunya!” teriak Frans.


“Keluar kamu, aku juga tak mau melihatmu lagi, kamu menganggapku gila seperti Lyla, kalian semua jahat!” teriak Merry.


Jessica melihat semuanya dari kejauhan. Dia benar-benar putus asa melihat perubahan Merry yang sekarang lebih sering marah-marah dan berteriak semaunya.


Hari berlalu semakinhari Merry bukan semakin membaik tapi justru semakin parah. Ia kini tidak mau membuka pintu saat Lyla dan Lucky datang. Merry merasa kedua orang itu hanya akan menyuruhnya kembali periksa ke psikiater.


Malam tiba, Jessica sedang asik bermain ponsel di kamarnya, saking asiknya gadis kecil itu sampai lupa mengunci pintu.


Merry di siang hari memang dibantu seorang baby sitter yang bekerja beberapa jam saja, kemudian pulang saat sore hari. Namun baby sitter itu juga tak banyak membantunya.


Frans belum pulang, ia mampir ke minimarket untuk berbelanja barang kebutuhan mereka.


“Jessie, bantu mama sebentar, Sayang!” teriak Merry kepada Jessica. Ia merasakan kepalanya sakit begitu hebat, sedangkan dirinya sibuk menenangkan bayi mungilnya.


“Tolong ambilkan Mommy segelas air putih, Sayang!” Merry berteriak lagi. Jessica sedang berada di kamarnya di lantai dua. Ia tak mendengar teriakan mommy-nya.


Bayi mungil itu mulai menangis, sedangkan Merry merasakan kepalanya berdenyut sangat kencang, ia meringis kesakitan.


Karena Jesscia tak menyahut, akhirnya Merry pun murka. Ia menggendong bayinya dan segera naik ke kamar Jessica. Menaiki tangga rumah membuatnya kelelahan, apalagi sambil menggendong bayi. Merry sangat kesal kepada Jessica.


“Mommy sudah berulang kali memanggilmu dan ternyata kamu sedang di sini?” Jesscia terkejut melihat kedatangan Merry yang tiba-tiba. Gadis kecil itu tak sempat menyembunyikan ponselnya.


Tentu saja hal itu tak luput dari pandangan Merry. “Jessie darimana kamu bisa memiliki ponsel itu?” tanya Merry geram. Jessica ketakutan melihat amarah Merry.


“Katakan ini ponsel siapa dan dari mana kamu mendapatkannya?” teriak Merry yang melihat Jessica mematung di hadapannya.