The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Kejutan Untuk Lucky



Sementara di tempat lain tepatnya di rumah sakit dimana Merry dirawat terlihat Frans sedang sibuk memberesi semua barang bawaan Merry dan obat-obatan. Tampak senyum Merry terbit, wanita itu terlihat sangat bahagia atas berita kepulangannya.


"Apakah ini nyata, Sayang?" tanya Merry dengan senyum yang belum pudar.


"Iya, kamu sudah diijinkan pulang oleh tim dokter dengan satu syarat. Bila dirumah jangan mengerjakan pekerjaan yang berat dulu," jelas Frans.


"Siap, Sayang," balas Merry.


Kemudian Frans melanjutkan beres-beres kamar inap istrinya. Lelaki itu begitu telaten membersihkan semua sampai terlihat rapi lagi. Merry terlihat tersenyum melihat suaminya, dia merasa sangat beruntung mendapatkan suami seperti Frans.


"Terima kasih, Sayang. Maaf aku belum bisa membantu kamu!" kata Merry dengan nada rendah.


Frans mengulas senyum tipis kemudian membelai lembut punggung istrinya itu. Lalu lelaki itu menyiapkan obat untuk diminum Merry yang sudah tiba waktunya. Setelah minum obat Merry terlihat menguap beberapa kali. Rupanya obat tersebut terdapat kandungan obat tidur.


Setelah beberapa menit, mata Merry tidak bisa terbuka ingin terpejam. Akhirnya Merry pun terlelap. Setelah dua sampai tiga jam akhirnya Merry terlihat mulai mengerjap lalu membuka sempurna. Senyumnya langsung terbit kala melihat wajah Frans yang tengadah dari layar laptopnya.


"Bagaimana tidur kamu, Sayang? Kelihatannya sangat nyenyak hingga melupakan aku," kata Frans mencoba menggoda istrinya.


"Entahlah, mungkin karena efek obat tidur agar aku bisa istirahat dengan nyaman, Sayang. Maaf!" balas Merry dengan nada lembut.


"Karena kamu sudah bangun bagaimana jika aku tinggal sebentar untuk mengurus administrasi kepulangan kamu, Sayang. Apakah tidak mengapa jika kamu sendirian diruangan ini?" tanya Frans.


Merry terdiam, bola matanya berputar. Wanita itu terlihat sedikit berpikir lama, akhirnya dengan berat hati dilepasnya sang suami untuk meninggalkan dirinya.


"Jangan lama-lama, jika semua selesai segeralah kembali, Sayang!" ucap Merry.


Frans pun mengangguk setuju, lalu lelaki itu melangkah meninggalkan Merry sendiri. Namun, saat hendak melangkah keluar dari sana Frans melihat seorang perawat melewati kamar inap sang istri.


"Sus, suster!" panggil Frans pada perawat yang telah melewatinya.


"Iya, saya Tuan?" balas perawat tersebut.


"Iya, benar. Apakah kamu bisa menolongku?" tanya Frans.


"Dengan senang hati, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" tanya si perawat.


Frans menjelaskan pada sang perawat sesuai dengan rencananya tersebut. Lelaki itu juga menjelaskan mengapa dia menitipkan istrinya pada perawat itu. Sang perawatpun tersenyum  dan mengangguk setuju.


"Baiklah, Sus. Terima kasih sebelumnya," ucal Frans.


Kemudian lelaki itu beranjak dari tempat tersebut guna mengurus administrasi semua biasa yang sudah dipakai oleh istrinya. Untuk mengurus semuanya ternyata harus antri terlebih dahulu. Antrian lumayan panjang, dengan sabar Frans mengantri sesuai nomer urut.


Saat menunggu itu ponselnya terdengar ada panggilan masuk dari Lyla. Gegas dikliknya tombol warna hijau oleh Frans dan panggilan tersambung.


"Hallo, Lyla. Ada apa?" tanya Frans.


"Apakah kalian masih lama di sana?" tanya  Lyla.


"Hari ini Merry sudah diijinkan pulang. Saat ini saya sedang antri mengurus administrasi," jelas Frans.


"Syukurlah jika seperti itu keadaan kalian. Baiklah jam berapa kamu pulang?" tanya Lyla.


Hening, tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Kemudian terdengar hembusan napas kasar dari seberang. Lyla yang paham akan situasi yang dihadapi oleh Frans pun berniat memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Baiklah, kamu lanjutkan saja antriannya. Kabari jika semua sudah selesai, nanti aku usahakan untuk menjemput kalian," jelas Lyla.


"Baiklah, terima kasih sebelumnya!" kata Frans lalu dia pamit untuk melanjutkan antriannya.


Sambungan teleponnya pun terputus secara sepihak, lalu lelaki itu segera meneruskan antriannya. Nama Merry dipanggil oleh petugas, saat itulah Frans menghampiri petugas tersebut lallu membayar uang yang sesuai jumlah angka yang tertulis di kertas.


Frans pun tersenyum saat semua sudah selesai dan selembar kwitansi sudah ada di tangan. Kini Frans segera melangkah menuju ke ruang rawat Merry. Sepanjang jalan Frans tersenyum hingga sampai di depan kamar istrinya.


"Sayang!"  panggil Frans.


"Jika saya sudah tidak dibutuhkan lagi, maka saya undur diri dulu, Tuan. Dan hati-hati selama perjalanan pulang. Ingat ya, Bu Merry, jaga kesehatan bayinya dan jangan bekerja berat terlebih dulu!" pesan sang perawat.


"Baik, terima kasih," jawab Merry.


Setelah berpamitan, suster tersebut pun melangkah keluar dari ruangan Merry. Baru saja perawat itu keluar, tiba -tiba terdengar suara ceria. Jessica berlari menuju Merry yang sedang duduk di tepian ranjang rumah sakit.


"Mommy!" teriak Jessica.


Anak perempuan itu pun segera memeluk Merry dengan perut yang sudah terlihat besar. Semua menahan napas saat Jessica berlari kencang, tetapi mereka juga tidak bisa mencegah ataupun melarang apa yang dilakukan oleh Jessica.


"Hai, Sayang. Jessica apa kabar?" tanya Merry.


"Mommy, Jessica sangat senang mendengar kabar bahwa Mommy akan pulang. Apakah itu tandanya adik bayi juga sudah sehat?" tanya Jessica dengan nada polos.


"Iya, seperti kata dokter bahwa adik bayi sudah sehat oleh karena itu mommy diizinkan pulang," jelas Merry.


Semua barang keperluan Merry sudah dikemas oleh Frans sejak pagi sehingga saat Lyla datang semua barang siap diangkat. Sopir Lyla yang kebetulan diajak naik pun ikut membantu membawa semua barang. Dengan bantuan sopir Lyla barang bawaan Merry cepat beres.


Mereka segera masuk ke mobil yang dibawa oleh Lyla dengan disopiri sopir pribadi. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"O ya, apakah kalian nanti akan mengadakan baby shower?" tanya Lyla.


"Ba-baby shower itu  apa, Mom?" tanya Jessica pada Lyla.


Gadis kecil itu menatap Lyla penuh harap, dia menunggu jawaban apa yang akan disampaikan oleh Lyla. Sedangkan Lyla menatap pada Merry dengan sedikit isyarat. Tampak Merry menganggukkan kepala tanda dia setuju agar Lyla menjelaskan apa arti dari baby shower.


"Mom!" panggil Jessica.


"Iya, Sayang!" balas Lyla," baby shower itu sebuah acara untuk adik yang ada dalam kandungan mommy Merry. Biasanya baby shower dilakukan pada saat usia kandungan tujuh bulan," jelas Lyla.


"Apakah dalam acara itu nanti, Mommy akan merasakan sakit?" tanya Jessica dengan nada khawatir.


"Tidak, Sayang. Justru mommy Merry terlihat bahagia dan adik bayi akan dimandikan dengan berbagai macam bunga," jelas Lyla dengan nada lembut.


Jessica terlihat melamun, otaknya mencoba mencerna informasi yang disampaikan oleh Lyla. Kata bermacam bunga membuat dahi gadis kecil itu mengkerut. Sungguh adiknya ini sangat merepotkan meskipun ia masih berada di dalam kandungan.


"Berbagai warna bunga? Wah adik bayi kamu jangan merepotkan mommy!”


"Sayang ini tidak merepotkan. Biar babynya senang, kamu pasti ikut senang, bukan?" tanya Merry. Jessica hanya terdiam. Dia bukan senang tapi justru kecewa karena semua yang diinginkan baby itu dituruti mommy-nya. Kemarin ke rumah sakit, sekarang baby shower, besok apalagi? Pikirnya.


Frans yang sedang duduk disamping sopir menjadi tersenyum mendengar pembicaraan para wanita yang ada di bangku belakang. Mereka terlihat sangat akrab. Tapi ia sempat menatap sekilas kegelisahan Jessica.


"Bagaimana Frans? Apakah perlu acara baby shower untuk anak kalian?" tanya Lyla lagi.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Frans sambil menoleh pada istrinya.


"Aku inginkan acara itu, Sayang. Boleh 'kan?" tanya Merry.


Frans tersenyum dan mengangguk setuju. Melihat daddy-nya mengangguk, Jessica menekuk wajahnya. Wajah murung itu masih terlihat dari kaca spion, Frans menyadari itu.


"Jessica, bagaimana sekolahmu hari ini. Semua berjalan baik?” tanya Frans dengan nada rendah.


"Semua baik. Daddy apakah nanti sampai rumah aku boleh pinjam ponsel? Aku ingin bermain game.”


"Tentu saja boleh, Sayang. Apakah di rumah aunty Lyla kamu bermain ponsel?”


"Yeey, makasih Daddy. Tidak selalu tapi kalau aku bosan aku pinjam ponsel milik Om Lucky," sorak Jessica.


Sementara itu Lucky yang sedang bosan di kantornya tak sengaja memainkan game yang ia download untuk Jessica. Ia tertawa lebar saat menyadari ia memenangkan pertandingan. Senyum itu berubah menjadi ketegangan saat Lucky menyadari hadiah apa yang ia dapatkan ketika memenangkan permainan.