
Aaron dan Vivian semakin dekat. Meskipun hanya ingin memancing reaksi Simon, tapi Vivian melakukannya dengan baik.
"Kamu malu dekat dengan aku?" Vivian bertanya-tanya.
“Eh, tidak, maksudku, kita bersikap biasa saja. Tidak enak dilihat karyawan lain,” ucap Aaron hati-hati agar Vivian tidak tersinggung.
Vivian pun akhirnya mengerti setelah mendengar penjelasan dari Aaron. Dia memang seharusnya menjaga sikap. Tak sepatutnya bersikap yang berlebihan dengan menunjukkan pada dunia kalau Aaron sekarang miliknya. Miliknya dalam kepura-puraan.
“Nanti kita mampir ke kafe dulu,” ucap Aaron di tengah perjalanan dari liburan.
Vivian hanya mengangguk. Aaron pun merasa aneh karena tak biasanya Vivian diam, biasanya dia akan sangat cerewet membahas ini itu jika bersama Aaron.
“Kau kenapa jadi pendiam?” tanya Aaron dengan heran.
“Diam salah, nanti bicara terus dibilang cerewet. Repot memang,” sungut Vivian .
Aaron pun tertawa melihat ekspresi Vivian yang marah, tanpa sadar dia mencubit pipi kanan Vivian .
“Awww!” Vivian refleks menjerit dan mendorong tubuh Aaron. Namun, setelah menyadari Vivian langsung minta maaf. “Sorry, tak sengaja,” ucap Vivian.
“Ok, tak masalah,” sahut Aaron sambil tersenyum.
Setidaknya Aaron bisa melihat Vivian tidak diam. Aaron hanya takut Vivian tersinggung dengan ucapannya tadi terkait harus jaga sikap.
“Sorry, Aaron, aku langsung pulang saja nanti. Dari kantor langsung balik,” ucap Vivian kemudian.
“Kenapa?” tanya Aaron heran.
“Tidak apa-apa, pingin cepat pulang, biar bisa segera istirahat.” Vivian tersenyum menatap Aaron.
Entah, mendapat senyuman dari Vivian membuat hati Aaron berdesir. Aaron pun memberi jawaban Vivian hanya dengan anggukan.
Setiba di kantor, mereka pun langsung berpisah. Vivian berpamitan pada Aaron.
“Ehm, ada yang mendengar saranku ternyata,” ucap Brandon yang tiba-tiba sudah ada di samping Aaron.
“Kau bikin aku kaget saja.” Aaron memukul lengan Brandon.
“Benar, kan? Dengan menjalin hubungan dengan wanita lain, kau bisa dengan cepat melupakan Cindy,” ucap Raka lagi.
Aaron hanya diam. Dia sebenarnya merasa bersalah pada Vivian karena sudah menjadikannya pelarian, tetapi apa boleh buat. Dia tidak tahu Vivian juga bersikap sama.
“Kau jangan usah sok tahu!” sentak Aaron. “Aku sama Vivian tidak ada apa-apa,” lanjut Aaron.
“Sudahlah, kau jangan berbohong, Aaron. Aku sudah melihat sejak di tempat liburan kau dan Vivian berbeda dari biasanya. Apalagi sikap Vivian yang terlihat manja pada kau,” ucap Brandon sambil tertawa kecil. “Hanya saja aku pura-pura tidak tahu tadi, aku tidak mau mengganggu waktu kalian.” Brandon tersenyum.
“Sialan kau Brandon!” sentak Aaron sambil memukul lengan Raka.
“Tapi, ingat Ar, jangan sakiti Vivian, dia terlalu polos untuk itu. Dan sepertinya dia begitu menyayangimu,” ucap Brandon sambil menatap Aaron.
Aaron jadi ragu untuk bercerita pada Brandon tentang Vivian yang dijadikannya hanya sebagai tempat pelarian. Apa kata Brandon jika tahu Aaron hanya menjadikan Vivian pelariannya saja? Bisa-bisa Brandon marah besar padanya.
“Tidak, kenapa juga aku harus punya rencana jelek,” sahut Aaron.
“Baguslah kalau gitu. Ingat ya cinta itu akan datang karena terbiasa. Percayalah kalau kau terbiasa bersama Vivian , lama kelamaan kau akan jatuh cinta padanya.” Brandon memberi nasihat pada Aaron.
“Sok bijak sekali kau ini! Mentang-mentang cintamu bersambut, kau jadi sok begini!” Aaron bersungut-sungut.
Brandon tertawa mendengar omelan Aaron.
“Kau lama-lama jadi kayak emak-emak super cerewet,” ucap Brandon sambil tertawa keras.
“Sialan!” sentak Aaron.
Aaron pun menghela napas dalam, entah kenapa dia begitu cepat memutuskan menyatakan cintanya pada Vivian. Kenapa juga dia langsung mengajak Vivian berpacaran dan anehnya Vivian langsung menerimanya tanpa pikir panjang.
Sementara di tempat lain, Vivian begitu bahagia. Dia pulang ke rumahnya dengan wajah yang berbinar. Bibirnya terus menyunggingkan senyumnya. Dia sama sekali tak menyangka akan nasib cintanya yang berpihak padanya. Vivian sangat berharap nantinya Simon bisa melihatnya dan cemburu lalu Simon tersadar Vivian mencintai sedalam itu. Dengan Simon ia bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih serius bahkan ke pernikahan.
Sesampainya di rumah, Vivian langsung disambut sang ibu dengan tatapan heran.
“Tak biasanya anak Ibu ceria begini? Ada apa?” tanya ibunya Vivian.
“Eh, tidak ada Bu, Vivian dari dulu, kan, memang ceria,” ucap Vivian sambil tersenyum.
“Tapi, kali ini berbeda, Vivian. Apa ada sesuatu yang membahagiakan padamu, sehingga kau terlihat begitu ceria. Kau terlihat berbinar sekali,” ucap sang ibu.
“Tidak ada apa-apa, Ibu, sungguh,” ucap Vivian .
“Vivian , Ibu tahu pasti ada sesuatu yang membuat kau seceria sekarang ini. Cerita pada Ibu,” ucap sang ibu lagi.
Karena merasa didesak oleh sang ibu, akhirnya Vivian pun bercerita. Mulai dari Vivian yang berpura-pura mencintai Aaron, sampai akhirnya Aaron menyatakan cinta padanya.
“Jadi, itu yang membuat kau begitu bahagia?” Sang ibu tersenyum menatap Vivian.
“Iya, Ibu. Ibu tidak marah, bukan?” tanya Vivian sambil menatap sang ibu khawatir.
“Tidak, Nak. Kenapa Ibu harus marah. Ibu ikut bahagia jika kau bahagia.” Sang ibu tersenyum menatap Vivian .
Kemudian, Vivian memeluk ibunya dengan erat. Wanita itu sangat berterima kasih pada ibunya karena mendukung apa pun tentang Vivian. Tidak pernah meminta dan menuntut ini itu pada Vivian .
“Tapi, ingat jangan terlalu bahagia, takutnya kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kau akan sangat kecewa.” Ibu membelai rambut Vivian . “Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan kau bahagia selalu,” lanjut sang ibu.
"Aku menginginkan Simon, Bu," bisik Vivian dalam hati.
Di sisi lain, Aaron merasa bersalah ketika teringat wajah Vivian yang begitu bahagia. Apalagi saat Aaron teringat kata-kata Vivian yang mengatakan kalau wanita itu mencintai Aaron sejak pandangan pertama. Aaron sama sekali tak menyangka, karena mereka selalu saja ribut jika terkait pekerjaan. Ternyata di balik bawelnya Vivian pada Aaron, dia menyimpan rasa cinta.
“Pintar sekali dia menyembunyikan perasaannya selama ini sampai aku tidak sadar kalau dia mencintaiku.” Aaron bermonolog.
Saat itulah ada panggilan masuk dari rumah sakit jiwa tempat Merry dirawat.
"Tuan Aaron, kami menunggu kedatangan Anda sekarang."