
Aaron dan Richard menghabiskan malam dengan minuman dan gadis muda di bar hingga hari menjelang pagi. Mereka tidak benar-benar mabuk, hanya sedikit pusing saat kembali ke apartemen masing-masing yang bersebelahan.
Keesokan harinya Aaron baru teringat kalau dia ada janji dengan Cindy , pria itu bergegas mandi lalu berganti setelan jas yang menambah ketampanannya. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit ia tiba di rumah Cindy.
“Apa kau siap?” tanya Aaron yang baru saja datang ke rumah Cindy.
Cindy mengangguk. Ia sudah berdandan secantik mungkin agar ia bisa menunjukkan sisi feminimnya kepada Aaron. Jujur saja, sejak pertama melihat Aaron yang dingin itu, Cindy sudah jatuh cinta kepadanya. Hanya saja sepertinya pria itu tidak menyukai wanita.
Sikapnya yang terlalu dingin kepada wanita membuat dirinya dicap sebagai pria gay. Namun, Cindy tak percaya begitu saja. Semua yang mereka katakan hanya isapan jari belaka. Lihat saja, Cindy akan menunjukkan kalau gosip itu sama sekali tak benar. Ia akan menaklukkan hati Aaron seutuhnya.
“Kau mau pakai ini?” tanya Aaron yang melihat Cindy memakai sendal hak tingginya yang berkisar 15 centimeter.
“Tentu saja. Aku juga mau terlihat feminim dan cantik di depan banyak orang.”
“Untuk apa?” Aaron heran. Yang menikah kan Anne, kenapa Cindy yang ingin kelihatan cantik?
“Kau itu pria, jadi tidak akan tahu apa yang dirasakan oleh kami, para wanita.”
“Kalian terlalu membingungkan.”
Aaron berpamitan kepada ibu dan ayahnya Cindy sebelum berangkat. Ia juga tak lupa berjanji akan mengantarkan Cindy pulang tepat waktu dan menjaganya. Orang tua Cindy percaya karena di wajah Aaron sama sekali tak terlihat ada niat jahat kepada putri mereka.
Dalam perjalanan, Cindy terus bicara mengenai dekorasi dan persiapan pernikahan Anne yang mewah. Ia sempat datang ke sana saat Anne sudah cuti dan harus menandatangani sebuah dokumen.
“Kau tahu, dekorasi dan persiapannya mirip dengan artis-artis ibukota. Pantas sih soalnya calon suaminya itu kaya sekali. Kata temanku, calon suaminya itu bahkan sudah bolak-balik jadi cover majalah bisnis terkenal di New York.”
Aaron hanya diam saja mendengarkan Cindy bicara. Hatinya bak teriris sembilu membayangkan Anne akan berdiri di samping pria yang jauh lebih matang dan mapan darinya. Ia sadar dirinya hanya seorang pria yang baru saja datang dalam kehidupan Anne, tapi mengapa rasanya terlalu tidak adil bagi Aaron karena tak mendapatkan kesempatan?
“Gaun pengantinnya saja berkisar di harga dua digit. Aku jadi iri, sangat iri.”
“Kau sendiri, apa yang mau kau pakai saat menikah nanti?” Aaron sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar Cindy tidak lagi membahas Anne yang membuatnya semakin pilu.
“Aku? Kenapa kau mau mendengar apa yang aku mau? Aku jadi curiga!” Cindy memandang Aaron dengan pandangan menyelidik. Ia tak yakin kalau Aaron mau mengetahui soal itu.
“Aku hanya ... hanya ingin mendengarnya saja. Apa tidak boleh? Kau terus bilang iri kepada Bu Anne padahal kau sendiri bisa menentukan mau menjadi ratu seperti apa di hari pernikahanmu nanti.”
“Kau benar. Aku harus mulai menentukannya dari sekarang.” Cindy mulai berpikir, sedangkan Aaron tampak lega karena Cindy berhenti bicara.
Perjalanan hampir mencapai tujuannya. Aaron yang semakin ragu dengan keputusannya malah ingin pulang saja, tapi ia tak enak kepada Cindy. Benar juga saran dari Richard, jika membawa pasangan ke acara ini tidak mungkin baginya untuk kabur begitu saja.
“Kita hampir sampai. Wah ... dari jarak seperti ini saja sudah terlihat mewah ya. Aku akan mengambil foto sebanyak mungkin agar bisa menjadi referensi pernikahanku nantinya.”
“Hei, kau datang juga akhirnya.” Richard menyambut mereka saat tiba di parkiran. Kebetulan Richard dan Tassy juga baru datang sehingga mereka bisa masuk bersama.
“Siapa dia?” tanya Tassy yang tak mengenal wanita yang dibawa oleh Aaron. Saat itu, Richard sedikit tak suka melihat reaksi Tassy yang sepertinya masih cemburu kepada setiap wanita di dekat Aaron.
“Oh, kenalkan, aku Cindy. Aku partner kerja Aaron di kantor. Kami satu divisi dan kebetulan sama-sama mau ke sini.” Cindy maju lebih dulu dan bersalaman dengan Tassy.
“Hei, kau terlalu kaku. Harusnya kau yang mengenalkan dia padaku, bukannya dia memperkenalkan dirinya sendiri.” Tassy menatap Aaron garang, lalu beralih kepada Cindy dengan pandangan lembut. “Maafkan dia ya, Cin. Aaron memang terlalu kaku. Kenalkan, aku Tassy. Aku teman kuliah mereka berdua.”
Richard dan Aaron hanya bisa terdiam melihat interaksi mereka. Lucu memang jika sudah berurusan dengan wanita. Mereka bisa menjadi lawan atau kawan hanya dalam waktu sepersekian detik. Mereka akhirnya berjalan masuk dan mengisi buku tamu yang tersedia.
Richard dan Tassy menuliskan nama mereka salam satu kotak nama, sedangkan Aaron mengisinya dengan kotak berbeda dengan Cindy. Sungguh pria dingin yang melebihi gunung es di muka bumi ini. Ketiga orang itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tak percaya.
“Lain kali belajarlah dari pria lain yang lebih bermoral, Aaron. Kau sunggguh tidak bisa diandalkan,” gerutu Cindy saat mengikuti Aaron dari belakangnya, sementara Richard dan Tassy berjalan beriringan di depan Aaron.
“Kenapa? Aku ada salah?” tanya Aaron seolah tanpa dosa.
“Tidak. Kau tidak pernah salah.”
“Baiklah. Aku minta maaf.”
“Kau bahkan tak tahu apa kesalahanmu, tapi kau minta maaf?”
Aaron diam saja. Ia bingung harus menjawab apa lagi. Semuanya serba salah. Sudah ia duga jika jalan bersama Cindy hanya akan membuatnya terus berdebat tanpa henti.
Pengantinnya belum tiba. Mereka memutuskan untuk mengambil meja yang agak jauh dari pengantinnya nanti. Richard tahu akan sangat sulit mengendalikan emosinya nanti saat melihat Aaron menderita karena perasaannya.
Cindy mengambil beberapa makanan ringan dibantu oleh Tassy. Dalam sekejap, mereka bisa akrab dan terus menempel sehingga Richard kehilangan momen bersama Tassy yang jarang ia dapatkan.
“Hei, apa kau tidak bisa menjaga pasanganmu? Aku jadi tidak bisa bicara dengan Tassy karena Cindy.”
“Apa salahnya? Mereka jadi akrab bukannya lebih bagus? Dengan begitu, Cindy tidak akan terus mencecarku dengan segala ocehannya.” Aaron hanya berkata sekenanya karena pada dasarnya ia sedang memikirkan bagaimana cara hatinya agar bisa bertahan melihat prosesi pernikahan ini sampai akhir.
“Kau menyukainya?” tanya Richard tiba-tiba yang membuat Aaron terkejut setengah mati.
“Dari mana kau bisa menyimpulkan hal itu? Aku hanya sedang mengikuti saranmu untuk membawa seseorang agar tak lari melihat Anne bersanding dengan pria lain.”
“Aku hanya menebak saja. Maaf. Kenapa kau sensitif sekali. Hei, kau lihat itu? Di depan ada gadis cilik imut yang bisa membuat pemandangan di sini terlihat lebih segar,” bisik Richard membuat Aaron membelalakkan matanya.