
Jessica benar-benar sudah terbuai dengan rayuan Robin. Gadis itu hanya menurut saja saat disuruh pindah ke apartemen yang lebih besar dan mewah. Tentu saja Itu hadiah terbaik yang ia terima. Belum lagi dengan mobil mewah yang diberikan Robin secara cuma-cuma, hanya demi melihat Jessica merasa lebih nyaman.
Gadis itu senang, sekarang hidupnya benar-benar telah berubah. Jika beberapa tahun lalu ia hidup di panti asuhan, harus berbagi dengan anak panti lainnya, maka sekarang yang bergelimang harta.
Jessica yang pendiam perlahan-lahan mulai bisa menemukan dirinya sendiri. Satu hal yang ia masih penasaran adalah tentang masa lalunya. Entah kenapa ketika berdekatan dengan pria, Jessica merasa tidak nyaman. Dia sendiri tidak mengerti perasaan ini. Kemarin saat Robin menyematkan sebuah cincin di jemari manisnya, badan Jessica berkeringat. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi rasanya bersentuhan dengan laki-laki memberi trauma tersendiri untuknya.
Jessica tidak bisa mengingat masa lalunya, bahwa ia pernah menjadi korban kekerasan seksual dari beberapa pria.
Alam bawah sadarnya memberi perintah bahwa pria itu makhluk berbahaya. Ia hanya mengikuti nalurinya. Malam itu ketika Robin datang ke apartemennya dan mengajaknya berdansa, Jessica mulai merasa gugup.
Suara alunan musik yang syahdu membuat Robin terlena, ia memeluk Jessica kemudian pria itu mengecup kening gadis yang pahatan wajahnya nyaris sempurna.
"Sayang, apakah kamu senang?" Aku tidak ingin terpisah denganmu selamanya." Robin mencium pucuk kepalanya.
Jessica sedang sibuk mengatur degub jantungnya sendiri.
Robin mulai mengelus tubuh Jessica, memberikannya sentuhan yang memancing hasrat. Dari elusan itu Jessica hanya terdiam. Ia mulai bereaksi saat merasa Robin menggerayangi tubuhnya.
Robin mengirimkan sinyal-sinyal keinginannya untuk menikmati keintiman berikutnya. Jessica awalnya hanya diam, tapi saat Robin mulai meraba bagian-bagian sensitif, terutama di bagian dada, Jessica mulai merasa tidak nyaman.
"Robin, hentikan!"
Jessica berusaha melepaskan diri, tapi Robin terus merengkuhnya dalam pelukan, mengajaknya berdansa mengikuti alunan musik.
"Aku bahagia malam ini, Sayang. Jangan kamu rusak momen ini." Mendengar bisikan Robin di telinganya membuat perempuan itu hanya terdiam.
Dia pun tak bisa menolak saat Robin mulai menjelajahi wajah cantik di hadapannya dengan hidungnya yang mancung.
Suara desah napas Robin tiba-tiba mengingatkan Jessica pada suatu kejadian. Potongan peristiwa itu membuat Jessica memejamkan mata sebentar lalu menggeleng lemah.
"Jangan lanjutkan," ucapnya sembari mendorong tubuh Robin. Pria itu kaget menerima perlakuan dari Jessica. Ia tak menyangka Jessica berani menolaknya.
"Ada apa denganmu, Sayang?" Robin memandang wajah kekasihnya.
"Robin aku tidak bisa." Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayang, apakah aku menyakitimu?"
"Tidak, aku tahu tidak tahu. Ini hanya tentang potongan-potongan ingatan. Aku aku tidak bisa menjelaskan. Maaf Robin." Jessica berjalan menuju ke sofa. Ia mengambil segelas minuman yang meneguknya hingga tandas.
Robin mendekatinya lalu berkata dengan lembut," katakan padaku, Sayang. Ceritakan apa yang ingin kau bagi. Aku siap mendengarkan."
Gadis itu terdiam. Apa yang ingin ia ceritakan, sedangkan ia sendiri tidak bisa mengingat. Ia hanya seperti melihat potongan-potongan ingatan bahwa dia pernah berada dalam situasi seperti yang dilakukan Robin tadi. Menciumi leher, pipi, bahkan area sensitifnya dan itu membuatnya benar-benar tidak nyaman.
"Aku rasa mulai paham kenapa tidak bisa menerima kehadiran laki-laki. Sepertinya aku pernah punya kejadian buruk di masa lalu."
Robin memegang tangan gadis itu. "Maksudmu kamu tidak mengingat apa pun di masa lalu?" Jessica hanya mengangguk lemah.
Robin mencoba mencerna kata-kata Jessica.
"Sayang, kalau kejadian yang sudah lalu memang tidak untuk diingat-ingat lagi, Sayang. Sekarang kamu punya aku untuk masa depan kita. Jangan terus terpuruk di masa lalu."
Robin berusaha menghibur Jessica. Perempuan itu kini merasa lebih tenang, tapi ia tetap penasaran sebenarnya apa yang terjadi?
Robin memeluknya, mencoba memberi kenyamanan pada Jessica.
Robin pria yang baik, sampai saat ini memberinya banyak hal, kenyamanan, kemewahan, tapi Jessica masih bingung dengan perasaannya sendiri.
"Kita sudah sepakat untuk melakukan ini perlahan-lahan bukan?"
"Aku akan belajar mengenalmu, aku rasa itu yang kita butuhkan."
"Tentu saja, kamu pikir untuk apa aku selalu datang ke sini? Kita pergi berdua, jalan-jalan, nonton, kalau bukan untuk saling mengenal?" Robin menjawab dengan kesal.
"Maksudku sentuhan, aku sepertinya tidak nyaman dengan sentuhan pria," ucap Jessica berterus terang. Meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
"Itu wajar, Sayang. Mungkin Ini pengalaman pertama, tapi percayalah aku tidak akan membuatmu sakit atau tidak nyaman. Bagaimana kalau dengan pelukan hangat seperti ini?"
Robin memeluknya lagi. Kali ini Jessica merasa lebih nyaman.
"Iya mungkin seperti ini saja." Jessica membalas pelukan hangat itu.
Robin akhirnya pulang dengan perasaan kecewa. Sudah lama ia menginginkan Jessica, ia ingin menikmati malam-malam panjang bersama gadis bermata biru itu. Jessica yang cantik membuat imajinasi liarnya terus berpendar. Robin membayangkan bagaimana Jessica dengan tubuh polos yang menari-nari di atas tubuhnya. Hal itulah yang membuat Robin selalu bersemangat memberikan apa saja untuk membuat Jessica senang, dan mereka akhirnya akan bersenang-senang.
"Gadis itu sok jual mahal di depanku, lihat saja aku pasti bisa mendapatkannya."
Robin menyetir mobilnya dengan kencang. Dalam sejarah percintaannya, Robin tak pernah ditolak. Justru berderet-deret wanita yang mengantri untuk bisa bercinta dengannya.
"Hari ini kamu bisa lolos, tapi kita lihat saja ke depannya," ujar Robin berbisik lirih.
Ia menelpon seseorang, setelah teleponnya terhubung, Robin berbicara.
"Felicia, aku mau menuju ke apartemen, sekarang bersiaplah untukku."
Ia berkata sambil mematikan teleponnya.
"Jessica kamu boleh menolak aku, tapi masih ribuan perempuan di sana yang mengantri."
Pria itu segera melajukan mobilnya menuju apartemen Felicia. Tentu saja Felicia sangat senang. Dia sudah lama ingin menjadi kekasih Robin. Meskipun bukan kekasih, mungkin saja mereka bisa menghabiskan malam berdua. Felicia sudah mendengar keroyalan Robin kepada gadis-gadis yang dia sukai. Mungkin setelah ini Robin akan memberinya banyak fasilitas Hal itu membuat senyum di bibir Felicia. Ia kemudian menelepon Agnes.
"Ada apa kamu mau nelpon aku? Ini sudah malam, aku ngantuk Feli."
"Tebak siapa yang mau datang ke apartemenku." Felicia bersorak.
"Ayolah Felicia, jangan berputar-putar. Aku mengantuk. Jangan buat aku harus berpikir siapa pria itu."
"Don Juan itu akhirnya mau datang."
"Hah? Don Juan siapa?"
"Robin lah, siapa lagi? Aku yakin kamu bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini. Aku akan mentraktir kalian semua makan di restoran mahal atau kita liburan karena kita tahu Robin adalah pria kaya raya yang sangat royal dengan gadis-gadis."
"Kamu yakin dia akan datang?" Agnes mencoba meyakinkan dirinya.
"Iya, barusan baru saja dia menelponku. Sekarang dia sedang dalam perjalanan kemari."
Terdengar suara bel pintu berdentang.
"Nah kamu dengar sendiri, kan? Di depan pintu pasti Robin sudah tidak sabar menungguku," ucap Felicia.