The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Dunia Pura-pura



Sementara di tempat lain, Vivian belum bisa melupakan Simon. Vivian benar-benar jatuh cinta pada dokter muda itu. Vivian merasa frustrasi karena cintanya tak berbalas. Selama ini dia bersikap cuek pada pria lain, karena memang Vivian bukan tipe wanita yang suka tebar pesona pada semua pria. Vivian hanya bisa tebar pesona pada orang yang benar-benar dicintainya. Tapi kini semua jadi berbeda.


Saat ada liburan kantor bersama karyawan lain, harusnya Vivian merasakan bahagia. Namun, sayangnya tidak. Hati Vivian teramat sedih dan sakit. Entah bagaimana caranya dia bisa melupakan Simon, dokter ganteng itu.


Vivian melihat teman-temannya yang lain menikmati liburannya. Dan itu semakin membuatnya sedih. Vivian selalu membayangkan dia bisa menikah dengan Simon, sayangnya pujaan hatinya itu mencintai wanita lain. Sungguh malang sekali nasib Vivian.


“Gimana caranya aku bisa ngelupain Simon? Mungkin yang dibilang Jean benar, pacaran dengan pria lain maka aku pasti bisa melupakan Simon. Ah, tapi siapa pria yang mau kencan sama aku?” tanya Vivian pada dirinya sendiri.


Kemudian, dia teringat akan saran Jean untuk berpacaran dengan Aaron rekan satu kantor yang usianya hampir empat puluh tahun tapi masih terlihat gagah. Aaron yang kaya raya, yang sejak dulu tak pernah memerhatikan dia. Aaron si ganteng yang tak mudah didekati, bisakah ia menaklukkannya?


“Ah, iya kenapa bukan Aaron saja yang kujadikan pacar?” Vivian pun tersenyum sendiri. “Jean ada benarnya juga,” lanjut Vivian. Dia bermonolog.


“Hei! Kenapa senyum-senyum sendiri di sini? Yang lain pada kumpul di sana, kau malah di sini!”


Jean sewot sendiri karena Vivian pergi menyendiri.


Vivian pun kesal karena Jean selalu saja cerewet, membahas segala macam tanpa jeda.


“Vivi, kau tuli, apa pura-pura tuli, sih?" Jean semakin terlihat kesal.


Vivian masih diam. Dia berpikir bagaimana caranya menyatakan cinta pada Aaron. Padahal dirinya tak mencintai pria itu. Ia hanya ingin mencari pelarian.


“Vivi!” Jean pun memukul lengan Vivian dengan keras.


“Awww! Sakit tau!” sentak Vivian.


“Ya, habisnya kau ini diam saja diajak ngomong!” bentak Jean.


“Kau tidak bisakah bersifat sedikit feminim saja? Ngomong tidak usah teriak-teriak begitu. Telingaku mau pecah rasanya,” ucap Vivian sambil menutup kedua telinganya.


“Makanya kalau diajak ngomong itu jawab, Vivi, jangan diam saja,” ucap Jean.


"Aku sedang mempertimbangkan saranmu untuk berpacaran dengan Aaron." Vivian berterus terang. "Tapi aku tak tahu caranya," imbuhnya.


"Tinggal datangi dia lalu bilang kamu menyukainya."


Saat mereka berbincang tiba-tiba Aaron datang. Pria itu sudah lama menaruh rasa pada Vivian, sejak kematian Cindy karena penyakit kanker otak yang dideritanya. Hari ini dia juga mendapat nasihat dari Brandon, sahabatnya untuk segera mengatakan cinta pada Vivian. Aaron pernah punya kisah patah hati mencintai Cindy hingga mati, tak ingin berspekulasi, tapi Brandon terus memprovokasi.


Aaron membingkai wajah Vivian dengan tatapan yang begitu dalam. Aaron ingin melihat adakah cinta Vivian untuknya? Vivian yang ditatap begitu aneh oleh Aaron merasa salah tingkah karena tak biasanya Aaron seperti itu. Jantung Vivian seperti mau copot, berdetak begitu cepat dan keras. Vivian takut suara detak jantungnya didengar oleh Aaron. Keringat dingin tiba-tiba bermunculan di tangan maupun dahi Vivian.


“Vivi,” panggil Aaron lembut.


Vivian merasa heran karena tak biasanya Aaron memanggilnya dengan begitu lembut.


“Ya,” sahut Vivian.


“Apa kau punya pacar?” tanya Aaron lagi.


“Ke-ke-kenapa kau tanya seperti itu?” tanya Vivian dengan gugup.


Jantungnya semakin berdebar tak karuan. Detaknya semakin kencang, Vivian takut jantungnya akan copot. Dia kaget campur senang.


“Jawab saja, punya pacar apa tidak?” Aaron menatap wajah Vivian dengan lamat.


Akhirnya, Vivian pun perlahan menggeleng. Bagaimana bisa dia punya pacar kalau pria yang dicintai itu Simon yang bahkan tak peduli padanya?


“Beneran tidak punya pacar? Entar tiba-tiba ada yang melabrak aku gimana?” tanya Aaron.


“Lah, ngapain mau melabrak coba?” tanya Vivian bingung.


“Kalau aku jadi pacarmu, nanti ada yang melabrak apa tidak?” tanya Aaron lagi.


Vivian melongo mendengar kata-kata Aaron. Dia mencoba mencerna penyataan Aaron.


“Maksudmu apa, Ar? Kau bilang jadi pacarku? Sejak kapan kita pacaran?” tanya Vivian dengan heran. Dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Aaron.


“Sejak saat ini. Kau mau jadi pacarku? Aku ... mencintaimu, Vivian .” Akhirnya, itulah yang keluar dari mulut Aaron.


Vivian langsung syok mendengar pernyataan Aaron. Vivian tak menyangka Aaron yang selama ini bersikap dingin padanya dan semua wanita, sekarang menyatakan cinta pada Vivian. Dunia seolah-olah berhenti berputar. Saking bahagianya, Vivian langsung menghambur ke pelukan Aaron, padahal selama ini dia berusaha jaim. Jika menerima cinta Aaron segalanya akan lebih mudah.


“Aku tidak salah dengar, kan? Kau benar-benar menyatakan cinta padaku?” tanya Vivian dengan tetap memeluk Aaron.


Aaron tak menyangka dengan respons Vivian. Dia pikir Vivian akan biasa saja, tetapi sungguh di luar dugaan. Mungkinkah Vivian memang mencintai Aaron dari dulu? Itu yang ada di hati Aaron, tetapi dia masa bodoh. Yang penting dia bisa melupakan Cindy secepatnya. Karena menurutnya inilah satu-satunya cara melupakan Cindy. Aaron harus memiliki pacar agar fokus dan pusat perhatiannya tidak melulu soal Cindy.


“Iya, kau tidak salah dengar. Aku mencintaimu, maukah kau jadi pacarku?” tanya Aaron lagi sambil mengurai pelukan.


“Tentu saja aku mau jadi pacarmu. Aku juga sangat mencintaimu. Bahkan dari dulu, sejak pertama bertemu dengan kau aku sudah jatuh cinta,” ucap Vivian dengan mata berbinar. Tentu saja dia berbohong.


Vivian tidak benar-benar bahagia dengan semua ini. Vivian senang karena cintanya pada Simon mungkin bisa teralihkan. Cintanya seolah bersambut, meskipun selama ini dia sering berantem dengan Aaron. Aaron pun merasa heran, kenapa Vivian begitu polosnya mengatakan dengan jujur perasaannya pada Aaron. Kenapa tidak ada jaim-jaimnya sama sekali? Aaron hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Vivian .


Hati Vivian seperti berbunga-bunga. Senyumnya terus merekah. Melihat kebahagiaan Vivian , Aaron merasa bersalah. Dia sudah menjadikan Vivian sebagai pelarian, sedangkan Vivian tidak tahu menahu soal itu, tapi ia pun hanya memanfaatkan situasi ini. Yang Vivian tahu Aaron juga mencintainya dengan tulus seperti dirinya yang mencintai Simon.


Semenjak Aaron mengatakan kalau mencintai Vivian , Vivian pun tak segan-segan untuk selalu memegang tangan Aaron. Vivian juga terus menggelayut manja di tangan Aaron. Dia ingin membuat Simon cemburu.


“Aaron, terima kasih sudah mau mencintaiku. Mau menjadikanku pacarmu,” ucap Vivian , lalu mencium kedua pipi Aaron bergantian. Sungguh dia sebenarnya muak tapi sedikit lagi rencananya akan berhasil


Tentu saja Aaron kaget mendapat ciuman yang tiba-tiba dari Vivian. Dia tak bisa membalas mencium Vivian karena hatinya belum sepenuhnya untuk Vivian.


Saat pulang dari liburan kantor bersama karyawan lainnya, Vivian pun tak malu menunjukkan kemesraan mereka. Vivian terus bergelayut manja di lengan Aaron.


“Vivian , bisa tidak kita bersikap biasa saja seperti sebelumnya saat kita belum pacaran?” pinta Aaron. Dia masih malu.


“Kenapa? Bukannya kita pacaran? Kau malu?” tanya Vivian menatap Aaron dengan dahi mengernyit. Dia harus tetap berpura-pura supaya rencananya berjalan lancar.