The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Akhir Sebuah Tragedi



"Minumlah obat ini."


Simon memberikan obat itu kepada Jessica. Pil kuning yang selalu diberikan Simon saat ia merasa pusing karena ingatan yang terus menyiksanya.


Jessica ingat Simon dulu juga memberikan obat yang ia bilang anti depresan. Saat Jessica bertanya dari mana ia mendapatkan obat itu, Simon bilang ia dapat obat itu dari Lucky.


Setelah meminum obat itu Jessica merasa mengantuk sebentar. Ketika terbangun Jessica merasa tubuhnya segar dan ia segera melupakan apa yang terjadi.


Pesta ulang tahun Merry berlangsung sederhana tapi meriah dan penuh kehangatan. Merry sangat senang disambut begitu hangat oleh kawan-kawannya.


Setelah pesta usai semua orang pulang, menyisakan Lyla dan keluarganya.


"Sekarang saatnya kamu bicara, Simon," tutur Lyla. Lucky juga menganggukkan kepalanya.


"Bicara apa?" tanya Merry sambil berpaling ke arah Simon. Yang dipandang jadi gelisah.


"Mommy, ayolah, ini hari bahagia Aunty Merry. Jangan sampai kita merusak kebahagiaannya."


"Mommy yakin Aunty Merry pasti tambah happy. Jessica, kamu tahu kalau Simon menyukaimu sejak dulu bukan?" Lyla menatap wajah Jessica yang memerah.


"Mommy biar aku saja."


Simon memotong ucapan Mamanya.


"Jessie, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini, tapi aku terlalu pengecut. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Simon sambil menyodorkan satu kotak berbentuk hati berisi cincin berlian.


"Oh Ya Tuhan, Simon kamu melakukan ini?" Jessica membelalakkan matanya. Dia ingin mengajak Simon mengobrol lebih lama, tapi kesempatan itu belum datang. Sekarang justru Simon melamarnya di hadapan semua orang.


"Mommy sangat bahagia kalau kamu menerimanya, Sayang." Merry tersenyum.


"Tolong terima," bisik Lyla saat Jessica menatapnya seolah meminta persetujuan.


"Maaf tapi aku tidak bisa. Simon harusnya kamu bicarakan ini padaku sebelumnya."


Simon terdiam. Ia lalu mengajak Jessica ke lantai dua untuk berbicara sebentar. Merry dan Lyla sangat tegang menanti mereka.


"Jessie, kamu menolakku?" tanya Simon.


"Todak, bukan begitu. Kenapa kamu melakukan ini, Simon? Kita berteman sejak kesal. Kenapa kamu rusak persahabatan ini?" tanya Jessica.


"Apakah kamu yakin aku merusaknya? Jessie, aku justru ingin melindungimu."


"Melinda dari apa? Aku tak mengerti Simon."


"Hei kamu lupa pernah mencelakai Isabelle? Kamu jangan berpura-pura lupa. Aku juga tahu yang kamu lakukan pada Richard. Kamu membunuhnya."


Jessica sangat pucat. Ia kembali mengingat kejadian yang disebutkan Simon. Jessica teringat saat Isabelle terjatuh dari tangga. Saat itu Isabelle masih merintih kesakitan.


Entahlah apa yang terjadi saat itu Jessica melihat Simon dari arah belakang gedung sekolah tempat Isabella terjatuh, lalu tak lama kemudian Isabelle dinyatakan meninggal.


"Oh Ya Tuhan, sekarang aku mengingatnya. Kamu menghampiri Isabelle."


Simon tersenyum miring. Kini ingatan Jessica sudah kembali.


"Richard, aku memang memukulnya, tapi dia belum meninggal. Oh Simon jangan bilang kamu yang melakukan itu!" jerit Jessica.


Simon hanya tersenyum penuh arti.


"Aku tahu semua yang kamu lakukan. Aku hanya menyempurnakannya supaya tidak ketahuan. Lihatlah kita tim yang hebat bukan?"


Jessica merinding mendengar ucapan Simon.


"Simon katakan bukan kamu yang melakukannya pada Daddy." Jessica menatap intens ke arah Simon.


"Semua yang menyakiti kamu harus merasakan akibatnya. Mereka semua mati karena berani mengganggumu."


"Simon, tidak! Kau membuatku takut." Jessica mundur ketakutan melihat ekspresi wajah Simon.


"Kalau kita bersatu aku yakin kita bisa menjadi tim yang hebat, Jessie." Simon maju berusaha meraih tubuh Jessica tapi perempuan itu nenghindar.


"Kenapa? Kamu takut? Tidak ada yang akan tahu. Aku hanya menambahkan obat dengan dosis tertentu di dalam minuman uncle Frans."


"Jadi Daddy meninggal karena itu?" ucapnya sembari menahan tangis.


"Dia sudah membuat kamu bersedih bukan? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku menepati janji untuk terus menjagamu Jessie."


Simon menatap Jessica yang ketakutan. Dia juga sangat membenci Frans dan Richard, tapi gadis itu tak seberani itu merencanakan pembunuhan. Bahkan ia teringat kata-kata Simon sebelum ia mengakhiri hidup bayi Moana.


"Singkirkan saja bayi itu, dia ancaman buat kamu Jessie."


Kini ucapan Simon itu terngiang-ngiang di telinga Jessica. Ternyata selama ini Simon yang mengarahkan dirinya mengambil tindakan berbahaya itu.


"Sekarang bagaimana? Aku sudah membuktikan kalau aku menjagamu dengan baik. Aku mencintaimu Jessie, apa pun telah aku lakukan untuk melindungi kamu."


Jessica tak sanggup lagi mendengar kata-kata Simon. Saat itulah ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari Agnes.


"Jessie, ada peristiwa menggegerkan di apartemen nyonya Martha. Dia tewas gantung diri. Polisi menemukan catatan kalau dia ingin menghabisimu. Kamu di mana sekarang? Bersiaplah memberikan keterangan di depan polisi."


Jessica makin ketakutan. Dia teringat kemarin nyonya Martha memarahinya habis-habisan. Wanita itu kehilangan kendali. Dia menganggap Jessica berkhianat. Dua bodyguard yang disiapkan Simon mencoba mengusir Martha, tapi perempuan itu masih menghujani Jessica dengan kata-kata kasar.


Jessica menatap Simon yang tersenyum ke arahnya seolah tak terjadi apa-apa.


"Baiklah Agnes. Aku nanti akan menelponmu lagi. Sekarang aku sedang sibuk."


Tatapan Jessica tak beralih dari Simon yang terus melebarkan senyumnya.


"Jangan katakan ini juga perbuatanmu, Simon." Jessica tak mampu berkata-kata lagi saat Simon menganggukkan kepalanya.


"Semua orang yang berani menghina atau menyakitimu kupastikan tidak akan lama menghirup udara. Martha baik tapi dia tak bisa mengendalikan dirinya padamu. Jadi apa boleh buat?"


Simon mengedikkan bahunya.


"Oh tidak!"


Jessica berteriak histeris.


Gadis itu mundur dan sesampainya di dekat tangga ia teringat sesuatu. Saat itu Simon diam-diam mendatanginya ke kamar lalu memaksanya berbuat sesuatu.


Jessica menolak dan berteriak hendak meminta tolong pada Merry, tapi Simon mengejarnya, lalu mendorong tubuhnya hingga terguling jatuh dari tangga.


Kini posisi itu sama. Simon menatapnya, Jessica baru teringat semua perbuatan Simon padanya.


Ternyata Simon pelakunya. Simon yang membuatnya celaka.


"Kamu mengingat semuanya?" tanya Simon menyelidik. Jessica menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Tidak mungkin, aku tidak percaya kamu melakukan itu Simon, kupikir kamu teman yang baik."


Simon tertawa keras. Seumur hidup ia merahasiakan ini dan menimpakan kesalahan ini pada Jessica. Semua rahasia ini tentang Jessica. Simon tertawa terbahak-bahak melihat wajah Jessica yang ketakutan.


"Lalu sekarang kamu ingin menolakku? Kira-kira apa yang bisa aku lakukan padamu sekarang Jessie?" bisik Simon lirih membuat Jessica tak berkutik.


Simon mendekatkan dirinya ke tubuh Jessica lalu menatap gadis itu.


"Seperti inilah dulu ekspresimu saat menolakku, sebelum tubuhmu jatuh terguling di bawah sana." Jessica menguatkan pegangannya pada pegangan tangga. Ia sangat ketakutan. Baru kali ini ia dengan jelas melihat raut wajah asli Simon yang menatapnya dingin.


Saat Simon terus mendekati, Jessica yang merasa terancam langsung menendang lutut Simon hingga pria itu kehilangan kendali lalu terjatuh di atas tangga persis dirinya dulu.


"Cukup sekali kamu menyakiti aku, dan deritanya kurasakan seumur hidupku, Brengsek!" Jessica berdecih.


Simon masih bergerak-gerak, tapi Jessica segera menyusulnya lalu tanpa ampun ia menutup mulut Simon. Pria itu mengembuskan napas terakhirnya di tangan Jessica.


"Tolong! Simon, ada apa denganmu?"


Gadis itu berteriak sekencang-kencangnya sampai terdengar semua orang.


Merry, Lyla, Lucky dan Aaron menghambur ke arahnya. Merry sangat terkejut melihat Simon yang terkapar di lantai. Dia memandang ke arah Aaron yang juga tengah menatapnya.


Aaron mengangguk kecil lalu segera memanggil polisi. Polisi segera datang dan setelah Merry mengatakan kecurigaannya polisi itu langsung memborgol Jessica. Gadis itu diam tanpa melawan. Baginya jika dia harus dihukum maka ia rela menjalaninya.