
Jessica harus dirawat di rumah sakit akibat benturan di kepalanya saat ia jatuh terguling-guling di atas tangga. Ia ingin menolong Merry tapi ternyata malah mengalami kecelakaan hebat.
“Sayang kamu sudah sadar?”
Jessica mendengar sebuah suara, tapi bukan suara mamanya yang ia rindukan. Perlahan-lahan Jesscia membuka mata, ia melihat wajah samar-samar.
“Aku di mana …” bisiknya lirih.
“Dengar Sayang, ini aunty Lyla dan uncle Lucky. Kami yang menungguimu di rumah sakit ini. Sudah seminggu kamu tak sadarkan diri.”
Jessica mengerjapkan matanya yang masih terasa sakit menerima cahaya dari luar. Dia tak mengenali wanita di depannya.
“Anda siapa?” tanya Jesscia.
Lyla berpandangan dengan Lucky, wanita itu berkata,” sebaiknya kau panggil dokter dan katakan Jessica sudah sadar."
Lucky bergegas memanggil dokter. Lelaki itu sudah satu minggu bergantian dengan istrinya menunggui Jessica yang koma. Kondisi Merry sangat berbahaya hingga harus dirawat di rumah sakit jiwa. Sementara Frans pun mengalami goncangan jiwa yang sangat hebat. Frans kini lebih sering menyendiri. Ia bahkan tak mau menengok Jessica di rumah sakit. Pria itu merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi.
Dokter segera memeriksa Jessica, setelah melalui beberapa prosedur tes dan pemeriksaan lebih lanjut, dokter memberitahu kondisi Jessica.
“Kita sudah membicarakan ini, dan ternyata benar bahwa kemungkinan terburuk yang saya sampaikan benar terjadi. Jessica mengalami trauma di kepala, dia tak bisa mengingat kejadian sebelumnya, sekarang dia hilang ingatan.”
Lyla dan Lucky hanya bisa terdiam mendengar perkataan Dokter. Mereka tak menyangka kecelakaan itu menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kehidupan Jessica.
Setelah dirawat hampir sebulan di rumah sakit, melakukan berbagai terapi akhirnya Jesscia diizinkan pulang. Lyla dan Lucky membawanya pulang ke rumah Frans.
Pria itu bergeming saat melihat Jesscia di kursi roda. Pandangannya tak lepas dari wajah mungil yang selama ini terus ia pikirkan. Frans merasa sangat bersalah tak menjaga Jessica dengan baik hingga gadiis itu terjatuh. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri saat Merry usai melahirkan ia tak cukup memberi perhatian hingga istrinya menderita baby blues dan berujung membunuh Moana putri mereka. Frans sellau merutuki dirinya sendiri yang selama ini tega berbuat tidak senonoh pada Jessica. Sungguh bagian paling memalukan itu adalah saat-saat ia mengalihkan kebutuhan seksualnya kepada anak angkatnya itu. Frans ingin menutup buku untuk nama Jessica. Melihat wajahnya seperti ini hanya mengingatkannya pada dosa-dosa masa lalu.
“Dia hilang ingatan, mungkin pelukan darimu bisa mengingatkannya pada kasih sayang kalian,” ucap Lucky. Frans terperangah. Jessica hilang ingatan? Apalagi ini? Apakah Tuhan belum cukup menghukumnya? Frans terdiam, jika Jessica hilang ingatan, bukankah ini baik karena gadis itu tidak akan berbicara kepada siapapun atas apa yang selama ini terjadi kepadanya?
“Oh, Jessie hilang ingatan? Dia tidak bisa mengingat apa pun?” Frans mencoba meyakinkan apa yang ia dengar. Lucky menganggukkan kepalanya.
Frans berpura-pura menangis sambil memeluk Jessica. Sedikit beban di pundaknya terangkat, karena rahasia kecilnya akan aman selamanya.
“Baiklah kami akan meninggalkan kalian berdua, semoga bersamamu ingatannya perlahan-lahan kembali, Frans,” tutur Lyla.
“Oh tidak, jangan!” Frans berteriak. Lyla dan Lucky heran dengan sikap Frans.
“Kalian tahu aku sedang menghadapi masa sulit. Aku tak ingin Jessica tinggal di sini lagi.”
“Apa maksudmu Frans?” Lucky tak mengerti dengan maksud saudara. Jessica berada di abwah tanggung jawabnya, tentu ini tak bisa semudah itu dilepaskan.
“Aku takut menyakitinya. Aku merasa menjadi pria paling bodoh dan gagal sedunia. Jangan meninggalkannya di sini atau kalian akan menyesal,” ujar Frans.
“Frans secara hukum kamu ayahnya.”
“Tenangkan dirimu dulu, Frans.” Lyla mendorong kursi roda Jessica, menjauhkannya sedikit dari hadapan Frans.
“Baiklah jika kamu belum siap mengasuh Jessica lagi, kami akan membawanya. Kamu urus dirimu sendiri dengan baik. Jangan lupa datang ke psikiater jika merasa sudah berbahaya. Kami akan selalu ada untukmu Frans. Kita keluarga, jangan lupakan itu.” Lucky menepuk bahu Frans, sungguh ia ingin menolong Frans keluar dari situasi ini tapi ia sendiri tak punya jalan lain.
“Bawa dia selamanya, aku tak ingin melihat wajahnya lagi.” Frans bergegas menuju ke pintu, membukanya lalu menyuruh Lyla dan Lucky meninggalkan rumahnya.
Hari itu Jessica melihat Frans untuk terakhir kalinya. Gadis muda itu membingkai wajah Frans dalam ingatan barunya. Seorang pria yang dijuluki ayah ternyata menolaknya.
“Kasihan Frans, sepertinya dia sangat terguncang,” sesal Lyla. Dia prihatin melihat kondisi Frans yang semakin kurus, wajahnya juga pucat tak terurus.
“Perlahan-lahan nanti aku akan mendampinginya. Kita baru selesai mengurus Jessica.”
“Apakah kamu yakin akan membawanya tinggal di rumah kita, Lucky?” Lyla berkata lembut.
Lucky terdiam. Mengingat apa yang terjadi selama ini, ia sendiri merasa khawatir. Jujur saja Jessica membuatnya takut. Lucky selalu merasa senyuman Jessica seribu kali lebih menakutkan usai ia berbicara tentang game yang ia temukan di ponselnya kepada Frans. Game yan selalu dimainkan Jessica.
“Kita pikirkan nanti saja, sekarang biar dia istirahat dulu. Simon sudah menelponku lebih dari sepuluh kali sore ini.” Lucky menoleh pada Lyla.
“Sayang, dia pasti tak sabar ingin melihat kondisi Jessica, kau tahu mereka berteman akrab, bukan?”
Jessica hanya menyimak semua obrolan Lyla dan Lucky. Dia mencoba mengingat-ingat semuanya. Nama Lyla, Lucky, Frans, Simon bukan nama asing sepertinya, tapi entah mengapa ia tak bisa mengingatnya.
Simon menyambut kedatangan mereka dengan antusias.
“Hai welcome home, Jessie!” sambut Simon dengan senyum lebarnya. Dia sudah menunggu Jessica sedari tadi. Ia merentangkan tangannya ingin memeluk Jessica, tetapi gadis itu hanya memandangnya dengan tatapan asing.
“Mommy, kenapa Jessie diam saja? Dia seperti tak mengenalku.” Simon memerhatikan Jessica yang duduk tenang di kursi roda.
“Sayang, nanti kami akan menjelaskan padamu. Ayo bantu mendorong kursi roda Jessica.”
Simon menuruti perkataan mommy-nya. Ia mendorong kursi roda Jessica menuju ruang tengah.
Lyla dan Lucky akhirnya menjelaskan tentang Jessica yang kini hilang ingatan. Kondisi ini hanya sementara, perlahan-lahan Jessica pasti bisa mengingat semuanya lagi.
“Jangan khawatir Daddy dan Mommy, aku akan membantu Jessica mendapatkan ingatannya lagi,” ujar Simon.
“Oh ya? Dengan cara apa?” tanya Lyla.
“Aku akan mengajak Jessica pergi ke tempat-tempat yang pernah kita kunjungi bersama. Aku janji akan mengembalikan ingatanmu, Jessie, jangan khawatir.” Simon menatap Jessica dengan tatapan iba. Dia memang harus mengembalikan ingatan Jessica. Baginya ini hal penting yang harus menjadi prioritasnya dibandingkan hal lain.
“Jangan terlalu memaksakan diri, Simon sayang. Mommy dan Daddy sudah memutuskan untuk mengembalikan Jessica ke panti asuhan asalnya.”