The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Bantuan Simon



"Kalau kalian dipecat itu berarti yang bodoh Pak Andrew, tapi kalau kalian mengundurkan diri,  kalian menang. Jangan khawatir kalian berdua emang nggak pantas kerja di firma hukum yang tidak mendukung perempuan yang nyaris menjadi korban kekerasan seksual."


Simon berkata sambil menikmati hidangan makan siangnya. Mereka makan di restoran siap saji.


"Tadi aku mau bilang sebaiknya kalian mendirikan firma hukum sendiri, aku akan memberi bantuan dana. Ada satu tempat yang dulu mau aku jadikan tempat praktek dokter, tapi belum sempat. Gedungnya masih terbengkalai. Kalian pakai saja tempat itu."


"Hah? Serius?" tanya Jessica dengan wajah berbinar.


"Tapi kami masih junior.  Sebetulnya masih harus magang di kantor senior."


"Hei Jessie, bukankah kamu berniat kuliah lagi untuk ambil magister hukum?" tanya Agnes.


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Tadinya begitu tapi kamu tahu biayanya sangat mahal, aku sedang mengumpulkan uang."


"Jangan pikirkan masalah biaya, pokoknya jalan dulu saja. Kalian tangani klien-klien yang benar-benar membutuhkan bantuan hukum. Aku akan mendukung. Satu lagi aku mau kenalkan kalian dengan seseorang, sepertinya Jessie sudah kenal dia. Sekarang dia menekuni bidang hukum."


"Siapa dia?" tanya Jessica.


"Tunggu saja, sebentar lagi dia akan datang."


Mereka melanjutkan makan siang. Jessica penasaran siapa orang yang dimaksud oleh Simon.


Setelah menunggu beberapa saat, seorang pria perlente turun dari mobil dan langsung menghampiri mereka di restoran.  Pria bertubuh tinggi memakai jas hitam usianya sekitar 40-an.


"Halo Simon," sapa pria itu membuat Simon berdiri menyambutnya.


"Hello Tuan Richard, apa kabar? Apakah kamu masih ingat dengan gadis ini?"


Richard terhenyak memandang wajah Jessica, sedangkan gadis itu terdiam mematung.  Dia seperti mengingat Richard, tapi di mana? Potongan-potongan ingatan Itu kembali tapi dalam bentuk lain.


"Jessie kamu Jessica? Oh lihatlah kamu sudah besar dan sangat cantik," celoteh Richard.


Jessica merasa tak asing dengan wajah Richard, tapi sekali lagi dia tidak bisa mengingat wajah di depannya.


"Mungkin kamu lupa, Jessie. Aku bisa mengingatkan kamu dia Richard teman uncle Aaron adiknya aunty Merry."


Richard tersenyum melihat Jessica.


"Nona, kamu benar-benar tidak mengenaliku?" tanya Richard.


Jessica menggelengkan kepala ragu.


"Dia mengalami benturan keras di kepala yang mengakibatkan hilang ingatan. Saat itu usianya delapan tahun, jadi Jessica tidak bisa mengingat kebersamaan kalian dulu," jelas Simon.


Jessica hanya terdiam. Perlahan-lahan dia mencoba mengumpulkan ingatannya lagi.  Gadis itu merasa pria di depannya bukan orang baik. Dia teringat potongan ingatan wajah orang di depannya ini tetapi samar-samar.  Jika benar Richard adalah orang yang melecehkannya saat kecil Jessica tidak tinggal diam.


Gadis itu segera mengambil gelas minuman, lalu meminumnya hingga tandas.


Kepanikan terlihat dari wajahnya.  Keringat dinginnya menetes di dahi wajahnya pucat .


Agnes yang menyadari hal itu langsung menegur Jessica.


" Hai Jessie, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi denganmu?"


"Aku tidak tahu, Agnes, tapi rasanya aku mual," ucap Jessica.


"Simon, Jessica sedikit mual, aku bawa Jessica ke toilet dulu, ayo Jessie."


Agnes meraih tangan Jessica kalau membawanya ke toilet.


"Jessie bilang jujur, ada apa denganmu?"


"Aku tidak tahu, Agnes. Rasakan ini, jantungku berdegup lebih kencang."  Jessica meraih tangan Agnes lalu membawanya ke dadanya.


"Kamu benar, dadamu deg-degan. Apakah kamu pernah mengenal Richard sebelumnya?"


Jessica mengganggu. "Sepertinya begitu, tapi aku lupa dan aku pikir ini bukan kenangan baik tentang dia."


Jessica menarik napas panjang, dia harus menghadapi semuanya jika ingin keluar dari trauma masa lalu. Gadis itu pun segera mengajak Agnes untuk kembali ke restoran.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Simon. Jessica mengangguk.


"Maaf kalau saya sedikit mengacau tadi. Saya benar-benar gugup dan rasanya sedikit mual."


"Tidak apa-apa, Jessie kamu sekarang semakin cantik." Richard mengarahkan pandangannya pada dua bola mata biru Jessica yang indah.  Dia dulu sangat menyukai gadis itu, sekarang pun masih, karena Jessica tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.


"Jadi bagaimana kalau kita bekerja sama. Kebetulan saya juga seorang lawyer senior dan bisa membantu untuk mengurus firma yang akan kalian dirikan.  Tentu saja kalian harus mengajak saya bergabung karena harus ada lawyer senior di dalam sebuah firma hukum."


Jessica terdiam dia sibuk menerjemahkan ingatannya yang timbul tenggelam.


"Kalau begitu saya tidak masalah Apalagi Anda sudah dikenal oleh dokter Simon jadi kita bisa bekerja sama."


"Baiklah biar saya dan Simon yang mengurusnya. Simon, kamu yang mendanai semua ini semua?" tanya Richard.


Simon mengangguk. "Untuk sementara iya, tapi kalau dua gadis ini sudah kuat pendanaan, mereka harus mengembalikan uang itu kepada saya. Anggap saya sedang berinvestasi."


Agnes terkekeh lalu menyahut," sebetulnya Simon melakukan ini untuk Jessica, iya kan?" goda Agnes sambil melirik ke arah Simon yang salah tingkah.


Dia ingin menyembunyikan perasaan ini, tapi mungkin bagi Agnes perasaan ini jelas terbaca.  Mereka mengobrol membicarakan tentang segala kemungkinan baik dan buruk serta presentasi untuk membuka kantor firma hukum itu.


Semua sepakat hingga membuat perjanjian tertulis. Akhirnya setelah semua perizinan selesai, dua minggu kemudian firma hukum itu pun berdiri.


Agnes sangat bersemangat mengurus kantor miliknya sendiri.  Dia sibuk menelepon klien satu demi satu yang dulu pernah masuk ke kantor Andrew.


"Yang kamu lakukan ini jahat, Agnes. Cari klien baru saja, jangan mengusik klien lama," tegur Jessica.


"Tidak masalah, biar si tua Andrew tahu kalau kliennya berpindah kepada kita, jadi dia tidak akan meremehkan kita lagi."


Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya. Untuk tugas marketing ia mempercayakannya pada Agnes yang memang punya kemampuan di bidang itu.  Sedangkan dirinya sibuk menangani lebih dalam kasus yang masuk.  Sampai sekarang belum ada yang masuk hanya beberapa klien bawaan Richard saja.


Sebulan kemudian, pada suatu siang saat Agnes sedang keluar menemui calon klien, Jessica di kantor berdua dengan Richard.  Awalnya mereka bekerja di ruangan masing-masing, tetapi kemudian Richard datang ke ruangan Jessica.


"Jadi kamu betul-betul tidak ingat apa yang terjadi dulu?"


Jessica menggelengkan kepalanya.


"Termasuk apa yang terjadi dengan kita?" tanya Richard. Jessica menatap Richard dengan tajam.


"Memangnya apa yang terjadi dengan kita, Tuan Richard?" tanyanya dingin. "Silakan diminum," celetuk Jessica sambil menyodorkan minuman.


Dari awal dia sudah bisa merasakan Richard ini bukan orang baik. Potongan-potongan ingatan itu membuktikannya.


"Kita pernah sedekati itu," ucap Richard sambil duduk di atas meja Jessica.


Gadis itu sedikit jengah dengan sikap Richard yang tidak seperti biasanya.


"Kita pernah menghabiskan waktu intim berdua. Kita pernah sangat dekat."


"Apa maksud Anda? Bukankah waktu itu aku masih sangat kecil? Maksudku masih sangat muda."


"Iya usiamu delapan tahun. Saat itu kita melewati sedikit waktu yang menyenangkan. Bermain bersama, bersepeda ke komplek."


Tiba-tiba Jessi tersentak karena ia mengingat saat Richard menindih tubuhnya. Gadis itu melongo tak percaya. Melihat Richard yang sekarang tersenyum persis seperti senyumnya dulu.


"Oh, sekarang aku mengingatnya." Ia teringat ancaman Richard.


"Kalau kamu sampai bilang kepada keluargamu, aku bisa mencelakai Aaron dan semua orang yang tahu rahasia kita."


Ingatan yang lewat itu terekam di benak Jessica hingga gadis itu merasa gemetar.  Badannya menggigil, wajahnya pucat. Ia berkeringat.


Jessica berkali-kali mengepalkan tangan, tapi Richard tidak menyadarinya.


Laki-laki itu terus tertawa terbahak-bahak mengingat kenangannya bersama Jessica hingga kemudian Jessica bangkit dari duduknya, lalu membentak Richard.


"Aku tidak menyangka Anda orang yang begitu kejam, bisa tertawa di atas kesakitan orang lain." Seketika Richard terdiam sambil memegangi dadanya.