The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Kematian Isabelle



Kematian Isabelle membuat seisi sekolah geger. Diduga gadis kecil itu terjatuh dari tangga, saat bermain sendirian di belakang sekolah. Naasnya ia kejatuhan tangga besi itu yang membuat tulang tengkoraknya pecah.


Semua orang berduka, teman-teman kelas mereka bahkan kedua orang tua Isabelle juga tak menyangka nasib anaknya akan berakhir tragis. Mereka tak bisa menyalahkan siapapun karena kecerobohan Isabelle bermain sendirian di halaman belakang adalah atas kemauannya sendiri.


Jessica yang terlihat lebih murung dari biasanya membuat Merry kebingungan. Ia pikir setelah tahu kalau temannya meninggal, Jessica pasti terpukul. Diamenghibur anak gadisnya itu.


“Jess, mommy juga berpesan agar kamu jangan bermain sendirian di tempat berbahaya seperti Isabelle, kita semua kehilangan dia. Isabelle anak baik bukan?”


Jessica tak menjawab, gadis kecil itu menatap bukunya di pangkuan.


“Sayang, mommy sedang bicara denganmu. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati, Sayang. Peristiwa yang menimpa Isabelle ini benar-benar menyedihkan.”


“Isabelle mati atas keinginannya sendiri,” ucap Jessica dingin membuat Merry keheranan.


“Maksud kamu apa, Sayang?”


“Isabelle itu jahat, Mommy. Dia selalu bilang mommy akan mengusirku dari rumah kalau adikku di perut mommy lahir.”


Merry terkejut mendengar penuturan Jessica. Dia tidak menyangka anaknya berkata seperti itu. Saat Jessica tertidur, Merry menelepon Lyla.


“Kau tahu aku sangat syok mendengar perkataan Jessica tentang Isabelle, temannya yang mengalami kecelakaan itu.”


Lyla mendengarkan dengan saksama penjelasan Merry. Dia pun terkejut mendengarnya.


“Aku memang mendengar keributan keduanya di kelas, bahkan Mrs Yasmin sampai turun tangan untuk mendamaikan keduanya.”


“Oh benarkah?”


Tiba-tiba perasaan Merry jadi tidak enak, tapi ia segera menepisnya.


“Dia terlihat sangat bersedih atas kematian Isabelle,” ucap Merry kemudian.


“Dia pasti sedang menyesal dan merasa bersalah sekarang. Aku pikir kamu harus menghiburnya Merry.”


“Iya kita sependapat. Aku akan mengajaknya jalan-jalan besok. Kami akan membeli baju-baju kecil untuk adiknya.”


“Itu ide yang bagus. Kita tahu memory anak seusianya masih sangat tajam. Mungkin dia memang tak mengatakan penyesalannya, tapi jika dipendam, mungkin rasa bersalah ini akan berakhir buruk.”


“Aku tahu maksudmu, baiklah aku tutup dulu telponnya. Selamat beristirahat, Lyla.”


Merry sedikit mengkhawatirkan Jessica, tapi ketika anak itu sudah kembali ceria seolah tak terjadi apa-apa, saat Merry mengajaknya berbelanja di mall Merry senang. Jessica sudah tak memikirkan lagi tentang Isabelle.


Saat sedang berbelanja Merry mendapat telpon dari Aaron, adiknya yang masih lajang.


“Hai Aaron, ada apa?”


“Aku dapat cuti pekan depan, bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?”


“Tentu saja. Pulanglah ke rumah mama dan kau bisa berkunjung ke sini sesukamu. Sebentar lagi kau akan punya keponakan kecil.”


“Merry, serius? Oh, keponakan yang terlahir dari rahimmu sendiri, pasti akan menyenangkan menggendongnya saat dia lahir nanti.”


“Iya, pulanglah, aku menunggumu.”


Saat mereka tiba di rumah, Meryy berbicara kepada Jesscia.


“Sweety kamu ingat uncle Aaron?”


“Yang suka memakai topi?” tanya Jessica ragu-ragu. Ia hanya beberapa kali melihat uncle Aaron.


“Iya, dia adik Mommy, dia berencana liburan dan akan berkunjung kesini untuk melihat adikmu lahir, apakah kau tak keberatan?”


Jessica menggelengkan kepalanya,” tentu saja dia boleh kesini, tapi uncle Aaron pasti akan memilih bermain dengan Simon, iya, kan, Mommy?”


Merry tertawa mendengar pertanyaan Jessica. Dia selalu menginginkan teman bermain perempuan, jadi baginya kehadiran Aaron tidak akan berpengaruh.


Aaron baru mengalami kekecewaan yang luar biasa karena mencintai wanita yang salah.  Anne rekan kerja sekaligus atasannya sudah memiliki tunangan, tapi Aaron tidak akan menyerah.


“Berhenti memikirkan Anne, Aaron! Kau hampir saja menjadi pria perebut kekasih orang lain.” Richard, teman baiknya yang saat itu mengajak Aaron ke rooftop untuk menghabiskan jam istrirahat langsung mencecarnya dengan nasihat.


“Kau bisa bilang begitu karena kau tidak merasakannya!” Aaron kesal karena Richard terus menasihatinya hal yang sama berulang-ulang.


“Siapa bilang aku tak pernah merasakannya? Apa waktu Tassy memiliki kekasih lain itu aku tidak berada di posisimu? Aku tahu. Tapi aku masih sadar kalau aku tidak boleh seegois itu menghancurkan hubungan orang lain.”


“Itu karena Tassy juga memiliki rasa padamu, makanya kau percaya diri kalau ia akan kembali padamu.”


“Tidak. Sampai detik ini aku masih tidak percaya dengan asumsimu yang mengatakan Tassy menyukaiku. Kau ingat, dulu Tassy menyatakan perasaannya padamu, lalu berpindah hati ke pria lain sampai dua kali. Kalau benar ia menyukaiku, maka akulah orang yang menjadi kekasihnya saat kau tolak dulu.”


Aaron terdiam. Ia yakin Tassy menyukai Richard, tapi ia tak tahu harus membuktikannya bagaimana. Sementara dirinya sendiri kini tengah menahan gejolak cemburu yang mulai membabi buta karena Anne sudah menyebarkan undangan pernikahannya.


Aaron tahu tak ada kesempatan baginya untuk masuk ke dalam hubungan Anne. Namun, ia juga tidak bisa menampik kalau hatinya masih saja tertuju kepada Anne. Sialnya lagi, Anne sama sekali tak menyadari perasaan Aaron. Ia hanya tahu kalau Aaron menyukainya sebagai senior di kantornya.


“Sial!”


“Apa lagi?” tanya Richard yang kaget mendengar Aaron mengumpat.


“Aku tidak tahu apa aku harus datang ke acara pernikahan Anne atau tidak.”


“Kau harus datang supaya otakmu itu berfungsi lagi!”


“Maksudmu?” Aaron tersinggung dengan ucapan Richard yang seenaknya.


“Sekarang otakmu sedang tidak berfungsi karena masih menginginkan seseorang yang jelas-jelas milik orang lain. Kalau otakmu itu kau pakai, maka kau tidak akan seperti itu.”


“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Aaron yang sudah dalam fase putus asa. Ia tak mampu menahan diri untuk tidak cemburu saat melihat Anne berdampingan dengan orang lain.


“Tanyakan pada dirimu sendiri apa yang kau mau sekarang. Menghancurkan hubungan orang lain atau menekan perasaanmu demi kebahagiaan semua orang? Aku tidak bisa membantu lebih banyak karena kau tahu kalau kisah cintaku saja berantakan seperti ini.”


Aaron sudah bosan bicara kepada Richard mengenai Tassy yang juga memiliki perasaan kepadanya. Gadis itu hanya mau Richard lebih terbuka dengan perasaannya. Tassy trauma untuk menyatakan perasaannya duluan akibat kesalahan Aaron dulu. Tassy memang tidak cerita kepadanya, tapi Aaron tahu cara Tassy memperlakukan Richard berbeda dengan saat gadis itu memperlakukan Aaron dan pacar-pacarnya.


“Ah, coba kau jalin hubungan dengan gadis lain. Aku yakin, lambat laun perasaanmu akan menghilang untuk Anne.” Richard tiba-tiba mengusulkan hal yang membuat Aaron terperangah.


“Gila kau! Mana mungkin aku menjalin hubungan dengan sembarang gadis hanya untuk melupakan Anne. Kau tahu aku tak terbiasa dengan gadis-gadis.”