
Richard tersenyum penuh nafsu saat Jessica menganggukkan kepalanya. Pria itu sudah punya banyak rencana di dalam kepalanya. Sejak bertemu Jessica di pesta pernikahan Anne, Richard sudah membayangkan ingin bermain-main dengan Jessica. Pria itu menyukai mata bening Jessica.
Gadis kecil itu tak menolak saat Richard menyuruhnya membuka baju lalu mereka bermain kuda-kudaan. Richard terus mengiming-iminginya dengan hadiah, permen, dan es krim.
“Ini tidak akan sakit,” ujar Richard saat tak kuasa lagi membendung birahinya.
Dalam bujuk rayu Richard yang bersikap seolah mereka sedang bermain dokter-dokteran, Jessica hanya meringis tanpa suara saat Richard memaksanya melakukan sesuatu yang tak senonoh padanya.
Richard tersenyum puas usai memuaskan hasratnya.
“Ini akan jadi rahasia kita, bukan?” tanya Richard saat melihat Jessica seolah membeku.
“Jess, anak pintar, tidak ada yang tahu kejadian ini dan harus tetap begitu. Kalau ada satu orang pun yang tahu, om Richard pasti akan menyingkirkannya.”
Jessica terkesiap. Dia teringat Isabelle. Menyingkirkan berarti membunuh. Gadis itu terdiam dalam ketakutan.
Tak berapa lama kemudian Aaron datang karena diminta pulang oleh Frans menemani Jessica. Frans tidak ingin Jessica merasa tak nyaman tinggal sementara dengan orang asing. Jesscia baru melihat Richard pertama kali di pesta pernikahan Anne kemarin.
“Hai, sepi sekali rumah ini, kupikir kalian pergi keluar tadi,” ucap Aaron saat melihat Richard dan Jessica sedang menikmati pizza.
“Kami usai bermain di taman depan, lalu sekarang kelaparan, jadi aku order pizza untuk Jessie, ayolah Jessie, habiskan bagianmu.”
Jessie hanya terdiam, sambil mengunyah pizza dengan teratur. Dia ingin mengadukan apa yang baru saja terjadi dengan Aaron, tapi dia tak tahu caranya.
Hingga saat Richard pergi mengambil ponsel di kamarnya, Jessie berbisik kepada Aaron.
“Om, aku ingin bicara sesuatu.” Jessie memastikan Richard tak mendengar suaranya.
“Jika tentang Mommy, dia masih dirawat di rumah sakit, mungkin butuh beberapa waktu tapi kamu jangan khawatir karena om akan menjagamu di sini.”
Jessie menggelengkan kepalanya.
“Ini bukan tentang Mommy, Om. Ini tentang ….”
Ucapan Jessica terhenti saat melihat Richard keluar dari kamarnya dan sekarang sedang berdiri di belakang Aaron. Pandangannya menatap Jessica dengan tajam, dan di tangannya tergenggam sebuah pisau yang siap dihujamkan kepada Aaron.
Melihat seringai di wajah Richard, Jessica sangat ketakutan.
“Ayo, om sudah menunggu, apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Aaron.
“Tidak, Om. Iya, aku tadi hanya ingin bertanya apakah adikku sudah lahir, aku tak sabar ingin melihatnya,” jawab Jessica berbohong.
Perlahan-lahan Richard melipat kembali pisau di tangannya.
“Jessie, kamu sudah selesai? Jangan lupa es krimmu ada di freezer, om sudah belikan semua rasa, kamu tinggal memilih yang kamu suka.” Richard mencoba mengalihkan perhatian Jessica.
“Hei, apakah ada yang sedang berpesta es krim di sini?” selidik Aaron.
“Kamu ini seperti tidak pernah kecil saja. Saat Mommy kita tidak ada, bukankah itu hari kebebasan untuk kita? Ambil jatahmu Jessie, jangan hiraukan om Aaron,” imbuh Richard seraya memandang tajam ke arah Jessica. Gadis itu menatap ke arah Aaron seolah meminta persetujuan.
“Tentu saja kau boleh mengambilnya. Benar kata om Richard, sesekali kita boleh bersenang-senang.”
Sontak raut wajah Jessica berubah cerah. Dia segera berlari mengambil es krim stoberi kesukaannya lalu kembali ke meja makan. Gantian Aaron yang sekarang mengambil jatahnya.
“Kau lihat, semua baik-baik saja asal kamu tidak lancang membuka mulut, Sayang,” bisik Richard di telinga Jesscia. Gadis itu mulai belajar cara mencapai keinginan. Jika Richard bisa melakukannya maka ia pun bisa.
Sementara itu di rumah sakit, Merry dan Frans sedang berbincang dengan Lyla dan Lucky.
"Apa maksud perkataan kamu barusan, Frans? Bisa tolong jelaskan? Apa ini ada kaitannya dengan Merry? Katakan saja, apa yang bisa kami lakukan untuk kalian berdua?" tanya Lucky masih dengan raut wajah kebingungan. "Kalian sepertinya sangat senang melihat kami datang?"
Terlihat dari wajah Lucky dan Lyla bingung, sepasang suami istri itu datang untuk menjenguk Merry. Mereka merasa bahwa Frans dan Merry sangat menantikan kehadirannya.
"Ya, tentu saja kami sangat senang dengan kedatangan kalian, terlebih lagi kalian datang di waktu yang sangat tepat," jawab Frans.
"Hmm, oke. Jadi, apa yang bisa kami lakukan untuk kalian berdua? Katakan saja apa yang bisa kami bantu, kalian tidak perlu merasa sungkan atau tidak enak hati." Kembali Lucky bertanya pada Frans.
Frans menggaruk sebentar kepalanya yang mendadak merasa sangat gatal tersebut. Sebenarnya dia merasa tidak enak untuk mengatakan hal tersebut pada Lucky dan juga Lyla. Akan tetapi, mengingat keadaan Merry saat ini membuat Frans harus mengatakan apa yang telah dia dan Merry diskusikan sebelum Lucky dan Lyla datang.
Frans mengembuskan napasnya dalam, kemudian berkata, "kami ... mmm ... kami berdua ... ingin meminta bantuan kalian berdua untuk menjaga Jessica selama Merry berada dalam masa pemulihan di rumah sakit, karena kami khawatir tidak akan bisa fokus merawat Jessica dan memulihkan keadaan Merry yang butuh bedrest total. Sejujurnya, kami pun tidak ingin melakukan hal ini, tetapi keadaan yang memaksa kami untuk mengatakan ini pada kalian, ini memang sedikit merepotkan tapi ... ah, sudahlah semoga kalian tidak berpikiran buruk pada kami dan bersedia membantuku dalam hal ini."
Lucky dan Lyla bertukar pandang satu dengan yang lainnya lalu mengangguk secara bersamaan dengan segaris senyum di bibir mereka masing- masing. Lucky kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Frans yang masih setia menanti jawabannya.
“Tentu kami tak keberatan. Sudahlah tentang Jessica biar kami yang merawat sementara selama kalian di sini.” Lyla akhirnya menjawab, membuat Merry bisa bernapas lega.
“Oh ya dia di mana sekarang? Astaga kenapa tidak kepikiran untuk membawanya kesini? Lyla bukankah tadi kamu menjemputnya di sekolah?” tanya Lucky.
“Iya, tapi dia sedang seru-serunya bermain dengan Richard kawan Aaron, kau tahu dia mengeluarkan sepedanya lalu bersepeda di sekitar komplek,” seru Lyla.
“Oh, ya? Akhirnya dia mau mencoba sepedanya. Sepertinya dia betah bermain dengan Richard. Ah mereka berdua hadir di saat yang tepat. Beginilah kalau semesta mendukung. Kami datang kesini berama Aaron, lalu Jess bermain dengan Richard, ah sayang sepertinya kita saja yang terlalu mengkhawatirkan putri kita itu,” ucap Merry sambil mengelus dadanya lega.
“Kamu tenang sekarang?” tanya Frans.
Merry mengangukkan kepalanya. Mereka berempat terus melanjutkan obrolan sambil tertawa senang. Tak ada yang menyadari kalau hari itu menjadi hari buruh bagi Jessica dan anak itu akan terus membawa kenangan di buruk itu hingga ia dewasa.